DOC-214. Hukum Menjual Tirai Ka’bah
Saddam Hassan Al Bangkalani
26 Desember 2014
Assalamu alaikum,,
Mohon pencerahan nya yai,Bagaimanakah Hukum nya jual-beli kain penutup ka'bah (kiswah) yg sudah bekas?
wessalamu alaikum
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum menjual penutup ka’bah menurut perspektif Fiqh?
Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi mengutip pernyataan pengarang kitab "al-Talkhis" yang menyatakan bahwa tidak diperbolehkan menjual tirai-tirai Ka’bah. Hal senada juga dipaparkan oleh Imam Abu al-Fadl Ibin Abdan dari golongan sahabat-sahabat kami (madzhab Syafi’i). Beliau juga menambahkan bahwa tidak diperbolehkan memotong, memindah, menjual dan membeli tirai ka’bah. Hal ini bertolak belakang dengan yang terjadi dikalangan masyarakat awam yang mana mereka membeli tirai Ka’bah dari kaum Bani Syaibah. Dan terkadang mereka meletakkannya diantara lembaran mushhaf. Beliau menyatakan bahwa barang siapa membawa bagian dari tirai Ka’bah, maka wajib mengembalikannya. Namun Imam al-Rafi’i menceritakan sebuah pendapat, ya’ni pendapat Imam Ibnu Abdan yang menyatakan diperbolehkannya menjual tirai ka’bah dan Imam al-Rafi’i tidak memberikan pernyataan hingga seakan-akan beliau sepakat dan menyetujuinya. Imam Nawawi juga mengutip pernyataan Imam Abu Abdillah al-Hulaimy yang menyatakan bahwa tidak seyogyanya mengambil sesuatu dari Ka’bah. Sedang al-Syaikh Abu Umat al-Shalah menyatakan bahwa masalah ini diserahkan kepada Imam (Presiden). Maka Imam boleh untuk membelanjakan (tasharrufkan) nya baik dengan menjual atau memberikannya, dan sebagian dialokasikan untuk baitul mal. Pendapat ini berdasar pada uraian yang telah diceritakan oleh Imam al-Arzaki yang menyatakan bahwa sesungguhnya sayyidina Umar bin al-Khattab mencopot dan melepaskan tirai ka’bah setiap tahun untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh al-Syaikh Abu Amr dan Imam Hasan.
Imam Sulaiman bin Umar bin Mansur al-Ujaili al-Azhar al-Jamal yang populer dengan sebutan Syaikh Sulaiman al-Jamal juga mengutip pernyataan sahabat Ibnu Abbas, Aisyah dan Ummu Salamah yang menyatakan bahwa diperbolehkan bagi wanita yang sedang haidl dan orang yang berhadats besar untuk mengenakan tirai Ka’bah.
Dari uraian tersebut diatas dapat diketahui bahwa hukum menjual tirai Ka’bah adalah hilaf sebagai berikut:
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
(فَرْعٌ)
فِي حُكْمِ سُتْرَةِ الْكَعْبَةِ قَالَ صَاحِبُ التَّلْخِيصِ لَا يَجُوزُ بَيْعُ أَسْتَارِ الْكَعْبَةِ وَكَذَا قَالَ أَبُو الْفَضْلِ بْنُ عَبْدَانَ مِنْ أَصْحَابِنَا لَا يَجُوزُ قَطْعُ أستار الكعبة ولا قطع شئ مِنْ ذَلِكَ قَالَ وَلَا يَجُوزُ نَقْلُهُ وَلَا بَيْعُهُ وَشِرَاؤُهُ خِلَافُ مَا يَفْعَلُهُ العامة يشترونه مِنْ بَنِي شَيْبَةَ وَرُبَّمَا وَضَعُوهُ فِي أَوْرَاقِ الْمَصَاحِفِ قَالَ وَمَنْ حَمَلَ مِنْهُ شَيْئًا لَزِمَهُ رَدُّهُ
* وَحَكَى الرَّافِعِيُّ قَوْلَ ابْنِ عَبْدَانَ وَسَكَتَ عليه ولم يذكر غيره فكأنه ارتضاه وواقفه عَلَيْهِ وَكَذَا قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَلِيمِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ أَصْحَابِنَا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُؤْخَذَ
منها شئ وَحَكَى الشَّيْخُ أَبُو عَمْرِو بْنُ الصَّلَاحِ قَوْلَ الْحَلِيمِيِّ وَابْنِ عَبْدَانَ ثُمَّ قَالَ الْأَمْرُ فِيهَا إلَى الْإِمَامِ يَصْرِفُهَا فِي بَعْضِ مَصَارِفِ بَيْتِ الْمَالِ بَيْعًا وَعَطَاءً وَاحْتَجَّ بِمَا رَوَاهُ الْأَزْرَقِيُّ صَاحِبُ كِتَابِ مَكَّةَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَنْزِعُ كِسْوَةَ الْبَيْتِ كُلَّ سَنَةٍ فَيُقَسِّمُهَا عَلَى الْحَاجِّ وَهَذَا الَّذِي اختاره الشيخ أبو عمرو حسن متعين ليلا يُؤَدِّيَ إلَى تَلَفِهَا بِطُولِ الزَّمَانِ
المجموع شرح المهذب (7/ 459)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
