DOC-192. Hukum Melakukan Hubungan Intim Sebelum Melaksanakan Mandi Haidl
Daril Anam Romadhon
12 maret 2015
assalamualaikum wr.wb
apa hukum pr. yang ketika di masa haidnya dy sudah selesai, tapi di kala dy blum bersuci, suaminya memintanya untuk bersetubu dengan maksud bersucinya bisa di gabungin dengan persoalan tdi,,
apakah boleh istri tersebut melakukan setubuh dengan suaminya sebelum bersuci dari masa haidnya?
dalil/rujukannya?
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum melakukan hubungan intim sebelum mandi setelah suci dari haidl?
Imam Syaifuddin; Abu Bakar; Muhammad bin Ahmad al-Syasyi al-Qaffal menyatakan bahwa jika seorang perempuan suci dari haidl, maka tidak diperbolehkan bagi suami untuk menyetubuhinya sebelum ia melaksanakan mandi. Pendapat ini selaras dengan pendapat Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Tsaur. Sedang Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa jika darah telah berhenti pada batas maksimal masa haidl, ya’ni 10 hari (menurut madzhab Hanafi), maka boleh mnyetubuhinya sebelum melaksanakan mandi. Namun apabila berhentinya darah haidl sebelum masa maksimal haidl, maka tidak boleh menyetubuhinya hingga melaksanakan mandi (dan) atau setelah melewati waktu shalat.
Imam Syaifuddin; Abu Bakar; Muhammad bin Ahmad al-Syayi al-Qaffal juga mengutip pernyataan Imam Dawud yang menyatakan jika perempuan tersebut telah membasuh dan membersihkan vaginanya dari bercak darah, maka boleh menyetubuhinya. Juga diceritakan dari Imam Thawus dan Imam Mujahid bahwa sesungguhnya ketika seorang perempuan melaksanakan wudlu’ atau tayammum (jika tidak ada air), maka diperbolehkan menyetubuhinya. Sedang Imam Makhul menyatakan bahwa tidak diperbolehkan menyetubuhinya dengan hanya melaksanakan tayammum. Hal senada dikemukakan oleh Syaikh Zainuddin bin Abdu al-Aziz al-Malibary. Beliau juga mengutip pendapat Imam al-Jalal al-Syuyuthi yang menyatakan bahwa diperbolehkan melakukan hubungan intim pada saat istri baru suci dari haidl walupun belum melaksanakan mandi.
Dari paparan tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa hukum melakukan hubungan intim pada saat istri suci dari haidl namun belum melaksanakan mandi adalah hilaf sebagaimana berikut:
Imam Muhammad al-Syarbini al-Khatib mengutip sebuah peringatan dari Imam al-Ghazali yang menyatakan bahwa sesungguhnya melakukan hubungan intim setelah suci dari haidl namun belum melaksanakan mandi dapat menyebabkan penyakit kusta (judzam) bagi anak yang akan dilahirkan. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
فإذا طهرت من الحيض لم يحل له وطؤها حتى تغتسل وبه قال مالك وأحمد وأبو ثور
وقال أبو حنيفة إذا انقطع دمها لأكثر الحيض حل وطؤها قبل الغسل وإن انقطع لما دون الأكثر لم يحل وطؤها حتى تغتسل أو يمضي عليها وقت صلاة
وقال داود إذا غسلت فرجها من الدم بعد انقطاعه حل وطؤها
وحكى عن طاوس ومجاهد أنها إذا توضأت حل وطؤها
فإن لم تجد ماء تيممت وحل وطؤها
قال مكحول لا يحل وطؤها بالتيمم
حلية العلماء - (ج 1 / ص 216)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ro Fie:
وإذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطئ خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي رحمه الله
( قوله خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي ) أي من حل الوطء أيضا بالانقطاع
فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين - - (ص ٦٦ )المكتبة الشاملة
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
وَأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى التَّحْرِيمِ مَا لَمْ تَغْتَسِلْ أَوْ تَتَيَمَّمْ عِنْدَ عَدَمِ الْمَاءِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَلَّقَ جَوَازَ وَطْئِهَا بِشَرْطَيْنِ:
بانقطاع الدم والغسل، حَتَّى يَطْهُرْنَ، يَعْنِي: مِنَ الْحَيْضِ، فَإِذا تَطَهَّرْنَ، يَعْنِي: اغْتَسَلْنَ فَأْتُوهُنَّ، وَمَنْ قَرَأَ يَطَّهَّرْنَ بِالتَّشْدِيدِ فَالْمُرَادُ مِنْ [ذَلِكَ] الْغُسْلُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا [الْمَائِدَةِ:
6] ، أي: اغتسلوا، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ قَبْلَ الْغُسْلِ لَا يَحِلُّ الْوَطْءُ، قَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
تفسير البغوي - إحياء التراث - (ج 1 / ص 289)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
فائدة: حكى الغزالي أن الوطئ قبل الغسل يورث الجذام في الولد
الاقناع في حل ألفاظ أبى شجاع - (ج 1 / ص 94)
Referensi:
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1598028433744044/)
12 maret 2015
assalamualaikum wr.wb
apa hukum pr. yang ketika di masa haidnya dy sudah selesai, tapi di kala dy blum bersuci, suaminya memintanya untuk bersetubu dengan maksud bersucinya bisa di gabungin dengan persoalan tdi,,
apakah boleh istri tersebut melakukan setubuh dengan suaminya sebelum bersuci dari masa haidnya?
dalil/rujukannya?
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum melakukan hubungan intim sebelum mandi setelah suci dari haidl?
Imam Syaifuddin; Abu Bakar; Muhammad bin Ahmad al-Syasyi al-Qaffal menyatakan bahwa jika seorang perempuan suci dari haidl, maka tidak diperbolehkan bagi suami untuk menyetubuhinya sebelum ia melaksanakan mandi. Pendapat ini selaras dengan pendapat Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Tsaur. Sedang Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa jika darah telah berhenti pada batas maksimal masa haidl, ya’ni 10 hari (menurut madzhab Hanafi), maka boleh mnyetubuhinya sebelum melaksanakan mandi. Namun apabila berhentinya darah haidl sebelum masa maksimal haidl, maka tidak boleh menyetubuhinya hingga melaksanakan mandi (dan) atau setelah melewati waktu shalat.
Imam Syaifuddin; Abu Bakar; Muhammad bin Ahmad al-Syayi al-Qaffal juga mengutip pernyataan Imam Dawud yang menyatakan jika perempuan tersebut telah membasuh dan membersihkan vaginanya dari bercak darah, maka boleh menyetubuhinya. Juga diceritakan dari Imam Thawus dan Imam Mujahid bahwa sesungguhnya ketika seorang perempuan melaksanakan wudlu’ atau tayammum (jika tidak ada air), maka diperbolehkan menyetubuhinya. Sedang Imam Makhul menyatakan bahwa tidak diperbolehkan menyetubuhinya dengan hanya melaksanakan tayammum. Hal senada dikemukakan oleh Syaikh Zainuddin bin Abdu al-Aziz al-Malibary. Beliau juga mengutip pendapat Imam al-Jalal al-Syuyuthi yang menyatakan bahwa diperbolehkan melakukan hubungan intim pada saat istri baru suci dari haidl walupun belum melaksanakan mandi.
Dari paparan tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa hukum melakukan hubungan intim pada saat istri suci dari haidl namun belum melaksanakan mandi adalah hilaf sebagaimana berikut:
- Mayoritas Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa hukum melakukan hubungan intim pada saat istri suci dari haidl namun belum melaksanakan mandi adalah haram. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Tsaur.
- Imam Abu Hanifah menyatakan boleh jika darah haidl berhenti pada batas maksimal masa haidl ya’ni 10 hari (menurut madzhab Hanafi). Namun apabila berhentinya darah haidl sebelum masa maksimalnya, maka tidak boleh melakukan hubungan intim sehingga melaksanakan mandi (dan) atau setelah melewati waktu shalat.
- Imam Dawud menyatakan boleh setelah membersihkan vagina dari bercak darah haidl.
- Imam Thawus dan Imam Mujahid menyatakan boleh setelah melaksanakan wudlu’ atau tayammum (jika tidak ada air). Namun pendapat ini ditentang oleh Imam Makhul.
- Imam al-Jalal al-Syuyuthi menyatakan boleh.
Imam Muhammad al-Syarbini al-Khatib mengutip sebuah peringatan dari Imam al-Ghazali yang menyatakan bahwa sesungguhnya melakukan hubungan intim setelah suci dari haidl namun belum melaksanakan mandi dapat menyebabkan penyakit kusta (judzam) bagi anak yang akan dilahirkan. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
فإذا طهرت من الحيض لم يحل له وطؤها حتى تغتسل وبه قال مالك وأحمد وأبو ثور
وقال أبو حنيفة إذا انقطع دمها لأكثر الحيض حل وطؤها قبل الغسل وإن انقطع لما دون الأكثر لم يحل وطؤها حتى تغتسل أو يمضي عليها وقت صلاة
وقال داود إذا غسلت فرجها من الدم بعد انقطاعه حل وطؤها
وحكى عن طاوس ومجاهد أنها إذا توضأت حل وطؤها
فإن لم تجد ماء تيممت وحل وطؤها
قال مكحول لا يحل وطؤها بالتيمم
حلية العلماء - (ج 1 / ص 216)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ro Fie:
وإذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطئ خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي رحمه الله
( قوله خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي ) أي من حل الوطء أيضا بالانقطاع
فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين - - (ص ٦٦ )المكتبة الشاملة
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
وَأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى التَّحْرِيمِ مَا لَمْ تَغْتَسِلْ أَوْ تَتَيَمَّمْ عِنْدَ عَدَمِ الْمَاءِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَلَّقَ جَوَازَ وَطْئِهَا بِشَرْطَيْنِ:
بانقطاع الدم والغسل، حَتَّى يَطْهُرْنَ، يَعْنِي: مِنَ الْحَيْضِ، فَإِذا تَطَهَّرْنَ، يَعْنِي: اغْتَسَلْنَ فَأْتُوهُنَّ، وَمَنْ قَرَأَ يَطَّهَّرْنَ بِالتَّشْدِيدِ فَالْمُرَادُ مِنْ [ذَلِكَ] الْغُسْلُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا [الْمَائِدَةِ:
6] ، أي: اغتسلوا، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ قَبْلَ الْغُسْلِ لَا يَحِلُّ الْوَطْءُ، قَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
تفسير البغوي - إحياء التراث - (ج 1 / ص 289)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
فائدة: حكى الغزالي أن الوطئ قبل الغسل يورث الجذام في الولد
الاقناع في حل ألفاظ أبى شجاع - (ج 1 / ص 94)
Referensi:
- Chulliyah al-Ulama’ (Maktabah Syamilah). I/ 216
- Fatchu al-Mu’in (Maktabah Syamilah). I/ 66
- Tafsir al-Baghawi (Maktabah Syamilah). I/ 289
- Al-Iqna’ Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja’ (Maktabah Syamilah). I/ 94
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1598028433744044/)

Komentar
Posting Komentar