DOC-210. Hukum Menjual Anak Hewan
Gilang Ramadhan
23 Maret 2015 pukul 10:35
Assalamu'alaikum..... permisi para ustad MTTM yang di muliakan Allah, dalam kehidupan sehari-hari di pasar tradisional sering kita jumpai ada pedagang yang menjual ayam kecil (itik berwarna) dengan tujuan konsumennya adalah anak2, nah yang menjadi pertanyaan.... bagaimana hukum jual beli anak ayam (itik berwarna) yang jelas2 masih kecil di pisahkan dari induknya kemudian di jual hanya semata-mata ingin mendapatkan untung terlebih tujuan konsumennya anak kecil( buat mainan), boleh apa tidak ya menurut hukum islam? sebelumnya terimakasih
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum menjual anak hewan yang masih kecil menurut perspektif Fiqh?
Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi menuturkan bahwa sahabat-sahabat kami (Ulama’ madzhab Syafi’i) menyatakan diperbolehkannya memisahkan antara anak hewan dan induknya setelah tidak menyusu jika terdapat tujuan seperti untuk disembelih. Jika tidak, maka hukumnya adalah makruh namun tidak haram menurut madzhab ini (Syafi’i). Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas sahabat kami. Namun Imam al-Shamairi dan pengarang kitab "al-Bayan" juga Imam al-Rafi’i menceritakan sebuah pendapat yang menyatakan bahwa mamisahkan anak hewan dari induknya setelah tidak menyusu adalah haram. Namun pendapat ini merupakan pendapat yang menyimpang (syadz). Uraian ini selaras dengan uraian yang telah dipaparkan oleh Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyathi, bahkan beliau menambahkan bahwa syarat diperbolehkannya memisahkan anak hewan dari induknya setelah tidak menyusu adalah jika bertujaun untuk dijual atau yang lain (seperti hibah). Jika bertujuan untuk disembelih, maka tidak disyaratkan harus setelah tidak menyusu. Syekh Syamsuddin Muhammad bin al-Khatib al-Syarbiniy mengaskan bahwa memisahkan anak hewan dari induknya sebelum tamyiz adalah haram dan jika untuk dijual atau dihibahkan, maka hukum transaksinya adalah batal menurut pendapat adzhar.
Dari urain tersebut diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa hukum jual beli anak hewan yang dipisahkan dari induknya adalah diperinci sebagai berikut:
1. Jika anak hewan tersebut masih menyusu pada sang induk atau masih diberi makan oleh induknya, maka hukum jual belinya adalah batal (tidak sah) menurut pendapat adzhar.
2. Jika anak hewan tersebut telah tidak meyusu pada sang induk atau bisa makan sendiri, maka hukum jual belinya adalah hilaf sebagaimana berikut:
• Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki menyatakan tidak sah.
• Sedang Ulama’ dari kalangan madzhab Sayifi’i dan Hanafi menyatakan sah namun penjual dan pembeli tetap berdosa karena telah memisahkan dari sang induk. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
(فَرْعٌ)
قَالَ أَصْحَابُنَا التَّفْرِيقُ بَيْنَ الْبَهِيمَةِ وَوَلَدِهَا بَعْدَ اسْتِغْنَائِهِ عَنْ اللَّبَنِ إنْ كَانَ لِغَرَضٍ مَقْصُودٍ كَالذَّبْحِ جَازَ وَإِلَّا فَهُوَ مَكْرُوهٌ وَلَا يَحْرُمُ عَلَى الْمَذْهَبِ وَبِهِ قَطَعَ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ وَحَكَى الصَّيْمَرِيُّ وَصَاحِبُ البيان والرافعي فيه وجها شاذا أنه حرام وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ أَعْلَمُ
المجموع شرح المهذب (9/ 362)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
(قوله: ويجوز تفريق ولد البهيمة) أي بذبح له أو لأمه، وبنحو بيع كذلك.
(وقوله: إن استغنى عن أمه) قيد في جواز التفريق، لكن النسبة لما إذا كان بنحو البيع له أو لها أو بالذبح لها، أما إذا كان بالذبح له فلا يحتاج إلى هذا التقييد، لأنه يجوز ذبحه مطلقا، استغنى أولا - كما صرح به في الروض وشرحه - (وقوله: بلبن) أي لغير أمه.
(وقوله: أو غيره) أي غير اللبن، كعلف.
(قوله: لكن يكره) أي التفريق في هذه الحالة، ومحل الكراهة ما لم يكن لغرض الذبح له، وإلا فلا كراهة
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (3/ 29)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﻡ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﻤﻴﺰ , ﻭﻓﻲﻗﻮﻝ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ , ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺮﻕ ﺑﺒﻴﻊ ﺃﻭ ﻫﺒﺔ ﺑﻄﻼ ﻓﻲﺍﻷﻇﻬﺮ .)ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﻡ( ﺍﻟﺮﻗﻴﻘﺔ )ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ(ﺍﻟﺮﻗﻴﻖ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﺍﻟﻤﻤﻠﻮﻛﻴﻦ ﻟﻮﺍﺣﺪ ﺑﺒﻴﻊ ﺃﻭ ﻫﺒﺔ ﺃﻭﻓﺴﺦ ﺑﺈﻗﺎﻟﺔ ﺃﻭ ﺭﺩ ﺑﻌﻴﺐ ﺃﻭ ﻗﺴﻤﺔ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻻﺑﻌﺘﻖ ﻭﻭﺻﻴﺔ )ﺣﺘﻰ ﻳﻤﻴﺰ( ﻭﺫﻟﻚ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺍﻟﺪﺓ ﻭﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﺮﻕ ﺍﻟﻠﻪﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﺣﺒﺘﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ” ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ,ﻭﺣﺴﻨﻪ, ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﺻﺤﺤﻪ, ﻭﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “ﻣﻠﻌﻮﻥ ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺍﻟﺪ ﻭﻭﻟﺪﻩ”ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ, ﻭﺳﻮﺍﺀ ﺭﺿﻴﺖ ﺍﻷﻡ ﺑﺬﻟﻚ ﺃﻡ ﻻ ﺭﻋﺎﻳﺔﻟﺤﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ) … ﻭﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ (ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺍﻟﻤﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ… ﻭﻳﻔﻬﻢ ﻣﻦ ﺗﻌﺒﻴﺮﻩ ﺑﺎﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺃﻥ ﻏﻴﺮﺍﻵﺩﻣﻲ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﻣﻪ ﻭﻫﻮﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺇﻥ ﺍﺳﺘﻐﻨﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﺒﻦ , ﻟﻜﻦ ﻳﻜﺮﻩ ,ﻭﻗﻴﻞ ﻳﺤﺮﻡ
ﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ394
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
ويحرم التفريق بين الأم والولد حتى يميز وفي قول حتى يبلغ وإذا فرق ببيع أو هبة بطل في الأظهر
منهاج الطالبين - (ج 1 / ص 47)
Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
ومن هذا الباب التفرقة بين الوالدة وولدها وذلك أنهم اتفقوا على منع التفرقة في المبيع بين الأم وولدها لثبوت قوله عليه الصلاة والسلام :"من فرق بين والدة وولدها فرق الله بينه وبين أحبته يوم القيامة " واختلفوا من ذلك في موضعين في وقت جواز التفرقة وفي حكم البيع إذا وقع.
فأما حكم البيع فقال مالك يفسخ وقال الشافعي وأبو
حنيفة لا يفسخ وأثم البائع والمشتري.
بداية المجتهد - (ج 2 / ص 168)
Referensi:
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1602480676632153/)
23 Maret 2015 pukul 10:35
Assalamu'alaikum..... permisi para ustad MTTM yang di muliakan Allah, dalam kehidupan sehari-hari di pasar tradisional sering kita jumpai ada pedagang yang menjual ayam kecil (itik berwarna) dengan tujuan konsumennya adalah anak2, nah yang menjadi pertanyaan.... bagaimana hukum jual beli anak ayam (itik berwarna) yang jelas2 masih kecil di pisahkan dari induknya kemudian di jual hanya semata-mata ingin mendapatkan untung terlebih tujuan konsumennya anak kecil( buat mainan), boleh apa tidak ya menurut hukum islam? sebelumnya terimakasih
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum menjual anak hewan yang masih kecil menurut perspektif Fiqh?
Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi menuturkan bahwa sahabat-sahabat kami (Ulama’ madzhab Syafi’i) menyatakan diperbolehkannya memisahkan antara anak hewan dan induknya setelah tidak menyusu jika terdapat tujuan seperti untuk disembelih. Jika tidak, maka hukumnya adalah makruh namun tidak haram menurut madzhab ini (Syafi’i). Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas sahabat kami. Namun Imam al-Shamairi dan pengarang kitab "al-Bayan" juga Imam al-Rafi’i menceritakan sebuah pendapat yang menyatakan bahwa mamisahkan anak hewan dari induknya setelah tidak menyusu adalah haram. Namun pendapat ini merupakan pendapat yang menyimpang (syadz). Uraian ini selaras dengan uraian yang telah dipaparkan oleh Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyathi, bahkan beliau menambahkan bahwa syarat diperbolehkannya memisahkan anak hewan dari induknya setelah tidak menyusu adalah jika bertujaun untuk dijual atau yang lain (seperti hibah). Jika bertujuan untuk disembelih, maka tidak disyaratkan harus setelah tidak menyusu. Syekh Syamsuddin Muhammad bin al-Khatib al-Syarbiniy mengaskan bahwa memisahkan anak hewan dari induknya sebelum tamyiz adalah haram dan jika untuk dijual atau dihibahkan, maka hukum transaksinya adalah batal menurut pendapat adzhar.
Dari urain tersebut diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa hukum jual beli anak hewan yang dipisahkan dari induknya adalah diperinci sebagai berikut:
1. Jika anak hewan tersebut masih menyusu pada sang induk atau masih diberi makan oleh induknya, maka hukum jual belinya adalah batal (tidak sah) menurut pendapat adzhar.
2. Jika anak hewan tersebut telah tidak meyusu pada sang induk atau bisa makan sendiri, maka hukum jual belinya adalah hilaf sebagaimana berikut:
• Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki menyatakan tidak sah.
• Sedang Ulama’ dari kalangan madzhab Sayifi’i dan Hanafi menyatakan sah namun penjual dan pembeli tetap berdosa karena telah memisahkan dari sang induk. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
(فَرْعٌ)
قَالَ أَصْحَابُنَا التَّفْرِيقُ بَيْنَ الْبَهِيمَةِ وَوَلَدِهَا بَعْدَ اسْتِغْنَائِهِ عَنْ اللَّبَنِ إنْ كَانَ لِغَرَضٍ مَقْصُودٍ كَالذَّبْحِ جَازَ وَإِلَّا فَهُوَ مَكْرُوهٌ وَلَا يَحْرُمُ عَلَى الْمَذْهَبِ وَبِهِ قَطَعَ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ وَحَكَى الصَّيْمَرِيُّ وَصَاحِبُ البيان والرافعي فيه وجها شاذا أنه حرام وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ أَعْلَمُ
المجموع شرح المهذب (9/ 362)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
(قوله: ويجوز تفريق ولد البهيمة) أي بذبح له أو لأمه، وبنحو بيع كذلك.
(وقوله: إن استغنى عن أمه) قيد في جواز التفريق، لكن النسبة لما إذا كان بنحو البيع له أو لها أو بالذبح لها، أما إذا كان بالذبح له فلا يحتاج إلى هذا التقييد، لأنه يجوز ذبحه مطلقا، استغنى أولا - كما صرح به في الروض وشرحه - (وقوله: بلبن) أي لغير أمه.
(وقوله: أو غيره) أي غير اللبن، كعلف.
(قوله: لكن يكره) أي التفريق في هذه الحالة، ومحل الكراهة ما لم يكن لغرض الذبح له، وإلا فلا كراهة
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (3/ 29)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﻡ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﻤﻴﺰ , ﻭﻓﻲﻗﻮﻝ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ , ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺮﻕ ﺑﺒﻴﻊ ﺃﻭ ﻫﺒﺔ ﺑﻄﻼ ﻓﻲﺍﻷﻇﻬﺮ .)ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﻡ( ﺍﻟﺮﻗﻴﻘﺔ )ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ(ﺍﻟﺮﻗﻴﻖ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﺍﻟﻤﻤﻠﻮﻛﻴﻦ ﻟﻮﺍﺣﺪ ﺑﺒﻴﻊ ﺃﻭ ﻫﺒﺔ ﺃﻭﻓﺴﺦ ﺑﺈﻗﺎﻟﺔ ﺃﻭ ﺭﺩ ﺑﻌﻴﺐ ﺃﻭ ﻗﺴﻤﺔ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻻﺑﻌﺘﻖ ﻭﻭﺻﻴﺔ )ﺣﺘﻰ ﻳﻤﻴﺰ( ﻭﺫﻟﻚ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺍﻟﺪﺓ ﻭﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﺮﻕ ﺍﻟﻠﻪﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﺣﺒﺘﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ” ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ,ﻭﺣﺴﻨﻪ, ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﺻﺤﺤﻪ, ﻭﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “ﻣﻠﻌﻮﻥ ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺍﻟﺪ ﻭﻭﻟﺪﻩ”ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ, ﻭﺳﻮﺍﺀ ﺭﺿﻴﺖ ﺍﻷﻡ ﺑﺬﻟﻚ ﺃﻡ ﻻ ﺭﻋﺎﻳﺔﻟﺤﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ) … ﻭﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ (ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺍﻟﻤﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ… ﻭﻳﻔﻬﻢ ﻣﻦ ﺗﻌﺒﻴﺮﻩ ﺑﺎﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺃﻥ ﻏﻴﺮﺍﻵﺩﻣﻲ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﻣﻪ ﻭﻫﻮﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺇﻥ ﺍﺳﺘﻐﻨﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﺒﻦ , ﻟﻜﻦ ﻳﻜﺮﻩ ,ﻭﻗﻴﻞ ﻳﺤﺮﻡ
ﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ394
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
ويحرم التفريق بين الأم والولد حتى يميز وفي قول حتى يبلغ وإذا فرق ببيع أو هبة بطل في الأظهر
منهاج الطالبين - (ج 1 / ص 47)
Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
ومن هذا الباب التفرقة بين الوالدة وولدها وذلك أنهم اتفقوا على منع التفرقة في المبيع بين الأم وولدها لثبوت قوله عليه الصلاة والسلام :"من فرق بين والدة وولدها فرق الله بينه وبين أحبته يوم القيامة " واختلفوا من ذلك في موضعين في وقت جواز التفرقة وفي حكم البيع إذا وقع.
فأما حكم البيع فقال مالك يفسخ وقال الشافعي وأبو
حنيفة لا يفسخ وأثم البائع والمشتري.
بداية المجتهد - (ج 2 / ص 168)
Referensi:
- Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. IX/ 362
- I’anah al-Thalibin. III/ 29
- Mughni al-Muhtaj. II/ 394
- Minhaju al-Thalibin. I/ 47
- Bidayah al-Mujtahid. II/ 168
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1602480676632153/)

Komentar
Posting Komentar