[حاشية الجمل]
أَبُو عَمْرِو بْنُ الصَّلَاحِ - رَحِمَهُ اللَّهُ - الْأَمْرُ فِيهَا لِلْإِمَامِ يَصْرِفُهَا فِي بَعْضِ مَصَارِفِ بَيْتِ الْمَالِ بَيْعًا وَعَطَاءً وَاحْتَجَّ بِمَا رَوَاهُ الْأَزْرَقِيُّ فِي كِتَابِ مَكَّةَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - كَانَ يَنْتَزِعُ كُلَّ سَنَةٍ كِسْوَةَ الْبَيْتِ فَيَقْسِمُهَا عَلَى الْحَاجِّ، وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ الشَّيْخُ حَسَنٌ، وَقَدْ رَوَى الْأَزْرَقِيُّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا - أَنَّهُمَا قَالَا تُبَاعُ كِسْوَتُهَا وَيُجْعَلُ ثَمَنُهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَائِشَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ وَلَا بَأْسَ أَنْ يَلْبَسَ كِسْوَتَهَا مَنْ صَارَتْ إلَيْهِ مِنْ حَائِضٍ وَجُنُبٍ وَغَيْرِهِمَا إلَى أَنْ قَالَ: السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ مَذْهَبُنَا أَنَّهُ يَجُوزُ بَيْعُ دُورِ مَكَّةَ وَشِرَاؤُهَا وَإِجَارَتُهَا كَمَا يَجُوزُ ذَلِكَ فِي غَيْرِهَا، وَدَلَائِلُ الْمَسْأَلَةِ فِي كُتُبِ الْفِقْهِ وَالْخِلَافُ مَشْهُورٌ إلَى أَنْ قَالَ: الثَّانِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ يُكْرَهُ حَمْلُ السِّلَاحِ بِمَكَّةَ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ جَابِرٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - عَنْ «النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ لَا يَحِلُّ لِأَحَدِكُمْ أَنْ يَحْمِلَ السِّلَاحَ بِمَكَّةَ» اهـ.
حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (2/ 424)
Referensi:
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1571781883035366/)
26 Desember 2014
Assalamu alaikum,,
Mohon pencerahan nya yai,Bagaimanakah Hukum nya jual-beli kain penutup ka'bah (kiswah) yg sudah bekas?
wessalamu alaikum
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum menjual penutup ka’bah menurut perspektif Fiqh?
Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi mengutip pernyataan pengarang kitab "al-Talkhis" yang menyatakan bahwa tidak diperbolehkan menjual tirai-tirai Ka’bah. Hal senada juga dipaparkan oleh Imam Abu al-Fadl Ibin Abdan dari golongan sahabat-sahabat kami (madzhab Syafi’i). Beliau juga menambahkan bahwa tidak diperbolehkan memotong, memindah, menjual dan membeli tirai ka’bah. Hal ini bertolak belakang dengan yang terjadi dikalangan masyarakat awam yang mana mereka membeli tirai Ka’bah dari kaum Bani Syaibah. Dan terkadang mereka meletakkannya diantara lembaran mushhaf. Beliau menyatakan bahwa barang siapa membawa bagian dari tirai Ka’bah, maka wajib mengembalikannya. Namun Imam al-Rafi’i menceritakan sebuah pendapat, ya’ni pendapat Imam Ibnu Abdan yang menyatakan diperbolehkannya menjual tirai ka’bah dan Imam al-Rafi’i tidak memberikan pernyataan hingga seakan-akan beliau sepakat dan menyetujuinya. Imam Nawawi juga mengutip pernyataan Imam Abu Abdillah al-Hulaimy yang menyatakan bahwa tidak seyogyanya mengambil sesuatu dari Ka’bah. Sedang al-Syaikh Abu Umat al-Shalah menyatakan bahwa masalah ini diserahkan kepada Imam (Presiden). Maka Imam boleh untuk membelanjakan (tasharrufkan) nya baik dengan menjual atau memberikannya, dan sebagian dialokasikan untuk baitul mal. Pendapat ini berdasar pada uraian yang telah diceritakan oleh Imam al-Arzaki yang menyatakan bahwa sesungguhnya sayyidina Umar bin al-Khattab mencopot dan melepaskan tirai ka’bah setiap tahun untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh al-Syaikh Abu Amr dan Imam Hasan.
Imam Sulaiman bin Umar bin Mansur al-Ujaili al-Azhar al-Jamal yang populer dengan sebutan Syaikh Sulaiman al-Jamal juga mengutip pernyataan sahabat Ibnu Abbas, Aisyah dan Ummu Salamah yang menyatakan bahwa diperbolehkan bagi wanita yang sedang haidl dan orang yang berhadats besar untuk mengenakan tirai Ka’bah.
Dari uraian tersebut diatas dapat diketahui bahwa hukum menjual tirai Ka’bah adalah hilaf sebagai berikut:
- Sebagian Ulama’ menyatakan tidak boleh
- Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan boleh
- Pembelanjaan dan pentasharufan tirai Ka’bah diserahkan kepada Imam (persiden). Maka diperbolehkan bagi Imam untuk menjual (dan) atau memberikannya kepada orang lain dan sebagian yang lain dialokasikan untuk baitul mal. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
(فَرْعٌ)
فِي حُكْمِ سُتْرَةِ الْكَعْبَةِ قَالَ صَاحِبُ التَّلْخِيصِ لَا يَجُوزُ بَيْعُ أَسْتَارِ الْكَعْبَةِ وَكَذَا قَالَ أَبُو الْفَضْلِ بْنُ عَبْدَانَ مِنْ أَصْحَابِنَا لَا يَجُوزُ قَطْعُ أستار الكعبة ولا قطع شئ مِنْ ذَلِكَ قَالَ وَلَا يَجُوزُ نَقْلُهُ وَلَا بَيْعُهُ وَشِرَاؤُهُ خِلَافُ مَا يَفْعَلُهُ العامة يشترونه مِنْ بَنِي شَيْبَةَ وَرُبَّمَا وَضَعُوهُ فِي أَوْرَاقِ الْمَصَاحِفِ قَالَ وَمَنْ حَمَلَ مِنْهُ شَيْئًا لَزِمَهُ رَدُّهُ
* وَحَكَى الرَّافِعِيُّ قَوْلَ ابْنِ عَبْدَانَ وَسَكَتَ عليه ولم يذكر غيره فكأنه ارتضاه وواقفه عَلَيْهِ وَكَذَا قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَلِيمِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ أَصْحَابِنَا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُؤْخَذَ
منها شئ وَحَكَى الشَّيْخُ أَبُو عَمْرِو بْنُ الصَّلَاحِ قَوْلَ الْحَلِيمِيِّ وَابْنِ عَبْدَانَ ثُمَّ قَالَ الْأَمْرُ فِيهَا إلَى الْإِمَامِ يَصْرِفُهَا فِي بَعْضِ مَصَارِفِ بَيْتِ الْمَالِ بَيْعًا وَعَطَاءً وَاحْتَجَّ بِمَا رَوَاهُ الْأَزْرَقِيُّ صَاحِبُ كِتَابِ مَكَّةَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَنْزِعُ كِسْوَةَ الْبَيْتِ كُلَّ سَنَةٍ فَيُقَسِّمُهَا عَلَى الْحَاجِّ وَهَذَا الَّذِي اختاره الشيخ أبو عمرو حسن متعين ليلا يُؤَدِّيَ إلَى تَلَفِهَا بِطُولِ الزَّمَانِ
المجموع شرح المهذب (7/ 459)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
[حاشية الجمل]
أَبُو عَمْرِو بْنُ الصَّلَاحِ - رَحِمَهُ اللَّهُ - الْأَمْرُ فِيهَا لِلْإِمَامِ يَصْرِفُهَا فِي بَعْضِ مَصَارِفِ بَيْتِ الْمَالِ بَيْعًا وَعَطَاءً وَاحْتَجَّ بِمَا رَوَاهُ الْأَزْرَقِيُّ فِي كِتَابِ مَكَّةَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - كَانَ يَنْتَزِعُ كُلَّ سَنَةٍ كِسْوَةَ الْبَيْتِ فَيَقْسِمُهَا عَلَى الْحَاجِّ، وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ الشَّيْخُ حَسَنٌ، وَقَدْ رَوَى الْأَزْرَقِيُّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا - أَنَّهُمَا قَالَا تُبَاعُ كِسْوَتُهَا وَيُجْعَلُ ثَمَنُهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَائِشَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ وَلَا بَأْسَ أَنْ يَلْبَسَ كِسْوَتَهَا مَنْ صَارَتْ إلَيْهِ مِنْ حَائِضٍ وَجُنُبٍ وَغَيْرِهِمَا إلَى أَنْ قَالَ: السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ مَذْهَبُنَا أَنَّهُ يَجُوزُ بَيْعُ دُورِ مَكَّةَ وَشِرَاؤُهَا وَإِجَارَتُهَا كَمَا يَجُوزُ ذَلِكَ فِي غَيْرِهَا، وَدَلَائِلُ الْمَسْأَلَةِ فِي كُتُبِ الْفِقْهِ وَالْخِلَافُ مَشْهُورٌ إلَى أَنْ قَالَ: الثَّانِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ يُكْرَهُ حَمْلُ السِّلَاحِ بِمَكَّةَ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ جَابِرٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - عَنْ «النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ لَا يَحِلُّ لِأَحَدِكُمْ أَنْ يَحْمِلَ السِّلَاحَ بِمَكَّةَ» اهـ.
حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (2/ 424)
Referensi:
- Al Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. VII/ 229
- Hasyiyah al-Jamal ‘Ala Syarh al-Minhaj. II/ 424
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1571781883035366/)

Komentar
Posting Komentar