¤ HADIRNYA MENGHAPUS SEGALA ASA ¤
Kala itu alam resah, semesta gelisah, dunia bergemuruh nestapa, sangkakala itu mencipta tangis, merebak merajalela.
Saat itu mentari enggan terbit dari ufuknya berbalik berputar arah. Disana sini hiruk pikuk tak terhenti, penuh jeritan menyayat. Langit tak mampu lagi menjadi atap, runtuh, hancur menjadi debu yang ringan beterbangan. Bumi tak mau lagi menjadi alas, bosan, jenuh memikul dosa sang penghuninya, pendurhaka, para pendurjana dan para musuh-musuh Allah.
Iman
menjadi taruhan, amal menjadi pahlawan atau malah menjadi syetan saat dajjal
membisikkan kesesatan menyesatkan, menjanjikan suatu tempat terindah
ditangan kanannya namun jurang yang dalam mengikis, menjerumuskan para
pengikutnya, pembangkang bejat dan para penjual agama. Di hari itu
akhir dari stiap nyawa. Kiamat merenggut nafas-nafas bersalah, berdosa dan yang
tak mengerti sama sekali.
Pedulikah kita akan hari itu?...........
Hari yang meredupkan segala asa dijiwa. Ia mengguncang ketenangan, mengusik kesunyian.
Siapkah dhahir batin kita untuk saat yang tak kan mundur, ada, nyata dan pasti terjadi?
Entah bagaimana setiap jasad yang terombang ambing di laut lepas yang tumpah dihimpitan gunung yang telah bertabrakan, dimana air, angin, api, salju tak mau bersahabat dengan kita.
Saat itu air mata penyesalan bagai hujan, manusia bagai sampah tak berharga, jerit taubat bagai deretan petir yang menyala menyambar hati yang ktika itu ingin kembali segala ta'at namun terlambat.
Kiamat menutup ribuan pintu ma'af. Apa guna sesal ketika dia datang? Apa guna tangis saat dia hadir?
Percuma.. percuma.. dan tiada guna!
Tinggal kepedihan yang bernaung disetiap insan yang tiada rahmat. Perih... rintihnya.
Ketika surya diatas kepala, ketika keringat darah menjadi samudra, mengalir deras, ada dikelompok mana kita dibangkitkan? Akankah kita menjadi yang mampu bertanggung jawab untuk bekal dikehidupan hakiki yang abadi?
Dimana kita akhirnya?... Dimana?...
Pedulikah kita akan hari itu?...........
Hari yang meredupkan segala asa dijiwa. Ia mengguncang ketenangan, mengusik kesunyian.
Siapkah dhahir batin kita untuk saat yang tak kan mundur, ada, nyata dan pasti terjadi?
Entah bagaimana setiap jasad yang terombang ambing di laut lepas yang tumpah dihimpitan gunung yang telah bertabrakan, dimana air, angin, api, salju tak mau bersahabat dengan kita.
Saat itu air mata penyesalan bagai hujan, manusia bagai sampah tak berharga, jerit taubat bagai deretan petir yang menyala menyambar hati yang ktika itu ingin kembali segala ta'at namun terlambat.
Kiamat menutup ribuan pintu ma'af. Apa guna sesal ketika dia datang? Apa guna tangis saat dia hadir?
Percuma.. percuma.. dan tiada guna!
Tinggal kepedihan yang bernaung disetiap insan yang tiada rahmat. Perih... rintihnya.
Ketika surya diatas kepala, ketika keringat darah menjadi samudra, mengalir deras, ada dikelompok mana kita dibangkitkan? Akankah kita menjadi yang mampu bertanggung jawab untuk bekal dikehidupan hakiki yang abadi?
Dimana kita akhirnya?... Dimana?...

Komentar
Posting Komentar