DOC-216. Tentang Orang Tua Nabi

Sultoni Arobbi
31 Desember 2014


Assalamualaykum wrb mohon maaf sblumx klw pertanyaanku ini kurang sopan atau lancang atau lain2x ...apa status agama dan berada di manakah kedua orang tua baginda nabi muhammad saw,,,??? kalaw abu jahal dan abu lahab udh jelas ni neraka....!!!

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Orang tua Rasulullah termasuk ahli surga atau ahli neraka?

     Imam Jalaluddin; Abdurrahman Ibnu Abi Bakar al-Suyuthi menjelaskan tentang hukum berkenaan dengan kedua orang tua Nabi. Beliau menyatakan bahwa sesungguhnya kedua orang tua Nabi adalah orang yang selamat dan keduanya bukanlah ahli neraka. Hal ini juga telah dipaparkan oleh sekelompok Ulama’ dengan berbagai pertimbangan, diantaranya kedua orang tua Nabi meninggal sebelum diutusnya Muhammad menjadi Rasul dan tidak ada penyiksaan pada masa itu berdasar firman Allah: “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri. Dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang Rasul”. (QS. Al Isra’: 15)
Para Ulama’ dari kalangan ahli Tauhid, ahli Aqidah dan Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i telah sepakat menyatakan bahwa sesungguhnya orang yang meninggal sebelum sampai kepadanya ajakan dan seruan (Nabi), maka ia mati dalam keadaan selamat. Dan orang-orang yang belum mendapatkan seruan untuk memeluk agama Islam, maka mereka tidak boleh diperangi. Imam Sayfi’i menegaskan bahwa jika ada yang memerangi mereka, maka akan dituntut dengan kafarat dan wajib membayar uang tebusan (diyat). Bahkan sebagian sahabat dari kalangan Syafi’i menyatakan bahwa orang yang memerangi mereka wajib untuk di qishas. Namun pendapat yang shahih menyatakan tidak wajib di qishas karena meraka bukanlah kategori muslim sejati. Sedang syarat qishas adalah sepadan (mukafaah, sesama muslim).
     Sebagian Ulama’ Fiqh yang lain memiliki pertimbangan bahwa orang yang mati sebelum diutusnya Muhammad sebagai Rasul tidak akan disiksa, karena ia hidup pada masa fitrah. Maka tidaklah dikatakan durhaka dan tidak pula dikatakan sebagai pembangkang terhadap Nabi yang diutus. Imam Jalaluddin; Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuthi juga menyatakan bahwa guru kami; Syaikh al-Islam; Syarafuddin al-Munawi pernah ditanya tentang orang tua Nabi. Apakah orang tua Nabi termasuk ahli neraka? Maka beliau membetak dengan keras terhadap orang yang bertanya, lalu orang tersebut kembali bertanya: “Apakah beliau Islam?”. Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya orang tua Nabi meninggal pada masa fitrah dan tidak ada penyiksaan sebelum diutusnya Muhammad sebagai Nabi".
     Imam Jalaluddin; Abdurrahman bin  Abi Bakar al-Suyuthi juga menyatakan bahwa jika ada dari kalangan orang awam atau dari kalangan Ulama’ ahli Fiqh berkata dihadapan orang awam bahwa kedua orang tua Nabi adalah ahli neraka atau keduanya adalah kafir, maka orang tersebut wajib untuk dita’zir seberat-beratnya atau lebih dari sekedar dita’zir. Imam al-Qadli; Abu Bakar bin al-‘Arabi yang merupakan salah satu tokoh dari kalangan madzhab Maliki pernah ditanya tentang seseorang yang berani berkata bahwa orang tua Nabi adalah orang kafir. Maka beliau menjawab bahwa orang yang berani berkata semacam itu akan dilaknat oleh Allah subhanahu wa ta’ala, karena Alla telah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasulnya akan dilaknat oleh Allah di dunia dan ahirat”. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Mbah Sanidin:

مسألة : الحكم في أبوي النبي صلى الله عليه وسلّم أنهما ناجيان وليسا في النار صرح بذلك جمع من العلماء ولهم في تقرير ذلك مسالك : المسلك الأول : أنهما ماتا قبل البعثة ولا تعذيب قبلها لقوله تعالى : ) وما كنا معذبين حتى نبعث رسولاً ( وقد أطبقت أئمتنا الأشاعرة من أهل الكلام والأصول ، والشافعية من الفقهاء على أن من مات ولم تبلغه الدعوة يموت ناجياً وأنه لا يقاتل حتى يدعى إلى الإسلام ، وأنه إذا قتل يضمن بالدية والكفارة نص عليه الإمام الشافعي رضي الله عنه وسائر الأصحاب بل زاد بعض الأصحاب وقال : إنه يجب في قتله القصاص ولكن الصحيح خلافه لأنه ليس بمسلم حقيقي وشرط القصاص المكافأة ، وقد علل بعض الفقهاء كونه إذا مات لا يعذب بأنه على أصل الفطرة ولم يقع منه عناد ولا جاءه رسول فكذبه ، وهذا المسلك أول ما سمعته في هذا المقام نحن فيه من شيخنا شيخ الإسلام شرف الدين المناوي فإنه سئل عن والد النبي صلى الله عليه وسلّم هل هو في النار ؟ فزأر في السائل زأرة شديدة فقال له السائل : هل ثبت إسلامه ؟ فقال : إنه مات في الفترة ولا تعذيب قبل البعثة
الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى - (ج 2 / ص 191)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Mbah Sanidin:

وأما السؤال الحادي والخمسون : فجوابه أنه من قال من العوام أو من الفقهاء بحضرة العوام في حق أبوي النبي صلى الله عليه وسلّم أنهما في النار أو أنهما كانا كافرين أنه يلزمه التعزير البليغ أو أكثر من ذلك ، وقد سئل القاضي أبو بكر بن العربي أحد أئمة المالكية عن رجل قال في حق والد النبي صلى الله عليه وسلّم إنه كافر : فأجاب بأن قائل ذلك ملعون لأن هذا القول يؤذي النبي صلى الله عليه وسلّم وقد قال الله تعالى : ) إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله في الدنيا والآخرة
الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى - (ج 2 / ص 303)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

وروي أن الله تعالى أحيا أبوي النبي - صلى الله عليه وسلم - حتى آمنا به، قال السيوطي وغيره: والذي نقطع به أنهما في الجنة ولي في ذلك عدة مؤلفات وفي ذلك حجج قوية ومن أقواها أنهما من أهل الفترة وقد أطبق أئمتنا الشافعية والأشعرية على أن من لم تبلغه الدعوة لا يعذب ويدخل الجنة لقوله تعالى: {وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا
التنوير شرح الجامع الصغير- ( ج ٥/ ص١ ٣٩ )

Referensi:
  1. Al Hawi Li al-Fatawa Li al-Suyuthi. II/ 191
  2. Al Hawi Li al-Fatawa Li al-Suyuthi. II/ 303
  3. Al Tanwir Syarh Jami’u al-Shaghir. V/ 391
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

PERUMUS: Ibnu Malik




Link Diskusi: <ahref="https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1574250649455156/" target="_blank">Klik Disini</a><br />

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama