DOC_88. Hukum Jual Beli Pada Saat Khutbah
10 november 2014
Assalamu alaikum
bagaimana? Hukumnya jual beli saat
pembacaan hutbah jum'at boleh apa tidak
ust
~~~~~~~~~
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum melaksanakan jual beli pada saat pembacaan khutbah menurut perspektif Fiqh?
Dalam menanggapi pertanyaan yang telah disampaikan oleh sahabat fillah Samseng Ajuba tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut:
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Jumu'ah: 9)
Maksudnya, apabila Imam telah naik mimbar dan muaddzin telah mengumandangkan adzan dihari Jum'at, maka wajib bagi kaum muslimin untuk bersegera memenuhi panggilan muaddzin dan meninggalakan semua pekerjaan serta diharamkan melakukan segala bentuk transaksi termasuk jual beli. Imaduddin Abul Fida Ismail bin al-Khatib Abu Hafs Umar bin Katsir al-Syafi’i al-Quraisyi al-Dimasyqi didalam Tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa semua Ulama’ sepakat bahwa waktu yang diharamkan melaksanakan transaksi termasuk jual beli adalah setelah dikumandangkan adzan yang kedua, maka transaksi jual beli yang dilakukan pada saat pelaksanaan khutbah adalah haram.
Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati dan Imam Zakariya al-Anshari menambahkan bahwa keharaman melakukan transaksi pada saat itu (setelah dikumandangkan adzan yang kedua) adalah bagi orang-orang yang belum berada didalam Masjid. Maka apabila seseorang mendengar adzan shalat Jum'at dikumandangkan kemudian orang tersebut bergegas menuju Masjid dan ditengah perjalanan melakukan transaksi jual beli atau orang tersebut sudah berada didalam Masjid dan melakukan transaksi jual beli, maka hukum transaksi jual beli yang dilakukan adalah tidak haram, namun perlu diketahui bahwa hukum melakukan transaksi jual beli didalam Masjid adalah makruh, dan keharaman melakukan transaksi pada saat itu (setelah dikumandangkan adzan yang kedua) juga bagi orang-orang yang telah mengerti bahwa hal itu dilarang (haram), juga tidak dalam kondisi darurat. Jadi, apabila transaksi jual beli yang dilakukan pada saat itu dikarenakan ketidak mengertian, atau karena kondisi darurat (seperti membeli makanan untuk orang yang kelaparan yang jika ditunda dapat membahayakan jiwanya atau membeli kain kafan untuk jenazah yang apabila ditunda, maka kondisi mayit akan berubah), maka hukumnya adalah tidak haram dan tidak berdosa.
Imam Abu Bakar Ibnu Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati dan Imam Zakariya al-Anshari juga menambahkan bahwa kewajiban untuk segera memenuhi panggilan dan diharamkannya melakukan segala bentuk transaksi termasuk jual beli adalah bagi orang-orang yang memang diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jum’at, ya’ni: laki-laki, baligh, berakal, merdeka, sehat dan mustauthin (bermukim, bukan musafir). Maka tidak diharamkan bahkan tidak makruh apabila transaksi jual beli dilakukan oleh orang-orang yang tidak berkewajiban untuk melaksanakan shalat Jum’at seperti transaksi yang dilakukan oleh dua anak kecil, atau dua orang wanita atau atau dua orang musafir, namun apabila transaksi dilakukan oleh dua orang (penjual dan pembeli) yang salah satunya berkewajiban melaksanakan shalat Jum'at, sedang yang lain tidak berkewajiban untuk melaksanakan shalat Jum'at, maka transaksi yang dilakukan oleh keduanya adalah haram karena dianggap saling tolong menolong dalam berbuat dosa.
Adapun status jual beli yang dilakukan pada waktu yang diharamkan adalah sah (dengan ketentuanya). Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
وقوله: { وَذَرُوا الْبَيْعَ } أي: اسعوا إلى ذكر الله واتركوا البيع إذا نودي للصلاة: ولهذا اتفق العلماء رضي الله عنهم على تحريم البيع بعد النداء الثاني
تفسير ابن كثير - (ج 8 / ص 122)
Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
( قوله وحرم على من تلزمه الجمعة نحو مبايعة ) أي لقوله تعالى { يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع }
فورد النص في البيع وقيس عليه غيره
ومحل الحرمة في حق من جلس له في غير الجامع أما من سمع النداء فقام قاصدا الجمعة فباع في طريقه أو قعد في الجامع وباع فإنه لا يحرم عليه
لكن البيع في المسجد مكروه ومحلها أيضا إن كان عالما بالنهي ولا ضرورة كبيعه للمضطر ما يأكله وبيع كفن لميت خيف تغيره بالتأخير وإلا فلا حرمة وإن فاتت الجمعة
وخرج بقوله من تلزمه الجمعة من لا تلزمه فلا حرمة عليه ولا كراهة
لكن إذا تبايع مع من هو مثله
أما إذا تبايع مع من تلزمه حرم عليه أيضا لإعانته على الحرام
وقيل كره له ذلك
( قوله كاشتغال بصنعة ) تمثيل لنحو مبايعة
قال في النهاية وهل الاشتغال بالعبادة كالكتابة كالاشتغال بنحو البيع مقتضى كلامهم نعم
اه
قال ع ش أي فيحرم خارج المسجد ويكره فيه
( قوله بعد شروع ) متعلق بحرم
( وقوله في أذان خطبة ) أي الأذان الذي بين يدي الخطيب وقيد الأذان بما ذكر لأنه الذي كان في عهده صلى الله عليه وسلم فانصرف النداء في الآية إليه
( قوله فإن عقد ) أي من حرم عليه العقد
بيعا كان أو غيره
وعبارة المغنى مع الأصل فإن باع من حرم عليه البيع صح بيعه وكذا سائر عقوده لأن النهي لمعنى خارج عن العقد أي وهو التشاغل عن صلاتها فلم يمنع الصحة كالصلاة في الدار المغصوبة
اه
إعانة الطالبين - (ج 2 / ص 95)
Dasar pengambilan (3) oleh Ibnu Malik:
وحرم على من تلزمه الجمعة اشتغال بنحو بيع من عقود وصنائع وغيرها مما فيه تشاغل عن السعي إلى الجمعة بعد شروع في أذان خطبة قال تعالى إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع أي اتركوه والأمر للوجوب فيحرم الفعل وقيس بالبيع غيره مما ذكر وتقييد الأذان بما ذكر لأنه الذي كان في عهده صلى الله عليه وسلم فانصرف النداء في الآية إليه وحرمة ما ذكر في حق من جلس له في غير المسجد أما إذا سمع النداء فقام قاصدا الجمعة فبايع في طريقه أو قعد في الجامع وباع فلا يحرم كما صرح به في التتمة ونقله في الروضة قال وهو ظاهر لكن البيع في المسجد مكروه ولو تبايع اثنان أحدهما تلزمه الجمعة دون الآخر أثم الآخر أيضا لإعانته على الحرام وقيل كره له وخرج بمن تلزمه من لا تلزمه فلو تبايع اثنان ممن لم تلزمه لم يحرم ولم يكره فإن عقد من حرم عليه العقد صح العقد لأن المنع منه لمعنى خارج وقولي عقد أعم من قوله باع وكره ذلك قبل الأذان المذكور والجلوس للخطبة بعد زوال لدخول وقت الوجوب
شرح المنهج - (ج 2 / ص 54)
Referensi:
MUSYAWWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
PERUMUS: Ibnu Malik
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1555448744668680/)
Assalamu alaikum
bagaimana? Hukumnya jual beli saat
pembacaan hutbah jum'at boleh apa tidak
ust
~~~~~~~~~
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum melaksanakan jual beli pada saat pembacaan khutbah menurut perspektif Fiqh?
Dalam menanggapi pertanyaan yang telah disampaikan oleh sahabat fillah Samseng Ajuba tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut:
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Jumu'ah: 9)
Maksudnya, apabila Imam telah naik mimbar dan muaddzin telah mengumandangkan adzan dihari Jum'at, maka wajib bagi kaum muslimin untuk bersegera memenuhi panggilan muaddzin dan meninggalakan semua pekerjaan serta diharamkan melakukan segala bentuk transaksi termasuk jual beli. Imaduddin Abul Fida Ismail bin al-Khatib Abu Hafs Umar bin Katsir al-Syafi’i al-Quraisyi al-Dimasyqi didalam Tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa semua Ulama’ sepakat bahwa waktu yang diharamkan melaksanakan transaksi termasuk jual beli adalah setelah dikumandangkan adzan yang kedua, maka transaksi jual beli yang dilakukan pada saat pelaksanaan khutbah adalah haram.
Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati dan Imam Zakariya al-Anshari menambahkan bahwa keharaman melakukan transaksi pada saat itu (setelah dikumandangkan adzan yang kedua) adalah bagi orang-orang yang belum berada didalam Masjid. Maka apabila seseorang mendengar adzan shalat Jum'at dikumandangkan kemudian orang tersebut bergegas menuju Masjid dan ditengah perjalanan melakukan transaksi jual beli atau orang tersebut sudah berada didalam Masjid dan melakukan transaksi jual beli, maka hukum transaksi jual beli yang dilakukan adalah tidak haram, namun perlu diketahui bahwa hukum melakukan transaksi jual beli didalam Masjid adalah makruh, dan keharaman melakukan transaksi pada saat itu (setelah dikumandangkan adzan yang kedua) juga bagi orang-orang yang telah mengerti bahwa hal itu dilarang (haram), juga tidak dalam kondisi darurat. Jadi, apabila transaksi jual beli yang dilakukan pada saat itu dikarenakan ketidak mengertian, atau karena kondisi darurat (seperti membeli makanan untuk orang yang kelaparan yang jika ditunda dapat membahayakan jiwanya atau membeli kain kafan untuk jenazah yang apabila ditunda, maka kondisi mayit akan berubah), maka hukumnya adalah tidak haram dan tidak berdosa.
