DOC_130. Hukum Menikahi Keturunan Judzam
Pecinta Aswaja
24 Desember 2014 pukul 14:56
Assalamu'alaikum Ijin Nanya Lagi Ustad. Yang Saya Tahu Sebagian Dari Aibunnikah Ialah Majdum. Yang Saya Ingin Tanyakan Bolehkah Menikahi Anaknya Seseorang Yang Majdum. Dan Benerkah Majdum Itu Menular Kepada Anak Keturunan. Dan Tolong Sertakan Ta'bir. Terima Kasih Atas Keikhlasan Ustad Ustadah Kiayi Nyai Dan Teman Teman Mttm.
~~~~~~~~~
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bolehkah menikahi orang memiliki keturunan Judzam menurut perspektif Fiqh? Dan benarkan penyakit Judzam menular kepada keturunan?
Pada doc MTTM terdahulu dengan tema "Tentang Aib Nikah", segenap anggota musyawirin telah sedikit mengurai tentang Aib Nikah yang salah satunya adalah "Judzam" atau yang lebih dikenal dengan penyakit kusta, dan seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Judzam adalah penyakit yang membuat anggota badan berwarna merah, lalu menghitam, kemudian meleleh. Imam Syafi’i didalam kitab al-Umnya menegaskan bahwa penyakit Judzam dan Barash adalah dua jenis penyakit yang dapat menular pada anak yang akan dilahirkan dan sedikit sekali anak yang selamat dengan tidak terinfeksi apabila orang tuanya mengidap penyakit tersebut, bahkan jika anak yang dilahirkan tidak terinfeksi, maka keturunan berikutnya yang akan terinfeksi. Imam Syafi’i juga mengutip pernyataan para ilmuwan dibidang kedokteran yang menyatakan bahwa kedua penyakit tersebut tidak hanya dapat menular pada anak, melainkan juga dapat menular pada orang lain, Kedua penyakit tersebut adalah penyakit yang dapat mencegah terhadap hubungan intim karena keengganan pasangan (suami atau istri) untuk melakukannya dengan orang yang diketahui mengidap penyakit tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Menghindarlah kalian dari orang-orang yang terinfeksi penyakit Judzam sebagaimana kalian berlari menghindari seekor singa.” (HR. Al-Bukhari). Namun perintah untuk menghindar dari orang yang terinfeksi penyakit tersebut hanya bersifat himbauan demi menyelamatkan keturunan dan bukan sebuah larangan untuk berinteraksi, bergaul dan bahkan menikah, karena berdasar konsensus Ulama’ (ijma’) dalam keafsahan penikahan tidak disyaratkan harus tidak terinfeksi penyakit-penyakit tersebut, namun Imam Abdurrahman al-Jaziri dan pakar Fiqh yang lain mengingatkan bahwa penyakit Judzam dan Barash dapat menyebabkan diperbolehkan bagi pasangan suami istri untuk memilih (khiyar) antara melanjutkan pernikahan atau menyudahinya dengan mengajukan fasakh (bagi istri) atau dengan menjatuhkan talak (bagi suami) jika salah satu dari pasangan tersebut tidak bisa menerima (ridla) dengan kondisi pasangannya, baik keberadaan penyakit tersebut diketahui sebelum atau sesudah akad, baik telah terjadi hubungan intim atau tidak. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh @ al-Ustadz Ro Fie:
الجذام والبرص فيما يزعم أهل العلم بالطب والتجارب تعدى الزوج كثيرا وهو داء مانع للجماع لا تكاد نفس أحد أن تطيب بأن يجامع من هو به ولا نفس امرأة أن يجامعها من هو به فأما الولد فبين والله تعالى أعلم أنه إذا ولده أجذم أو أبرص أو جذماء أو برصاء قلما يسلم وإن سلم أدرك نسله
الأم ـ للشافعي - ( ج ٥/ ص ٨٥ )المكتبة الشاملة
Dasar pengambilan (2) oleh @ al-Ustadz Ro Fie:
قال الشافعي في الأم وأما الجذام والبرص فإنه أي كلا منهما يعدي الزوج والولد وقال في موضع آخر الجذام والبرص مما يزعم أهل العلم بالطب والتجارب أنه يعدي كثيرا وهو مانع للجماع لا تكاد النفوس تطيب أن تجامع من هو به والولد قلما يسلم منه وإن سلم أدرك نسله
فإن قيل كيف قال الشافعي إنه يعدي وقد صح في الحديث لا عدوى أنه أجيب بأن مراده أنه يعدى بفعل الله تعالى لا بنفسه والحديث ورد ردا لما يعتقده أهل الجاهلية من نسبة الفعل لغير الله تعالى
ولو حدث بالزوج بعد العقد عيب كأن جب ذكره ولو بعد الدخول ولو بفعلها ثبت لها الخيار بخلاف حدوث العنة بعد الدخول كما مرت الإشارة إليه وإلى الفرق بين الجب والعنة
ولو حدث بها عيب تخير الزوج قبل الدخول وبعده كما لو حدث به ولا خيار لولي بحادث
الإقناع للشربيني - ( ج ٢/ ص٤ ٢١ )المكتبة الشاملة
Dasar pengambilan (3) oleh @ al-Ustadz Wes Qie:
فأما البرص والجذام والجنون فإنها تجعل لأحد الزوجين الحق في طلب الفسخ في الحال سواء كان الزوج صغيرا أو كبيرا وكذلك الزوجة
ولا فرق في الفسخ بعيب من العيوب المذكورة جميعا بين أن تكون موجودة قبل العقد أو حدثت بعده كما لا فرق فيها بين أن يكون قبل الدخول أو بعده ولكن يشترط في ثبوت حق الفسخ بها كلها عدم الرضا فإن رضي أحدهما بالعيب صريحا بأن قال : رضيت أو ضمنا بان مكن من نفسه فلا خيار له
الفقه على المذاهب الأربعة - (ج 4 / ص 98)
Dasar pengambilan (4) oleh @ al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
وَكَذَا بِالْبَرَصِ وَالْجُذَامِ غَيْرِ الْحَادِثَيْنِ لِأَنَّهُمْ يُعَيَّرُونَ بِكُلٍّ منها وَلِأَنَّ الْعَيْبَ قد يَتَعَدَّى إلَيْهَا وَإِلَى نَسْلِهَا وَكَلَامُهُمْ قد يَتَنَاوَلُ النَّسِيبَ وَغَيْرَهُ لَكِنْ في الْبَسِيطِ في الْكَلَامِ على تَزْوِيجِ الْأَمَةِ فَلَوْ تَزَوَّجَتْ من مَعِيبٍ ثُمَّ عَلِمَتْ بِهِ فَلَهَا الْخِيَارُ
أسنى المطالب في شرح روض الطالب - (ج 3 / ص 176)
Daftar Pustaka:
- Al-Um Li al-Syafi’i. V/ 85
- Al-Iqna’ Li al-Syarbini. II/ 214
- Al-Fiqh ‘Ala Madzahib al Arba’ah. IV/ 98
- Asna al Mathalib. III/ 176
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1571012473112307/?hc_location=ufi)

Komentar
Posting Komentar