DOC_45. Hukum Memakan Daging Qurban Atas Nama Orang Lain Dan Hukum Membagikan Daging Qurban Atas Nama Orang Lain Kepada Orang Kaya

 

Masyruch El Basyirah

25 September 2014 pukul 5:31

Assalamu'alaikum...
Mohon pencerahan dari para kiai dan para ustadz tentang kurban.
Pertanyaannya:
1. Adakah qoul yang memperbolehkan orang yang berkurban atas nama orang lain memakan daging hewan qurbannya?
2. Bolehkah daging hewan qurban atas nama orang lain dibagikan kepada orang kaya?
Matur suwun.

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
  1. Adakah qoul yang memperbolehkan orang yang berkurban atas nama orang lain memakan daging hewan qurbannya?
  2. Bolehkah daging hewan qurban atas nama orang lain dibagikan kepada orang kaya?
Dalam menanggapi pertanyaan yang telah diutarakan oleh sahabat fillah Masyruch El Basyirah tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan dan kesimpulan sebagai berikut:
  1. Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa orang yang berkurban atas nama orang lain, maka boleh baginya untuk memakan daging kurban dan membagikannya untuk orang kaya dengan ketentuan mendapat izin dari orang yang mana hewan kurban disembelih atas namanya. Dan apabila orang yang mana hewan kurban disembelih atas namanya telah meninggal, maka orang yang berkurban tidak boleh memakan daging kurban dan tidak boleh membagikannya untuk orang kaya karena tidak adanya kemungkinan mendapatkan izin.
  2. Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi menyatakan bahwa orang yang berkurban atas nama orang lain, maka boleh baginya untuk memakan daging kurban dan membagikannya untuk orang kaya walaupun orang yang mana hewan kurban disembelih atas namanya telah meninggal dengan catatan pelaksanaan kurban yang dilakukan bukan atas perintah orang yang telah meninggal pada masa hidupnya (kurban wasiat). Apabila kurban dilakukan atas perintah orang yang telah meninggal pada masa hidupnya (kurban wasiat), maka orang yang berkurban tidak boleh memakan daging kurban dan tidak boleh membagikannya untuk orang kaya.
Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh @ Ibnu Malik:

( وله ) أي للمضحى ( الأكل من أضحية تطوع ) ضحى بها عن نفسه بل يستحب قياسا على هدي التطوع الثابت بقوله تعالى { فكلوا منها وأطعموا البائس الفقير } أي الشديد الفقر وفي البيهي أنه صلى الله عليه وسلم كان يأكل من كبد أضحيته وإنما لم يجب الأكل منها كما قيل به لظاهر الآية لقوله تعالى { والبدن جعلناها لكم من شعائر الله } فجعلها لنا وما جعل للإنسان فهو مخير بين تركه وأكله قاله في المهذب وخرج بذلك من ضحى عن غيره كميت بشرطه الآتي فليس له ولا لغيره من الأغنياء الأكل منها وبه صرح القفال وعلله بأن الأضحية وقعت عنه فلا يحل الأكل منها إلا بإذنه وقد تعذر فيجب التصدق بها عنه والأضحية الواجبة لا يجوز له الأكل منها فإن أكل منها شيئا غرم بدله
مغني المحتاج - (ج 4 / ص 290)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz @ Farid Muzakki:

فلو ضحى عن غيره بإذنه كميت أوصى بذلك فليس له،ولا لغيره من الأغنياء الأكل منها وبه صرح القفال في الميت، وعلله بأن الأضحية وقعت عنه فلا يحل الأكل منها إلا بإذنه وقد تعذر فيجب التصدق به عنه
اسنى المطالب – 1- 454

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz @ Abdulloh Salam:

وَله الْأكل من أضْحِية تطوع
ضحى بهَا عَن نَفسه وَأما من ضحى عَن غَيره كميت فَلَيْسَ لَهُ وَلَا للأغنياء الْأكل مِنْهَا وَكَذَا الْوَاجِبَة لَيْسَ لَهُ الْأكل مِنْهَا
لسراج الوهاج ص: 563)

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz @ Abdulloh Salam:

 [ فَرْعٌ ] مَنْ ضَحَّى عَنْ الْمَيِّتِ يَصْنَعُ كَمَا يَصْنَعُ فِي أُضْحِيَّةِ نَفْسِهِ مِنْ التَّصَدُّقِ وَالْأَكْلِ وَالْأَجْرُ لِلْمَيِّتِ وَالْمِلْكُ لِلذَّابِحِ .
قَالَ الصَّدْرُ : وَالْمُخْتَارُ أَنَّهُ إنْ بِأَمْرِ الْمَيِّتِ لَا يَأْكُلْ مِنْهَا وَإِلَّا يَأْكُلُ بَزَّازِيَّةٌ ، وَسَيَذْكُرُهُ فِي النَّظْمِ ( قَوْلُهُ وَإِنْ كَانَ شَرِيكُ السِّتَّةِ نَصْرَانِيًّا إلَخْ )
رد المحتار - (ج 26 / ص 257)

Referensi:
  1. Mughni Al-Muhtaj. IV/ 290
  2. Asna Al-Mathalib. I/ 454
  3. Al-Siraj Al-Wahab. 563
  4. Raddu Al-Muchtar. XXVI/ 257
=========

MUSYAWWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
2. Al-Ustadz Wes Qie
3. Al-Ustadz Abdul Malik
4. Al-Ustadz Ro Fie
5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

PERUMUS: Ibnu Malik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama