DOC-228. Hukum Menyentuh Al Qur’an Terjemah Dalam Keadaan Tidak Memiliki Wudlu’
25 November 2014
Assalamu alaikum
pegang al-qur'an terjemahan
tampa wudhu' gmn? Hukumnya ust.
Pakai dalil
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum menyentuh dan memegang Al Qur’an terjemah dalam keadaan tidak memiliki wudlu’?
Sayyid al-'Alawi bin Sayyid al-Abbas di dalam kitabnya (Faidu al-Khabir) menjelaskan bahwa sesungguhnya terjemah secara bahasa berarti memindah. Sedang terjemah secara istilah terbagi menjadi dua. Yaitu:
- Terjemah Ma'nawiyah Tafsiriyah, yaitu sebuah redaksi yang mengurai dan menjelaskan tentang sebuah ucapan menggunakan bahasa lain tanpa terikat dengan susunan huruf dan tetap menjaga naskah yang asli juga runtutannya.
- Terjemah Harfiyah, yaitu mengganti kata yang asli dengan kata yang lain yang memilik arti yang sama dengan bahasa yang berbeda, maka terjemah semacam ini tidak merubah arti yang asli, karena perubahan hanya pada rangkaiannya dengan merubah dari satu bahasa ke bahasa yang lain (translate).
Imam Muhammad bin ‘Amr bin Ali bin Nawawi al-Jawi; Abu Abdul Mu’thi di dalam kitabnya (Nihayah al-Zain) menuturkan bahwa terjemah al-Qur’an yang ditulis dibawah garis tidak dihukumi seperti tafsir, dan hukum yang belaku adalah hukum mushhaf. Maka haram menyentuh dan membawanya dalam kondisi tidak memiliki wudlu’ sebagaimana yang telah difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan. Bahkan sebagian Ulama’ menyatakan bahwa tulisan terjemah al-Qur’an haram secara mutlak, baik ditulis dibawah garis atau tidak. Maka dari itu, seyogyanya setelah penulisan al-Qur’an, dituliskan tafsirnya lalu dituliskan terjemah dari tafsir tersebut, maka yang berlaku adalah hukum tafsir, sedang hukum menyentuh dan membawa tafsir bagi orang yang tidak memiliki wudlu’ adalah makruh apabila huruf tafsir lebih banyak daripada huruf al-Qur’an. Apabila huruf tafsir lebih sedikit atau sama dengan al-Qur’an, maka hukumnya adalah haram. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya (Bughyah al-Mustarsyidin).
Dari uraian tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa hukum menyentuh dan memegang terjemah al-Qur'an dalam keadaan tidak memiliki wudlu' adalah diperinci sebagai berikut:
- Jika terjemah al-Qur'an tersebut merupakan terjemah ma'nawiyah tafsiriyah, maka hukumnya boleh dengan syarat jumlah huruf terjemahnya lebih banyak daripada huruf al-Qur'an. Sebagian Ulama menyatakan makruh, namun apabila huruf terjemah lebih sedikit atau sama dengan al-Qur’an, maka hukumnya adalah haram
- Jika terjemah al-Qur'an tersebut merupakan terjemah harfiyah, maka hukumnya haram. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
اعلم أن الترجمة لغة النقل وعرفا قسمان : ترجمة معنوية تفسيرية وهى عبارة عن بيان معنى الكلام وشرحه بلغة أخرى من غير تقييد بحرفية النظم ومراعاة اصلوب الاصلى وترتيبه. وترجمة حرفية وهى إبدال الألفاظ الأصلى بألفاظ أخرى مرادفة لها من لغة أخرى فليس فيها تصرف فى المعنى الاصلى وأنما التصرف فى نظمه بمحاولة إبدال لغته بلغة أخرى فهو خلع ثوب وإبداله بثوب آخر مع كون الإبدال واحدا اهـ
-----
أما الترجمة التفسيرية المعنوية لأحكامه فجائزة اتفاقا بشرط التثبت فى النقل والتحرى لأقوال الصحابة والتابعين وعلماء السنة فيكون تفسيرا موجزا صحيحا كافيا على قدر المستطاع ويعتبر بيانا لاقرآنا وتبليغا لأحكامه لامعجزا اوتبيانا اهـ
فيض الخبير صــــ : 23 & 26
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
أما ترجمة المصحف المكتوبة تحت سطوره فلا تعطي حكم التفسير بل تبقى للمصحف حرمة مسه وحمله كما أفتى به السيد أحمد دحلان حتى قال بعضهم إن كتابة ترجمة المصحف حرام مطلقا سواء كانت تحته أم لا فحينئذ ينبغي أن يكتب بعد المصحف تفسيره بالعربية ثم يكتب ترجمة ذلك التفسير
نهاية الزين - (ج 1 / ص 33)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
(مسألة : ي) : يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم ، وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ، ولا يقصد غير القراءة كردّ غلط وتعليم وتبرك ودعاء ، ويجوز له حمل ومس وقراءة نحو التوراة والحديث القدسي وكتب العلم والحديث ، نعم يكره للجنب ذكر الله تعالى حتى إجابة المؤذن كما اختاره السبكي ، لا لنحو حائض قبل الانقطاع ، وقالت الحنفية : يكره له قراءة نحو التوراة وحملها ، ونص العيني منهم على الحرمة ، قالوا : ويحرم مس التفسير مطلقاً ، وتحل قراءته بقصد معرفة التفسير ، ولا تكره قراءة الكتب الشرعية والذكر والدعاء ، لكن تستحب الطهارة.
بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 52)
Daftar Pustaka:
- Faidlu al-Khabir. 23 & 26
- Nihayah al-Zain. I/ 33
- Bughyah al-Mustarsyidin. I/ 52
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1560378640842357/)

Komentar
Posting Komentar