Edisi Spesial “Kajian Kitab Kuning Jurmiyah Tauhid” Jilid I



(فصل)
 قال الشيخ رحمه الله ورضي عنه (الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع) اعلم ان الكلام ينقسم الى قسمين قديم ومحدث وكلاهما صفة فصفة المحدث محدثة وصفة القديم قديمة والصفة لاتفارق الموصوف فالقديم هو الخالق والمحدث هو المخلوق والمخلوق وصفته صفة للخالق وصفة الخالق على قسمين قسم متصل بالذات الموصوفة منها الوجود والقدرة والبقاء والعلم والإرادة والحياة والسمع والبصر والكلام وقسم ليس متصلا بالذات الموصوفة ولا منفصلا عنها اى لايجوز ان يقال بالإتصال ولا بالإنفصال وهي صفات الأفعال اى صفات افعال الذات العلية وهي المخلوقات كلها فان الموجودات باسرها فعل الله وخلق الله وصنع الله الذى اتقن كل شيء قال تعالى خالق كل شيء وقال جل ذكره والله خلقكم وماتعملون ومن عمل الإنسان كلامه الذى هو صفات ذاته فذاته المحدثة وصفتها صفة الذات القديمة المقدسة ولذالك قيل بالمخلوقات يعرف الخالق كما ان المصنوعات يعرف الصانع فان قيل الكلام ليس بعمل انما هو قول فالجواب ان العمل على قسمين قسم عمل القلوب وقسم عمل الجوارح وعمل الجوارح كلها كله نشأ عن عمل القلب ومن عمل الجوارح الكلام باللسان واللسان جارحة فالكلام من عمله وله اعمال غير الكلام ولكل مقال مقام ولكل مقام كلام.................الى ان قال وقوله الكلام هو اللفظ المركب يعنى كلام المخلوق وكذلك قال ابن مالك رحمه الله في الفيته (كلامنا لفظ) يعنى معشرالإنس ومن كان في معناهم من الخلق فاللفظ والتركيب صفتان مخلوقتان وتعالى الخالق عن صفة المخلوق فهذا الحد الذى حد المصنف رحمه الله به الكلام هنا في حق كلامنا واما كلام ربنا فليس بلفظ ولا مركب ولا بصوت ولا حرف ولا بلسان ولا فم ولا شفتين وليس بجوهر ولا عرض بل ليس كمثله شيئ كما ان الذات المقدسة الموصوفة بهذا الكلام لامثل لها فهذه الصفات كلها مستحيلة في حق الله لأنها صفات خلقه فالله وصفاته بخلاف خلقه وصفاتهم وما فهم من المخالفة والفرق بين كلام المخلوق وكلام الخالق يجب ان يفهم ويعتقد في بقية الصفات من العلم والقدرة والإرادة والسمع والبصر والحياة وغيرها من جميع
الصفات الذاتية فسمعنا بحاسة السمع وبصرنا بحاسة البصر وبطشنا بحاسة اليد والله تعالى بخلاف ذلك كله ليس كمثله شيئ

الرسالة الميمونة في توحيد الجرومية تأليف الشيخ الإمام العارف بالله تعالى على بن ميمون بن ابي بكر بن على بن ميمون 
الإدريسى الحسنى المغربي. ص 9- 13

~~~~~~~~~

(Pasal)
Imam Ali bin Maimun bin Abu Bakar bin Ali bin Maimun al Idrisi al Husni al Maghrabi mengutip penyataan al Syaikh (Ibnu al-Jurumi al-Shanhaji) rahimahullah wa radliya ‘anhu berkata [Kalam adalah ucapan yang terangkai (dari beberapa kalimat, murakkab) yang memberikan pengertian (mufid) dan disengaja (wadla’)], ketahuilah sesungguhnya “kalam” terbagi menjadi dua, yaitu kalam yang terdahulu serta abadi, dan kalam yang baru. Keduanya adalah sifat, sifat (bagi) yang baru adalah baru, sedang sifat yang terdahulu adalah terdahulu. Sifat tidak terpisahkan dari yang disifati, maka yang terdahulu adalah sang pencipta, dan yang baru adalah yang diciptakan (mahluk). Mahluk dan sifatnya merupakan sifat bagi sang pencipta. Sifat sang pencipta terbagi menjadi dua, yang pertama adalah sifat yang berkaitan dengan diri (dzat) yang disifati, diantaranya sifat ada (wujud), kuasa (qudrat), kekal (baqa’), mengetahui (ilmu), berkehendak (iradah), hidup (hayat), mendengar (sama’), melihat (bashar) dan berucap (kalam). Yang kedua adalah sifat yang tidak berkaitan langsung juga tidak terpisahkan dengan dzat yang disifati, yakni tidak boleh mengucapkan “(sifat yang) berkaitan dan terpisah” adalah sifat-sifat pekerjaan dzat (Allah) yang elite, yaitu semua yang diciptakan Allah (mahluk), karena segala yang telah ada adalah pekerjaan, dan ciptaan Allah yang dikerjakan dengan trampil dan profesional. Allah ta’ala berfirman “(Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu”. Allah juga telah berfirman “Dan Allah telah menciptakan kalian semua dan yang kalian kerjakan”. Dan diantara pekerjaan manusia adalah perkataannya yang merupakan sifat dirinya. Maka materi (dzat) dan sifatnya yang baru adalah merupakan sifat dzat yang terdahulu dan disucikan, maka dari itu diungkapakan “Dengan (mengetahui) penciptaan, akan diketahui penciptanya” sebagaimana ungkapan “Sesungguhnya dengan (mengetahui hasil) yang dikerjakan, akan diketahui pekerjanya”. Jika diungkapkan bahwa  “Ucapan bukan pekerjaan melainkan perkataan”, maka jawabannya adalah “Sesungguhnya amal perbuatan terbagi menjadi dua, yaitu perbuatan hati dan anggota badan. Semua perbuatan anggota badan bermuara dari hati, diantaranya adalah berucap dengan lisan, sedang lisan adalah anggota badan, maka ucapan merupakan bagian dari aktifitasnya, ia juga memiliki aktifitas selain berucap, dan bagi setiap ucapan terdapat posisi, dan bagi setiap posisi terdapat ucapan”. Yang dimaksud dengan pernyataan pengarang [kalam adalah kalimat yang terangkai) adalah kalamnya mahluk. Hal ini identik dengan pernyataan Imam Ibnu Malik di dalam “al Fiyah”nya yang menyatakan [kalam kita adalah kalimat], yakni golongan manusia. Maka kalimat dan rangkaiannya, keduanya merupakan sifat mahluk, sedang (Allah) sang pencipta suci dari sifat mahluk. Pendefinisian (kalam) oleh pengarang semacam ini adalah untuk kalam kita, sedang kalam Rabb kita adalah tidak dengan rangkaian kalimat, suara, huruf, dengan lisan, mulut, dua bibir, juga tidak dengan elemen dan zat. Tidak ada suatu apapun yang menyamainya, sebagaimana ungkapan “Sesungguhnya dzat (Allah) yang suci dan yang memiliki sifat kalam tidak ada yang menyamainya”. Maka sifat-sifat semacam ini (kalam dengan format rangkaian kalimat dan lain sebagainya) mustahil bagi Allah, karena hal itu adalah sifat mahluk, sedang Allah dan sifat-sifatnya berbeda dengan mahluk serta sifatnya, juga segala hal yang mengimplisitkan berbagai perbedaan. Dan perbedaan (mendasar) antara kalam mahluk dan kalam sang pencipta adalah sesuatu yang harus dipahami dan diyakini dalam sifat-sifat yang lain, yakni sifat ilmu, qudrat, iradah, sama’, bashar, hayat juga yang lain. Pendengaran kita adalah dengan indera pendengar (telinga), penglihatan kita adalah dengan indera penglihatan (mata), dan penindakan kita adalah dengan indera tangan, sedang Allah berbeda dengan hal semacam itu. “Tidak ada suatu apapun yang menyamainya”.

===========


Dengan demikian, dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan “Kalam” yang dipaparkan di dalam literatur-literatur Nahwu seperti yang telah kita ketahui bersama adalah ucapan mahluk, bukan kalam Allah, karena kalam Allah tidak terangkai dengan kalimat, suara, huruf, tidak dengan mulut, bibir dan tidak berupa elemen. Tidak ada suatu apapun yang menyamai Allah. Sedang kalam mahluk tidak demikian dan hal itu dikukuhkan oleh Imam Ibnu Malik di dalam kitabnya “AlFiyah Ibnu Malik” dengan manyatakan “Kalamuna (kalam kita)”. والله اعلم

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama