DOC-219.Hukum Mengkonsumsi Tupai

Fany Syekher Mania
23 Januari 2015

apa hukumnya memakan tupai?

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum mengkonsumsi tupai menurut perspektif Fiqh?

     Imam Abdurrahman al-Juzairi didalam "Madzahib al-Arba’ah"nya menyatakan bahwa Ulama’ dari kalangan madzhab Hambali dan madzhab Hanafi menyatakan bahwa hukum mengkonsumsi tupai adalah haram.
     Sedang Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi (Imam Nawawi) mengutip peryataan Imam al-Khudlari yang menyatakan bahwa binatang sejenis musang dan tupai adalah halal menurut pendapat yang lebih autentik (ashah).
     Imam Ishaq Ibnu Mansur al-Maruzi (Ulama’ dari kalang madzhab Hambali) menyatakan bahwa Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa sesungguhnya tupai adalah halal, maka halal pula kulitnya. Namun sebagian kalangan dari madzhab ini (Syafi’i) menyatakan haram. Lihat kitab "al Majmu’" 12/ 9.
     Dikalangan Ulama’ madzhab Hambali juga terdapat dua pendapat tentang tupai sebagaimana berikut:
  1. Sebagian menyatakan haram. Pendapat ini diungkap di dalam kitab "al-Muharrar" serta dipilih oleh Imam Abu Ya'la.
  2. Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan halal. Pendapat ini disetujui oleh Imam Ibnu Qudamah dan Imam yang lain.
     Dari uraian tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum mengkonsumsi daging Tupai adalah hilaf sebagaimana ulasan berikut:
  • Sebagian Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan halal. Pendapat ini adalah pendapat ashah. Sebagian yang lain menyatakan haram. Pendapat ini adalah pendapat Imam al-Najm bin Qadli.
  • Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi menyatakan haram.
  • Sebagian Ulama’ dari kalangan madzhab Hambali menyatakan haram. Sebagian yang lain menyatakan halal. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

 ( الحنابلة والحنفية - قالوا : يحرم أكل السنجاب والسمور والفنك " بفتح الفاء والنون " ) وهما نوعان من ثعالب الترك والفنك " وهوحيوان يؤخذ من جلده الفرو لنعومته " ويحل من الطير أكل العصافير بأنواعها والسمان والقنبر والزرزور والقطا والقطا والكروان والبلبل والببغاء
الفقه على المذاهب الأربعة - (ج 2 / ص 9)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Farid Muzakki:

وَقَالَ الْخُضَرِيُّ: حَلَالٌ. وَيَحِلُّ السُّمُورُ وَالسِّنْجَابُ وَالْفَنْكُ وَالْقُمَاقِمُ وَالْحَوَاصِلُ عَلَى الْأَصَحِّ الْمَنْصُوصِ.
روضة الطالبين وعمدة المفتين (3/ 272)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

وَيَحِلُّ أَيْضًا السِّنْجَابُ وَهُوَ حَيَوَانٌ عَلَى حَدِّ الْيَرْبُوعِ يُتَّخَذُ مِنْ جِلْدِهِ الْفِرَاءُ،
حاشية البجيرمي على شرح المنهج = التجريد لنفع العبيد (4/ 305)

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

الصحيح في المذهب الشافعي: أن السنجاب حلال، فيحل جلده، وفي وجه في المذهب: أنه حرام. انظر: المجموع 9/12.
وفي المذهب الحنبلي وجهان في السنجاب: أحدهما: يحرم. صححه في الرعاية الكبرى، وتصحيح المحرر، واختاره أبو يعلى. والثاني: لا يحرم، مال إليه ابن قدامة وغيره
مسائل الإمام أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه - (ج 2 / ص 843)

Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

 ويحل أيضا السنجاب وهو حيوان على حد اليربوع يتخذ من جلده الفراء
حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري - (ج 10 / ص 441)

Daftar Pustaka:
  1. Al Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah. II/ 9
  2. Raudlah al-Thalibin Wa ‘Umdah al-Muftin. III/ 272
  3. Hasyiyah al-Bujairimi ‘Ala Syarh al-Minhaj. IV/ 305
  4. Masa’il al-Imam Ahmad bin Hambal. II/ 843
  5. Hasyiyah al-Jamal 'Ala al-Minhaj. X/ 441
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik





(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1581626312050923/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama