DOC_179. Hikmah Di Balik Bacaan Keras Dan Bacaan Pelan Dalam Shalat
Abdul Ghofur Masykur
18 Februari 2015 pukul 15:24
Assalamu'alaikum. Pertanyaan dlm Inbox
Segarkan Opsi lainnya
Lihat Pesan Lebih Lama
Intan Noer Aini
Numpang tanya pak. apa
sih hikmahnya perbedaan
shalat disiang hari dan
dimalam hari? Kok beda
beda. Kalo shalat disiang
hari sunnah tidak
mengeraskan suara.
Sedangkan shalat dimalam
hari disunnahkan
mengeraskan suara. Kalo
ada tolong sama dalilnya
ea pak. Lagi ditanyain
orang kampoengku nich
pak. Cepat jawab ea.
Baru saja • Dikirim dari
Seluler
~~~~~~~~~
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Apakah hikmah dibalik perbedaan antara shalat pada malam dan siang hari sehingga disunahkan mengeraskan suara ketika melaksanakan shalat pada malam, namun tidak pada shalat disiang hari?
Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al Dimyathi di dalam kitabnya (I’anah al Thalibin) mengutip pernyataan Syaikh Ali al Syibramilsy (ع – ش) yang menyatakan bahwa hikmah mengeraskan bacaan shalat pada tempatnya ya’ni pada pelaksanaan shalat maghrib, isya’ dan shubuh karena waktu malam adalah waktu untuk menyendiri, waktu yang paling tepat untuk mengobrol. Dan disyari’atkannya membaca keras bacaan shalat pada waktu itu (malam) adalah demi menggapai kenikmatan dalam munajahnya seorang hamba kepada tuhannya. Dan lebih dihususkan lagi dengan dua shalat yang pertama (maghrib dan isya’) karena kesigapan orang yang melaksanakan shalat pada saat itu. Adapun waktu siang adalah waktu yang penuh dengan aktifitas dan kesibukan serta berinteraksi dengan orang lain. Dan disyari’atkannya membaca pelan bacaan shalat pada waktu itu adalah karena waktu siang bukan waktu yang layak untuk menuangkan segenap tenaga dan fikiran untuk bermunajah.
Adapun shalat shubuh disamakan dengan shalat maghrib dan isya’ atau dikategorikan sebagai shalat malam karena waktu subuh bukan merupakan waktu yang penuh dengan aktifitas dan kesibukan. Hal senada dikemukakan oleh Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin ‘Amr al Bujairimi al Syafi’i.
Sedang Imam Ibnu Qasim al Ghazi memiliki alasan berbeda dalam hal ini. Beliau menyatakan bahwa dianjurkannya membaca keras bacaan shalat shubuh karena orang-orang kafir ketika mendengar bacaan al Qur’an di dalam shalatnya Nabi, maka meraka akan mencaci maki terhadap Allah dan RasulNya. Sebab waktu itu adalah waktu bagi mereka untuk beristirahat. Demikian juga pada waktu shalat isya’. Sedang dianjurkannya membaca keras bacaan shalat maghrib, adalah karena orang-orang kafir pada waktu itu disibukkan dengan makan malam mereka. Adapun dianjurkannya membaca keras bacaan shalat Jum’at dan shalat ‘Id adalah karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan kedua shalat tersebut di Madinah dengan kondisi yang telah aman. al Ghazi juga mengungkapkan bahwa dianjurkannya membaca pelan bacaan shalat dhuhur dan ashar karena pada waktu itu orang-orang kafir dalam kekauatan penuh untuk menyerang dan menyakiti orang-orang muslim. Wallahu a’alam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh @ al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
(قوله: يسن الجهر) أي ولو خاف الرياء.
قال ع ش: والحكمة في الجهر في موضعه: أنه لما كان الليل محل الخلوة ويطيب فيه السمر شرع الجهر فيه طلبا للذة مناجاة العبد لربه، وخص بالاوليين لنشاط المصلي فيهما.
والنهار لما كان محل الشواغل والاختلاط بالناس، طلب فيه الاسرار لعدم صلاحيته للتفرغ للمناجاة.
وألحق الصبح بالصلاة الليلية لان وقته ليس محلا للشواغل.
حاشية إعانة الطالبين - (ج 1 / ص 179)
Dasar pengambilan (2) oleh @ al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
قَوْلُهُ : ( وَالْجَهْرُ بِالْقِرَاءَةِ ) أَيْ وَإِنْ خَافَ الرِّيَاءَ بِخِلَافِ الْجَهْرِ خَارِجَ الصَّلَاةِ شَوْبَرِيٌّ .
وَالْحِكْمَةُ فِي الْجَهْرِ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ اللَّيْلُ مَحَلَّ الْخَلْوَةِ وَيُطْلَبُ فِيهِ السَّهَرُ شُرِعَ الْجَهْرُ فِيهِ طَلَبًا لِلَذَّةِ مُنَاجَاةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ ، وَخُصُّ بِالْأُولَيَيْنِ لِنَشَاطِ الْمُصَلِّي فِيهِمَا وَالنَّهَارُ لَمَّا كَانَ مَحَلَّ الشَّوَاغِلِ وَالِاخْتِلَاطِ بِالنَّاسِ طُلِبَ فِيهِ الْإِسْرَارُ لِعَدَمِ صَلَاحِيَّتِهِ لِلتَّفَرُّغِ لِلْمُنَاجَاةِ ، وَأُلْحِقَ الصُّبْحُ بِالصَّلَاةِ اللَّيْلِيَّةِ لِأَنَّ وَقْتَهُ لَيْسَ مَحَلًّا لِلشَّوَاغِلِ عَادَةً .
ا هـ .
حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج 4 / ص 362)
Dasar pengambilan (3) oleh @ Ibnu Malik:
قوله الصبح)إنما طلب الجهر فيها مع أن الكفار كانوا حين سماعهم القرآن في صلاة النبي صلى الله عليه و سلم يسبون من أنزله و من أنزل عليه كما مر لأنهم يكونون في هذه الوقت نائمين و لذلك طلب الجهر في العشاء أيضا و في نهارية مقضية ليلا أو وقت صبح و أما المغرب فطلب الجهر فيه لأنهم كانوا يشتغلون في وقته بالعشاء و أما الجمعة و العيد فلأنه صلى الله عليه و سلم أقامهما بالمدينة و لم يكن للكفار فيها قوة و لما كانوا مستعدين للإيذاء في وقتي الظهر و العصر طلب الإسرار فيهما بل و في الليلة المقضية نهارا و هذا السبب و إن زال لكن الحكم المترتب عليه باق لأنه الحكمة المشروعية و الحكمة لا يلزم دوامها
الباجوري ١/١٧٤
Daftar Pustaka:
- Hasyiyah I’anah al Thalibin. I/ 179
- Hasyiyah al Bujairimi ‘Ala al Khathib. IV/ 362
- Al Bajuri. I/ 174
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
Link Diskusi: Klik Disini

Komentar
Posting Komentar