DOC-211. Terputusnya Haidl Pada Saat Menjalani Masa Iddah
Ach Alfaroby
22 Maret 2015 pukul 22:14
asslmualaikum wr wb
mhn mf sblmya kpd pra guru dan sesepuh mttm sy mau tya ada seorg wnta sdg mnjlnkn iddah stlh haid stu kli lalu minum pil kb shinga g haid lgi/ stlh haid stu kli g mnum apa2 tp g kluar haid lg prtyaanya smpai kpnkh bresya iddhnya dri kedua contoh di ats mhn pnjlsnya tmksh wss wr wb
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Wanita yang sedang menjalani masa iddah setelah haidl pertama ia tidak haidl lagi. Kapankah selesainya masa iddah bagi wanita tersebut?
Didalam kitab al-Um, Imam Syafi’i menyatakan “Jika seorang wanita tiba-tiba tidak mengalami haidl setelah sebelumnya haidl, maka ia tidak dapat menyelesaikan masa iddah hingga ia mencapai usia menopause dan ketika ia telah mencapai usia menopause, maka ia wajib melaksanakan iddah selama tiga bulan, kecuali jika pada usia yang sama terdapat wanita lain yang sudah mengalami. (menopause dini), maka ia harus menunggu selama sembilan bulan lalu menjalani masa iddah selama tiga bulan".
Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi juga menyatakan bahwa jika seorang wanita yang tengah menjalani masa iddah kemudian terputus dari haidl yang disebabkan oleh sesuatu yang mengahalangi seperti menyusui, sakit atau lapar, maka tidak halal bagi wanita tersebut untuk menikah hingga mengalami haidl kembali untuk kemudian menjalani masa iddah dengan beberapa sucian (tiga kali suci) atau hingga mencapai usia menopause untuk kemudian menjalani masa iddah dengan beberapa bulan (tiga bulan). Tidak perduli dengan menunggu dalam waktu yang lama sebagaimana yang telah dikutip dari hasil konsensus para sahabat yang disetujui oleh Ulama’-ulama’ terdahulu dan Ulama’-ulama’ ahir. (Dan) demikin juga jika terputusnya haidl tersebut tidak dikarenakan sebuah akibat (illat) menurut qaul terbaru (jadid) dari kalangan madzhab Syafi’i. Pendapat ini juga selaras dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Sedang menurut qaul terdahulu (qadim) dari kalangan mandzhab Safi’i yang selaras dengan pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad yang juga difatwakan oleh Ulama’-ulama’ ahir menyatakan bahwa wanita yang teputus dari haidl tidak karena sebuah illat, maka ia wajib menunggu selama sembilan bulan untuk kemudian menjalani masa iddah selama tiga bulan. Hal senada juga telah diulas dan dipaparkan oleh Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi atau yang lebih populer dengan sebutan Imam Nawawi. Beliau juga menambahkan bahwa ada perndapat yang menyatakan bahwa wanita yang mengalami hal semacam itu wajib menunggu selama empat tahun untuk kemudian menjalani masa iddah dengan beberapa bulan.
Kesimpulan:
Wanita yang sedang menjalani masa iddah yang telah melewati satu atau dua kali suci kemudian terputus dari haidl, maka hukumnya diperinci sebagaimana berikut:
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَلَوْ ارْتَفَعَ عَنْهَا الْحَيْضُ بَعْدَ أَنْ حَاضَتْ كَانَتْ فِي الْقَوْلِ الْأَوَّلِ لَا تَنْقَضِي عِدَّتُهَا حَتَّى تَبْلُغَ أَنْ تُؤَيَّسَ مِنْ الْمَحِيضِ إلَّا أَنْ تَكُونَ بَلَغَتْ السِّنَّ الَّتِي يُؤَيَّسُ مِثْلُهَا فِيهَا مِنْ الْمَحِيضِ فَتَتَرَبَّصُ تِسْعَةَ أَشْهُرٍ ثُمَّ تَعْتَدُّ بَعْدَ التِّسْعَةِ ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ
الأم للشافعي (5/ 229)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ro Fie:
(مسألة : ش) : فورقت غير حامل وهي من ذوات الأقراء ، فانقطع حيضها لعارض يعرف كرضاع ومرض وجوع ، لم يحل لها التزويج بغير ذي العدة قطعاً حتى يعاودها الدم ، فتعتد بالأقراء أو تبلغ سنّ اليأس فتعتد بالأشهر ، ولا يبالى بطول مدة الانتظار ، كما نقل عن إجماع الصحابة ، وأطبق عليه المتقدمون والمتأخرون ، وإن انقطع لا لعلة فكذلك على المذهب الجديد ، وبه قال أبو حنيفة وفي القديم ، وبه قال مالك وأحمد ، وأفتى به جمع متأخرون أنها تتربص تسعة أشهر ثم تعتد بثلاثة أشهر ، فإن قضى به شافعي لرجحانه عنده أو مساواة الجديد أو لضرورة كالاحتياج للنفقة وفيه أهلية الترجيح نفذ قضاؤه وصح العقد قطعاً وإلا نقض ، ويجوز الإفتاء لمن هو كذلك ، مع بيان أنه ليس من مذهب الشافعي ليقلد المستفتي ذلك اهـ
بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 498)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
أما إذا عرفت أن ارتفاع الحيض بعارض من مرض أو نفاس أو رضاع فإنها تنتظر زوال العارض وعود الدم.
وإن طال أن تصير في سن اليأس.
المجموع شرح المهذب - (ج 18 / ص 139)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
أما من انقطع حيضها بعلة تعرف كرضاع ومرض فلا تتزوج اتفاقا حتى تحيض أو تيأس وإن طالت المدة
فتح المعين - (ج 4 / ص 42)
Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
وَمَنْ انْقَطَعَ دَمُهَا لِعِلَّةٍ كَرَضَاعٍ وَمَرَضٍ تَصْبِرُ حَتَّى تَحِيضَ أَوْ تَيْأَسَ فَبِالْأَشْهُرِ، أَوْ لَا لِعِلَّةٍ فَكَذَا فِي الْجَدِيدِ، وَفِي الْقَدِيمِ تَتَرَبَّصُ تِسْعَةَ أَشْهُرٍ، وَفِي قَوْلٍ أَرْبَعَ سِنِينَ ثُمَّ تَعْتَدُّ بِالْأَشْهُرِ
المنهاج للنووي - (ج 1 / ص 369)
Referensi:
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1602153053331582/)
22 Maret 2015 pukul 22:14
asslmualaikum wr wb
mhn mf sblmya kpd pra guru dan sesepuh mttm sy mau tya ada seorg wnta sdg mnjlnkn iddah stlh haid stu kli lalu minum pil kb shinga g haid lgi/ stlh haid stu kli g mnum apa2 tp g kluar haid lg prtyaanya smpai kpnkh bresya iddhnya dri kedua contoh di ats mhn pnjlsnya tmksh wss wr wb
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Wanita yang sedang menjalani masa iddah setelah haidl pertama ia tidak haidl lagi. Kapankah selesainya masa iddah bagi wanita tersebut?
Didalam kitab al-Um, Imam Syafi’i menyatakan “Jika seorang wanita tiba-tiba tidak mengalami haidl setelah sebelumnya haidl, maka ia tidak dapat menyelesaikan masa iddah hingga ia mencapai usia menopause dan ketika ia telah mencapai usia menopause, maka ia wajib melaksanakan iddah selama tiga bulan, kecuali jika pada usia yang sama terdapat wanita lain yang sudah mengalami. (menopause dini), maka ia harus menunggu selama sembilan bulan lalu menjalani masa iddah selama tiga bulan".
Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi juga menyatakan bahwa jika seorang wanita yang tengah menjalani masa iddah kemudian terputus dari haidl yang disebabkan oleh sesuatu yang mengahalangi seperti menyusui, sakit atau lapar, maka tidak halal bagi wanita tersebut untuk menikah hingga mengalami haidl kembali untuk kemudian menjalani masa iddah dengan beberapa sucian (tiga kali suci) atau hingga mencapai usia menopause untuk kemudian menjalani masa iddah dengan beberapa bulan (tiga bulan). Tidak perduli dengan menunggu dalam waktu yang lama sebagaimana yang telah dikutip dari hasil konsensus para sahabat yang disetujui oleh Ulama’-ulama’ terdahulu dan Ulama’-ulama’ ahir. (Dan) demikin juga jika terputusnya haidl tersebut tidak dikarenakan sebuah akibat (illat) menurut qaul terbaru (jadid) dari kalangan madzhab Syafi’i. Pendapat ini juga selaras dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Sedang menurut qaul terdahulu (qadim) dari kalangan mandzhab Safi’i yang selaras dengan pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad yang juga difatwakan oleh Ulama’-ulama’ ahir menyatakan bahwa wanita yang teputus dari haidl tidak karena sebuah illat, maka ia wajib menunggu selama sembilan bulan untuk kemudian menjalani masa iddah selama tiga bulan. Hal senada juga telah diulas dan dipaparkan oleh Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi atau yang lebih populer dengan sebutan Imam Nawawi. Beliau juga menambahkan bahwa ada perndapat yang menyatakan bahwa wanita yang mengalami hal semacam itu wajib menunggu selama empat tahun untuk kemudian menjalani masa iddah dengan beberapa bulan.
Kesimpulan:
Wanita yang sedang menjalani masa iddah yang telah melewati satu atau dua kali suci kemudian terputus dari haidl, maka hukumnya diperinci sebagaimana berikut:
- Jika terputusnya haidl dikarenakan sebuah illat, maka ia harus menunggu hingga mengalami haidl kembali untuk kemudian melanjutkan menjalani masa iddah yang tersisa atau hingga mencapai usia menopause. Dan ketika ia telah mencapai usia menopause, maka ia wajib melaksanakan iddah selama tiga bulan. Kecuali jika pada usia yang sama terdapat wanita lain yang sudah mengalami menopause dini, maka ia harus menunggu selama sembilan bulan lalu menjalani masa iddah selama tiga bulan.
- Jika terputusnya haidl tidak dikarenakan sebuah illat, maka Ulama’ berbeda pendapat sebagaimana berikut:
- Qaul jadid dari kalangan madzhab Syafi’i dan Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa wanita tersebut wajib menunggu hingga mengalami haidl kembali untuk kemudian melanjutkan menjalani masa iddah yang tersisa atau hingga mencapai usia menopause. Dan ketika ia telah mencapai usia tersebut, maka ia wajib melaksanakan iddah selama tiga bulan kecuali jika pada usia yang sama terdapat wanita lain yang sudah mengalami menopause (dini), maka ia harus menunggu selama sembilan bulan lalu menjalani masa iddah selama tiga bulan.
- Qaul qadim dari kalangan mandzhab Safi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad juga fatwa Ulama’-ulama’ ahir menyatakan bahwa wanita tersebut wajib menunggu selama sembilan bulan untuk kemudian menjalani masa iddah selama tiga bulan.
- Sebagian qaul yang lain menyatakan bahwa wanita tersebut wajib menunggu selama empat tahun untuk kemudian menjalani masa iddah dengan beberapa bulan. Wallahu a’lam bis shawab.
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَلَوْ ارْتَفَعَ عَنْهَا الْحَيْضُ بَعْدَ أَنْ حَاضَتْ كَانَتْ فِي الْقَوْلِ الْأَوَّلِ لَا تَنْقَضِي عِدَّتُهَا حَتَّى تَبْلُغَ أَنْ تُؤَيَّسَ مِنْ الْمَحِيضِ إلَّا أَنْ تَكُونَ بَلَغَتْ السِّنَّ الَّتِي يُؤَيَّسُ مِثْلُهَا فِيهَا مِنْ الْمَحِيضِ فَتَتَرَبَّصُ تِسْعَةَ أَشْهُرٍ ثُمَّ تَعْتَدُّ بَعْدَ التِّسْعَةِ ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ
الأم للشافعي (5/ 229)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ro Fie:
(مسألة : ش) : فورقت غير حامل وهي من ذوات الأقراء ، فانقطع حيضها لعارض يعرف كرضاع ومرض وجوع ، لم يحل لها التزويج بغير ذي العدة قطعاً حتى يعاودها الدم ، فتعتد بالأقراء أو تبلغ سنّ اليأس فتعتد بالأشهر ، ولا يبالى بطول مدة الانتظار ، كما نقل عن إجماع الصحابة ، وأطبق عليه المتقدمون والمتأخرون ، وإن انقطع لا لعلة فكذلك على المذهب الجديد ، وبه قال أبو حنيفة وفي القديم ، وبه قال مالك وأحمد ، وأفتى به جمع متأخرون أنها تتربص تسعة أشهر ثم تعتد بثلاثة أشهر ، فإن قضى به شافعي لرجحانه عنده أو مساواة الجديد أو لضرورة كالاحتياج للنفقة وفيه أهلية الترجيح نفذ قضاؤه وصح العقد قطعاً وإلا نقض ، ويجوز الإفتاء لمن هو كذلك ، مع بيان أنه ليس من مذهب الشافعي ليقلد المستفتي ذلك اهـ
بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 498)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
أما إذا عرفت أن ارتفاع الحيض بعارض من مرض أو نفاس أو رضاع فإنها تنتظر زوال العارض وعود الدم.
وإن طال أن تصير في سن اليأس.
المجموع شرح المهذب - (ج 18 / ص 139)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
أما من انقطع حيضها بعلة تعرف كرضاع ومرض فلا تتزوج اتفاقا حتى تحيض أو تيأس وإن طالت المدة
فتح المعين - (ج 4 / ص 42)
Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
وَمَنْ انْقَطَعَ دَمُهَا لِعِلَّةٍ كَرَضَاعٍ وَمَرَضٍ تَصْبِرُ حَتَّى تَحِيضَ أَوْ تَيْأَسَ فَبِالْأَشْهُرِ، أَوْ لَا لِعِلَّةٍ فَكَذَا فِي الْجَدِيدِ، وَفِي الْقَدِيمِ تَتَرَبَّصُ تِسْعَةَ أَشْهُرٍ، وَفِي قَوْلٍ أَرْبَعَ سِنِينَ ثُمَّ تَعْتَدُّ بِالْأَشْهُرِ
المنهاج للنووي - (ج 1 / ص 369)
Referensi:
- Al Um Li al-Syafi’i. 229
- Bughyah al Mustarsyidin. I/ 398
- Al Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. XVIII/ 139
- Fathu al-Mu’in. IV/ 42
- Al Minhah Li al-Nawawi. I/ 369
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1602153053331582/)

Komentar
Posting Komentar