DOC_177. Lebih Baik Menikahi Perawan Atau Janda?
Yayan Nirvana
24 Februari 2015 pukul 21:59
Assalamu alaikum
langsung saja pada poin pertanyaan
Lebih baik mana menikahi janda atau perawan sertakan alasan yg logis mnurut kajian fiqh monggo
~~~~~~~~~
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Manakah yang lebih baik antara menikah dengan wanita yang masih perawan atau wanita yang telah janda menurut perspektif Fiqh?
Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Hambal, telah bercerita kepada kami Abu Mu’awiyah, telah bercerita kepada kami al A’masy dari Salim bin Abi al Ja’di dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepadaku: “Apakah engkau telah menikah?”. Maka aku menjawab: “Benar, saya telah menikah ya Rasul”. Lalu Rasulullah bertanya lagi: “Perawan atau janda?”. Aku menjawab: “Janda ya Rasul”. Maka beliau bersabda: “Kenapa tidak menikah dengan perawan?, bukankah kamu bisa bermain-main dengannya dan dia bisa bermain-main denganmu?”.
Hadits tersebut diatas mengindikasikan bahwa menikahi wanita yang masih perawan adalah lebih baik dari pada janda dan hal itu adalah sunah. Imam Muhammad Syamsu al Haq al ‘Adzim al Abadi Abu al Thayyib mengemukakan sebuah alasan dengan dianjurkannya menikahi wanita yang masih berstatus perawan akan menimbulkan jalinan kasih yang sempurna. Sedang wanita yang berstatus janda terkadang hatinya masih terikat dan terkait dengan suami sebelumnya. Maka kecintaan wanita yang telah berstatus janda tidak sesempurna wanita yang masih perawan.
Imam Abdu al Rauf al Munawi di dalam kitabnya (Faidu al Qadir) juga menambahkan bahwa wanita yang berstatus perawan lebih segar dan lebih manis bibirnya, serta lebih dapat memberikan keturunan dan lebih rela dengan minimnya hubungan intim dari pada wanita yang telah berstatus janda. Maka barang siapa yang rela dengan hal yang sedikit serta menerima apa adanya, maka hatinya akan bersih dan suci serta rela dengan segala ketentuan Allah.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa menikahi wanita yang masih perawan lebih istimewa daripada janda. Wallahu a’alam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh @ al-Ustadzah Siti Aisyah Al-misri:
( باب في تزويج الأبكار )
[ 2048 ] ( قلت نعم ) أي تزوجت ( بكر أم ثيب ) بحذف همزة الاستفهام أي أهي بكر أم ثيب وفي بعض النسخ بالنصب فيهما أي أتزوجت بكرا أم ثيبا ( فقلت ثيبا ) أي تزوجت ثيبا
وفي بعض النسخ بالرفع أي هي ثيب ( أفلا بكرا ) أي فهلا تزوجت بكرا ( تلاعبها وتلاعبك ) تعليل التزويج البكر لما فيه من الألفة التامة فأن الثيب قد تكون متعلقة القلب بالزوج الأول فلم تكن محبتها كاملة بخلاف البكر
عون المعبود - (ج 6 / ص 31)
Dasar pengambilan (2) oleh @ al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:
(عليكم بالأبكار) أي بتزوجهن وإيثارهن على غيرهن (فإنهن أعذب أفواها) أي أطيب وأحلى ريقا والعذب الكلام الطيب أو هو كناية عن قلة البذاءة والسلاطة لبقاء حيائها بعدم مخالطة الرجال (وأنتق أرحاما) أكثر أولادا يقال للكثيرة الولد ناتق لأنها ترمي بالأولاد رميا والنتق الرمي لا يقال يعارضه خبر عليكم بالولود لأن البكر لا يعلم كونها كثيرة الولادة لأنا نقول البكر مظنة ذلك فالمراد بالولود الكثيرة الولد بتجربة أو مظنة وأما الآيسة ومن جربت فوجدت عقيمة فالخبران متفقان على مرجوحيتهما (وأرضى باليسير) من العمل أي الجماع أو أعم والحمل عليه أتم ومن رضى باليسير وقنع بالموجود كان نقي القلب طاهر اللب راضيا عن الله بما رزقه الله وأولاه
فيض القدير - (ج 4 / ص 442)
Dasar pengambilan (3) oleh @ al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
(إلا لعذر كضعف آلته عن الإقتضاض وبكر ) أولى من الثيب للأمر به في الأخبار الصحيحة
فتح المعين - (ج 3 / ص 271)
Dasar pengambilan (4) oleh @ al-Ustadz Abdul Ghofur Masykur:
حدثنا أبو نعمان حدثنا حماد بن زيد عن عمرو عن جابر رضي الله عنه قال
: هلك أبي وترك سبع أو تسع بنات فتزوجت امرأة فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( تزوجت يا جابر ) . قلت نعم قال ( بكرا أم ثيبا ) . قلت ثيبا قال ( هلا جارية تلاعبها وتلاعبك أو تضاحكها وتضاحكك ) . قلت هلك أبي فترك سبع أو تسع بنات فكرهت أن أجيئهن بمثلهن فتزوجت امرأة تقوم عليهن قال ( فبارك الله عليك )
لم يقل ابن عيينة ومحمد بن مسلم عن عمرو ( بارك الله عليك )
صحيح البخاري - (ج 5 / ص 2347)
Daftar Pustaka:
- ‘Aunu al Ma’bud. VI/ 31
- Faidu al Qadir. IV/ 442
- Fathu al Mu’in. III/ 271
- Shahih al Bukhari. V/ 2347
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
Link Diskusi: Klik Disini

Komentar
Posting Komentar