Hukum Memekai Cutex (cat kuku)
Hanyalah Tuhan Brada Disampingku
26 Juli 2014 pukul 12:08.
Assalammu,alaikum......
Ukhty Akhi......saya mau tanya ini,Ukhty Akhi.... .Sebenarnya umat islam itu dibolehkan memakai kutek kuku apa enggak sich......!uhty akhi tolong jawabannya ?.
=========
JAWABAN:
Wa’alikum salam wa rahmatulah wa barakatuh
Pewarna kuku adalah bagian dari perhiasan wanita. Dengan ini para wanita berhias dan berharap untuk bisa tampil lebih cantik dan lebih menarik. Hasrat untuk tampil cantik dan menarik merupakan fitrah bagi wanita. Karena Allah subhanahu wa ta’ala memang telah menjadikan mereka suka akan keindahan dan kecantikan.
Apabila kecantikan dan dandanannya itu disalurkan sesuai dengan apa yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka hal akan menjadi ibadah dan menjadi sarana mendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Misalnya seorang wanita berusaha tampil cantik dan menarik di depan suaminya dengan aneka make up termasuk salah satunya memakai pewarna kuku, sehingga dengan itu suaminya menjadi lebih tertarik dan lebih mencintainya, maka wanita itu akan mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Sebaliknya bila kecantikan dan dandanannya itu digunakan untuk menjerat laki-laki lain yang bukan mahramnya sehingga menimbulkan zina mata dan terbangkitnya nafsu syahwatnya, maka wanita tersebut akan mendapatkan dosa dan ancaman siksa di neraka.
Lalu bagaimana sebenarnya pandangan fiqh tentang orang yang menggunakan cutex (cat kuku)? Hal inilah yang dipertanyakan oleh ukhtina fillah: Hanyalah Tuhan Brada Disampingku. Semoga Allah senantiasa melindunginya.
Maka dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh ukhtina fillah: Hanyalah Tuhan Brada Disampingku tersebut diatas, kami segenap anggauta musyawirin MTTM memilik pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:
Hukum menggunakan cutex (cat kuku) ditafsil (diperinci) sebagai berikut:
Ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi wanita sebagai berikut:
- Sebagian Ulama’ menyatakan hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi wanita adalah boleh, selain dengan cutex (cat kuku) warna hitam.
- Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan hukum menggunakan cutex (cat kuku) warna hitam bagi wanita bersuami atau hamba sahaya adalah boleh dengan ketentuan mendapat izin dari suami atau sayyidnya.
- Menurut Imam al-Baghawi menyatakan hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi wanita bersuami adalah sunnah secara mutlak.
- Hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi wanita yang sedang berkabung atau sedang melaksakan ihrom adalah haram.
Ulama’ juga berbeda pendapat mengenai hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi laki-laki sebagai berikut:
- Menurut madzhab Syafi’i hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi laki-laki adalah harom karena terdapat unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan wanita dalam aksesoris kewanitaan.
- Menurut sebagian madzhab Hanafi dan Hambali hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi laki-laki adalah makruh.
- Menurut Imam Ibnu Qudamah hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi laki-laki adalah boleh.
CATATAN:
Pada umumnya cutex (cat kuku) merupakan zat pewarna yang membentuk lapisan kedap air. Sehingga air tidak bisa membasahi kuku-kukunya ketika berwudlu’. Sehingga bila dia berwudlu’ dalam keadaan memakain cutex, jelaslah bahwa wudlu’nya tidak sah, karena di antara anggota tubuh yang harus dibasuh adalah kedua tangan hingga siku. Untuk itu bila ingin memakainya, pastikan bahwa seorang wanita sudah berwuhdlu’ sebelumnya dan dia bisa menahan segala hal yang membatalkan wudlu’. Dalam keadaan itu, dia boleh melakukan shalat dan shalatnya sah. Tapi bila batal wudhu’nya, tentu saja dia harus berwudlu’ lagi dan untuk itu dia harus menghapus dahulu cutex (cat kuku)nya agar wudlu’nya sah.
Wallahu a'lam bis shawab.
Dasar Pengambilan (1). Oleh Al-Ustadz @ PrEman Berr Tassbíihh:
Dasar Pengambilan (2). Oleh Al-Ustadz @ Farid Muzakki:
Dasar Pengambilan (3). Oleh Al-Ustadz @ Farid Muzakki:
Dasar Pengambilan (4). Oleh @ Ibnu Malik:
Dasar Pengambilan (5). Oleh Al-Ustadz @ Wes Qie:
Dasar Pengambilan (6). Oleh @ Ibnu Malik:
Dasar Pengambilan (7). Oleh Al-Ustadz @ Ro Fie:
Dasar Pengambilan (8). Oleh @ Ibnu Malik:
َصَّ الشَّافِعِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ نَقْشُ يَدِ الْمَرْأَةِ الْمُحْرِمَةِ بِالْحِنَّاءِ ، وَكَذَا تَطْرِيفُ الأْصَابِعِ وَتَسْوِيدُهَا لِمَا فِيهِ مِنَ الزِّينَةِ وَإِزَالَةِ الشَّعَثِ الْمَأْمُورِ بِهِ فِي الإْحْرَامِ . الموسوعة الفقهية . الجز 41. صفحة 149
Dasar Pengambilan (9). Oleh Al-Ustadz @ Guslik An-Namiri:
Dasar Pengambilan (10). Oleh @ Ibnu Malik:
Dasar Pengambilan (11). Oleh @ Ibnu Malik:
Dasar Pengambilan (12). Oleh @ Ibnu Malik:
Referensi Kitab:
1. Al_Fiqh Al_Islam. Juz: 4. Hal: 283
2. Hasyiyah 'Ianah Attholibin
3. Raudloh At-Tholibin. Juz: 1. Hal: 331
4. Hasyiyah Al-Jamal. Juz: 2. Hal: 430
5. Tuhfah Al-Muhtaj. Juz: 14. Hal: 484
6. Asnal Matholib. Juz: 1. Hal: 173
7. Al-Majmu' Syarc Al-Muhaddzab. Juz: 3. Hal: 140
8. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah. Juz: 41. Hal: 149
9. Hasyiyah Al-Bujairimi 'Ala Syach Al-Manhaj. Juz: 2. Hal: 117
10. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah. Juz: 2. Hal: 284
11. Al-Fatawa Al-Kubro Al-Fiqhiyah. Juz: 4. Hal: 257
12. Kitab Al-Furu' Juz: 5. Hal: 532
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
1) Al-Ustadz Brojol Gemblung
2) Al-Ustadz Wes Qie
3) Al-Ustadz Guslik An-Namiri
4) Al-Ustadz Ro Fie
5) Al-Ustadz Sunde Pati
6) Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
7) Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik
26 Juli 2014 pukul 12:08.
Assalammu,alaikum......
Ukhty Akhi......saya mau tanya ini,Ukhty Akhi.... .Sebenarnya umat islam itu dibolehkan memakai kutek kuku apa enggak sich......!uhty akhi tolong jawabannya ?.
=========
JAWABAN:
Wa’alikum salam wa rahmatulah wa barakatuh
Pewarna kuku adalah bagian dari perhiasan wanita. Dengan ini para wanita berhias dan berharap untuk bisa tampil lebih cantik dan lebih menarik. Hasrat untuk tampil cantik dan menarik merupakan fitrah bagi wanita. Karena Allah subhanahu wa ta’ala memang telah menjadikan mereka suka akan keindahan dan kecantikan.
Apabila kecantikan dan dandanannya itu disalurkan sesuai dengan apa yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka hal akan menjadi ibadah dan menjadi sarana mendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Misalnya seorang wanita berusaha tampil cantik dan menarik di depan suaminya dengan aneka make up termasuk salah satunya memakai pewarna kuku, sehingga dengan itu suaminya menjadi lebih tertarik dan lebih mencintainya, maka wanita itu akan mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Sebaliknya bila kecantikan dan dandanannya itu digunakan untuk menjerat laki-laki lain yang bukan mahramnya sehingga menimbulkan zina mata dan terbangkitnya nafsu syahwatnya, maka wanita tersebut akan mendapatkan dosa dan ancaman siksa di neraka.
Lalu bagaimana sebenarnya pandangan fiqh tentang orang yang menggunakan cutex (cat kuku)? Hal inilah yang dipertanyakan oleh ukhtina fillah: Hanyalah Tuhan Brada Disampingku. Semoga Allah senantiasa melindunginya.
Maka dalam menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh ukhtina fillah: Hanyalah Tuhan Brada Disampingku tersebut diatas, kami segenap anggauta musyawirin MTTM memilik pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:
Hukum menggunakan cutex (cat kuku) ditafsil (diperinci) sebagai berikut:
Ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi wanita sebagai berikut:
- Sebagian Ulama’ menyatakan hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi wanita adalah boleh, selain dengan cutex (cat kuku) warna hitam.
- Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan hukum menggunakan cutex (cat kuku) warna hitam bagi wanita bersuami atau hamba sahaya adalah boleh dengan ketentuan mendapat izin dari suami atau sayyidnya.
- Menurut Imam al-Baghawi menyatakan hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi wanita bersuami adalah sunnah secara mutlak.
- Hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi wanita yang sedang berkabung atau sedang melaksakan ihrom adalah haram.
Ulama’ juga berbeda pendapat mengenai hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi laki-laki sebagai berikut:
- Menurut madzhab Syafi’i hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi laki-laki adalah harom karena terdapat unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan wanita dalam aksesoris kewanitaan.
- Menurut sebagian madzhab Hanafi dan Hambali hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi laki-laki adalah makruh.
- Menurut Imam Ibnu Qudamah hukum menggunakan cutex (cat kuku) bagi laki-laki adalah boleh.
CATATAN:
Pada umumnya cutex (cat kuku) merupakan zat pewarna yang membentuk lapisan kedap air. Sehingga air tidak bisa membasahi kuku-kukunya ketika berwudlu’. Sehingga bila dia berwudlu’ dalam keadaan memakain cutex, jelaslah bahwa wudlu’nya tidak sah, karena di antara anggota tubuh yang harus dibasuh adalah kedua tangan hingga siku. Untuk itu bila ingin memakainya, pastikan bahwa seorang wanita sudah berwuhdlu’ sebelumnya dan dia bisa menahan segala hal yang membatalkan wudlu’. Dalam keadaan itu, dia boleh melakukan shalat dan shalatnya sah. Tapi bila batal wudhu’nya, tentu saja dia harus berwudlu’ lagi dan untuk itu dia harus menghapus dahulu cutex (cat kuku)nya agar wudlu’nya sah.
Wallahu a'lam bis shawab.
Dasar Pengambilan (1). Oleh Al-Ustadz @ PrEman Berr Tassbíihh:
ﻭ
ﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﺨﻨﺚ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﻫﻮ ﺗﺸﺒﻪ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﺴﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺸﻲ ﻭ ﺍﻟﺘﻜﺴﻴﺮ ﻭ ﻟﻴﻦ ﺍﻟﻜﻼﻡ
ﻭ ﺭﻗﺔ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﻭ ﺍﻟﺘﺰﻳﻦ ﺑﺎﻟﺤﻨﻞﺀ ﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻤﻜﻴﺎﺝ ﻭ ﺍﻟﺘﺤﻤﻴﺮ ﻭ
ﺍﻟﺘﺒﻴﺾ ﻭ ﺗﻄﺮﻳﻒ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ ﻟﻜﻦ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺍﻟﺨﻀﺎﺏ ﻟﻠﻨﺴﺎﺀ ﻭ ﻧﺤﻮﻩ . ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ .
الجز 4. صفحة ٢٦٨٣.
Dasar Pengambilan (2). Oleh Al-Ustadz @ Farid Muzakki:
ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﻜﺮﺩﻱ : ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺤﻨﺎﺀ ﻟﻠﺮﺟﻞ . ﺧﺮﺝ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ، ﻓﻔﻴﻬﺎ ﺗﻔﺼﻴﻞ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻻﺣﺮﺍﻡ ﺍﺳﺘﺤﺐ ﻟﻬﺎ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺰﻭﺟﺔ .
ﺃﻭ
ﻏﻴﺮ ﻣﺰﻭﺟﺔ، ﺷﺎﺑﺔ ﺃﻭ ﻋﺠﻮﺯﺍ ﻭﺇﺫﺍ ﺍﺧﺘﻀﺒﺖ ﻋﻤﺖ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﺑﺎﻟﺨﻀﺎﺏ. ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻤﺤﺪﺓ:
ﻓﻴﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺨﻨﺜﻰ ﻛﺎﻟﺮﺟﻞ . ﻭﻳﺴﻦ ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺔ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﻠﻴﻠﺔ ﻭﺇﻻ ﻛﺮﻩ .
ﻭﻻ ﻳﺴﻦ ﻟﻬﺎ ﻧﻘﺶ ﻭﺗﺴﻮﻳﺪ ﻭﺗﻄﺮﻳﻒ ﻭﺗﺤﻤﻴﺮ ﻭﺟﻨﺔ، ﺑﻞ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﻋﻠﻰ ﺧﻠﻴﺔ
ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺄﺫﻥ ﻟﻬﺎ ﺣﻠﻴﻠﻬﺎ . ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ . ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﺝ 2 ﺹ
Dasar Pengambilan (3). Oleh Al-Ustadz @ Farid Muzakki:
ﻓﺮﻉ
ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺗﺨﻀﺐ ﻳﺪﻳﻬﺎ ﺑﺎﻟﺤﻨﺎﺀ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻠﻤﺮﺃﺓ ﺃﻥ ﺗﺨﻀﺐ ﻳﺪﻳﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﻮﻋﻴﻦ
ﺑﺎﻟﺤﻨﺎﺀ ﻗﺒﻞ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻭﺗﻤﺴﺢ ﻭﻻ ﻓﺮﻕ ﻓﻲ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﺍﻟﺨﻀﺎﺏ ﻟﻠﻤﺤﺮﻣﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺰﻭﺟﺔ
ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻭﺃﻣﺎ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻓﻴﺴﺘﺤﺐ ﻟﻠﻤﺰﻭﺟﺔ ﺍﻟﺨﻀﺎﺏ ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻟﻐﻴﺮﻫﺎ ﻭﺣﻴﺚ
ﺍﺳﺘﺤﺒﺒﻨﺎﻩ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺗﻌﻤﻴﻢ ﺍﻟﻴﺪ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻨﻘﺶ ﻭﺍﻟﺘﺴﻮﻳﺪ ﻭﺍﻟﺘﻄﺮﻳﻒ ﻭﻫﻮ ﺧﻀﺐ
ﺃﻃﺮﺍﻑ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺨﻀﺎﺏ ﺑﻌﺪ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻗﻠﺖ: ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﺍﻟﺨﻀﺎﺏ
ﺍﻟﻌﺠﻮﺯ ﻭﺍﻟﺸﺎﺑﺔ ﻭﻻ ﺗﺨﺘﻀﺐ ﺍﻟﺨﻨﺜﻰ ﻛﻤﺎ ﻻ ﻳﺨﺘﻀﺐ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ
روضة الطالبين – 1 – 331
Dasar Pengambilan (4). Oleh @ Ibnu Malik:
ويحرم
أيضا تجعيد شعرها ونشر أسنانها وهو تحديدها وترقيقها والخضاب بالسواد
وتحمير الوجنة بالحناء ونحوه وتطريف الأصابع مع السواد . حاشية الجمل .
الجز 2. صفحة 430.
