Tentang Hadis Ahad Dan Hadis Mutawatir
14 juli 2014-07-15
Assalamualaikum wbr ktuh.. Maaf pada seluruh ustd wal ustadzah.. Akue mau bertanya. Apakah di finisi dari Hadis AHAD dan Hadis MUTAWATIR.. Mohon penjelasanya? .. Terimakasih...
=========
Jawaban:
Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Sudah kita ketahui bersama bahwa hadis adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.
Ada banyak ulama periwayat hadis, namun yang sering dijadikan sebagai referensi adalah hadis-hadis dari tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.
Hadis terbagi menjadi beberapa bagian yang diantaranya:
Hadis yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi:
✔. Hadis Mutawatir
✔. Hadis Ahad
Lalu apa definisi hadis Mutawatir dan hadis Ahad?
Inilah pertanyaan yang disampaikan oleh akhina fillah: Raden Ibnu Zuber. Semoga Allah senantiasa meridlai langkah-langkahnya.
Maka dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh akhina fillha: Raden Ibnu Zuber tersebut diatas berdasar literatur yang terdapat didalam kitab-kitab klasik mu'tabar yang kami jadikan sebagai referensi, kami segenap anggauta musyawirin MTTM memiliki pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:
Hadis Mutawatir: Menurut bahasa, kata al-mutawatir adalah isim fa’il berasal dari mashdar ”al-tawatur´ semakna dengan ”al-tatabu’u” yang berarti berturut-turut atau beriring-iringan seperti kata “tawatara al-matharu” yang berarti hujan turun berturut-turut. Sedang menurut istilah hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan hal itu, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadis bisa dikatakan sebagai hadis Mutawatir:
- Isi hadis itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera.
- Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut kebiasaan tidak mungkin berdusta (sifatnya qath'i).
- Pemberita-pemberita itu terdapat pada semua generasi yang sama.
Hadis Ahad menurut bahasa Ahad mempunyai arti satu. Dan khabarul-wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan hadit Ahad menurut istilah adalah hadis yang belum memenuhi syarat-syarat mutawatir.
Hadis Ahad terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
1. Hadis Ghorib: Hadis yang hanya bersuber dari satu orang walaupun hadis ini diriwayatkan oleh beberapa perawi. Imam Al-Turmudzi menyebut hadis ini dengan sebutan hadis Fard (tunggal).
Contoh:
Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada: "Tidaklah seseorang melakukan sebuah dosa kemudian dia melaksanakan wudlu’ lalu melaksanakan shalat dan memohon ampunan kepada Allah kecuali Allah akan mengampuni dosanya". Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan beberapa ahli hadis, Chumaidi, Ibnul Madini, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban dan Al-Darakudni dari Usman Ibnu Al-Mughirah dari Ali Ibnu Rabi’ah dari Asma’ Ibnu Hakam dari Ali dari Abu Bakar.
2. Hadis Aziz:
‘Aziz secara bahasa artinya : yang sedikit, yang gagah, atau yang kuat. Hadis ‘Aziz menurut istilah ilmu hadis adalah : Suatu hadis yang diriwayatkan dengan minimal dua sanad yang berlainan rawinya.
Contoh:
Artinya: Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga aku (Nabi) lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya, serta serta seluruh manusia” (HR. Bukhari dan Muslim; dengan sanad yang tidak sama).
Keterangan : Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalan Anas. Dan diriwayatkan pula oleh Bukhari dari jalan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhuma. Susunan sanad dari dua jalan tersebut adalah : Yang meriwayatkan dari Anas adalah Qatadah dan Abdul-‘Aziz bin Shuhaib. Yang meriwayatkan dari Qatadah adalah Syu’bah dan Sa’id. Yang meriwayatkan dari Abdul-‘Aziz adalah Isma’il bin ‘Illiyah dan Abdul-Warits.
3. Hadis Masyhur:
Hadis Masyhur menurut bahasa adalah “nampak”. Sedangkan menurut istilah adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih pada setiap thabaqah (tingkatan) dan belum mencapai batas mutawatir. Hadits Masyhur ini juga disebut dengan nama Al-Mustafidl. Hadis Masyhur dibagi menjadi beberapa macam yang meliputi :
✔. Masyhur di antara para ahli hadits secara khusus, misalnya hadis Anas : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qunut selama satu bulan setelah berdiri dari ruku’ berdoa untuk (kebinasaan) Ra’i dan Dzakwan” (HR. Bukhari dan Muslim)
✔. Masyhur di kalangan ahli hadits dan ulama dan orang awam, misalnya : “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
✔. Masyhur di antara para ahli Fiqh, misalnya : “Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talaq” (HR. Al-Hakim; namun hadits ini adalah Dla’if).
✔. Masyhur di antara ulama Ushul Fiqh, misalnya : “Telah dibebaskan dari umatku kesalahan dan kelupaan…..” (HR. Al-hakim dan Ibnu Hibban).
✔. Masyhur di kalangan masyarakat umum, misalnya : “tergesa-gesa adalah bagian dari perbuatan syaithan” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan) (Lihat Nudhatun-Nadhar halaman 26 dan Tadribur-Rawi halaman 533).
Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar Pengambilan (1). Oleh Al-Ustadz @ Opick Syahreza:
Dasar Pengambilan (2). Oleh @ Ibnu Malik:
Dasar Pengambilan (2). Oleh @ Ibnu Malik:
Referensi Kitab:
(1). Misykatul Mashobih. Juz 1. Hal 102.
(2). Taisir Mustholah Al-Hadis. Juz: 1. Hal: 12
(3). Akhbar Al-Achadi fi Al-Hadis An-Nabawi. Juz: 1. Hal: 26.
=========
MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
1) Al-Ustadz Brojol Gemblung
2) Al-Ustadz Wesqie
3) Al-Ustadz Guslik An-Namiri
4) Al-Ustadz Ro Fie
5) Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik
Assalamualaikum wbr ktuh.. Maaf pada seluruh ustd wal ustadzah.. Akue mau bertanya. Apakah di finisi dari Hadis AHAD dan Hadis MUTAWATIR.. Mohon penjelasanya? .. Terimakasih...
=========
Jawaban:
Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Sudah kita ketahui bersama bahwa hadis adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.
Ada banyak ulama periwayat hadis, namun yang sering dijadikan sebagai referensi adalah hadis-hadis dari tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.
Hadis terbagi menjadi beberapa bagian yang diantaranya:
Hadis yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi:
✔. Hadis Mutawatir
✔. Hadis Ahad
Lalu apa definisi hadis Mutawatir dan hadis Ahad?
Inilah pertanyaan yang disampaikan oleh akhina fillah: Raden Ibnu Zuber. Semoga Allah senantiasa meridlai langkah-langkahnya.
Maka dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh akhina fillha: Raden Ibnu Zuber tersebut diatas berdasar literatur yang terdapat didalam kitab-kitab klasik mu'tabar yang kami jadikan sebagai referensi, kami segenap anggauta musyawirin MTTM memiliki pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:
Hadis Mutawatir: Menurut bahasa, kata al-mutawatir adalah isim fa’il berasal dari mashdar ”al-tawatur´ semakna dengan ”al-tatabu’u” yang berarti berturut-turut atau beriring-iringan seperti kata “tawatara al-matharu” yang berarti hujan turun berturut-turut. Sedang menurut istilah hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan hal itu, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadis bisa dikatakan sebagai hadis Mutawatir:
- Isi hadis itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera.
- Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut kebiasaan tidak mungkin berdusta (sifatnya qath'i).
- Pemberita-pemberita itu terdapat pada semua generasi yang sama.
Hadis Ahad menurut bahasa Ahad mempunyai arti satu. Dan khabarul-wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan hadit Ahad menurut istilah adalah hadis yang belum memenuhi syarat-syarat mutawatir.
Hadis Ahad terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
1. Hadis Ghorib: Hadis yang hanya bersuber dari satu orang walaupun hadis ini diriwayatkan oleh beberapa perawi. Imam Al-Turmudzi menyebut hadis ini dengan sebutan hadis Fard (tunggal).
Contoh:
(ما
من رجل يذنب ذنباً فيتوضأ ثم يصلي ركعتين فيستغفر إلا غفر له) رواه أحمد،
وأهل السنن، والحميدي وابن المديني، وابن أبي شيبة، وابن حبان والدار قطني
عن عثمان بن المغيرة عن علي بن ربيعة، عن أسما ء بن الحكم، عن علي عن أبي
بكر
.Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada: "Tidaklah seseorang melakukan sebuah dosa kemudian dia melaksanakan wudlu’ lalu melaksanakan shalat dan memohon ampunan kepada Allah kecuali Allah akan mengampuni dosanya". Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan beberapa ahli hadis, Chumaidi, Ibnul Madini, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban dan Al-Darakudni dari Usman Ibnu Al-Mughirah dari Ali Ibnu Rabi’ah dari Asma’ Ibnu Hakam dari Ali dari Abu Bakar.
2. Hadis Aziz:
‘Aziz secara bahasa artinya : yang sedikit, yang gagah, atau yang kuat. Hadis ‘Aziz menurut istilah ilmu hadis adalah : Suatu hadis yang diriwayatkan dengan minimal dua sanad yang berlainan rawinya.
Contoh:
(لا
يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين) متفق عليه.
فقد رواه أنس وأبو هريرة، ورواه عن أنس قتادة وعبدالعزيز بن صهيب، وعن
قتادة شعبة وسعيد، وعن عبدالعزيز إسماعيل بن علية وعبدالوارث، ثم اشتهر
.Artinya: Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga aku (Nabi) lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya, serta serta seluruh manusia” (HR. Bukhari dan Muslim; dengan sanad yang tidak sama).
Keterangan : Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalan Anas. Dan diriwayatkan pula oleh Bukhari dari jalan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhuma. Susunan sanad dari dua jalan tersebut adalah : Yang meriwayatkan dari Anas adalah Qatadah dan Abdul-‘Aziz bin Shuhaib. Yang meriwayatkan dari Qatadah adalah Syu’bah dan Sa’id. Yang meriwayatkan dari Abdul-‘Aziz adalah Isma’il bin ‘Illiyah dan Abdul-Warits.
3. Hadis Masyhur:
Hadis Masyhur menurut bahasa adalah “nampak”. Sedangkan menurut istilah adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih pada setiap thabaqah (tingkatan) dan belum mencapai batas mutawatir. Hadits Masyhur ini juga disebut dengan nama Al-Mustafidl. Hadis Masyhur dibagi menjadi beberapa macam yang meliputi :
✔. Masyhur di antara para ahli hadits secara khusus, misalnya hadis Anas : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qunut selama satu bulan setelah berdiri dari ruku’ berdoa untuk (kebinasaan) Ra’i dan Dzakwan” (HR. Bukhari dan Muslim)
✔. Masyhur di kalangan ahli hadits dan ulama dan orang awam, misalnya : “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
✔. Masyhur di antara para ahli Fiqh, misalnya : “Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talaq” (HR. Al-Hakim; namun hadits ini adalah Dla’if).
✔. Masyhur di antara ulama Ushul Fiqh, misalnya : “Telah dibebaskan dari umatku kesalahan dan kelupaan…..” (HR. Al-hakim dan Ibnu Hibban).
✔. Masyhur di kalangan masyarakat umum, misalnya : “tergesa-gesa adalah bagian dari perbuatan syaithan” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan) (Lihat Nudhatun-Nadhar halaman 26 dan Tadribur-Rawi halaman 533).
Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar Pengambilan (1). Oleh Al-Ustadz @ Opick Syahreza:
ﻓﺎﻟﺘﻮﺍﺗﺮ
ﻟﻐﺔ : ﺍﻟﺘﺘﺎﺑﻊ ، ﻭﻫﻮ ﻣﺠﻲﺀ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻵﺧﺮ ، ﺗﻘﻮﻝ ﺗﻮﺍﺗﺮ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﺃﻱ ﺗﺘﺎﺑﻊ
ﻧﺰﻭﻟﻪ ، ﻭﻣﻨﻪ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : }ﺛﻢ ﺃﺭﺳﻠﻨﺎ ﺭﺳﻠﻨﺎ ﺗَﺘْﺮﺍً{)ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ: 44 ( ، ﻭﻓﻲ
ﺍﻻﺻﻄﻼﺡ : ﻫﻮ ﻣﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﻋﺪﺩ ﻛﺜﻴﺮ ﻳﺴﺘﺤﻴﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﺍﺗﻔﺎﻗﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺬﺏ ، ﻋﻦ
ﻣﺜﻠﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﻣﻨﺘﻬﺎﻩ ، ﻭﻛﺎﻥ ﻣﺴﺘﻨﺪﻫﻢ ﺍﻟﺤﺲ . ﻭﻣﻦ ﺧﻼﻝ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻌﺮﻳﻒ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﺃﻥ
ﺍﻟﺘﻮﺍﺗﺮ ﻻ ﻳﺘﺤﻘﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺇﻻ ﺑﺸﺮﻭﻁ : -1 ﺃﻥ ﻳﺮﻭﻳﻪ ﻋﺪﺩ ﻛﺜﻴﺮ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺴﺘﺤﻴﻞ
ﻋﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻳﺘﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ، ﻭﻗﺪ ﺍﺧﺘﻠﻔﺖ ﺍﻷﻗﻮﺍﻝ ﻓﻲ ﺗﻘﺪﻳﺮ
ﺍﻟﻌﺪﺩ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﻪ ﺍﻟﺘﻮﺍﺗﺮ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻋﺪﻡ ﺗﺤﺪﻳﺪ ﻋﺪﺩ ﻣﻌﻴﻦ. -2 ﺃﻥ ﺗﻮﺟﺪ
ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻜﺜﺮﺓ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺴﻨﺪ. -3 ﺃﻥ ﻳﻌﺘﻤﺪﻭﺍ ﻓﻲ ﺧﺒﺮﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺲ ، ﻭﻫﻮ ﻣﺎ
ﻳﺪﺭﻙ ﺑﺎﻟﺤﻮﺍﺱ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻣﻦ ﻣﺸﺎﻫﺪﺓ ﺃﻭ ﺳﻤﺎﻉ ﺃﻭ ﻟﻤﺲ ، ﻛﻘﻮﻟﻬﻢ ﺳﻤﻌﻨﺎ ﺃﻭ ﺭﺃﻳﻨﺎ
ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ، ﻭﺍﺣﺘﺮﺯ ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﻮﻥ ﺑﺬﻟﻚ ﻋﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺇﺧﺒﺎﺭﻫﻢ ﻋﻦ ﻇﻦ ﻭﺗﺨﻤﻴﻦ ، ﺃﻭ
ﻛﺎﻥ ﻣﺴﺘﻨﺪﻫﻢ ﺍﻟﻌﻘﻞ ، ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﻔﻴﺪ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺼﺤﺔ ﻣﺎ ﺃﺧﺒﺮﻭﺍ ﺑﻪ ، ﻭﻻ ﻳﺼﺪﻕ
ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺪ ﺍﻟﺘﻮﺍﺗﺮ. ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻤﺘﻮﺍﺗﺮ ﻳﻔﻴﺪ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﻱ ، ﺍﻟﺬﻱ ﻳُﻀﻄﺮ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ
ﺇﻟﻰ ﺗﺼﺪﻳﻘﻪ ﺗﺼﺪﻳﻘًﺎ ﺟﺎﺯﻣًﺎ ﻻ ﺗﺮﺩﺩ ﻓﻴﻪ ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺑﺤﺚ ﻋﻦ
ﺭﺟﺎﻟﻪ. مشكاة المصابيح . الجز 1. صفحة 102.
Dasar Pengambilan (2). Oleh @ Ibnu Malik:
المْبحَثٌ الأول : الخبر المتواتر : تعريفه : لغة: هو اسم فاعل مشتق من
المتواتر أي التتابع، تقول تواتر المطر أي تتابع نزوله. اصطلاحا: ما رواه
عدد كثير تٌحيل العادة تواطؤهم على الكذب. ومعنى التعريف: أي هو الحديث أو
الخبر الذي يرويه في كل طبقة من طبقات سنده رواة كثيرون يحكم العقل عادة
باستحالة أن يكون أولئك الرواة قد اتفقوا على اختلاق هذا الخبر. شروطه:
يتبين من شرح التعريف أن التواتر لا يتحقق في الخبر إلا بشروط أربعة وهي:
أن يرويه عدد كثير . وقد اختلف في أقل الكثرة على أقوال المختار أنه عشرة
أشخاص (1) أن توجد هذه الكثرة في جميع طبقات السند. أن تٌحيل العادة
تواطؤهم على الكذب (1) أن يكون مٌسْتَنَد خبرهم الحس . كقولهم سمعنا أو
رأينا أو لمسنا أو ..... أما إن كان مستند خبرهم العقل. كالقول بحدوث
العالم مثلا . فلا يسمي الخبر حينئذ متواتراً
.
حٌكمه : المتواتر يفيد العلم الضروري، أي اليقيني الذي يضطر الإنسان إلى
التصديق به تصديقاً جازماً كمن يشاهد الأمر بنفسه كيف لا يتردد في تصديقه،
فكذلك الخبر المتواتر. لذلك كان المتواتر كله مقبولا ولا حاجة إلى البحث عن
أحوال رواته. أقسامه: ينقسم الخبر المتواتر إلى قسمين هما، لفظي ومعنوي.
المتواتر اللفظي: هو ما تواتر لفظه ومعناه. مثل حديث " من كذب علىَّ
معتمداً فليتبوأ مقعده من النار " رواه بضعة وسبعون صحابياً
.
المتواتر المعنوي: هو ما تواتر معناه دون لفظة. مثل : أحاديث رفع اليدين
في الدعاء . فقد ورد عنه صلى الله عليه وسلم نحو مائة حديث. كل حديث منها
فيه أنه رفع يديه في الدعاء .لكنها في قضايا مختلفة فكل قضية منها لم
تتواتر، والقَدر المشترك بينها ـ وهو الرفع عند الدعاء ـ تواتر باعتبار
مجموع الطرق. (2) وجوده : يوجد عدد لا بأس به من الأحاديث المتواترة ،
منها حديث الحوض ، وحديث المسح على الخفين ، وحديث رفع اليدين في الصلاة
وحديث نضر الله أمراً، وغيرها كثير ، لكن لو نظرنا إلى عدد أحاديث الآحاد
لوجدتا أن الأحاديث المتواترة قليلة جداً النسبة لها . أشهر المصنفات فيه :
لقد اعتني العلماء بجمع الأحاديث المتواترة وجعلها في مصنف مستقل ليسهل
على الطالب الرجوع إليها. فمن تلك المصنفات: الأزهار المتناثرة في الأخبار
المتواترة : للسيوطي . وهو مرتب على الأبواب. قطف الأزهار للسيوطي أيضاً .
وهو تلخيص للكتاب السابق . نظم المتناثر من الحديث المتواتر : لمحمد بن
جعفر الكتاني . تيسير مصطلح الحديث – 1 - 12
Dasar Pengambilan (2). Oleh @ Ibnu Malik:
تعريف
الآحاد: الآحاد جمع أَحد كحجر وأَحجار؛ وأصل الاحاد أحاد بهمزتين، فأبدلت
الثانية ألفاً لسكونها وتحرك ما قبلها، واشتقاقه من الواحد. وخبر الواحد في
اللغة هو ما يلقيه الواحد. وهو في اصطلاح جمهور الأصوليين: ما فقد شروط
المتواتر المتقدمة أو أحدها، سواء كان رواته واحداً أو عدداً، فيعم المشهور
الذي تقدم أن الحنفية جعلوه واسطة بين المتواتر والآحاد. وقد لا يدخل في
ذلك عند بعضهم ما حصل به العلم بالقرائن، وإن لم يروه إلا واحد، لدخوله في
معنى المتواتر وحده.
ثم إنه أطلق على الخبر
نفسه آحاد، لأن رواته أفراد قليلون غالباً، فهو من باب حذف المضاف، أي
أخبار الاحاد، فحذف المضاف لكثرة الاستعمال. أقسام الاحاد: اهتم المحدثون
بطرق الاحاديث للتأكد من صحتها، وبعد أن تتبعوها ألفوا منها ماله طريق
واحد، وماله أكثر، وما هو متصل بالرواة، وما فيه سقط، وما في رواته ضعف،
وما هو فوق ذلك، فاضطروا أن يضعوا لكل نوع اسماً اصطلاحياً، نقلوه من
المعنى اللغوي، إلى أقرب ما يشابهه من علوم الحديث. وقد قسم المحدثون
الآحاد إلى ثلاثة أقسام: القسم الأول: الغريب. القسم الثاني: العزيز. القسم
الثالث: المشهور. وقد أشرنا سابقاً إلى أن هذا التقسيم وسابقه لم يكن
معروفاً بين الصحابة والتابعين الذين لم يكونوا يشترطون في الرواة إلا
العدالة والثقة والتثبت غالباً؛ فيقبلوه ولو كان فرداً وسيجيء إن شاء الله
أن كثرة الرواة ليست ملازمة لصحة الخبر دائماً؛ فكم ثبت حديث لم يرد إلا من
طريق واحد، وكم ردت أحاديث تناقلها الكثير من الرواة. وإليك كلمات موجزة
في تعريف أقسام الآحاد المشار إليها. القسم الأول: الغريب: وهو ما لم يثبت
إلا من طريق واحد، وقد يعبرون عنه بالفرد، وأول من اشتهر باستعماله الترمذي
في جامعه، فكثيراً ما يقول: هذا حديث غريب، لا نعرفه إلا من هذا الوجه أو
من حديث فلان، أو تفرد به فلان وإن رواه عنه جماعة. وقد يفرقون بين الفرد
والغريب في كثرة الاستعمال، فيجعلون الفرد ما كانت الغرابة في أصل سنده،
وهو طرفه الذي فيه الصحابي، بأن لم يروه مثلاً عن أبي هريرة إلا سعيد بن
المسيب ويعنون بالغريب ما سوى ذلك من أنوع التفرد. ومثال الغريب حديث علي
عن أبي بكر مرفوعاً: (ما من رجل يذنب ذنباً فيتوضأ ثم يصلي ركعتين فيستغفر
إلا غفر له) رواه أحمد، وأهل السنن، والحميدي وابن المديني، وابن أبي شيبة،
وابن حبان والدار قطني عن عثمان بن المغيرة عن علي بن ربيعة، عن أسماء بن
الحكم، عن علي عن أبي بكر. ثم إن الغالب على الغرائب أن تكون ضعيفة، وهذا
ما سبب كراهة السلف لرواية الغريب، والحكم عليه بالنكارة، وقد يوجد فيها ما
هو حسن، وما هو صحيح، كالأفراد التي في الصحيحين وغيرها.
القسم
الثاني: العزيز: هو ما روي من طريقين، أو ما رواه اثنان فقط. وسمي بذلك
إما من العزة بمعنى القلة، لقلة وجوده، أو لقلة رواته؛ وإما من العزة وهي
القوة، لأنه عز وقوي بمجيئه من الطريق الثانية؛ ولو رواه بعد ذلك عن
الاثنين جماعة لم يخرج عن كونه عزيزاً، إلا أنه يجمع إلى صفة العزة الشهرة،
فيكون عزيزاً في أصله، مشهوراً في نهايته. ولا شك أن كثرة الطرق تقوي،
ولكن لا يلزم من ذلك القطع بالصحة دائماً؛ فإن النظر في التضعيف والتصحيح
إلى الرجال غالباً كما تقرر. ومثال العزيز، قوله صلى الله عليه وسلم: (لا
يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين) متفق عليه.
فقد رواه أنس وأبو هريرة، ورواه عن أنس قتادة وعبدالعزيز بن صهيب، وعن
قتادة شعبة وسعيد، وعن عبدالعزيز إسماعيل بن علية وعبدالوارث، ثم اشتهر.
وقد اشترط الحاكم النيسابوري في الصحيح أن يكون عزيزاً فرد عليه الحفاظ بما
قد صححه هو وغيره من الأفراد مما يبين خطأ هذا الاشتراط.
القسم
الثالث: المشهور: قد سبق أن أشرنا إلى أن الحنفية أخرجوه من الآحاد،
وجعلوه قسيم المتواتر والآحاد، وعرفوه بأنه ما كان آحاداً في القرن الأول،
ثم تواتر بعد ذلك وكثرت رواته في القرن الثاني والثالث. وقيل: هو ما زاد
نقلته عن ثلاثة إلى آخر سنده، ومثاله حديث أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم
قنت شهراً يدعو على رعل وذكوان، متفق عليه، فقد رواه عن أنس قتادة والزهري
وأبو مجلز، ورواه عن كل واحد جماعة. وقد ألحقه الجصاص من الحنفية
بالمتواتر، والجمهور على أنه من أقسام الآحاد وسماه بعضهم بالمستفيض؛
لانتشاره بين الناس، وبعضهم غاير بين المشهور والمستفيض؛ حيث جعل الثاني ما
كانت الكثرة في ابتدائه وانتهائه سواء، والأول أعم من ذلك. ثم قد تكون
الشهرة نسبية، ويراد بها حينئذ انتشاره وكثرة استعماله، فمنه ما هو مشهور
بين المحدثين، كحديث أنس المذكور ومنه ما اشتهر عند العامة كحديث (العجلة
من الشيطان) حسنه الترمذي. ومنه المشهور عند الفقهاء كحديث: (أبغض الحلال
إلى الله الطلاق) رواه ابن ماجة، وأبو داود، والحاكم، وصححه عن ابن عمر.
ومنه المشهور عند النحاة كحديث: (نعم العبد صهيب، لو لم يخف الله لم يعصه).
ومنه ما هو مشهور عند الأصوليين، كحديث: (رفع عن أمتي الخطأ والنسيان)،
رواه ابن ماجة، والطبراني، وابن حبان، وصححه عن ابن عباس. وليست الشهرة
الاصطلاحية ملازمة للثبوت فكم ضعف النقاد أخباراً رواها العدد الكثير حيث
أن مدار الصحة غالباً عدالة الرواة. الباب الثاني : شروط العمل بخبر الواحد
. شروط الراوي تكرر أن قلنا: ليس كل خبر مقبولاً، وأنه لا بد من توفر شروط
في السند و المتن، تكون سبباً للاطمئنان إلى صحة النقل، ولقد اشتهر عن
الصحابة ومن بعدهم التحري في أخذ العلم فقد روى مسلم في مقدمة صحيحه آثاراً
كثيرة عن بعض كبار العلماء في الأمر بالتثبت في الرواية، وعدم قبول الحديث
إلا من أهله المعروفين به، فمن ذلك ما رواه عن ابن سيرين قال: إن هذا
العلم دين، فانظروا عمن تأخذون عنه دينكم. وروى أيضاً عن سعد بن إبراهيم
قال: لا يحدث عن الرسول صلى الله عليه وسلم إلا الثقات. وروى البيهقي عن
النخعي قال: كانوا إذا أتوا الرجل ليأخذوا عنه نظروا إلى سمته وإلى صلاته،
وإلى حاله، ثم يأخذون عنه، وروى أيضاً عن ابن عمر عن عمر قال: كان يأمرنا
أن لا نأخذ إلا عن ثقة. وقد روى البيهقي أيضاً عن ابن عباس مرفوعاً
وموقوفاً: لا تأخذوا العلم إلا ممن تقبلون شهادته. ولقد اشترط الله في
الشاهد أن يكون عدلاً مرضياً، قال تعالى: (واستشهدوا شهيدين من رجالكم فإن
لم يكونا رجلين فرجل وامرأتان ممن ترضون من الشهداء)(البقرة:282) أي ممن
يكون مرضياً في دينه وأمانته. وقال تعالى: (وأشهدوا ذوي عدل
منكم)(الطلاق:2) ولقد أفاض العلماء في كتب الفقه في صفات من يصلح للشهادة
ومن لا يصلح، وهكذا أهل الحديث ذكروا شروطاً لمن يقبل خبره ويوثق بروايته.
أخبار الآحاد في الحديث النبوي .؟ الجز1 . صفحة 26.
Referensi Kitab:
(1). Misykatul Mashobih. Juz 1. Hal 102.
(2). Taisir Mustholah Al-Hadis. Juz: 1. Hal: 12
(3). Akhbar Al-Achadi fi Al-Hadis An-Nabawi. Juz: 1. Hal: 26.
=========
MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
1) Al-Ustadz Brojol Gemblung
2) Al-Ustadz Wesqie
3) Al-Ustadz Guslik An-Namiri
4) Al-Ustadz Ro Fie
5) Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik

Komentar
Posting Komentar