DOC_122. Hukum Menggunakan Obat Penguat



Dava Sie Penyejuk Hatiemue
15 desember 2014

assalamu alaikum
Ustadz, Apa hukumnya permen perangsang
bagi wanita yang sedang marak akhir-akhir
ini. Apakah dibolehkan jika digunakan oleh
istri untuk memuaskan suaminya, ustadz?
Kemudian, Apakah juga penggunaan obat
kuat yang digunakan laki-laki untuk
membahagiakan istri juga dibolehkan?


~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ


Bagaimanakah hukum menggunakan obat penguat bagi pasangan suami istri agar memuaskan?

     Telah bercerita kepada kami Shadqah bin al-Fadl, telah bercerita kepada kami Ibnu ‘Uyainah, beliau berkata: ‘Aku mendengar al-Zuhri dari Abdullah dari Ummi Qais Binti Muhsin, beliau berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Tetaplah menggunakan kayu garu (kayu India) karena kayu garu memiliki tujuh hasiat".'

     Imam Ibnu Hajar didalam kitabnya (Fathu al-Bari) menyebutkan diantara khasiat kayu Garu  adalah sebagai berikut:
  • Melancarkan bab.
  • Membunuh cacing yang berada di dalam usus.
  • Penawar racun.
  • Penurun panas dan demam.
  • Menghangatkan perut.
  • Meningkatkan birahi.
  • Menghilangkan bintik hitam.
     Adapun cara penggunaan kayu garu adalah dengan cara direndam di dalam air lalu dioleskan atau diminum.

     Berdasar hadits tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum menggunakan obat penguat menurut perspektif Fiqh adalah boleh bahkan dianjurkan (sunah). Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati, Imam Syihabuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Makki al-Haitami, Imam Sulaiman bin Umar bin Mansur al-Ujaili al-Azhari al-Jamal (populer:  Syaikh Sulaiman al-Jamal ) dan Ulama’-ulama’ Fiqh yang lain menegaskan bahwa kesunahan mengkonsumsi obat penguat adalah dengan ketentuan bukan obat yang dilarang, menggunakan resep dokter, dan disertai tujuan baik seperti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik (iffah) serta menjaga keturunan. Karena hal tersebut dapat menjaga keharmonisan hubungan suami istri dengan adanya kepuasan yang dapat meningkatkan rasa cinta diantara keduanya, sedang kebanyakan dari pasangan suami istri enggan untuk berusaha agar bisa tampil perkasa dengan memuaskan pasangannya. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh @ al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

حدثنا صدقة بن الفضل، أخبرنا ابن عيينة، قال: سمعت الزهري، عن عبيد الله، عن أم قيس بنت محصن، قالت: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: "عليكم بهذا العود الهندي، فإن فيه سبعة أشفية: يستعط به من العذرة، ويلد به من ذات الجنب الى ان قال... وقد ذكر الأطباء من منافع القسط أنه يدر الطمث والبول ويقتل ديدان الأمعاء ويدفع السم وحمى الربع والورد ويسخن المعدة ويحرك شهوة الجماع
فتح الباري شرح صحيح البخاري – 10 – 148

Dasar pengambilan (2) oleh @ al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

ويندب التقوي له بأدوية مباحة مع رعاية القوانين الطبية ومع قصد صالح كعفة ونسل لأنه وسيلة لمحبوب فليكن محبوبا وكثير من الناس يترك التقوي المذكور فيتولد من الوطء مضار جدا
إعانة الطالبين - (ج 3 / ص 274)

Dasar pengambilan (3) oleh @ al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

ويندب التقوي له بأدوية مباحة مع رعاية القوانين الطبية ومع قصد صالح كعفة ونسل لأنه وسيلة لمحبوب فيكون محبوبا وكثير من الناس يترك ذلك أي التقوي المذكور فيتولد من الوطء أمور ضارة جدا ووطء الحامل والمرضع مكروه للنهي عنه إن خشي منه ضرر الولد بل إن غلب على ظنه حرم
حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري - (ج 8 / ص 106)

Dasar pengambilan (4) oleh @ al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

وَالتَّقَوِّي لَهُ بِأَدْوِيَةٍ مُبَاحَةٍ مَعَ رِعَايَةِ الْقَوَانِينِ الطِّبِّيَّةِ بِقَصْدٍ صَالِحٍ كَعِفَّةٍ أَوْ نَسْلٍ وَسِيلَةٌ لِمَحْبُوبٍ فَلْيَكُنْ مَحْبُوبًا فِيمَا يَظْهَرُ وَكَثِيرُونَ يُخْطِئُونَ ذَلِكَ فَيَتَوَلَّدُ مِنْهُ أُمُورٌ ضَارَّةٌ جِدًّا فَلْيَحْذَرْ وَوَطْءُ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فَيُكْرَهُ إنْ خَشِيَ مِنْهُ ضَرَرَ الْوَلَدِ بَلْ إنْ تَحَقَّقَهُ حَرُمَ وَمَنْ أَطْلَقَ عَدَمَ كَرَاهَتِهِ مُرَادُهُ مَا إذَا لَمْ يَخْشَ مِنْهُ ضَرَرًا
تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 29 / ص 327)

Referensi:
  1. Fathu al-Bari. X/ 148
  2. I’anah al-Thalibin. III/ 274
  3. Hasyiyah al-Jamal ‘Ala al-Minhaj. VIII/ 106
  4. Tuhfah al-Muhtaj. XXIX/ 327
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik

(Link Diskusi: https://m.facebook.com/groups/1437298433150379?view=permalink&id=1567720396774848&comment_id=1567758043437750&_rdr&hc_location=ufi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama