DOC-207. Hukum Mencintai Dan Mangambil Suami Orang

Ummu Salamah
7 Maret 3015 pukul 8:40

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Afwan gus yai ...
Gimna hukum nx mencintai suami orang skaligus mengambil nx ..minta penjelasan dn ibarot jgn lupa ..
Syukron ksr ..

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum mencintai dan mengambil suami orang?

     Agama Islam tidak pernah melarang siapapun untuk mencintai orang lain bahkan mencintai orang yang haram untuk dinikahi sekalipun, karena cinta adalah fitrah yang datang dan bertandang tanpa harus diundang. Bahkan orang yang mencintai memiliki derajat yang tinggi serta mulia disisi Allah subhanahu wa ta’ala sehingga jika orang yang mencinta mati karena kecintaan yang begitu mendalam, maka orang tersebut adalah mati syahid (akhirat) dengan ketentuan-ketentuannya. 
     Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyathi menyatakan bahwa salah satu orang yang mati syahid adalah orang yang mati karena kecintaan yang mendalam walaupun terhadap orang yang tidak boleh disetubuhi (dinikahi), seperti mencintai anak muda yang memiliki paras cantik (mairil, jawa) dengan ketentuan tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan syari'at, bahkan dari sekedar melihat, sekiranya ia bertemu dengan orang yang dicintainya, maka ia tidak melakukan hal-hal yang melanggar syari’at dan dengan syarat kecintaannya dipendam serta tidak diutarakan atau dipublikasikan bahkan terhadap orang yang dicintainya sekalipun.
     Adapun hukum mencintai suami orang lain dan bertujuan untuk merusak rumah tangganya agar dapat menikahinya adalah haram berdasar hadits dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami”. 
     Berdasar hadits tersebut diatas, Imam Abdurrahman al Jaziri menegaskan bahwa agama Islam melarang untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak jalinan kasih suami dan istri. Hal itu merupakan dosa besar bagi Allah dan Ulama' berbeda pandangan dalam meyikapi orang yang merusak jalinan antara suami dan istri sebagaimana uraian berikut: 

  • Ulama' dari kalangan madzhab Maliki menyatakan bahwa sesungguhnya orang yang merusak istri orang lain agar ia dapat menikahinya setelah dicerai, maka haram bagi orang tersebut menikahinya untuk selama-lamanya.
  • Ulama' dari kalangan madzhab Hanafi dan Syafi'i menyatakan bahwa orang yang merusak seorang istri dari suaminya, maka boleh bagi orang tersebut menikahinya setelah dicerai. Tapi orang semacam ini merupakan orang yang paling fasiq dan paling ma'siat serta lebih buruknya dosa menurut Allah kelak dihari kiamat. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

والميت عشقا ولو لمن لم يبح وطؤه كأمرد، بشرط العفة، حتى عن النظر، بحيث لو اختلى بمحبوبه لم يتجاوز الشرع.
وبشرط الكتمان حتى عن معشوقه.
حاشية إعانة الطالبين - (ج 2 / ص 124)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Airul Hernandez:

أخبرنا إسحاق بن إبراهيم قال أنا معاوية بن هشام قال نا عمار بن رزيق عن عبد الله بن عيسى بن عبد الرحمن بن أبي ليلى عن عكرمة عن يحيى بن يعمر عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من خبب عبدا على أهله فليس منا ومن أفسد امرأة على زوجها فليس منا
السنن الكبرى للنسائي - (ج 5 / ص 385)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

إفساد المرأة على زوجها
إن الدين الإسلامي يحرم السعي بالفساد بين الزوجين ويعتبره من أكبر الكبائر عند الله وقد اختلف الفقهاء في حكم من أفسد امرأة على زوجها حتى طلقها
المالكية - قالوا : إن من أفسد زوجة غيره ليتزوجها بعده تحرم عليه تحريما مؤبدا معاملة له بنقيض قصده . وقد روى الإمام أحمد بإسناد صحيح عن بريدة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه قال ( من خبب على امرئ زوجته أو مملوكه فليس منا ) ومعنى - خبب - أي خدع وأفسد
الحنفية والشافعية - قالوا : إن إفساد الزوجة على زوجها لا يحرمها على من أفسدها بل يحل له زواجها ولكن هذا الإنسان يكون من أفسق الفساق وعمله يكون من أنكر أنواع العصيان وأفحش الذنوب عند الله عز و جل يوم القيامة
روى الطبراني في الصغير والأوسط من حديث ابن عمر رضي الله تعالى عنهما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : " من أفسد امرأة على زوجها فليس منا
الفقه على المذاهب الأربعة - (ج 5 / ص 48)

Referensi:
  1. Hasyiyah I’anah al-Thalibin. II/ 124
  2. Al Sunan al-Kubra Li al-Nasai. V/ 385
  3. Al Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah. V/ 48
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik




(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1596153157264905/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama