DOC_171. Pengertian Perawan Menurut Perspektif Fiqh



Samseng Ajuba
20 Februari 2015 pukul 17:25

Assalamu alaikum
titipan
pada waktu kecil saya jatuh dari pohon dan mengalami pendarahan. Hebat, bgitu juga saat naik speda saya mngalami jatuh.dan lagi2 pndarahan. Saya kwatir bila mnikah nanti takut suami bilang aku tidak perawan lagi. Jujur saja saya tidak prnah berhubungan badan sama lelaki. Apakah saya di bilang masih perawan pak ust. Tlong jlaskan biar hati ini tidak gundah.

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah sebenarnya pengertian perawan menurut perspektif Fiqh?

     Ulama’ dari kalangan madzhab Sayfi’i menyatakan bahwa janda adalah wanita yang telah hilang keperawanannya karena telah melakukan hubungan intim yang halal atau haram, atau syubhat, baik dalam kondisi tidur ataupun terjaga. Hilangnya keperawanan yang diakibatkan persetubuhan diselain vagina, atau diakibatkan terjatuh, atau karena haidl yang sangat, atau karena perawan tua, maka hal itu tidak mempengaruhi status perawan. Bahkan pendapat yang lebih autentik (ashah) menyatakan jika hilangnya keperawanan diakibatkan jari jemari dan sejenisnya, maka tetap dikategorikan perawan.
     Imam Abdurrahman al Juzairi menambahkan bahwa perawan adalah sebuah istilah untuk wanita yang belum pernah melakukan hubungan intim, dan wanita semacam itu dikatakan perawan sajati. Maka wanita yang kehilangan keperawanan diakibatkan melakukan aktifiatas jungkir balik, atau karena mengeluarkan darah haidl yang kuat atau karena luka, (dan) atau perawan tua tetap dikategorikan perawan. Demikan juga wanita yang telah melaksanakan pernikahan yang sah ataupun tidak sah namun dicerai atau ditinggal mati oleh suami sebelum sempat melakukan hubungan intim atau dipisahkan oleh hakim karena adanya aib pernikahan seperti impoten atau kemaluan yang terpotong.
     Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi mengkategorikan perawan adalah istilah bagi wanita yang belum pernah melakukan hubungan intim dalam sebuah ikatan pernikahan dan bukan yang lain.
     Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki mengkategorikan perawan adalah sebuah istilah bagi wanita yang belum pernah melakukan hubungan intim dengan akad yang sah atau dengan akad yang rusak yang berlaku sebagaimana akad pernikahan yang sah. Juga ada pendapat yang menyatakan bahwa perawan adalah istilah untuk wanita yang belum hilang keperawannanya sama sekali. Sedang Ulama’ dari kalangan madzhab Hambali menyatakan bahwa janda adalah wanita yang telah melakukan hubungan intim di dalam vagina (bukan dubur) dengan alat vital laki-laki (bukan yang lain) walaupun dengan hubungan yang haram (zina). Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh @ al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

قال الحنفية: من زالت بكارتها بوثبة أي نطة أو درور حيض أو حصول جراحة أوتعنيس أي كبر: بكر حقيقة، وتعد بكراً بالتفريق بجب أو عُنة أو طلاق أو موت بعد خلوة قبل وطء. وتعد الموطوءة بشبهة أو نكاح فاسد ثيباً. ومن زنت مرة فقط ولم تحد بالزنا بكر حكماً فيكتفى بسكوتها.
وقال الحنابلة: الثيب: من وطئت في القبل لا في الدبر، بآلة الرجال، لا بآلة غيرها، ولو كانت وطئت بزنا. وقال الشافعية: الثيب: من زالت بكارتها، سواء زالت البكارة بوطء حلال كالنكاح، أو حرام كالزنا، أو بشبهة في نوم أو يقظة، ولا أثر لزوالها بلا وطء في القبل كسقطة وحدة طمث، وطول تعنيس وهو الكبر، أو بأصبع ونحوه في الأصح، فحكمها حينئذ حكم الأبكار.
الفقه الإسلامي وأدلته - (ج 9 / ص 199)

Dasar pengambilan (2) oleh @ al-Ustadz Alii Yasiinn El Maduriieeyy:

والبكر اسم لامرأة لم تجامع أصلا ويقال لها : بكر حقيقة فمن زالت بكارتها بوثبة أو حيض قوي أو جراحة أو كبر فإنها بكر حقيقة ومثلها من تزوجت بعقد صحيح أو فاسد ولكن طلقت أو مات عنها زوجها قبل الدخول والخلوة أو فرق بينهما القاضي بسبب كون زوجها عنينا أو مجبوبا فإنها بكر حقيقة أما من زالت بكارتها بزنا فإنها بكر حكما بمعنى أنها تعتبر بكرا وإن زالت بكارتها ومحل ذلك ما إذا لم يتكرر الزنا ولم تحد به وإلا كانت ثيبا فالثيب هي الموطوءة بنكاح صحيح أو نكاح فاسد أو بشبهة أو زنا حدت به ولو مرة أو زنا تكرر منها وإن لم تحد به
الفقه على المذاهب الأربعة - (ج 4 / ص 23)

Dasar pengambilan (3) oleh @ Ibnu Malik:

بَكَارَةٌ

التَّعْرِيفُ :
1 - الْبَكَارَةُ ( بِالْفَتْحِ ) لُغَةً : عُذْرَةُ الْمَرْأَةِ ، وَهِيَ الْجِلْدَةُ الَّتِي عَلَى الْقُبُل (1) .
وَالْبِكْرُ : الْمَرْأَةُ الَّتِي لَمْ تُفْتَضَّ ، وَيُقَال لِلرَّجُل : بِكْرٌ ، إِذَا لَمْ يَقْرَبِ النِّسَاءَ ، وَمِنْهُ حَدِيثُ الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ . (2)
وَالْبِكْرُ اصْطِلاَحًا عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ : اسْمٌ لاِمْرَأَةٍ لَمْ تُجَامَعْ بِنِكَاحٍ وَلاَ غَيْرِهِ ، فَمَنْ زَالَتْ بَكَارَتُهَا بِغَيْرِ جِمَاعٍ كَوَثْبَةٍ ، أَوْ دُرُورِ حَيْضٍ ، أَوْ حُصُول جِرَاحَةٍ ، أَوْ تَعْنِيسٍ : بِأَنْ طَال مُكْثُهَا بَعْدَ إِدْرَاكِهَا فِي مَنْزِل أَهْلِهَا حَتَّى خَرَجَتْ عَنْ عِدَادِ الأَْبْكَارِ فَهِيَ بِكْرٌ حَقِيقَةً وَحُكْمًا (3) .
وَعَرَّفَهَا الْمَالِكِيَّةُ : بِأَنَّهَا الَّتِي لَمْ تُوطَأْ بِعَقْدٍ صَحِيحٍ ، أَوْ فَاسِدٍ جَرَى مَجْرَى الصَّحِيحِ . وَقِيل : إِنَّهَا الَّتِي لَمْ تُزَل بَكَارَتُهَا أَصْلاً
الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 8 / ص 176)

Daftar Pustaka:
  1. Al Fiqh al Islam wa Adillatuhu. IX/ 199
  2. Al Fiqh ‘Ala Madzahib al Aba’ah. IV/ 23
  3. Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah. VIII/ 176
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik

Link Diskusi: Disini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama