DOC-228. Hukum Istri Berangkat Haji Tanpa Suami
Ali Yasin Al-manduri
24 September 2014
assalamu alaikum
bagaimana hukumnya istri naik haji tampa ditemani suaminya namun sudah dapat izin dari suami, bagaimana menurut pandangan syariat ust
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum seorang istri berangkat haji tanpa ditemani suaminya?
Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibary di dalam kitab karyanya (Fathu al-Mu’in) menyatakan bahwa syarat bagi wanita yang bepergian untuk menunaikan kewajiban haji adalah harus ditemani orang yang memiliki hubungan kerabat (mahram) atau suami atau wanita lain yang terpercaya walaupun seorang hamba sahaya (badak), karena diharamkan bagi wanita untuk bepergian seorang diri walaupun dalam jarak tempuh dekat. Atau jika ia bersama sejumlah wanita yang terpercaya, maka boleh (tidak wajib) baginya untuk keluar guna menunaikan kewajiban Islam. Namun tidak diperbolehkan bagi wanita untuk keluar guna melaksanakan ibadah sunah walaupun ia bersama sejumlah wanita terpercaya dan (walaupun) dalam jarak tempuh dekat bahkan walaupun ia tidak memiliki paras cantik.
Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyathi menambahkan, jika tidak ada orang yang memiliki hubungan kerabat, juga tidak ada wanita lain terpercaya yang dapat menemaninya dalam bepergian untuk menuaikan ibadah haji, maka diperbolehkan bagi wanita untuk pergi bersama laki-laki lain (non mahram) yang tidak memiliki alat kelamin dan tidak memiliki syahwat.
Dalam sebuah literatur yang terbitkan oleh Kementrian Wakaf dan Urusan Agama Kuwait (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Quwaitiyah) juga dijelaskan bahwa Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan "Jika wanita bersama satu atau dua orang wanita lain terpercaya dan ia aman bersama wanita-wanita tersebut, maka keberadaan wanita-wanita yang bersamanya telah mencukupi sebagai pengganti orang yang memiliki hubungan kerabat (mahram) atau pengganti suami dalam bepergian guna menunaikan kewajiban haji dan menurut pendapat yang lebih autentik (ashah) dari kalangan ini (madzhab Syafi’i), tidak disyaratkan harus ada mahram bagi salah satu dari wanita-wanita tersebut, sebab sesuatu yang dapat menimbulkan hasrat dan keinginan telah hilang dengan kebersamaan mereka. Maka jika wanita bersama seorang wanita lain yang terpercaya, maka tidak wajib baginya untuk menunaikan ibadah haji, namun diperbolehkan baginya bersama seorang wanita lain (yang terpercaya) untuk menunaikan ibadah haji yang bersifat wajib (bukan haji sunnah) atau haji nadzar bahkan diperbolehkan bagi seorang wanita untuk bepergian seorang diri untuk menunaikan ibadah yang bersifat wajib atau nadzar ketika aman dari fitnah.
Berdasar uraian tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa hukum seorang wanita (istri) bepergian untuk menunaikan ibadah haji tanpa ditemani suami diperbolehkan dengan ketentuan:
Dasar pengambilan (1) oleh Ibnu Malik:
وشرط للوجوب على المرأة مع ما ذكر أن يخرج معها محرم أو زوج أو نسوة ثقات ولو إماء وذلك
لحرمة سفرها وحدها وإن قصر أو كانت في قافلة عظيمة ولها بلا وجوب أن تخرج مع امرأة ثقة لأداء فرض الإسلام وليس لها الخروج لتطوع ولو مع نسوة كثيرة وإن قصر السفر أو كانت شوهاء
فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (ص: 284)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
وقوله أن يخرج معها محرم أي بنسب أو رضاع أو مصاهرة ولو فاسقا لأنه مع فسقه يغار عليها من مواقع الريب وقوله أو زوج أي ولو فاسقا لما تقدم وألحق بهما جمع عبدها الثقة إذا كانت هي ثقة أيضا والأجنبي الممسوح الذي لم يبق فيه شهوة للنساء قوله أو نسوة ثقاة بأن بلغن وجمعن صفات العدالة
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (2/ 320)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Abdulloh Salam:
ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهَا إِنْ وَجَدَتْ نِسْوَةً ثِقَاتٍ : اثْنَتَيْنِ فَأَكْثَرَ تَأْمَنُ مَعَهُنَّ عَلَى نَفْسِهَا كَفَى ذَلِكَ بَدَلاً عَنِ الْمَحْرَمِ أَوِ الزَّوْجِ بِالنِّسْبَةِ لِوُجُوبِ حَجَّةِ الإِْسْلاَمِ عَلَى الْمَرْأَةِ . وَعِنْدَهُمُ " الأَْصَحُّ أَنَّهُ لاَ يُشْتَرَطُ وُجُودُ مَحْرَمٍ لإِِحْدَاهُنَّ ، لأَِنَّ الأَْطْمَاعَ تَنْقَطِعُ بِجَمَاعَتِهِنَّ . فَإِنْ وَجَدَتِ امْرَأَةً وَاحِدَةً ثِقَةً فَلاَ يَجِبُ عَلَيْهَا الْحَجُّ ، لَكِنْ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَحُجَّ مَعَهَا حَجَّةَ الْفَرِيضَةِ أَوِ النَّذْرِ ، بَل يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَخْرُجَ وَحْدَهَا لأَِدَاءِ الْفَرْضِ أَوِ النَّذْرِ إِذَا أَمِنَتْ
الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 17 / ص 36)
Daftar Pustaka:
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1538817556331799/)
24 September 2014
assalamu alaikum
bagaimana hukumnya istri naik haji tampa ditemani suaminya namun sudah dapat izin dari suami, bagaimana menurut pandangan syariat ust
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum seorang istri berangkat haji tanpa ditemani suaminya?
Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibary di dalam kitab karyanya (Fathu al-Mu’in) menyatakan bahwa syarat bagi wanita yang bepergian untuk menunaikan kewajiban haji adalah harus ditemani orang yang memiliki hubungan kerabat (mahram) atau suami atau wanita lain yang terpercaya walaupun seorang hamba sahaya (badak), karena diharamkan bagi wanita untuk bepergian seorang diri walaupun dalam jarak tempuh dekat. Atau jika ia bersama sejumlah wanita yang terpercaya, maka boleh (tidak wajib) baginya untuk keluar guna menunaikan kewajiban Islam. Namun tidak diperbolehkan bagi wanita untuk keluar guna melaksanakan ibadah sunah walaupun ia bersama sejumlah wanita terpercaya dan (walaupun) dalam jarak tempuh dekat bahkan walaupun ia tidak memiliki paras cantik.
Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyathi menambahkan, jika tidak ada orang yang memiliki hubungan kerabat, juga tidak ada wanita lain terpercaya yang dapat menemaninya dalam bepergian untuk menuaikan ibadah haji, maka diperbolehkan bagi wanita untuk pergi bersama laki-laki lain (non mahram) yang tidak memiliki alat kelamin dan tidak memiliki syahwat.
Dalam sebuah literatur yang terbitkan oleh Kementrian Wakaf dan Urusan Agama Kuwait (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Quwaitiyah) juga dijelaskan bahwa Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan "Jika wanita bersama satu atau dua orang wanita lain terpercaya dan ia aman bersama wanita-wanita tersebut, maka keberadaan wanita-wanita yang bersamanya telah mencukupi sebagai pengganti orang yang memiliki hubungan kerabat (mahram) atau pengganti suami dalam bepergian guna menunaikan kewajiban haji dan menurut pendapat yang lebih autentik (ashah) dari kalangan ini (madzhab Syafi’i), tidak disyaratkan harus ada mahram bagi salah satu dari wanita-wanita tersebut, sebab sesuatu yang dapat menimbulkan hasrat dan keinginan telah hilang dengan kebersamaan mereka. Maka jika wanita bersama seorang wanita lain yang terpercaya, maka tidak wajib baginya untuk menunaikan ibadah haji, namun diperbolehkan baginya bersama seorang wanita lain (yang terpercaya) untuk menunaikan ibadah haji yang bersifat wajib (bukan haji sunnah) atau haji nadzar bahkan diperbolehkan bagi seorang wanita untuk bepergian seorang diri untuk menunaikan ibadah yang bersifat wajib atau nadzar ketika aman dari fitnah.
Berdasar uraian tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa hukum seorang wanita (istri) bepergian untuk menunaikan ibadah haji tanpa ditemani suami diperbolehkan dengan ketentuan:
- Haji yang dilaksanakan adalah haji wajib.
- Bersama mahram atau bersama wanita lain yang terpercaya, atau bersama laki-laki lain yang tidak memiliki alat kelamin dan tidak tidak memiliki syahwat, (dan) atau
- Seorang diri jika aman dari fitnah. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Ibnu Malik:
وشرط للوجوب على المرأة مع ما ذكر أن يخرج معها محرم أو زوج أو نسوة ثقات ولو إماء وذلك
لحرمة سفرها وحدها وإن قصر أو كانت في قافلة عظيمة ولها بلا وجوب أن تخرج مع امرأة ثقة لأداء فرض الإسلام وليس لها الخروج لتطوع ولو مع نسوة كثيرة وإن قصر السفر أو كانت شوهاء
فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (ص: 284)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
وقوله أن يخرج معها محرم أي بنسب أو رضاع أو مصاهرة ولو فاسقا لأنه مع فسقه يغار عليها من مواقع الريب وقوله أو زوج أي ولو فاسقا لما تقدم وألحق بهما جمع عبدها الثقة إذا كانت هي ثقة أيضا والأجنبي الممسوح الذي لم يبق فيه شهوة للنساء قوله أو نسوة ثقاة بأن بلغن وجمعن صفات العدالة
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (2/ 320)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Abdulloh Salam:
ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهَا إِنْ وَجَدَتْ نِسْوَةً ثِقَاتٍ : اثْنَتَيْنِ فَأَكْثَرَ تَأْمَنُ مَعَهُنَّ عَلَى نَفْسِهَا كَفَى ذَلِكَ بَدَلاً عَنِ الْمَحْرَمِ أَوِ الزَّوْجِ بِالنِّسْبَةِ لِوُجُوبِ حَجَّةِ الإِْسْلاَمِ عَلَى الْمَرْأَةِ . وَعِنْدَهُمُ " الأَْصَحُّ أَنَّهُ لاَ يُشْتَرَطُ وُجُودُ مَحْرَمٍ لإِِحْدَاهُنَّ ، لأَِنَّ الأَْطْمَاعَ تَنْقَطِعُ بِجَمَاعَتِهِنَّ . فَإِنْ وَجَدَتِ امْرَأَةً وَاحِدَةً ثِقَةً فَلاَ يَجِبُ عَلَيْهَا الْحَجُّ ، لَكِنْ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَحُجَّ مَعَهَا حَجَّةَ الْفَرِيضَةِ أَوِ النَّذْرِ ، بَل يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَخْرُجَ وَحْدَهَا لأَِدَاءِ الْفَرْضِ أَوِ النَّذْرِ إِذَا أَمِنَتْ
الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 17 / ص 36)
Daftar Pustaka:
- Fathu al-Mu’in. 284
- I’anah al-Thalibin. II/ 320
- Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. XVII/ 36
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1538817556331799/)

Komentar
Posting Komentar