Imam Abu Bakar Ibnu Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati dan Imam Zakariya al-Anshari juga menambahkan bahwa kewajiban untuk segera memenuhi panggilan dan diharamkannya melakukan segala bentuk transaksi termasuk jual beli adalah bagi orang-orang yang memang diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jum’at, ya’ni: laki-laki, baligh, berakal, merdeka, sehat dan mustauthin (bermukim, bukan musafir). Maka tidak diharamkan bahkan tidak makruh apabila transaksi jual beli dilakukan oleh orang-orang yang tidak berkewajiban untuk melaksanakan shalat Jum’at seperti transaksi yang dilakukan oleh dua anak kecil, atau dua orang wanita atau atau dua orang musafir, namun apabila transaksi dilakukan oleh dua orang (penjual dan pembeli) yang salah satunya berkewajiban melaksanakan shalat Jum'at, sedang yang lain tidak berkewajiban untuk melaksanakan shalat Jum'at, maka transaksi yang dilakukan oleh keduanya adalah haram karena dianggap saling tolong menolong dalam berbuat dosa.
Adapun status jual beli yang dilakukan pada waktu yang diharamkan adalah sah (dengan ketentuanya). Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
وقوله: { وَذَرُوا الْبَيْعَ } أي: اسعوا إلى ذكر الله واتركوا البيع إذا نودي للصلاة: ولهذا اتفق العلماء رضي الله عنهم على تحريم البيع بعد النداء الثاني
تفسير ابن كثير - (ج 8 / ص 122)
Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
( قوله وحرم على من تلزمه الجمعة نحو مبايعة ) أي لقوله تعالى { يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع }
فورد النص في البيع وقيس عليه غيره
ومحل الحرمة في حق من جلس له في غير الجامع أما من سمع النداء فقام قاصدا الجمعة فباع في طريقه أو قعد في الجامع وباع فإنه لا يحرم عليه
لكن البيع في المسجد مكروه ومحلها أيضا إن كان عالما بالنهي ولا ضرورة كبيعه للمضطر ما يأكله وبيع كفن لميت خيف تغيره بالتأخير وإلا فلا حرمة وإن فاتت الجمعة
وخرج بقوله من تلزمه الجمعة من لا تلزمه فلا حرمة عليه ولا كراهة
لكن إذا تبايع مع من هو مثله
أما إذا تبايع مع من تلزمه حرم عليه أيضا لإعانته على الحرام
وقيل كره له ذلك
( قوله كاشتغال بصنعة ) تمثيل لنحو مبايعة
قال في النهاية وهل الاشتغال بالعبادة كالكتابة كالاشتغال بنحو البيع مقتضى كلامهم نعم
اه
قال ع ش أي فيحرم خارج المسجد ويكره فيه
( قوله بعد شروع ) متعلق بحرم
( وقوله في أذان خطبة ) أي الأذان الذي بين يدي الخطيب وقيد الأذان بما ذكر لأنه الذي كان في عهده صلى الله عليه وسلم فانصرف النداء في الآية إليه
( قوله فإن عقد ) أي من حرم عليه العقد
بيعا كان أو غيره
وعبارة المغنى مع الأصل فإن باع من حرم عليه البيع صح بيعه وكذا سائر عقوده لأن النهي لمعنى خارج عن العقد أي وهو التشاغل عن صلاتها فلم يمنع الصحة كالصلاة في الدار المغصوبة
اه
إعانة الطالبين - (ج 2 / ص 95)
Dasar pengambilan (3) oleh Ibnu Malik:
وحرم على من تلزمه الجمعة اشتغال بنحو بيع من عقود وصنائع وغيرها مما فيه تشاغل عن السعي إلى الجمعة بعد شروع في أذان خطبة قال تعالى إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع أي اتركوه والأمر للوجوب فيحرم الفعل وقيس بالبيع غيره مما ذكر وتقييد الأذان بما ذكر لأنه الذي كان في عهده صلى الله عليه وسلم فانصرف النداء في الآية إليه وحرمة ما ذكر في حق من جلس له في غير المسجد أما إذا سمع النداء فقام قاصدا الجمعة فبايع في طريقه أو قعد في الجامع وباع فلا يحرم كما صرح به في التتمة ونقله في الروضة قال وهو ظاهر لكن البيع في المسجد مكروه ولو تبايع اثنان أحدهما تلزمه الجمعة دون الآخر أثم الآخر أيضا لإعانته على الحرام وقيل كره له وخرج بمن تلزمه من لا تلزمه فلو تبايع اثنان ممن لم تلزمه لم يحرم ولم يكره فإن عقد من حرم عليه العقد صح العقد لأن المنع منه لمعنى خارج وقولي عقد أعم من قوله باع وكره ذلك قبل الأذان المذكور والجلوس للخطبة بعد زوال لدخول وقت الوجوب
شرح المنهج - (ج 2 / ص 54)
Referensi:
- Tafsir Ibnu Katsir. VIII/ 122
- I’anah Al-Thalibin. II/ 95
- 3. Syarch Al-Manhaj. II/ 54
MUSYAWWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1555448744668680/)

Komentar
Posting Komentar