DOC_91. Hukum Suami Menolak Ajakan Istri Melakukan Hubungan Intim

 

Samseng Ajuba

15 november 2014

Assalamu alaikum
suami menolak berjimak ketika istri
mnuntut nafkah batinnya
mngingat nafkah batin adalah kwajiban
suami
bagaimanakah hukum fiqh mengamati
promblematika di atas. Di jlaskan sampai
tuntas pak ust

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum seorang suami yang menolak ajakan istri untuk melakukan hubungan intim menurut?

     Ulama’ ahli Fiqh berbeda pandangan mengenai batasan seorang suami dalam memberikan nafkah batin kepada istrinya yang diuraikan sebagai berikut:
  • Pendapat yang populer dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa seorang suami tidak wajib memberikan nafkah batin (making love) kepada istri, karena hal itu adalah hak suami. Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi (populer: Imam Nawawi) menegaskan bahwa jika seseorang isteri mengakui kemampuan suaminya untuk melakukan hubungan intim, namun suami menahan diri dari melakukannya, maka tidak ada pilihan bagi isteri tersebut. Lalu apakah seorang isteri berhak untuk memaksa (meminta) suami melakukan hubungan intim dengannya?. Maka menurut pendapat yang lebih shahih, seorang suami tidak dapat dipaksa, karena melakukan hubungan intim merupakan hak suami. Hal senada diungkapkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Imam Abdul Hamid al-Maki al-Syarwani (populer: Imam Syarwani) juga memberikan statementnya dalam mengomentari pernyataan Imam Ibnu Hajar dengan menyatakan bahwa pernyataan Imam Ibnu Hajar adalah benar, bahkan walaupun istrinya adalah seorang gadis, namun apabila hal tersebut menyebabkan istri melakukan perbuatan zina, dengan berdasar Qiyas, wajib bagi seorang suami untuk menyetubuhinya demi menghindari mafsadah dan bukan karena merupakan hak istri. Namun salah satu Ulama’ dari kalangan madzhab ini (Syafi’i) menyatakan bahwa kewajiban seorang suami untuk memberi nafkah batin kepada istrinya adalah satu kali dalam seumur hidup bahkan sebagian Ulama’ menyatakan bahwa disunahkan bagi seorang suami untuk melakukan hubungan intim dengan istrinya satu kali dalam kurun waktu empat hari dan sebagian Ulama' yang lain menyatakan satu kali dalam setiap masa suci (tidak haidl). 
  • Menurut Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi, seorang suami wajib memberikan nafkah batin satu kali dalam kurun waktu empat bulan.
  • Menurut Ulama’ dari kalangan madzhab Hambali, seorang suami wajib memberikan nafkah batin satu kali dalam kurun waktu empat bulan apabila tidak ada udzur.
  • Menurut Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki, seorang suami wajib memberikan nafkah batin satu kali dalam kurun waktu empat hari jika ada permintaan istri dan ini adalah pendapat yang unggul (rajih) dikalangan ini (madzhab Maliki).
     Dengan demikian, maka tidak berdosa seorang suami menolak permintaan istri untuk melakukan hubungan intim jika ia telah melakukannya dalam kurun waktu sebagaimana yang telah diuraikan. Wallahu a'lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh @ al-Ustadz Ibnu Syarief:

واختلف العلماء فيمن كف عن جماع زوجته فقال مالك إن كان بغير ضرورة ألزم به أو يفرق بينهما ونحوه عن أحمد والمشهور عند الشافعية أنه لا يجب عليه وقيل يجب مرة وعن بعض السلف في أربع ليلة وعن بعضهم في كل طهر مرة
فتح البارئ الجزء التاسع صحـ 373

Dasar pengambilan (2) oleh @ Ibnu Malik:

فصل إذا اعترفت بقدرته على الوطء وقالت إنه يمتنع منه فلا خيار  لها وهل لها مطالبته بوطأة واحدة وهل يجبر هو عليها وجهان
 أصحهما لا لأنه حقه فلا يجبر عليه كسائر الوطآت
روضة الطالبين - (ج 7 / ص 196)

Dasar pengambilan (3) oleh oleh @ al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ وَطْؤُهَا ؛ لِأَنَّهُ حَقُّهُ وَقِيلَ عَلَيْهِ مَرَّةٌ لِتَقْضِيَ شَهْوَتَهَا وَيَتَقَرَّرُ مَهْرُهَا .
تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 29 / ص 165)

Dasar pengambilan (4) oleh @ al-Ustadz Wesqie:

قوله ( ولا يجب عليه الخ ) مستأنف وقوله وطؤها أي وإن كانت بكرا فلو علم زناها لو لم يطأ فالقياس وجوب الوطء دفعا لهذه المفسدة لا لكونه حقا لها اه
حواشي الشرواني - (ج 7 / ص 183)

Dasar pengambilan (5) oleh @ al-Ustadz Ibnu Syarief:

وأما الوطء فقد قال صاحب القبس : الوطء واجب على الزوج للمرأة عند مالك إذا انتفى العذر , وقال ابن حنبل والأجهوري : يجب على الرجل وطء زوجته ويقضى عليه به حيث تضررت المرأة بتركه وقدر عليه الزوج , لأن الإنسان لا يكلف ما لا يطيقه , والراجح أنها إذا شكت قلة الوطء يقضى لها في كل أربع ليال بليلة , كما أن الصحيح إذا شكا الزوج من قلة الجماع أن يقضى له عليها بما تطيقه كالأجير , خلافا لمن قال : يقضى بأربع مرات في اليوم والليلة لاختلاف أحوال الناس فقد لا تطيق المرأة ذلك
الفواكه الدواني الجزء الخامس صحـ 131

Dasar pengambilan (6) oleh @ al-Ustadz Ro Fie:

فرع] اعلم أن نظر المرأة إلى زوجها جائز في جميع بدنه كعكسه، نعم إن منعها من النظر إلى عورته امتنع عليها النظر إليها بخلاف العكس فإنه جائز قطعاً لأنه يملك التمتع بها ولا تملك التمتع به
كاشفة السجا في شرح سفينة النجا (ص: 125)

Referensi:
  1. Fathu al-Bari. Juz: 9. Hal. 373
  2. Raudlah al-Thalibin. Juz: 7. Hal: 196
  3. Tuhfah al-Muhtaj Fi Syarh Al-Manhaj. Juz: 29. Hal. 165
  4. Hawasyi al-Syarwani. Juz: 7. Hal. 183
  5. Al-Fawakih al-Dawani. Juz: 5. Hal. 131

=========

MUSYAWWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

PERUMUS: Ibnu Malik


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1557057141174507/?hc_location=ufi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama