Hukum Niat Menjadi Imam Tanpa Adanya Ma’mum
Fa'i Ana Paran
1 agustus 2014
Assalamualaikum . Numpang nanya. BaGaimana hukumnya niat menjadi imam tapi gak ada ma'mumnya. Makacih?.
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rohmatulloh wa barokatuh .
Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan secara bersama-sama. Orang yang memimpin shalat, yang berdiri paling depan, disebut imam. Sedangkan yang ada di belakangnya, yang dipimpin, disebut makmum. Shalat berjamaah paling sedikit dilakukan oleh dua orang. Yang satu bertindak sebagai imam, dan yang satu lagi sebagai ma'mum. Sedangkan hukumnya adalah sunat muakkad. (Pendapat lain mengatakan fardhu kifayah). Dalam Al-Qur'an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. Dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. QS. An_Nisa’ Ayat 102.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama'ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA).
Dari Ibnu Abbas RA berkata: "Saya menginap di rumah bibiku Maimunah (isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun untuk salat malam maka aku bangun untuk salat bersama beliau. Aku berdiri di sisi kirinya dan dipeganglah kepalaku dan digeser posisiku ke sebelah kanan beliau." (HR. Jama'ah, hadits shahih). Adapun keutamaan shalat berjama'ah dapat diuraikan sebagai berikut:
✔. Berjama'ah lebih utama dari pada shalat sendirian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Shalat berjama'ah itu lebih utama dari pada salat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA)
✔. Dari setiap langkahnya diangkat kedudukannya satu derajat dan dihapuskan baginya satu dosa serta senantiasa dido'akan oleh para malaikat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Shalat seseorang dengan berjama'ah itu melebihi salatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila seseorang berwudlu' dan menyempurnakan wudlu'nya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan semata-mata untuk shalat, maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan shalat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada ditempat shalat selagi belum berhadats, mereka memohon: "Ya Allah limpahkanlah keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya.' Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan shalat semenjak menantikan tiba waktu shalat." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Huraira RA, dari terjemahan lafadz Bukhari).
✔. Terbebas dari pengaruh / penguasaan setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tiada tiga orangpun di dalam sebuah desa atau lembah yang tidak diadakan di sana salat berjama'ah, melainkan nyatalah bahwa mereka telah dipengaruhi oleh setan. Karena itu hendaklah kamu sekalian membiasakan shalat berjama'ah sebab serigala itu hanya menerkam kambing yang terpencil dari kawanannya." (HR. Abu Daud dengan isnad hasan dari Abu Darda' RA). Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Berikanlah khabar gembira orang-orang yang rajin berjalan ke masjid dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat." (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Hakim). Mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang salat Isya dengan berjama'ah maka seakan-akan ia mengerjakan shalat setengah malam, dan barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh berjama'ah maka seolah-olah ia mengerjakan shalat semalam penuh. (HR. Muslim dan Turmudzi dari Utsman RA).
✔. Sarana penyatuan hati dan fisik, saling mengenal dan saling mendukung satu sama lain. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam terbiasa menghadap ke ma'mum begitu selesai shalat dan menanyakan mereka-mereka yang tidak hadir dalam shalat berjama'ah, para sahabat juga terbiasa untuk sekedar berbicara setelah selesai shalat sebelum pulang kerumah. Dari Jabir bin Sumrah RA berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baru berdiri meninggalkan tempat salatnya diwaktu shubuh ketika matahari telah terbit. Apabila matahari sudah terbit, barulah beliau berdiri untuk pulang. Sementara itu di dalam masjid orang-orang membincangkan peristiwa-peristiwa yang mereka kerjakan di masa jahiliyah. Kadang-kadang mereka tertawa bersama dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ikut tersenyum." (HR. Muslim).
✔. Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin. Pembiasaan ini dilatih dengan mematuhi tata tertib hubungan antara imam dan ma'mum, misalnya tidak boleh menyamai apalagi mendahului gerakan imam menjaga kesempurnaan shaf-shaf shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan sekali-kali kamu menyalahinya!
Itulah beberapa himbauan dan fadlilah shalat berjama’ah.
Lalu demi mendapatkan fadlilah yang sedemikian besar, seseorang yang hendak melaksanakan shalat niat menjadi imam padahal dibelakangnya tidak terdapat seorangpun yang menjadi ma’mumnya. Bagaimana fiqh menyikapi hal itu? Inilah soal yang dipertanyakan oleh akhina fillah Fa'i Ana Paran. Semoga Allah senantiasa melindunginya dari segala musibah.
Lalu dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh akhina fillah Fa'i Ana Paran, Kami segenap anggauta Musyawirin MTTM berdasar literatur dari kitab-kitab Fiqh mu’tabar, memiliki pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:
Apabila seseorang yang hendak melaksanakan shalat tersebut yaqin akan ada yang berma'mun, maka sah niat menjadi imam walaupun dibelakangkangnya belum ada seorangpun. Imam Azzarkasyi menambahkan kalau memang ada keyakinan berjama'ah, maka seyogyanya orang tersebut niat menjadi Imam. Menurut Imam Syhihab Al-din bin Qosim Al-Abadi (س م) berdasar pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (حج) menyatakan bahwa niat menjadi imam harus diahirkan hingga hadirnya ma'mum. Imam Abu Ishaq Asy-Syirozi (شيخنا) menyatakan bahwa: Niat menjadi Imam tetap disunnahkan walaupun dibelakangnya tidak terdapat seseorang dengan harapan akan ada seseorang yang menjadi ma'mum. Apabila tidak ada keyakinan atau harapan tersebut, maka tidak disunnahkan melaksanakan niat menjadi imam dan niat menjadi imam (pada saat itu) tidak membahayakan terhadap keafsahan shalat. Menurut Imam Ibnu Qosim: Niat menjadi Imam sedang dibelakangnya tidak terdapat orang yang menjadi ma'mum bisa membahayakan terhadap keafsahan shalat karena terdapat unsur bermain-main dalam ibadah (tala’ub fi al-ibadah) kecuali mengikuti Imam 'Ali Syibramalisy; Nûr ad-Dîn Abû Dliyâ' 'Ali bin 'Ali (ع ش) yang memperbolehkan berjama’ah dengan mahluk lain (malaikat, jin).
Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar Pengambilan (1) Oleh Al-Ustadz @ PrEman Berr Tassbíihh:
Dasar Pengambilan (2) Oleh Al-Ustadz @ Opick Syahreza:
Dasar Pengambilan (3) Oleh @ Ibnu Malik:
Dasar Pengambilan (4) Oleh @ Ibnu Malik:
Dasar Pengambilan (5) Oleh Al-Ustadz @ Farid Muzakki:
Referensi Kitab:
1. ‘Ianatut Thalibin. Juz: 2. Hal: 26
2. Hasyiyah al-Bujairimi. Juz: 3. Hal: 363
3. Fathul Mu’in. Juz: 2. Hal: 20 4.
4. Hawasyi As-Syarwani. Juz: 2. Hal: 332
5. Hasyiyah As-Syibromulis.
=========
MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
1) Al-Ustadz Brojol Gemblung
2) Al-Ustadz Wesqie
3) Al-Ustadz Guslik An-Namiri
4) Al-Ustadz Ro Fie
5) Al-Ustadz Abdulloh Salam
6) Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
PERUMUS: Ibnu Malik
1 agustus 2014
Assalamualaikum . Numpang nanya. BaGaimana hukumnya niat menjadi imam tapi gak ada ma'mumnya. Makacih?.
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rohmatulloh wa barokatuh .
Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan secara bersama-sama. Orang yang memimpin shalat, yang berdiri paling depan, disebut imam. Sedangkan yang ada di belakangnya, yang dipimpin, disebut makmum. Shalat berjamaah paling sedikit dilakukan oleh dua orang. Yang satu bertindak sebagai imam, dan yang satu lagi sebagai ma'mum. Sedangkan hukumnya adalah sunat muakkad. (Pendapat lain mengatakan fardhu kifayah). Dalam Al-Qur'an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وإذا
كنت فيهم فأقمت لهم الصلاة فلتقم طائفة منهم معك وليأخذوا أسلحتهم فإذا
سجدوا فليكونوا من ورائكم ولتأت طائفة أخرى لم يصلوا فليصلوا معك
وليأخذوا حذرهم وأسلحتهم ود الذين كفروا لو تغفلون عن أسلحتكم وأمتعتكم
فيميلون عليكم ميلة واحدة ولا جناح عليكم إن كان بكم أذى من مطر أو كنتم
مرضى أن تضعوا أسلحتكم وخذوا حذركم إن الله أعد للكافرين عذابا مهينا. سورة
النساء آية 102.
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. Dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. QS. An_Nisa’ Ayat 102.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama'ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA).
Dari Ibnu Abbas RA berkata: "Saya menginap di rumah bibiku Maimunah (isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun untuk salat malam maka aku bangun untuk salat bersama beliau. Aku berdiri di sisi kirinya dan dipeganglah kepalaku dan digeser posisiku ke sebelah kanan beliau." (HR. Jama'ah, hadits shahih). Adapun keutamaan shalat berjama'ah dapat diuraikan sebagai berikut:
✔. Berjama'ah lebih utama dari pada shalat sendirian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Shalat berjama'ah itu lebih utama dari pada salat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA)
✔. Dari setiap langkahnya diangkat kedudukannya satu derajat dan dihapuskan baginya satu dosa serta senantiasa dido'akan oleh para malaikat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Shalat seseorang dengan berjama'ah itu melebihi salatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila seseorang berwudlu' dan menyempurnakan wudlu'nya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan semata-mata untuk shalat, maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan shalat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada ditempat shalat selagi belum berhadats, mereka memohon: "Ya Allah limpahkanlah keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya.' Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan shalat semenjak menantikan tiba waktu shalat." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Huraira RA, dari terjemahan lafadz Bukhari).
✔. Terbebas dari pengaruh / penguasaan setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tiada tiga orangpun di dalam sebuah desa atau lembah yang tidak diadakan di sana salat berjama'ah, melainkan nyatalah bahwa mereka telah dipengaruhi oleh setan. Karena itu hendaklah kamu sekalian membiasakan shalat berjama'ah sebab serigala itu hanya menerkam kambing yang terpencil dari kawanannya." (HR. Abu Daud dengan isnad hasan dari Abu Darda' RA). Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Berikanlah khabar gembira orang-orang yang rajin berjalan ke masjid dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat." (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Hakim). Mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang salat Isya dengan berjama'ah maka seakan-akan ia mengerjakan shalat setengah malam, dan barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh berjama'ah maka seolah-olah ia mengerjakan shalat semalam penuh. (HR. Muslim dan Turmudzi dari Utsman RA).
✔. Sarana penyatuan hati dan fisik, saling mengenal dan saling mendukung satu sama lain. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam terbiasa menghadap ke ma'mum begitu selesai shalat dan menanyakan mereka-mereka yang tidak hadir dalam shalat berjama'ah, para sahabat juga terbiasa untuk sekedar berbicara setelah selesai shalat sebelum pulang kerumah. Dari Jabir bin Sumrah RA berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baru berdiri meninggalkan tempat salatnya diwaktu shubuh ketika matahari telah terbit. Apabila matahari sudah terbit, barulah beliau berdiri untuk pulang. Sementara itu di dalam masjid orang-orang membincangkan peristiwa-peristiwa yang mereka kerjakan di masa jahiliyah. Kadang-kadang mereka tertawa bersama dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ikut tersenyum." (HR. Muslim).
✔. Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin. Pembiasaan ini dilatih dengan mematuhi tata tertib hubungan antara imam dan ma'mum, misalnya tidak boleh menyamai apalagi mendahului gerakan imam menjaga kesempurnaan shaf-shaf shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan sekali-kali kamu menyalahinya!
Itulah beberapa himbauan dan fadlilah shalat berjama’ah.
Lalu demi mendapatkan fadlilah yang sedemikian besar, seseorang yang hendak melaksanakan shalat niat menjadi imam padahal dibelakangnya tidak terdapat seorangpun yang menjadi ma’mumnya. Bagaimana fiqh menyikapi hal itu? Inilah soal yang dipertanyakan oleh akhina fillah Fa'i Ana Paran. Semoga Allah senantiasa melindunginya dari segala musibah.
Lalu dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh akhina fillah Fa'i Ana Paran, Kami segenap anggauta Musyawirin MTTM berdasar literatur dari kitab-kitab Fiqh mu’tabar, memiliki pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:
Apabila seseorang yang hendak melaksanakan shalat tersebut yaqin akan ada yang berma'mun, maka sah niat menjadi imam walaupun dibelakangkangnya belum ada seorangpun. Imam Azzarkasyi menambahkan kalau memang ada keyakinan berjama'ah, maka seyogyanya orang tersebut niat menjadi Imam. Menurut Imam Syhihab Al-din bin Qosim Al-Abadi (س م) berdasar pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (حج) menyatakan bahwa niat menjadi imam harus diahirkan hingga hadirnya ma'mum. Imam Abu Ishaq Asy-Syirozi (شيخنا) menyatakan bahwa: Niat menjadi Imam tetap disunnahkan walaupun dibelakangnya tidak terdapat seseorang dengan harapan akan ada seseorang yang menjadi ma'mum. Apabila tidak ada keyakinan atau harapan tersebut, maka tidak disunnahkan melaksanakan niat menjadi imam dan niat menjadi imam (pada saat itu) tidak membahayakan terhadap keafsahan shalat. Menurut Imam Ibnu Qosim: Niat menjadi Imam sedang dibelakangnya tidak terdapat orang yang menjadi ma'mum bisa membahayakan terhadap keafsahan shalat karena terdapat unsur bermain-main dalam ibadah (tala’ub fi al-ibadah) kecuali mengikuti Imam 'Ali Syibramalisy; Nûr ad-Dîn Abû Dliyâ' 'Ali bin 'Ali (ع ش) yang memperbolehkan berjama’ah dengan mahluk lain (malaikat, jin).
Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar Pengambilan (1) Oleh Al-Ustadz @ PrEman Berr Tassbíihh:
ﻭﺗﺼﺢ ﻧﻴﺘﻬﺎ ﻣﻊ ﺗﺤﺮﻣﻪ ﻭﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺧﻠﻔﻪ
ﺍﻥ ﻭﺛﻖ ﺑﺎﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﻭﺟﻪ ﻭﻣﻔﺎﺩﻩ
ﺍﻧﻪ ﺍﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺜﻖ ﺑﻬﺎ ﻻﺗﺼﺢ ﻧﻴﺘﻪ ﻟﻼﻣﺎﻡ ﻓﺎﻥ ﻧﻮﻯ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻼﺗﻪ ﻟﺘﻼﻋﺒﻪ ﻭﺍﻧﻪ ﻻ ﺍﺗﺮ
ﻟﻤﺠﺮﺩ ﺍﺣﺘﻤﺎﻝ ﺍﻗﺘﺪﺍﺀ ﺟﻨﻲ ﺍﻭﻣﻠﻚ ﺑﻪ ﻧﻌﻢ ﺍﻥ ﻇﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻢ ﻳﺒﻌﺪ ﺟﻮﺍﺯ ﻧﻴﺔ ﺍﻻﻣﺎﻡ
ﺍﻭﻃﻠﺒﻬﺎ
ﺍﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ . الجز 2. صفحة 26.
Dasar Pengambilan (2) Oleh Al-Ustadz @ Opick Syahreza:
ﻗَﻮْﻟُﻪُ
: ﺳَﻴَﺼِﻴﺮُ ﺇﻣَﺎﻣًﺎ ( ﻗَﺪْ ﻳَﻘْﺘَﻀِﻲ ﺍﻟْﻔَﺮْﺽُ ﻓِﻴﻤَﻦْ ﻳَﺮْﺟُﻮ
ﺟَﻤَﺎﻋَﺔً ﻳُﺤْﺮِﻣُﻮﻥَ ﺧَﻠْﻔَﻪُ ﺃَﻣَّﺎ ﻏَﻴْﺮُﻩُ ﻓَﺎﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ ﺍﻟْﺒُﻄْﻠَﺎﻥُ
ﻓَﻠْﻴُﺤَﺮَّﺭْ ﻛَﺎﺗِﺒُﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺰَّﺭْﻛَﺸِﻲُّ : ﺑَﻞْ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻧِﻴَّﺔُ
ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺧَﻠْﻔَﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺇﺫَﺍ ﻭَﺛِﻖَ
ﺑِﺎﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ﻭَﺃَﻗَﺮَّﻩُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﻳﻌَﺎﺏِ ﺍ ﻫـ . ﺷَﻮْﺑَﺮِﻱٌّ ﻭَﺇِﺫَﺍ
ﻧَﻮَﻯ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻣَﺔَ ، ﻭَﺍﻟْﺤَﺎﻟَﺔُ ﻫَﺬِﻩِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺕِ ﺧَﻠْﻔَﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ
ﻓَﺼَﻠَﺎﺗُﻪُ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﺍ ﻫـ . ﺳﻢ ) ﻗَﻮْﻟُﻪُ : ﺣَﺎﺯَ ﺍﻟْﻔَﻀِﻴﻠَﺔُ ﻣِﻦْ
ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ( ﻓَﺈِﻥْ ﻗُﻠْﺖ ﻣَﺮَّ ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﻓِﻲ
ﺍﻟﺘَّﺸَﻬُّﺪِ ﺍﻟْﺄَﺧِﻴﺮِ ﺣَﺼَﻞَ ﻟَﻪُ ﻓَﻀْﻠُﻬَﺎ ﻛُﻠِّﻬَﺎ ﻓَﻤَﺎ ﺍﻟْﻔَﺮْﻕُ ؟
ﻗُﻠْﺖ ﺍﻧْﻌِﻄَﺎﻑُ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻌْﻬُﻮﺩُ
ﺑِﺨِﻠَﺎﻑِ ﻋَﻜْﺴِﻪِ ﺍ ﻫـ . ﺣَﺞّ ﻓِﻲ ﺷَﺮْﺡِ ﺍﻟْﻌُﺒَﺎﺏِ ﺷَﻮْﺑَﺮِﻱٌّ .
ﻭَﻳَﺮُﺩُّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔَ ﻓِﻴﻪِ ﺗَﻨْﻌَﻄِﻒُ ﻋَﻠَﻰ
ﻣَﺎ ﻗَﺒْﻠَﻬَﺎ ﻭَﻳُﻤْﻜِﻦُ ﺍﻟْﻔَﺮْﻕُ ﺑِﺄَﻥَّ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻳُﻤْﻜِﻦُ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﺍﻟﺘَّﺠَﺰُّﺅُ ﺃَﻱْ ﻳَﻘَﻊَ ﺑَﻌْﻀُﻬَﺎ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔً ﻭَﺑَﻌْﻀُﻬَﺎ ﻓُﺮَﺍﺩَﻯ
ﺑِﺨِﻠَﺎﻑِ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡِ ﻭَﻳُﺨَﺎﻟِﻒُ ﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻡُ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡَ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺫُﻛِﺮَ
ﺇﺫْ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻮِﻱَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﻓِﻲ ﺃَﺛْﻨَﺎﺀِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﺑَﻞْ
ﻳُﻜْﺮَﻩُ ﻟَﻪُ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺤْﺼُﻞُ ﻟَﻪُ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ،
ﻭَﺍﻟْﻔَﺮْﻕُ ﺃَﻥَّ ﺍﻟِﺎﻗْﺘِﺪَﺍﺀَ ﺑِﺎﻟْﻐَﻴْﺮِ ﻣَﻈِﻨَّﺔُ ﻣُﺨَﺎﻟَﻔَﺔِ ﻧَﻈْﻢِ
ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻟِﻜَﻮْﻧِﻪِ ﻳَﺘْﺒَﻊُ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡَ ﻓِﻲ ﻧَﻈْﻢِ ﺻَﻠَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺇِﻥْ
ﺧَﺎﻟَﻒَ ﻧَﻈْﻢَ ﺻَﻠَﺎﺓِ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ
ﻣُﺴْﺘَﻘِﻞٌّ ﻟَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺗَﺎﺑِﻌًﺎ ﻟِﻐَﻴْﺮِﻩِ ﻛَﻤَﺎ ﻧَﻘَﻠَﻪُ ﺳﻢ ﻋَﻦْ .
حاشية البجيرمي . الجز 3. صفحة 363.
Dasar Pengambilan (3) Oleh @ Ibnu Malik:
(
ونية إمامة ) أو جماعة ( سنة لإمام في غير جمعة ) لينال فضل الجماعة
وللخروج من خلاف من أوجبها وتصح نيتها مع تحرمه وإن لم يكن خلفه أحد إن
وثق بالجماعة على الأوجه لأنه سيصير إماما فإن لم ينو ولو لعدم علمه
بالمقتدين حصل لهم الفضل دونه وإن نواه في الأثناء حصل له الفضل من حينئذ
فتح المعين - (ج 2 / ص 20)
Dasar Pengambilan (4) Oleh @ Ibnu Malik:
فرع
المتبادر من كلامهم أن من نوى الإمامة وهو يعلم أن لا أحد ثم يريد
الاقتداء به لم تنعقد صلاته لتلاعبه وأنه لا أثر لمجرد احتمال اقتداء جني
به نعم إن ظن ذلك لم يبعد جواز نية الإمامة أو طلبها ثم رأيت في شرح العباب
قال أي الزركشي بل ينبغي نية الإمامة وإن لم يكن خلفه أحد إذا وثق
بالجماعة انتهى وقد يقال يؤخرها لحضور الموثوق بهم سم على حج وقوله اقتداء
جني أي أو ملك ع ش عبارة شيخنا وتستحب النية المذكورة وإن لم يكن خلفه أحد
حيث رجا من يقتدي به وإلا فلا تستحب لكن لا تضر كذا بخط الميداني ونقل عن
ابن قاسم أنها تضر لتلاعبه إلا إن جوز اقتداء ملك أو جني به فلا تضر .
حواشي الشرواني الجز 2. صفحة 332.
Dasar Pengambilan (5) Oleh Al-Ustadz @ Farid Muzakki:
ﻓﺮﻉ
: ﺍﻟﻤﺘﺒﺎﺩﺭ ﻣﻦ ﻛﻼﻣﻬﻢ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻧﻮﻯ ﺍﻹﻣﺎﻣﺔ ﻭﻫﻮ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﻻ ﺃﺣﺪ ﺛﻢ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻻﻗﺘﺪﺍﺀ
ﺑﻪ ﻟﻢ ﺗﻨﻌﻘﺪ ﺻﻼﺗﻪ ﻟﺘﻼﻋﺒﻪ ﻭﺃﻧﻪ ﻻ ﺃﺛﺮ ﻟﻤﺠﺮﺩ ﺍﺣﺘﻤﺎﻝ ﺍﻗﺘﺪﺍﺀ ﺟﻨﻰ ﺑﻪ . ﻧﻌﻢ ﺇﻥ
ﻇﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻢ ﻳﺒﻌﺪ ﺟﻮﺍﺯ ﻧﻴﺔ ﺍﻹﻣﺎﻣﺔ ﺃﻭ ﻃﻠﺒﻬﺎ ، ﺛﻢ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻌﺒﺎﺏ ﻗﺎﻝ :
ﺃﻱ ﺍﻟﺰﺭﻛﺸﻲ : ﺑﻞ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻧﻴﺔ ﺍﻹﻣﺎﻣﺔ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺧﻠﻔﻪ ﺃﺣﺪ ﺇﺫﺍ ﻭﺛﻖ ﺑﺎﻟﺠﻤﺎﻋﺔ
ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺸﺒﺮﺍﻣﻠﺴﻲ.
Referensi Kitab:
1. ‘Ianatut Thalibin. Juz: 2. Hal: 26
2. Hasyiyah al-Bujairimi. Juz: 3. Hal: 363
3. Fathul Mu’in. Juz: 2. Hal: 20 4.
4. Hawasyi As-Syarwani. Juz: 2. Hal: 332
5. Hasyiyah As-Syibromulis.
=========
MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
1) Al-Ustadz Brojol Gemblung
2) Al-Ustadz Wesqie
3) Al-Ustadz Guslik An-Namiri
4) Al-Ustadz Ro Fie
5) Al-Ustadz Abdulloh Salam
6) Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
PERUMUS: Ibnu Malik

Komentar
Posting Komentar