DOC-231. Hukum Jual Beli Pulsa Untuk Pacaran Dan Selingkuh

Vivi
12 April 201

Assalamu'alaikum.
Mohon percerahannya kepada segenap guru, admin dan member MTTM yang dimuliakan Allah.
Bagaimanakah hukum menjual pulsa yang diketahui akan dipergunakan untuk berpacaran atau bahkan hubungan gelap? Sahkah jual belinya?
Atas pencerahannya dihaturkan terima kasih.
I love MTTM.

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum menjual pulsa yang diketahui akan dipergunakan sebagai sarana untuk berpacaran atau hubungan gelap menurut perspektif Fiqh?

     Syaikh Muhammad Nawawi di dalam kitabnya (Syarh Sullam al-Taufiq) menyatakan bahwa haram menjual sesuatu yang halal dan suci kepada orang yang diketahui hendak dipergunakan untuk melakukan kema’siatan seperti menjual buah anggur kepada orang yang hendak menjadikannya sebagai menuman keras (khamr) walaupun pembelinya adalah orang kafir, dan menjual pedang kepada orang yang hendak bunuh diri atau hendak membunuh orang lain yang diharamkan, dan menjual bambu untuk dijadikan seruling, dan menjual perangkap hewan untuk berburu ditanah haram, dan menjual hamba sahaya (budak) laki-laki yang memiliki paras yang menawan kepada orang yang hendak berbuat keji (mesum) dengannya (atau) budak perempuan yang hendak dijadikan sebagai penyanyi yang diharamkan dan menjual pakean sutra yang pasti dikenakan laki-laki. Keharaman menjual hal-hal tersebut kepada orang-orang tersebut diatas, jika memang diyakini atau diduga kuat bahwa hal-hal tersebut akan dilakukan, namun jika ragu atau tidak ada keyakinan yang kuat, maka hukum jual belinya adalah makruh dan hal ini tidak menyebabkan batalnya transaksi jual beli yang dilakukan kecuali menjual pedang (senjata) kepada orang kafir yang hendak memerangi orang Islam (harbi). Keharaman transaksi jual beli semacam itu karena menyebabkan terjadinya hal yang diharamkan. Maka setiap transaksi yang menjadi sarana terjadinya sebuah kema’siatan adalah haram sebagaimana yang telah dituturkan oleh Imam Al Syarqawi.
     Imam Abdurrahman Ibnu Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya juga menuturkan bahwa setiap transaksi seperti jual beli, pemberian (hibah), sesuatu yang diberikan sebagai nadzar, sedekah sesuatu untuk dipergunakan dalam hal yang diperbolehkan, jika diyakini atau diduga kuat bahwa orang yang menerimanya akan mempergunakan dalam hal yang tidak dilarang (mubah) seperti sutera bagi orang yang halal mengenakannya, anggur untuk dikonsumsi, hamba sahaya (budak) sebagai pelayan, pedang untuk dipergunakan berperang, ganja untuk pengobatan, maka transaksi yang semacam itu adalah halal tanpa hukum makruh. Namun jika diduga kuat bahwa hal-hal tersebut akan dipergunakan untuk sesuatu yang diharamkan seperti sutera untuk laki-laki yang telah mencapai usia baligh, anggur untuk mabuk, hamba sahaya (budak) untuk berbuat keji, pedang untuk merampok dan menganiaya, ganja untuk hal yang dilarang, maka hukum transaksinya adalah haram. Namun jika ragu dan tidak ada indikasi bahwa hal-hal tersebut akan dipergunakan untuk sesuatu yang dilarang, maka hukum transaksinya adalah makruh dan transaksi tetap dinyatakan sah.
     Dari uraian tersebut diatas, dapat diketahui bahwa hukum menjual pulsa kepada orang yang diketahui dan diyakini bahwa pulsa tersebut akan dipergunakan sebagai sarana berpacaran atau sarana untuk hubungan gelap adalah haram. Namun jika ragu dan tidak ada indikasi yang kuat bahwa pulsa tersebut akan dipergunakan untuk hal tersebut, maka hukum transaksinya adalah makruh dan transaksi dinyatakan sah dengan ketentuannya. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

وَيَحْرُمُ بَيْعُ الشَّئْ ِالْحَلالِ الطَّاهِرِ عَلَى مَنْ تُعُلِّمَ أَنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يَعْصِيَ بِهِ كَبَيْعِ َنْحِو عِنَبٍ لِمَنْ يَتَّخِذُهُ خمَرْاً وَلَوْ لِكَافِرٍ، وَسِلاحٍ لِمَنْ يَقْتُلُ بِهِ نَفْسَهَ أَوْ غَيْرَهُ قَتْلا مُحَرَّمًا، وَبِوَصٍّ يَتَّخِذُهُ مَزَامِيْرَ، وَشَبْكَةً لِمَنْ يَصْطَادُ بِهَا فِى الْحَرَامِ، وَمَمْلُوْكِ أمْرَدٍ لِمَنْ عُرِفَ باِلْفُجُوْرِ فِيْهِ، وَأُمَة لِمَنْ يَتَّخِذُهَا لِغِنَاءٍ مُحَرَّمٍ، وَثَوْبِ الْحَرِيْرِ لِلُبْسِ رَجُلٍ بِلا ضَرُوْرَةٍ؛ وَمَحَلُّ تَحْرِيْمِ بَيْعِ ذَلِكَ لِمَنْ ذُكِرَ إِذَا تّحَقَّقَ أَوْ ظُنَّ أَنَّهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ، فَإِنْ شُكَّ فِيْهِ أَوْ تَوَهّمهُ فَالْبَيْعُ مَكْرُوْهٌ، وَهَذَا لا يَقْتَضِي الْبُطْلانَ؛ إِلا إِذَا بَاعَ السِّلاح لِحَرْبِيٍّ، وَإِنَّمَا حُرِمَ هَذَا الْبَيْعُ يَتَسَبَّبُ فِي الْحَرَامِ، فَكُلُّ تَصَرُّف يُؤَدِّي إِلَى مَعْصِيَّةٍ حَرَامٍ كَمَا أَفَادَ ذَلِكَ الشَّرْقَاوِي. إهـ
سلم التوفيق ص 53

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

 (مسألة : ي) : كل معاملة كبيع وهبة ونذر وصدقة لشيء يستعمل في مباح وغيره ، فإن علم أو ظنّ أن آخذه يستعمله في مباح كأخذ الحرير لمن يحل له ، والعنب للأكل ، والعبد للخدمة ، والسلاح للجهاد والذب عن النفس ، والأفيون والحشيشة للدواء والرفق حلت هذه المعاملة بلا كراهة ، وإن ظن أنه يستعمله في حرام كالحرير للبالغ ، ونحو العنب للسكر ، والرقيق للفاحشة ، والسلاح لقطع الطريق والظلم ، والأفيون والحشيشة وجوزة الطيب لاستعمال المخذِّر حرمت هذه المعاملة ، وإن شكّ ولا قرينة كرهت ، وتصحّ المعاملة في الثلاث ، لكن المأخوذ في مسألة الحرمة شبهته قوية ، وفي مسألة الكراهة أخف
بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 260)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:

قال المصنف رحمه الله
* (ويكره بيع العنب ممن يعصر الخمر والتمر ممن يعمل النبيد وبيع السلاح ممن يعصى الله تعالى به لانه لا يأمن أن يكون ذلك معونة علي المعصية فان باع منه صح البيع لانه قد لا يتخذ الخمر ولا يعصى الله تعالى بالسلاح)
* (الشرح) قال الشافعي رحمه الله في المختصر أكره بيع العصير ممن يعصر الخمر والسيف بمن يعصى الله تعالى به ولا أنقض هذا البيع هذا نصه
* قال أصحابنا يكره بيع العصير لمن عرف باتخاذ الخمر والتمر لمن عرف باتخاذ النبيد والسلاح لمن عرف بالعصيان بالسلاح فان تحقق اتخاذه لذلك خمرا ونبيذا وانه يعصى بهذا السلاح ففى تحريمه وجهان حكاهما ابن الصباغ والمتولي والبغوى في شرح المختصر والرويانى وغيرهم
(أحدهما)
 نقله الرويانى والمتولي عن أكثر الاصحاب يكره كراهة شديدة ولا يحرم (وأصحهما) يحرم وبه قطع الشيخ أبو حامد والغزالي في الاحياء وغيرهما من الاصحاب فلو باعه صح على الوجهين وان كان مرتكبا للكراهة أو التحريم قال الغزالي في الاحياء وبيع الغلمان المرد الحسان لمن عرف بالفجور بالغلمان كبيع العنب للخمار قال وكذا كل تصرف يفضى إلى معصية
المجموع شرح المهذب - (ج 9 / ص 353)

Daftar Pustaka:
  1. Syarh Sullam al-Taufiq. 35
  2. Bughyah al-Mustarsyidin. I/ 260
  3. Al Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. IX/ 60
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik





(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1610270242519863/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama