DOC_183. Hukum Mengambil Buah Yang Jatuh Dari Pohonnya



Nazri El-Rahman
24 Januari 2015 pukul 0:33

As salamualaikum tadz

bagaimanya hukumnya nyirap (milih ) buah kedondong di bawah pohonya orng lain

klo boleh tmpilkn hadisnya

sukron kasiro

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

"Bagaimanakah hukum memungut dan mengambil buah milik orang lain yang jatuh dari pohonnya?"

     Adapun hukum mengambil buah milik orang lain yang jatuh dari pohonnya adalah haram tanpa seizin pemiliknya dan tidak dalam kondisi darurat. Jika mendapat izin atau adanya kebiasaan toleransi dari pemilik untuk mengambilnya, maka hukum mengambilnya adalah diperbolehkan.  (Dan) atau dalam kondisi darurat,  maka hukum memungut dan mengambilnya untuk kemudian dimakan adalah diperbolehkan namun harus mengganti.
     Imam Syihabuddin Abu al ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al Makki al Haitami menuturkan bahwa diharamkan memungut buah yang jatuh dari pohonnya, baik jatuh di dalam atau di luar pagar serta tidak ada kebiasaan toleransi untuk memungut dan mengambilnya. Beliau juga mengutip pernyataan Imam al Nawawi di dalam kitab "al Majmu’" yang menyatakan bahwa tidak diperbolehkan mengambil sesuatu yang jatuh di luar pagar jika tidak ada kebiasaan yang memperbolehkan. Namun jika terdapat kebiasaan kebolehan memungut dan mengambil sesuatu yang jatuh di luar pagar, maka hukum mengambilnya adalah boleh sebagai bentuk pengaplikasian kebiasaan yang berlaku sebagaimana kebolehan mengambil hadiah yang disampaikan oleh anak yang belum tamyiz. Wallahu a’alm bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh @ al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

وَيَحْرُمُ أَخْذُ ثَمَرٍ مُتَسَاقِطٍ إنْ حُوِّطَ عَلَيْهِ ، وَسَقَطَ دَاخِلَ الْجِدَارِ ، وَكَذَا إنْ لَمْ يُحَوَّطْ عَلَيْهِ ، أَوْ سَقَطَ خَارِجَهُ لَكِنْ لَمْ تُعْتَدْ الْمُسَامَحَةُ بِأَخْذِهِ ، وَفِي الْمَجْمُوعِ مَا سَقَطَ خَارِجَ الْجِدَارِ إنْ لَمْ تُعْتَدْ إبَاحَتُهُ حَرُمَ ، وَإِنْ اُعْتِيدَتْ حَلَّ عَمَلًا بِالْعَادَةِ الْمُسْتَمِرَّةِ الْمُغَلَّبَةِ عَلَى الظَّنِّ إبَاحَتُهُمْ لَهُ كَمَا تَحِلُّ هَدِيَّةٌ ، أَوْ أَوْصَلَهَا مُمَيِّزٌ .
ا هـ .
تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 41 / ص 8)

Dasar pengambilan (2) oleh @ al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

وَالثِّمَارُ وَالزَّرْعُ في التَّحْرِيمِ على غَيْرِ مَالِكِهَا وَالْحِلِّ له كَغَيْرِهَا فَلَا يُبَاحُ له بِغَيْرِ إذْنِ مَالِكِهَا إلَّا عِنْدَ اضْطِرَارِهِ فَيَأْكُلُ وَيَضْمَنُ فَلَوْ جَرَتْ الْعَادَةُ بِأَكْلِ ما تَسَاقَطَ منها جَازَ إجْرَاءً لها مَجْرَى الْإِبَاحَةِ لِحُصُولِ الظَّنِّ بها كما يَحْصُلُ بِحَمْلِ الصَّبِيِّ الْمُمَيِّزِ الْهَدِيَّةَ قال الزَّرْكَشِيُّ وَيَنْبَغِي أَنْ يُسْتَثْنَى ما إذَا كان ذلك لِمَنْ لَا يَعْتَبِرُ إذْنَهُ كَيَتِيمٍ وَأَوْقَافٍ عَامَّةٍ لِأَنَّ صَرِيحَ إذْنِهِ لَا يُؤَثِّرُ فما يَقُومُ مَقَامَهُ أَوْلَى قال وقد ذَكَرَ ابن عبد السَّلَامِ مِثْلَ ذلك في الشُّرْبِ من الْجَدَاوِلِ وَالْأَنْهَارِ الْمَمْلُوكَةِ وَهَذَا أَوْلَى منه إلَّا إنْ حُوِّطَ عليه أَيْ ما ذُكِرَ من الثِّمَارِ وَالزُّرُوعِ أو مَنَعَ منه الْمَالِكُ لِأَنَّ ذلك يَدُلُّ على شُحِّهِ وَعَدَمِ مُسَامَحَتِهِ
أسنى المطالب في شرح روض الطالب - (ج 1 / ص 574)

Daftar Pustaka:
  1. Tuhfah al Muhtaj fi Syarh al Minhaj. XLI/ 7
  2. Asna al Mathalib fi Syarh Raudlah al Thalib. I/ 574
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik

Link Diskusi: Klik Disini Kang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama