DOC_137. Hukum Dua Shalat Jum’at Dalam Satu Kampung Dan Hukum Merubah Barang Waqaf



Raenaldy Abdillah
27 Desember 2014 pukul 12:16

Assalamu alaiykum wrwb..

para yai, dan asatidz/h yg terhomat sy mao nanya

1. tentang Hukum
- Batasan ﺣﺪﺩ hudud membangun masjid yang satu dengan yang lain?
apakah per قريه perkampung 1 masjid? atau per dusun.
sedangkan d kota itu kan bukan dusun tapi jalan/ gang
seandainya ada dua masjid dlm satu kampung bagaimana hukm nya apakah bisa dipakai sholat jumat?
lanjut ke masalah ke 2
2. hukm mushola di jadikan masjid.

segitu ajah minta keterangnya ?
wassalamu alaiykum wrwb.

~~~~~~~~~

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ.
  1. Adakah batasan membangun masjid dalam sebuah perkampungan atau desa?
  2. Jika terdapat dua masjid dalam sebuah perkampungan, bolehkah kedua masjid tersebut dipergunakan untuk melaksanakan shalat Jum’at menurut perspektif Fiqh?
  3. Dan bolehkan mushalla di jadikan masjid?
     Tidak ada batasan untuk membangun masjid dalam sebuah perkampungan atau desa, maka diperbolehkan membangun masjid lebih dari satu, namun kebolehan tersebut tidak serta merta diperbolehkannya menyelenggarakan beberapa shalat Jum’at. Imam Syamsuddin Muhammad bin Abi al-Abbas; Ahmad bin Hamzah bin Syihabuddin al-Ramli menyatakan: Jika di dalam sebuah negara atau desa terdapat dua masjid yang dapat menampung semua masyarakat guna melaksanakan shalat Jum’ah secara terpisah sedang di negara atau desa tersebut juga terdapat sebuah tempat (selain masjid) yang dapat menampung jama’ah secara keseluruhan, maka yang paling benar adalah berkumpul ditempat tersebut (selain masjid) demi menghindari terselenggaranya dua shalat Jum’at dalam satu negara atau desa. Namun apabila di dalam negara atau desa tersebut tidak terdapat tempat yang dapat menampung jama’ah, maka diperbolehkan menyelenggarakan shalat Jum’at lagi diselain tempat yang telah terselenggara pelaksanaan shalat Jum’at. Imam Abdul Hamid al-Maki al-Syarwani dan Imam Ahmad bin Qasim al-‘Ubbadi menuturkan bahwa Imam Syafi’i masuk ke kota Baghdad, sedang disana telah terselenggara dua atau tiga shalat Jum’at karena sulit untuk menampung jama’ah dalam satu tempat dan Imam Syafi’i tidak mengingkarinya. Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi menegaskan bahwa kebolehan menyelenggarakan lebih dari satu shalat Jum’at adalah dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Tempat tidak dapat menampung semua jama’ah.
  2. Adanya permusuhan antara dua kelompok sehingga sulit untuk dipertemukan dalam satu tempat.
  3. Berada ditempat yang jauh sehingga tidak dapat mendengar adzan yang dikumandangkan atau berjarak yang apabila ditempuh sejak keluarnya fajar maka tidak mendapati palaksanaan shalat Jum’at.
Jika penyelanggaraan beberapa shalat Jum’at tersebut dikarenakan salah satu dari tiga hal tersebut diatas, maka semua shalat Jum’at yang terselenggara adalah sah baik takbiratul ihramnya Imam dilakukan secara bersamaan atau berurutan. Namun jika tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tersebut diatas, maka yang sah diantara beberapa shalat Jum’at yang terselenggara adalah shalat Jum’at yang takbiratul ihram imamnya selesai lebih dahulu.

3. Bolehkan mushalla dijadikan masjid?

  • Jika mushalla tersebut bukan mushalla waqaf, maka boleh diwaqafkan menjadi masjid.
  • Jika mushalla tersebut adalah mushalla waqaf, maka tidak boleh dirubah menjadi masjid. Imam Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan bahwa tidak diperbolehkan merubah status barang waqaf, maka tidak diperbolehkan merubah status rumah yang diwaqafkan menjadi kebun atau menjadi kamar mandi juga tidak sebaliknya kecuali pewaqaf memberikan hak sepenuhnya kepada Nadzir (juru kunci) atas segala sesuatu yang dianggap maslahah untuk kepentingan barang waqaf. Didalam Fatawanya, Imam al-Qaffal menyatakan bahwa boleh menjadikan tempat cukur rambut (salon) menjadi toko roti. Kemudian Imam Abdul Karim Muhammad bin Abdul Karim al-Rafi’ dan Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi (الشيخان) mengomentari pernyataan Imam al-Qaffal dengan menyatakan bahwa pernyataan Imam al-Qaffal tersebut adalah diarahkan pada perubahan fisik bangunan, bukan fungsi. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf Al-Nawawi dan Ulama’ Fiqh yang lain. Imam al-Subuki menuturkan: Diperbolehkan merubah barang waqaf dengan ketentuan tiga syarat yaitu:
  1. Tidak merubah nama barang waqaf.
  2. Adanya maslahah.
  3. Tidak menghilangkan benda dari barang waqaf, maka diperbolehkan memindahkannya kearah yang lain. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh @ al-Ustadz Ro Fie:

قوله : في مكان مسجد أو غيره ) أي ولو مع وجود المسجد ، وعليه فلو كان في البلد مسجدان وكان أهل البلد إذا صلوا فيهما وسعاهم مع التعدد وكان هناك محل متسع كزريبة مثلا إذا صلوا فيه لا يحصل التعدد هل يتعين عليهم فعلها في الأولين أو الثانية ؟ فيه نظر ، والأقرب الثاني حرصا على عدم التعدد
نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج – 7 – 24

Dasar pengambilan (2) oleh @ al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:

الشَّرْطُ الثَّالِثُ أَنْ لَا يَتَقَدَّمَهَا وَلَا يُقَارِنَهَا جُمُعَةٌ في الْبَلَدِ لِأَنَّهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم وَالْخُلَفَاءُ بَعْدَهُ لم يُقِيمُوا سِوَى جُمُعَةٍ وَاحِدَةٍ وَلِأَنَّ الِاقْتِصَارَ على وَاحِدَةٍ أَفْضَى إلَى الْمَقْصُودِ من إظْهَارِ شِعَارِ الِاجْتِمَاعِ وَاتِّفَاقِ الْكَلِمَةِ نعم إذَا كَثُرَ الناس وَعَسُرَ اجْتِمَاعُهُمْ في مَسْجِدٍ أو نَحْوِهِ فَالتَّعَدُّدُ جَائِزٌ لِلْحَاجَةِ بِحَسَبِهَا لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ رضي اللَّهُ عنه دخل بَغْدَادَ وَأَهْلُهَا يُقِيمُونَ بها جُمُعَتَيْنِ وَقِيلَ ثَلَاثًا فلم يُنْكِرْ عليهم فَحَمَلَهُ الْأَكْثَرُ على عُسْرِ الِاجْتِمَاعِ
أسنى المطالب في شرح روض الطالب - (ج 1 / ص 248)

Dasar pengambilan (3) oleh @ al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

والحاصل من كلام الأئمة أن أسباب جواز تعددها ثلاثة : ضيق محل الصلاة بحيث لا يسع المجتمعين لها غالباً ، والقتال بين الفئتين بشرطه ، وبعد أطراف البلد بأن كان بمحل لا يسمع منه النداء ، أو بمحل لو خرج منه بعد الفجر لم يدركها ، إذ لا يلزمه السعي إليها إلا بعد الفجر اهـ. وخالفه ي فقال : يجوز بل يجب تعدد الجمعة حينئذ للخوف المذكور ، لأن لفظ التقاتل نص فيه بخصوصه ، ولأن الخوف داخل تحت قولهم : إلا لعسر الاجتماع
بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 164)

Dasar pengambilan (4) oleh @ Ibnu Malik:

 (قوله: ومن شروطها) أي صحة الجمعة.
وهذا هو الشرط السادس كما مر التنبيه عليه.
(وقوله: أن لا يسبقها بتحرم ولا يقارنها) الفعلان تنازعا قوله جمعة.
والعبرة بتمام التحرم وهو الراء من أكبر.
حاشية إعانة الطالبين - (ج 2 / ص 73)

Dasar pengambilan (5) oleh @ Ibnu Malik:

لَا يَجُوزُ تَغْيِيرُ الْوَقْفِ عن هَيْئَتِهِ فَلَا يَجْعَلُ الدَّارَ بُسْتَانًا وَلَا حَمَّامًا وَلَا بِالْعَكْسِ إلَّا إذَا جَعَلَ الْوَاقِفُ إلَى النَّاظِرِ ما يَرَى فيه مَصْلَحَةَ الْوَقْفِ
وفي فَتَاوَى الْقَفَّالِ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُجْعَلَ حَانُوتُ الْقَصَّارِينَ لِلْخَبَّازِينَ قال الشَّيْخَانِ وَكَأَنَّهُ احْتَمَلَ تَغَيُّرَ النَّوْعِ دُونَ الْجِنْسِ ا هـ
الفتاوى الفقهية الكبرى - (ج 3 / ص 153)

Dasar pengambilan (6) oleh @ al-Ustadz Abdulloh Salam:

لَا يَجُوزُ تَغْيِيرُ الْوَقْفِ عَنْ هَيْئَتِهِ، فَلَا تُجْعَلُ
الدَّارُ بُسْتَانًا، وَلَا حَمَّامًا، وَلَا بِالْعَكْسِ، إِلَّا إِذَا
جَعَلَ الْوَاقِفُ إِلَى النَّاظِرِ مَا يَرَى فِيهِ مَصْلَحَةً
لِلْوَقْفِ، وَفِي فَتَاوَى الْقَفَّالِ: أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَجْعَلَ
حَانُوتَ الْقَصَّارِينَ لِلْخَبَّازِينَ، فَكَأَنَّهُ احْتَمَلَ تَغْيِيرَ
النَّوْعِ دُونَ الْجِنْسِ
روضة الطالبين وعمدة المفتين (5/ 361)

Dasar pengambilan (7) oleh @ al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

وقال السبكي يجوز تغيير الوقف بشروط ثلاثة ان لايغير مسماه وان يكون مصلحة له كزيادة ريعه وان لاتزال عينه فلايضر نقلها من جانب الي اخر
قليوبي ج3ص108

Daftar Pustaka:
  1. Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Manhaj. XII/ 24
  2. Asnal Mathalib. I/ 248
  3. Bughyatul Mustarsyidin. I/ 164
  4. Hasyiyah I’anah al-Thalibin. II/ 73
  5. Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra. III/ 153
  6. Raudlatut Thalibin Wa ‘Umdatil Muftin. V/ 361
  7. Qulyubi. III/ 108
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik

(Link Diskusi: https://m.facebook.com/groups/1437298433150379?view=permalink&id=1572682042945350&comment_id=1574740729406148&offset=0&total_comments=30&_rdr&hc_location=ufi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama