DOC-208. Hukum Operasi Kelamin Dan Status Pasca Operasi

Chusnol Ali Sofhal Jamill
23 Februari 2015 pukul 19:01


Assalamualaikum wr wb..
mau nanyak ustadz
bagaimana hukumnya operasi jenis kalamin perempuan di operasi laki2 / sebaliknya......??
dan sholatnya gimna..??
terima kasih
wassalam

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

  1. Bagaimanakah hukum operasi kelamin menurut perspektif Fiqh?
  2. Bagaimanakah shalatnya pasca dioperasi?
     Adapun hukum operasi kelamin menurut perspektif Fiqh adalah haram dan hal itu merupakan dosa besar karena merubah penciptaan Allah. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa “Wanita yang menyambung rambut dengan rambut orang lain, wanita yang menghilangkan rambut muka (alis atau bulu mata) dan wanita yang dihilangkan rambut mukanya, orang yang membuat tato dan orang yang di tato akan dilaknat oleh Allah subhananhu wa ta’ala”. Imam Abu Abdillah; Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah al-Anshari al-Huzruji; Syamsuddin al-Qurthubi (popular Imam Qurthubi) didalam tafsirnya mengutip pernyataan Imam Abu Ja’far al-Thabari yang menyatakan bahwa hadits tersebut merupakan landasan hukum dkeharaman  merubah penciptaan Allah baik dengan menambah atau mengurangi. Imam al-Qurthubi juga mengutip pernyataan Imam ‘Iyad yang menyatakan bahwa orang yang diciptakan dengan jari jemari yang lebih atau anggota tubuh yang lebih, maka ia tidak diperbolehkan memotong dan mencabutnya. Karena dengan memotong atau mencabutnya, berarti ia telah merubah penciptaan Allah, kecuali jika menyakitkan, maka diperbolehkan untuk mencabutnya menurut Imam Abu Ja’far dan yang lain. Imam Muhammad bin Ali bin  Muhammad al-Syaukani juga menegaskan bahwa diharamkannya hal tersebut diatas apabila bertujuan untuk mempercantik diri dan bukan karena penyakit. Jika karena penyakit, maka hukumnya boleh.

(Bagaimanakah shalatnya pasca operasi kelamin?)

     Seseorang yang telah melakukan operasi kelamin, maka orang tersebut dihukumi sebagaimana jenis kelamin pasca operasi dan oleh karena itu shalatnya pun harus sebagaimana jenis kelamin pasca operasi. Imam Syamsuddin; Muhammad bin Abi al-Abbas; Ahmad bin Hamzah; Syihabuddin al-Ramli pernah disodorkan sebuah pertanyaan: "Apakah membatalkan wudlu’ jika kekasih Allah (wali) laki-laki tampak sebagai perempuan atau orang laki-laki dirubah bentuk dan rupanya menjadi perempuan?". Maka beliau menjawab: "Sesungguhnya dalam masalah yang pertama (seorang wali laki-laki tampak sebagai perempuan) adalah tidak membatalkan wudlu’ secara pasti karena sesungguhnya orangnya tidak berubah. Ia hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain dengan tetapnya sifat laki-laki. Adapun orang laki-laki yang dirubah bentuk dan rupanya menjadi perempuan, maka yang demikian itu dimungkinkan dapat membatalkan wudlu’, karena dekatnya kemungkinan berubah orang (‘ain) nya. Juga dimungkinkan tidak membatalkan wudlu’ karena adanya kemungkinan yang berubah adalah sifat dan karakternya namun bukan orang ('ain) nya. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:

قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ الطَّبَرِيُّ: فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ تغيير شي مِنْ خَلْقِهَا الَّذِي خَلَقَهَا اللَّهُ عَلَيْهِ بِزِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ، الْتِمَاسَ الْحُسْنِ لِزَوْجٍ أَوْ غَيْرِهِ، سَوَاءً فَلَجَتْ أَسْنَانَهَا أَوْ وَشَرَتْهَا، أَوْ كَانَ لَهَا سِنٌّ زَائِدَةٌ فَأَزَالَتْهَا أَوْ أَسْنَانٌ طِوَالٌ فَقَطَعَتْ أَطْرَافَهَا. وَكَذَا لَا يَجُوزُ لَهَا حَلْقُ لِحْيَةٍ أَوْ شَارِبٍ أَوْ عَنْفَقَةٍ إِنْ نَبَتَتْ لَهَا، لِأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ تَغْيِيرُ خَلْقِ اللَّهِ. قَالَ عِيَاضٌ: وَيَأْتِي عَلَى مَا ذَكَرَهُ أَنَّ مَنْ خُلِقَ بِأُصْبُعٍ زَائِدَةٍ أَوْ عُضْوٍ زَائِدٍ لَا يَجُوزُ لَهُ قَطْعُهُ وَلَا نَزْعُهُ، لِأَنَّهُ مِنْ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى، إِلَّا أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الزَّوَائِدُ تُؤْلِمُهُ فَلَا بَأْسَ بِنَزْعِهَا عند أبي جعفر وغيره.
تفسير القرطبي (5/ 393)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

قال " لعنت الواصلة والمستوصلة والنامصة والمنتمصة والواشمة والمستوشمة غير داء......

 : قوله " إنما هلكت بنو اسرائيل " الخ هذا تهديد شديد لأن كون مثل هذا الذنب كان سببا لهلاك مثل تلك الأمة يدل على أنه من أشد الذنوب قال القاضي عياض قيل يحتمل أنه كان محرما عليهم فعوقبوا باستعماله وهلكوا بسببه وقيل يحتمل أن ذلك الهلاك كان به وبغيره مما ارتكبوه من المعاصي فعند ظهور ذلك فيهم هلكوا وفيه معاقبة العامة بظهور المنكر انتهى : قوله " الا من داء " ظاهره ان التحريم المذكور وإنما هو فيما إذا كان القصد التحسين لا لداء وعلة فإنه ليس بمحرم وظاهر قوله المغيرات خلق الله أنه لا يجوز تغيير شيء من الخلقة عن الصفة التي هي عليها . قال أبو جعفر الطبري في هذا الحديث دليل على أنه لا يجوز تغيير شيء مما خلق الله المرأة عليه بزيادة أو نقص التماسا للتحسين لزوج أو غيره كما لوكان لها سن زائدة أو عضو زائد فلا يجوز لها قطعه ولا نزعه لأنه من تغيير خلق الله وهكذا لو كان لها أسنان طوال فأرادت تقطيع أطرافها وهكذا
نيل الأوطار - (ج 6 / ص 244)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

وَوَقَعَ السُّؤَالُ عَمَّا لَوْ تَصَوَّرَ وَلِيٌّ بِصُورَةِ امْرَأَةٍ أَوْ مُسِخَ رَجُلٌ امْرَأَةً هَلْ يَنْقُضُ أَوْ لَا؟
فَأُجِيبَ عَنْهُ: بِأَنَّ الظَّاهِرَ فِي الْأَوَّلِ عَدَمُ النَّقْضِ لِلْقَطْعِ بِأَنَّ عَيْنَهُ لَمْ تَنْقَلِبْ، وَإِنَّمَا انْخَلَعَ مِنْ صُورَةٍ إلَى صُورَةٍ مَعَ بَقَاءِ صِفَةِ الذُّكُورَةِ، وَأَمَّا الْمَسْخُ فَالنَّقْضُ بِهِ مُحْتَمَلٌ لِقُرْبِ تَبَدُّلِ الْعَيْنِ مَعَ أَنَّهُ قَدْ يُقَالُ فِيهِ بِعَدَمِ النَّقْضِ أَيْضًا لِاحْتِمَالِ تَبَدُّلِ الصِّفَةِ دُونَ الْعَيْنِ ع ش عَلَى م ر.
حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب (1/ 211)

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

وَوَقَعَ السُّؤَالُ عَمَّا لَوْ تَصَوَّرَ وَلِيٌّ بِصُورَةِ امْرَأَةٍ أَوْ مُسِخَ رَجُلٌ امْرَأَةً هَلْ يَنْقُضُ أُمّ لَا؟ فَأَجَبْت عَنْهُ بِأَنَّ الظَّاهِرَ فِي الْأُولَى عَدَمُ النَّقْضِ لِلْقَطْعِ بِأَنَّ عَيْنَهُ لَمْ تَنْقَلِبْ، وَإِنَّمَا انْخَلَعَ مِنْ صُورَةٍ إلَى صُورَةٍ مَعَ بَقَاءِ صِفَةِ الذُّكُورَةِ، وَأَمَّا الْمَسْخُ فَالنَّقْضُ فِيهِ مُحْتَمَلٌ لِقُرْبِ تَبَدُّلِ الْعَيْنِ، مَعَ أَنَّهُ قَدْ يُقَالُ فِيهِ بِعَدَمِ النَّقْضِ أَيْضًا لِاحْتِمَالِ تَبَدُّلِ الصِّفَةِ دُونَ الْعَيْنِ.
نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (1/ 116)

Referensi:
  1. Tafsir Al Qurthubi. V/ 393
  2. Nailu Al Authar. VI/ 244
  3. Chasyiyah Al Bujairimi ‘Ala Al Khathib. I/ 211
  4. Nihayah Al Muchtaj. I/ 116
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik





(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1592014584345429/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama