DOC-220. Menghukum Dengan Denda

Alii Yasiinn El Maduriieeyy
1 September 2014

assalamu alaikum
bagaimana hukum nya
denda pakai uang boleh apa? Tidak ust

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum menta’zir dengan cara memungut uang (denda) menurut perspektif Fiqh?

     Syaikh Muhammad Amin al-Qurdi al-Naqsyabandiyah  didalam kitab karyanya "Tanwir al-Qulub" menuturkan bahwa ta’zir adalah hukuman yang bersifat mendidik seperti mengurung (penjara) dan memukul yang tidak menyakitkan. Ta’zir tidak boleh dilakukan dengan mencukur jenggot atau dengan memungut harta benda (denda). Dan hasil kongres menganjurkan kepada orang muslim yang menta’zir dengan cara menyita harta benda agar mengikuti pendapat Imam Malik.
     Imam Mushthafa al-Suyuthi alRahaibani (Ulama’ madzhab Hambali) juga memiliki pandangan yang sama. Didalam kitabnya, "Mathalibu Uli al-Nuha", beliau menyatakan bahwa menta’zir dengan menyukur jenggot, memotong dan melukai anggota badan adalah haram demikian juga menta’zir dengan menyita harta benda (denda) atau merusaknya. Sebab aturan (syari’at) yang semacam itu tidak pernah ditetapkan oleh orang yang diikuti (Nabi) dan karena hal yang wajib didalam ta’zir adalah mendidik, sedang tujuan mendidik tidak akan pernah didapat dengan cara merusak. Berbeda dengan pendapat Syaikh Taqiyuddin yang memperbolehkan menta’zir dengan cara menyita harta benda dan merusaknya.
     Imam Abdurrahman al-Jaziri didalam kitabnya "Madzhib al-Arba’ah" menyatakan bahwa sebagian Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi memperbolehkan menta’zir dengan cara menyita harta dengan catatan jika orang yang melakukan pelanggaran telah bertaubat, maka wajib dikembalikan. Imam Zainuddin bin Najim al-Hanafi menegaskan bahwa yang dimaksud dengan ta’zir dengan cara memungut harta (berdasar sebuah pendapat) adalah menyita harta benda orang yang melakukan pelanggaran untuk mencegah terulangnya pelanggaran yang sama untuk kemudian dikembalikan kepada pemilik dan bukan diambil untuk dimiliki oleh hakim juga (bukan) untuk baitul mal sebagaimana anggapan orang-orang dzalim. Sebab tidak diperbolehkan bagi orang muslim untuk mengambil harta orang lain tanpa sebab yang dibenarkan oleh syara’.
     Dari pemaparan tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa hukum menta’zir dengan cara mendenda adalah hilaf sebagaimana uraian berikut:
  • Mayoritas Ulama’ menyatakan haram
  • Sebagian Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi dan Maliki menyatakan boleh, namun penyitaan tersebut dilakukan bukan untuk dimiliki oleh siapapun bahkan baitul mal sekalipun, maka wajib dikembalikan setelah pelaku pelanggaran bertaubat. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Anton Cokerz:

التعزير هو التاءديب بنحو حبس وضرب غير مبرح ولا يجوز التعزير بحاق اللحية ولا بِأَخذ المال واستحسن المؤتمر لمن ابتلي بتعزير اخذ المال تقليد الامام مالك.
تنوير القلوب – ص 356

 Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Anton Cokerz:

 ( وحرم تعزير بحلق لحية وقطع طرف وجرح ) لأنه مثله ( وكذا ) يحرم تعزير ( بأخذ مال أو إتلافه ) لأن الشرع لم يرد بشيء من ذلك عمن يقتدى به ولأن . الواجب أدبه والأدب لا يكون بالاتلاف ( خلافا للشيخ ) تقي الدين ؛ فإن عنده التعزير بالمال سائغ إتلافا أخذا
مطالب أولي النهى - (ج 6 / ص 224)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

وأجاز بعض الحنفية التعزير بالمال، على أنه إذا تاب يرد له
الفقه على المذاهب الأربعة (5/ 353)

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

وَأَفَادَ في الْبَزَّازِيَّةِ أَنَّ مَعْنَى التَّعْزِيرِ بِأَخْذِ الْمَالِ على الْقَوْلِ بِهِ إمْسَاكُ شَيْءٍ من مَالِهِ عند مُدَّةً لِيَنْزَجِرَ ثُمَّ يُعِيدُهُ الْحَاكِمُ إلَيْهِ لَا أَنْ يَأْخُذَهُ الْحَاكِمُ لِنَفْسِهِ أو لِبَيْتِ الْمَالِ كما يَتَوَهَّمُهُ الظَّلَمَةُ إذْ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ من الْمُسْلِمِينَ أَخْذُ مَالِ أَحَدٍ بِغَيْرِ سَبَبٍ شَرْعِيٍّ
البحر الرائق - (ج 5 / ص 44)

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ يَحْرُمُ التَّعْزِيرُ بِأَخْذِ الْمَال أَوْ إِتْلاَفِهِ ؛ لأَِنَّ الشَّرْعَ لَمْ يَرِدْ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ عَمَّنْ يُقْتَدَى بِهِ .
وَخَالَفَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمِ ، فَقَالاَ : إِنَّ التَّعْزِيرَ بِالْمَال سَائِغٌ إِتْلاَفًا وَأَخْذًا
الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 12 / ص 271)

Daftar Pustaka:
  1. Tanwir al-Qulub. 356
  2. Mathalibu Uli al-Nuha. VI/ 224
  3. Al Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah. V/ 353
  4. Al Bachru al-Raiq. V/ 44
  5. Al Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. XII/ 271
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

PERUMUS: Ibnu Malik





(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1527197760827112/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama