DOC-190. Hukum Janin Bangkai Hewan Dan hukum Menkonsumsinya

Siti Aisyah Al-misri
5 Maret 2015 pukul 21:06

Assalamu alaikum
Mw tanya bagaimana hukum sapi yg mengndung 9 buln terus mati sedangkan anak dari induk tersebut masihhidup
Pertanyaan
1bagaimana hukum memakan daging anak
sapi tersebut setelh di sambeleh
2 apakahh di hukumi najis anak sapi tersrbut
mengingat aDA dalil yg berbunyi kesemuanya
bangkai itu najis

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

  1. Bagaimanakah hukum mengkonsumsi daging janin yang keluar dari bangkai hewan yang boleh dikonsumsi dagingnya yang telah disembelih?
  2. Bagaimanakah hukum janin yang keluar dari bangkai hewan yang halal dikonsumsi?
     Adapun janin yang keluar dari hewan yang halal dikomsumsi yang masih hidup atau  mati tidak karena disembelih (bangkai), maka janin hewan tersebut harus disembelih dengan sembelihan secara syar’i. Apabila keluar dari hewan yang mati karena disembelih dengan sembelihan secara syar’i, maka janin dalam dua kondisi. Yaitu:

  • Janin keluar sebelum ditiupkan nyawa atau masih dalam bentuk segumpal darah atau segumpal daging (dan) atau berbentuk janin namun belum sempurna. Maka mayoritas Ulama’ menyatakan bahwa janin semacam itu adalah tidak halal dikonsumsi karena termasuk bangkai. Sebab di dalam kematian tidak disyaratkan harus didahului kehidupan. 
  • Janin keluar setelah ditiupkan nyawa dalam bentuk janin yang telah sempurna penciptaannya. Maka hukumnya diperinci sebagai berikut:
  1. Janin tersebut keluar dalam keadaan hidup yang tidak seperti hidupnya hewan yang telah disembelih (bertahan lama), maka janin wajib disembelih. Apabila janin mati sebelum disembelih, semua Ulama’ sepakat menyatakan bahwa janin tersebut adalah bangkai yang tidak halal dikonsumsi.
  2. Janin tersebut keluar dalam keadaan hidup yang seperti hidupnya hewan yang telah disembelih (tidak bertahan lama). Maka diperinci sebagai berikut:
  • Jika janin disembelih, semua Ulama’ sepakat menyatakan bahwa janin boleh dikonsumsi.
  • Dan jika janin tersebut tidak disembelih, maka janin tetap halal dikonsumsi menurut Ulama’ dari kalangan madzhab Sayfi’i dan madzhab Chambali. Sebab hidupnya hewan yang telah disembelih adalah tidak seperti hidup. Maka ia telah mati dengan disembelihnya sang induk. Wallahu a'lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh @ Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

رَابِعًا - الْجَنِينُ :
86 - جَنِينُ الْحَيَوَانِ الْمَأْكُول إِنْ خَرَجَ مِنْ حَيٍّ أَوْ مَيْتَةٍ لاَ يَحِل إِلاَّ إِنْ أُدْرِكَتْ ذَكَاتُهُ ، فَذُكِّيَ ذَكَاةً شَرْعِيَّةً .
وَإِنْ خَرَجَ مِنْ مُذَكَّاةٍ ذَكَاةً شَرْعِيَّةً اخْتِيَارِيَّةً أَوِ اضْطِرَارِيَّةً فَهُنَاكَ حَالَتَانِ :
( الْحَالَةُ الأُْولَى ) : أَنْ يَخْرُجَ قَبْل نَفْخِ الرُّوحِ فِيهِ ، بِأَنْ يَكُونَ عَلَقَةً أَوْ مُضْغَةً أَوْ جَنِينًا غَيْرَ كَامِل الْخِلْقَةِ فَلاَ يَحِل عِنْدَ الْجُمْهُورِ ، لأَِنَّهُ مَيْتَةٌ ، إِذْ لاَ يُشْتَرَطُ فِي الْمَوْتِ تَقَدُّمُ الْحَيَاةِ . قَال تَعَالَى : { وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ } . (1) فَمَعْنَى قَوْلِهِ : ( كُنْتُمْ أَمْوَاتًا ) كُنْتُمْ مَخْلُوقِينَ بِلاَ حَيَاةٍ ، وَذَلِكَ قَبْل أَنْ تُنْفَخَ فِيهِمُ الرُّوحُ .
( الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ ) : أَنْ يَخْرُجَ بَعْدَ نَفْخِ الرُّوحِ فِيهِ بِأَنْ يَكُونَ جَنِينًا كَامِل الْخِلْقَةِ - أَشْعَرَ أَوْ لَمْ يُشْعِرْ - وَلِهَذِهِ الْحَالَةِ صُوَرٌ :
( الصُّورَةُ الأُْولَى ) : أَنْ يَخْرُجَ حَيًّا حَيَاةً مُسْتَقِرَّةً فَتَجِبُ تَذْكِيَتُهُ ، فَإِنْ مَاتَ قَبْل التَّذْكِيَةِ فَهُوَ مَيْتَةٌ اتِّفَاقًا .
( الصُّورَةُ الثَّانِيَةُ ) : أَنْ يَخْرُجَ حَيًّا حَيَاةَ مَذْبُوحٍ ، فَإِنْ أَدْرَكْنَا ذَكَاتَهُ وَذَكَّيْنَاهُ حَل اتِّفَاقًا ، وَإِنْ لَمْ يُذَكَّ حَل أَيْضًا عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ ، لأَِنَّ حَيَاةَ الْمَذْبُوحِ كَلاَ حَيَاةٍ ، فَكَأَنَّهُ مَاتَ بِتَذْكِيَةِ أُمِّهِ .
الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 5 / ص 156)

Referensi:
  1. Al Mausu’ah al-Fiqhiya al-Kuwaitiyah (Maktabah Syamilah). V/ 156
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik




(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1595554773991410/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama