DOC_172. Hukum Berbohong Menutupi Hilangnya Keperawanan Dan Hukum Operasi Selaput Dara
Aji Baskara
7 Februari pukul 2015 22:03 •
Assalamu alaikum..
Dari ...
Apakah aku dosa besar mas karna membohongi suami,
Pas habis malam pertama suamiku tanya,
Kok sudah ngak berdarah kayak gak prawan aja
Karna aku takut nambah kekecewaan dan kehilangan suamiku yang aku sayangi
Maka aku jawab dengan bohong, aku dulu jatuh mas hinga selaput daraku pecah karna aku ngrasain sehabis kencing perih2,
Dan dulu aku ikut pencak silat itu nendang2 tinggi jadi tambah melebar,
Dosakah aku bohong kepada suamiku
Apa aku harus bilang kalo aku memang sudah melakukan sebelum suamiku.
Tunggu jawabanya
~~~~~~~~~
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
"Bagaimanakah hukum berbohong kepada suami dengan menutupi hilangnya keperawanan seperti yang terjadi dalam diskripsi masalah tersebut di atas?"
Mengenai berdosa dan tidaknya, sesungguhnya hal itu terkait dengan hak prerogratif Allah. Namun secara garis besar, orang yang melakukan hal yang dilarang dalam agama disebut orang yang berdosa tanpa memandang alasan tertentu. Sedang praktik dialog sebagaimana dalam latar belakang masalah tersebut diatas, hal itu termasuk dalam kategori bohong karena sebuah alasan yang tidak dapat ditanggung andai dinyatakan dengan jujur (seperti akan terjadi perceraian). Oleh karena itu berbohong dalam hal tersebut adalah boleh, karena ada nilai positif (mashlahat) bagi yang melakukannya (seperti kelestarian nikah). Berbohong semacam itu tidak dikategorikan sebagai "tadlis" (menyembunyikan aib yang berkaitan dengan pernikahan). Adapun hukum "tadlis" akan kami uraikan dibawah sebagai catatan.
"(Apa aku harus bilang kalo aku memang sudah melakukan sebelum suamiku?"
Imam Abu Bakar ibnu Sayyid Muhammad Syata Al Dimyati menyatakan: "Ketahuilah, sesungguhnya disunnahkan bagi orang yang berbuat zina dan bagi orang-orang yang melakukan kema'siatan agar menutupi perbuatannya berdasar hadits Nabi yang menyatakan 'Barang siapa melakukan perbuatan keji, maka hendaknya ia menutupi dengan tutup Allah dan barang siapa memperlihatkanya kepadaku, maka akan aku tegakkan had baginya’”.
Berdasar paparan tersebut diatas, Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa hukum menutupi dengan tidak mengakui perbuatan keji (zina) yang pernah dilakukan adalah boleh dan bahkan dianjurkan (sunah). Sedang Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki berpandangan bahwa wajib bagi orang yang melakukan perbuatan keji untuk menutupi perbuatannya dan menutupi orang lain berdasar hadits Nabi: "Jahuilah perbutan keji ini (zina), barang siapa melakukannya, maka tutupilah dengan tutup Allah". Imam Ibnu Abdi al Bar di dalam kitab "al Tamhid" menyatakan bahwa hadits tersebut merupakan dalil kewajiban bagi seorang muslim untuk menutupi dirinya ketika melakukan perbuatan keji demikian juga dengan orang lain.
---------
Catatan:
Adapun hukum operasi selaput dara untuk menutupi keperawanan yang rusak adalah haram karena kental dengan unsur "Tadlis" dan membuka aurat di hadapan orang lain walaupun dokternya berjenis kelamin perempuan sebagaimana paparan berikut:
Soal: Apakah boleh menambal selaput dara (operasi keperawanan)?
Jawab: Masalah ini tejadi pada masa sekarang dan kami telah membahas dalam sebuah pertemuan di Kuwait pada tahun 1407H. Dan Syaikh Izuddin al Khatib al Tamimi telah menulis sebuah hasil riset yang mengarah kepada hukum haram. Sedang Dr. Muhammad Na'im menulis sebuah hasil penelitain yang mengarah kepada sebuah rincian dalam menghukumi masalah ini. Kemudian kami mengangkat atau memilih beberapa pendapat yang kami anggap lebih unggul dengan berharap pertolongan dari Allah sebagaimana berikut:
1. Pendapat pertama menyatakan bahwa hukum menambal selaput dara adalah tidak boleh (haram) secara mutlak.
2. Pendapat kedua menyatakan bahwa hukum menambal selaput dara adalah ditafsil sebagai berikut:
• Jika selaput dara rusak bukan karena hal yang dianggap ma'siat oleh syari'at, maka diperinci sebagai berikut:
↳. Jika rusaknya selaput dara diduga kuat disebabkan unsur penganiayaan (seperti diperkosa), maka hukum menambal selaput dara adalah wajib.
↳. Jika tidak ada dugaan semacam itu, maka hukum menambal selaput dara adalah sunnah.
• Jika selaput dara rusak dikarenakan hubungan intim yang sah (seperti wanita yang telah dicerai) atau karena perzinahan yang umum terjadi dikalangan masyarakat, maka hukum menambal selaput dara adalah haram.
• Jika selaput dara rusak dikarenakan perzinahan yang tidak lazim terjadi dikalangan masyarakat, maka boleh memilih antara menambal dan tidak. Namun menambalnya adalah lebih baik.
Dr. Muhammad Na'im menegaskan bahwa letak perbedaan pendapat ada pada pendapat kedua sub yang pertama dan ketiga. Sedang sub kedua, semua sepakat menghukumi haram. Karena terdapat unsur penipuan, membuka aurat, menyebabkan terbukanya pintu keburukan dan hal ini (operasi selaput dara) dapat menyebabkan para pemudi mudah melakukan perzinahan. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh @ al-Ustadz Ro Fie:
قوله : ( ويجب على الوديع إنكار الوديعة من ظالم ) هذا من المواضع التي يجب فيها الكذب ، فإنه في الأصل حرام ؛ وقد يجوز كالزوجة حفظاً لحسن عشرتها
تحفة الحبيب على شرح الخطيب - (ج 3 / ص 695)
Dasar pengambilan (2) oleh @ al-Ustadz Ro Fie:
( فائدة ) الكذب حرام وقد يجب كما إذا سأل ظالم عن وديعة يريد أخذها فيجب إنكارها وإن كذب وله الحلف عليه مع التورية
وإذا لم ينكرها ولم يمتنع من إعلامه بها جهده ضمن وكذا لو رأى معصوما اختفى من ظالم يريد قتله
وقد يجوز كما إذا كان لا يتم مقصود حرب وإصلاح ذات البين وإرضاء زوجته إلا بالكذب فمباح
فتح المعين - (ج 3 / ص 247)
Dasar pengambilan (3) oleh @ al-Ustadz Brojol Gemblung:
أعلم أن الكذب ليس حراما لعينه بل لما فيه من الضرر على المخاطب أو على غيره فإن أقل درجاته أن يعتقد المخبر الشيء على خلاف ما هو عليه فيكون جاهلا وقد يتعلق به ضرر غيره ورب جهل فيه منفعة ومصلحة فالكذب محصل لذلك الجهل فيكون مأذونا فيه وربما كان واجبا
قال ميمون بن مهران الكذب في بعض المواطن خير من الصدق أرأيت لو أن رجلا سعى خلف إنسان بالسيف ليقتله فدخل دارا فانتهى إليك فقال أرأيت فلانا ما كنت قائلا ألست تقول لم أره وما تصدق به وهذا الكذب واجب
فنقول الكلام وسيلة إلى المقاصد فكل مقصود محمود يمكن التوصل إليه بالصدق والكذب جميعا فالكذب فيه حرام وإن أمكن التوصل إليه بالكذب دون الصدق فالكذب فيه مباح إن كان تحصيل ذلك القصد مباحا وواجب إن كان المقصود واجبا كما أن عصمة دم المسلم واجبة فمهما كان في الصدق سفك دم أمرىء مسلم قد اختفى من ظالم فالكذب فيه واجب ومهما كان لا يتم مقصود الحرب أو إصلاح ذات البين أن استمالة قلب المجني عليه إلا بكذب فالكذب مباح إلا أنه ينبغي أن يحترز منه ما أمكن لأنه إذا فتح باب الكذب على نفسه فيخشى أن يتداعى إلى ما يستغني عنه وإلى ما لا يقتصر على حد الضرورة فيكون الكذب حراما في الأصل إلا لضرورة
إحياء علوم الدين - (ج 3 / ص 137)
Dasar pengambilan (4) oleh @ al-Ustadz Nazri El-Rahman:
قال النووي: (قد تظاهرتْ نصوصُ الكتاب والسنة على تحريم الكذب في الجملة، وهو من قبائح الذنوب وفواحش العيوب. وإجماعُ الأمة منعقدٌ على تحريمه مع النصوص المتظاهرة، فلا ضرورة إلى نقل أفرادها، وإنما المهمُّ بيان ما يُستثنى منه، والتنبيه على دقائقه) .
ثم قال: (وقد ضبط العلماءُ ما يُباح منه. وأحسنُ ما رأيتُه في ضبطه، ما ذكرَه الإِمامُ أبو حامد الغزالي فقال: الكلامُ وسيلةٌ إلى المقاصد، فكلُّ مقصودٍ محمودٍ يُمكن التوصلُ إليه بالصدق والكذب جميعًا، فالكذبُ فيه حرامٌ؛ لعدم الحاجة إليه، وإن أمكنَ التوصل إليه بالكذب، ولم يمكن بالصدق، فالكذبُ فيه مباحٌ إن كان تحصيل ذلك المقصود مباحًا، وواجبٌ إن كان المقصود واجبًا، فإذا اختفى مسلم من ظالم، وسأل عنه، وجبَ الكذبُ بإخفائه، وكذا لو كان عندَه أو عندَ غيره وديعة، وسأل عنها ظالمٌ يُريدُ أخذَها، وجبَ عليه الكذب بإخفائها، حتى لو أخبرَه بوديعةٍ عندَه فأخذَها الظالم قهرًا، وجبَ ضمانُها على المودع المخبر، ولو استحلفَه عليها، لزمَه أن يَحلفَ ويورِّي في يمينه، فإن حلفَ ولم يورِّ، حنثَ على الأصحِّ، وقيل: لا يحنثُ. وكذلك لو كان مقصودُ حَرْبٍ، أو إصلاحِ ذاتِ البين، أو استمالة قلب المجني عليه في العفو عن الجناية لا يحصل إلا بكذب، فالكذبُ ليس بحرام، وهذا إذا لم يحصل الغرضُ إلا بالكذب، والاحتياطُ في هذا كلِّه أن يورِّي
موسوعة الاخلاق
Sumber: Klik Disini
Dasar pengambilan (5) oleh @ Ibnu Malik:
واعلم أنه يسن للزاني ولكل من ارتكب معصية أن يستر على نفسه لخبر من أتى من هذه القاذورات شيئا فليستتر بستر الله تعالى فإن من أبدى لنا صفحته أقمنا عليه الحد رواه الحاكم
إعانة الطالبين - (ج 4 / ص 147)
Dasar pengambilan (6) oleh @ al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
( فُرُوعٌ ) إنْ رُئِيَ رَجُلٌ وَامْرَأَةٌ أَجْنَبِيَّانِ تَحْتَ لِحَافٍ عُزِّرَا وَلَمْ يُحَدَّا وَيُقَامُ الْحَدُّ فِي دَارِ الْحَرْبِ إنْ لَمْ يَخَفْ فِتْنَةً مِنْ نَحْوِ الْمَحْدُودِ وَالْتِحَاقَهُ بِدَارِ الْحَرْبِ وَيُسَنُّ لِلزَّانِي وَلِكُلِّ مَنْ ارْتَكَبَ مَعْصِيَةً السَّتْرُ عَلَى نَفْسِهِ فَإِظْهَارُهَا لِيُحَدَّ أَوْ يُعَزَّرَ خِلَافُ الْمُسْتَحَبِّ وَأَمَّا التَّحَدُّثُ بِهَا تَفَكُّهًا فَحَرَامٌ قَطْعًا وَكَذَا يُسَنُّ لِلشَّاهِدِ سَتْرُهَا بِتَرْكِ الشَّهَادَةِ إنْ رَآهُ مَصْلَحَةً فَإِنْ تَعَلَّقَ بِتَرْكِهَا إيجَابُ حَدٍّ عَلَى الْغَيْرِ كَأَنْ شَهِدَ ثَلَاثَةٌ بِالزِّنَا أَثِمَ الرَّابِعُ بِالتَّوَقُّفِ وَيَلْزَمُهُ الْأَدَاءُ أَمَّا مَا يَتَعَلَّقُ بِحَقِّ آدَمِيٍّ كَقَتْلٍ أَوْ قَذْفٍ فَإِنَّهُ يُسْتَحَبُّ لَهُ بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقِرَّ بِهِ لِيُسْتَوْفَى مِنْهُ لِمَا فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ مِنْ التَّضْيِيقِ وَيَحْرُمُ الْعَفْوُ عَنْ حَدِّ اللَّهِ تَعَالَى وَالشَّفَاعَةُ فِيهِ مُغْنِي وَرَوْضٌ مَعَ شَرْحِهِ ( قَوْلُهُ : حَقِيقِيٍّ ) إلَى قَوْلِ الْمَتْنِ وَلَوْ أَقَرَّ فِي الْمُغْنِي إلَّا قَوْلَهُ إنْ فَهِمَهُ كُلُّ أَحَدٍ .
تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 38 / ص 362)
Dasar pengambilan (7) oleh @ Ibnu Malik:
وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ أَنَّ الإِِْنْسَانَ مَأْمُورٌ بِالسَّتْرِ عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَى غَيْرِهِ ، قَال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اجْتَنِبُوا هَذِهِ الْقَاذُورَةَ فَمَنْ أَلَمَّ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ قَال ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِي التَّمْهِيدِ : فِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ السَّتْرَ وَاجِبٌ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ إِذَا أَتَى فَاحِشَةً وَوَاجِبٌ ذَلِكَ أَيْضًا فِي غَيْرِهِ
الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 38 / ص 214)
Dasar pengambilan (8) oleh @ al-Ustadz Wes Qie:
مسئلة : هل يجوز رتق غشاء البكارة ؟هذه المسئلة تعتبر من المسائل النازلة في هذا العصر وكانت من ضمن المواضع التي بحثت في ندوة الرؤية الإسلامية لبعض الممارسات الطبية المنعقدة في الكويت في عام 1407 هـ, وكتب فيها فضيلة الشيخ عز الدين الخطيب التميمي بحثا خلص فيه إلى القول في التحريم كما كتب أيضا الدكتور محمد نعيم ياسين بحثا خلص فيه إلى القول بالتفصيل في حكم هذه المسئلة . ولهذا , فإنه من المناسب ذكر كلا القولين مع أدلتهما , ثم بعد ذلك أذكر ما يترجح في نظري منهما سائلا الله عز وجل أي يمدني بالعون والتوفيق للصواب .ألاقوال : القول الاول : لا يجوز رتق غشاء البكارة مطلقا ( الشيخ عز الدين الخطيب التميمي )القول الثاني : التفصيل : ألاول : اذا كان سبب التمزق حادثة او فعلا لا يعتبر في الشرع معصية وليس وضعا في عقد النكاح ينظر : (أ) فان غلب على الظن ان الفتاة ستلاقى عنتاوظلما بسبب الاعرف والتقاليد كان اجراؤه واجبا .(ب) وان لم يغلب ذلك على ظن الطيب كان اجراؤه مندوبا الثاني : اذا كان سبب التمزق وطئا في عقد نكاح كما في المطلقة او كان بسبب زنا اشتهر بين الناس فانه يحرم اجراؤه الثالث : اذا كان سبب التمزق زنا لم يشتهر بين الناس كان الطيب مخيرا بين اجرائه وعدم اجرائه, واجراءه اولى . (الدكتور نعيم ياسين) تحديد محل الخلاف : ينحصر محل الخلاف بين القولين في الحالة الاولى , والثالثة ,اما في الحالة الثانية فانهما متفقان على تحريم الرتقالعزيز على شرح الوجيز الجزء السابع ص : 482ومنها: انه يجوز النظر والمس للفصد والحجامة والمعالجة لعلة وليكن ذلك بحضور المحرم ويشترط فى جواز نظر الرجل الى المرأة أ لا يكون هناك امرأة تعالج وفى جواز نظر المرأة الى الرجل ألا يكون هناك رجل يعالجه كذلك ذكره ابو عبد الله الزبيري والقاضى الروياني ايضا وعن ابن القاص خلافه ثم اصل الحاجة كاف فى النظر الى الوجه واليدين ولذلك جاز النظر بسبب الرغبة فى النكاح وفى النظر الى سائر الأعضاء يعتبر التأكد وضبطه الإمام فقال مايجاوز الإنتقال بسببه من الماء الى التراب وفاقا او خلافا كشدة الضنى وما فى معنها يجوز النظر بسببه وفى النظر الى السوءتين يعتبر مزيد تأكد قال فى الوسيط: وذلك بأن تكون الحاجة بحيث لايعد التكشف بسببها هتكا للمروءة ويعذر فى العادات والى هذاالترتيب اشار فى تاكتاب بقوله: وليمن الظر الى السوءتين لحاجة مؤكدة الادلة :1. دليل القول الاول : (لا يجوز مطلقا )اولا : ان رتق غشاء البكارة قد يؤدي الى اختلاط الانساب فقد تحمل المرأة من الجماع السابق, ثم تتزوج بعد رتق غشاء بكارتها , وهذا يؤدي الى الحاق ذلك الحمل بالزوج واختلاط الحلال بالحرام ثانيا : أن رتق غشاء البكارة فيه اطلاع على المنكر ثالثا : ان رتق غشاء البكارة يسهل للفتيات ارتكاب حريمة الزنا لعلمهن بامكان رتق غشاء البكارة بعد الجماع الى أن قال.... سادسا : ان مبدأ رتق غشاء البكارة مبدأ غير شرعي لانه نوع من الغش والغش محرم شرعا سابعا : ان رتق غشاء البكارة يفتح ابواب الكذب للفتيات واهليهن لاخفاء حقيقة السبب , والكذب محرم شرعا ثامنا : ان رتق غشاء البكارة يفتح الباب للأطباء , ان يلجئوا الى اجراء عمليات الاجهاض , واسقاط الاجنة بحجة الستر(2) دليل القول الثاني "التفصيل" اولا : أن النصوص الشرعية دالة على مشروعية الستر وندبه و رتق غشاء البكارة معين على تحقيق ذلك في الاحوال التي حكمنا بجواز فعله فيها ثانيا : أن المرأة بريئة من الفاحشة فإذا عجزنا له فعل جراحة الرتق قفلنا باب سوء الظن فيها فيكون في ذلك دفع للظلم عنها وتحقيقا لما شهدت النصوص الشرعية باعتباره وقصده من حسن الظن بالمؤمنين والمؤمنات الى ان قال...الترجيح :الى أن قال ... الجواب عن الوجه الاول :أن الستر المطلوب هو الذي شهدت نصوص الشرع باعتبار وسيلته , و رتق غشاء البكارة لم يتحقق فيه ذلك بل الاصل حرمته لمكان كشف العورة وفتح باب الفس
أحكام الجراحة الطبية ص : 428-429
Daftar Pustaka:
- Tucfah al Habib 'Ala Syarhi al Khatib. III/ 695
- Fathu al Mu'in. III/ 247
- Ihya’ ‘Ulumu al Din. III/ 137
- Mausu’ah al Ahlak.
- I’anah al Thalibin. IV/ 147
- Tuhfah al Muhtaj Fi Syarh al Minhaj. XXXVII/ 362
- Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah. XXXVIII/ 214
- Al Ahkam al Jirahah al Tibbiyah. 428-429
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
Link Diskusi: Klik Disini

Komentar
Posting Komentar