Dasar Pengambilan (5). Oleh Al-Ustadz @ Wes Qie:
قَوْلُهُ
: وَتَطْرِيفُ ) قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ وَالْمُرَادُ بِالتَّطْرِيفِ
الْمُحَرَّمِ تَطْرِيفُ الْأَصَابِعِ بِالْحِنَّاءِ مَعَ السَّوَادِ أَمَّا
بِالْحِنَّاءِ وَحْدَهُ فَلَا شَكَّ فِي جَوَازِهِ شَرْحُ الْعُبَابِ
وَكَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ فِي النَّقْشِ .تحفة المحتاج . الجز 14.
صفحة 484.
Dasar Pengambilan (6). Oleh @ Ibnu Malik:
ويحرم
تَجْعِيدُهُ أَيْ الشَّعْرِ وَوَشْرُ الْأَسْنَانِ أَيْ تَحْدِيدُهَا
وَتَرْقِيقُهَا لِلتَّغْرِيرِ وَلِلتَّعَرُّضِ لِلتُّهْمَةِ فِيهِمَا
وَلِلْخَبَرِ السَّابِقِ في الثَّانِي وَالْخِضَابُ بِالسَّوَادِ لِخَبَرِ
يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ في آخَرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ
الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ رَوَاهُ أبو دَاوُد
وَغَيْرُهُ وَتَحْمِيرُ الْوَجْنَةِ بِالْحِنَّاءِ أو نَحْوِهِ وَتَطْرِيفُ
الْأَصَابِعِ بِهِ مع السَّوَادِ لِلتَّعَرُّضِ لِلتُّهْمَةِ إلَّا
بِإِذْنِ زَوْجٍ أو سَيِّدٍ لها في جَمِيعِ ما ذُكِرَ بَعْدَ قَوْلِهِ
حَرَامٌ فَيَجُوزُ لها ذلك لِأَنَّ له غَرَضًا في تَزَيُّنِهَا له وقد
أَذِنَ لها فيه وَخَالَفَ في التَّحْقِيقِ في الْوَصْلِ وَالْوَشْرِ
فَأَلْحَقَهُمَا بِالْوَشْمِ في الْمَنْعِ مُطْلَقًا . أسنى المطالب . الجز
1. 173
Dasar Pengambilan (7). Oleh Al-Ustadz @ Ro Fie:
واما
الخضاب بالحناء فمستحب للمرأة المزوجة في يديها ورجليها تعميما لا تطريفا
ويكره لغيرها وقد اطلق البغوي وآخرون استحباب الخضاب للمرأة ومرادهم
المزوجة . المجموع شرح المهذب الجز 3. صفحة 140
Dasar Pengambilan (8). Oleh @ Ibnu Malik:
َصَّ الشَّافِعِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ نَقْشُ يَدِ الْمَرْأَةِ الْمُحْرِمَةِ بِالْحِنَّاءِ ، وَكَذَا تَطْرِيفُ الأْصَابِعِ وَتَسْوِيدُهَا لِمَا فِيهِ مِنَ الزِّينَةِ وَإِزَالَةِ الشَّعَثِ الْمَأْمُورِ بِهِ فِي الإْحْرَامِ . الموسوعة الفقهية . الجز 41. صفحة 149
Dasar Pengambilan (9). Oleh Al-Ustadz @ Guslik An-Namiri:
قوله
( بشيء منه ) أي من المذكور وهو الحناء وقوله فتستر لون البشرة وإذا فعلت
ذلك لا يجوز النظر ليديها مخضوبتين والحرمة باقية وإنما أفاد الخضب نوع ستر
في الجملة سم قوله ( وخرج بالمرأة لرجل ) شامل للأمرد الجميل
قوله
( بل يحرم ) أي لغير عذركما نص عليه الإمام الشافعي ومحل الحرمة في البدن
فلا ينافي سن خضب لحيته بالحناء وكذا بالسواد في الجهاد ليظهر للكفار شبابه
وقوته . حاشية البجيرمي على شرح منهج . الجز 2. صفحة 117
Dasar Pengambilan (10). Oleh @ Ibnu Malik:
اتَّفَقَ
الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُل أَنْ يَخْتَضِبَ فِي
رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ لِتَغْيِيرِ الشَّيْبِ بِالْحِنَّاءِ وَنَحْوِهِ
لِلأْحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ ، وَجَوَّزُوا لَهُ أَنْ يَخْتَضِبَ
فِي جَمِيعِ أَجْزَاءِ بَدَنِهِ مَا عَدَا الْكَفَّيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ ،
فَلاَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَخْتَضِبَ فِيهِمَا إِلاَّ لِعُذْرٍ ؛ لأِنَّ
فِي اخْتِضَابِهِ فِيهِمَا تَشَبُّهًا بِالنِّسَاءِ، وَالتَّشَبُّهُ
بِالنِّسَاءِ مَحْظُورٌ شَرْعًا وَقَال أَكْثَرُ الشَّافِعِيَّةِ وَبَعْضُ
الْحَنَابِلَةِ بِحُرْمَتِهِ . وَقَال بَعْضُ الْحَنَابِلَةِ وَصَاحِبُ
الْمُحِيطِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ بِكَرَاهَتِهِ وَقَدْ قَال رَسُول اللَّهِ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهَاتِ
مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَال وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَال
بِالنِّسَاءِ . وَحُكْمُ الْخُنْثَى الْمُشْكِل كَحُكْمِ الرَّجُل فِي
هَذَا . الموسوعة الفقهية . الجز 2. صفحة 284
Dasar Pengambilan (11). Oleh @ Ibnu Malik:
وَسُئِلَ
رَحِمَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ما حُكْمُ حِنَّاءِ يَدَيْ
الرَّجُلِ وَرِجْلَيْهِ فَأَجَابَ نَفَعَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى بِعُلُومِهِ بِقَوْلِهِ حُكْمُ حِنَّاءِ يَدَيْ الرَّجُلِ
وَرِجْلَيْهِ أَنَّهُ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ حَرَامٌ على الْمُعْتَمَدِ عِنْدَ
النَّوَوِيِّ وَغَيْرِهِ لِأَنَّهُ من زِينَةِ النِّسَاءِ .الفتاوى الكبرى
الفقهية . الجز 4. صفحة 257
Dasar Pengambilan (12). Oleh @ Ibnu Malik:
فأما
الخضاب للرجل فذكر الشيخ أنه لا بأس به فيما لا تشبه فيه بالنساء; لأن
الأصل الإباحة, ولا دليل للمنع, وأطلق في المستوعب: له الخضاب بالحناء,
وقال في مكان آخر: كرهه أحمد "قال أحمد": لأنه من الزينة. كتاب الفروع .
الجز 5. صفحة 532.
Referensi Kitab:
1. Al_Fiqh Al_Islam. Juz: 4. Hal: 283
2. Hasyiyah 'Ianah Attholibin
3. Raudloh At-Tholibin. Juz: 1. Hal: 331
4. Hasyiyah Al-Jamal. Juz: 2. Hal: 430
5. Tuhfah Al-Muhtaj. Juz: 14. Hal: 484
6. Asnal Matholib. Juz: 1. Hal: 173
7. Al-Majmu' Syarc Al-Muhaddzab. Juz: 3. Hal: 140
8. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah. Juz: 41. Hal: 149
9. Hasyiyah Al-Bujairimi 'Ala Syach Al-Manhaj. Juz: 2. Hal: 117
10. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah. Juz: 2. Hal: 284
11. Al-Fatawa Al-Kubro Al-Fiqhiyah. Juz: 4. Hal: 257
12. Kitab Al-Furu' Juz: 5. Hal: 532
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
1) Al-Ustadz Brojol Gemblung
2) Al-Ustadz Wes Qie
3) Al-Ustadz Guslik An-Namiri
4) Al-Ustadz Ro Fie
5) Al-Ustadz Sunde Pati
6) Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
7) Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik

Komentar
Posting Komentar