DOC-234. Hukum Ma’mum Pada Anak Kecil

Anton Cokerz
15 November 2014

assalamu alaikum
anak kecil belum akil balqh jadi imam sholat boleh gak ? Pak ust

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bolehkan menjadikan anak kecil yang belum mukallaf (akil, baligh) sebagai imam dalam shalat?

     Imam al-Syafi’i di dalam kitabnya (al-Um) menyatakan bahwa anak kecil yang belum mencapai usia baligh namun telah berakal, maka ia diperbolehkan menjadi imam. Namun yang lebih baik dalam shalat yang dilaksanakan secara berjama’ah hendaknya yang menjadi imam adalah orang yang telah mencapai usia baligh.
     Imam Muhammad bin ‘Amr bin Ali bin Nawawi al-Jawi;  Abu Abdul Mu’thi juga manambahkan bahwa berma’mumnya orang telah mencapai usia baligh kepada anak kecil adalah sah, demikian juga berma’mumnya orang merdeka kepada hamba sahaya (budak). Maka anak kecil yang belum tamyiz tidak boleh menjadi imam. Bahkan jika berkumpul seorang hamba yang telah mencapai usia baligh dan anak kecil yang merdeka namun belum baligh, maka shamba yang baligh lebih didahulukan atau lebih baik (untuk menjadi imam) sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Imam Ibnu Qasim al-Ghazi di dalam kitabnya "al-Bajuri".
     Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitab karyanya (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab) menegaskan bahwa jika seorang anak telah mencapai pada batas usia berakal sedang ia cakap dan pantas dalam shalat, maka ia sah menjadi imam berdasar hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Amr bin Salmah radliyallahu ‘anhu, beliau berkata “Aku pernah menjadi imam pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang aku masih berusia 7 tahun”. Sedang didalam pelaksanaan shalat Jum’at, terdapat dua pendapat sebagaimana berikut:
  • Di dalam "al Um", Imam Syafi’i menyatakan bahwa anak kecil tidak diperbolehkan menjadi imam dalam pelaksanaan shalat Jum’at, sebab shalat Jum’at yang dilaksanakan oleh anak kecil berkategori sunah. 
  • Sedang di dalam kitab "al-Imla’", Imam Syafi’i menyatakan bahwa anak kecil diperbolehkan menjadi imam dalam pelaksanaan shalat Jum’at, karena anak kecil juga diperbolehkan menjadi imam pada selain shalat Jum’at. Maka ia juga boleh menjadi imam shalat Jum’at sebagaimana orang yang telah mencapai usia baligh.
     Imam Abdurrahman al -Juziri di dalam kitabnya (Madzahib al-Arba’ah) juga menyatakan bahwa diantara syarat sah menjadi imam adalah harus mencapai usia baligh, maka orang yang telah baligh tidak sah berma’mum kepada anak kecil yang telah tamyiz dalam pelaksanaan shalat fardlu berdasar kesepakatan tiga (Imam Hanafi, Maliki dan Hambali). Sedang Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i memiliki pandangan lain dengan menyatakan bahwa orang yang telah baligh diperbolehkan berma’mum kepada anak kecil yang telah tamyiz dalam melaksanakan shalat fardlu selain shalat Jum’at. Maka dalam pelaksnaan shalat Jum’at, imam disyaratkan harus mencapai usia baligh jika imam adalah bagian dari jumlah yang apabila tanpanya, maka pelaksanaan shalat Jum’at tidak sah (bagian dari 40 orang), namun jika lebih (imam bukan bagian dari 40 orang), maka anak kecil yang telah tamyiz diperbolehkan menjadi imam dalam pelaksanaan shalat Jum’at.
     Dari paparan tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa menjadikan anak kecil sebagai imam dalam shalat adalah diperinci sebagai berikut:

1. Jika anak kecil tersebut belum tamyiz, maka semua Ulama’ sepakat menyatakan bahwa ia tidak boleh dan tidak sah menjadi imam.

2. Jika anak kecil tersebut telah tamyiz namun belum mencapai usia baligh, maka hukumnya adalah hilaf sebagaimana berikut:

  • Mayoritas Ulama’ menyatakan bahwa tidak boleh dan shalat berjama’ah yang dilaksanakan tidak sah, karena orang yang menjadi imam disyaratkan harus mencapai usia baligh.
  • Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa boleh dan hukum shalat berjama’ah (selain shalat Jum’at) yang dilaksanakan sah.
     Sedang di dalam pelaksanaan shalat Jum'at, Imam Syafi'i menyatakan pendapatnya sebagai berikut:

1. Di dalam "al-Um", beliau menyatakan bahwa anak kecil tidak diperbolehkan menjadi imam dalam pelaksanaan shalat Jum’at, sebab shalat Jum’at yang dilaksanakan oleh anak kecil hukumnya sunah.

2. Di dalam kitab "al-Imla’", beliau menyatakan bahwa anak kecil diperbolehkan menjadi imam dalam pelaksanaan shalat Jum’at, karena anak kecil juga diperbolehkan menjadi imam pada selain shalat Jum’at, maka ia juga boleh menjadi imam shalat Jum’at sebagaimana orang yang telah mencapai usia balig dengan ketentuan anak kecil tersebut bukan termasuk bagian dari 40 orang.

Catatan:
Yang dimaksud dengan “Tamyiz” adalah seorang anak yang telah bisa makan dan minum sendiri serta mampu membersihkan tempat keluarnya kotoran (istinjak). Sebagian pendapat menyatakan anak yang telah mengetahui arah kanan dan kiri, berdasar hadits yang diriwayatkan Abu Dawud yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya “Kapan anak kecil diperbolehkan melaksanakan shalat?” Beliau menjawab “Ketika ia telah mengetahui arah kanan dan kiri”. Sebagian Ulama’ berpendapat anak yang mampu memahami sebuah percakapan dan mampu menjawabnya. Sedang sebagian yang lain menyatakan anak yang telah mengetahui dan mengerti tentang hal-hal yang bermanfa’at dan membahayakan pada dirinya. Wallahu a’alam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz El FaQot:

(قَالَ: الشَّافِعِيُّ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -) : إذَا أَمَّ الْغُلَامُ الَّذِي لَمْ يَبْلُغْ الَّذِي يَعْقِلُ الصَّلَاةَ وَيَقْرَأُ، الرِّجَالَ الْبَالِغِينَ فَإِذَا أَقَامَ الصَّلَاةَ أَجْزَأَتْهُمْ إمَامَتُهُ وَالِاخْتِيَارُ أَنْ لَا يَؤُمَّ إلَّا بَالِغٌ وَأَنْ يَكُونَ الْإِمَامُ الْبَالِغُ عَالِمًا بِمَا لَعَلَّهُ يَعْرِضُ لَهُ فِي الصَّلَاةِ.
الأم للشافعي (1/ 193)

Dasar pengambilan (2) oleh  Al-Ustadz Alii Yasiinn El Maduriieeyy:

ويصح اقتداء البالغ بالصبي والحر بمن فيه رق
 نعم البالغ أولى من الصبي والحر أولى من الرقيق
نهاية الزين - (ج 1 / ص 130)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Dik Ibnu Al-Ihsany Rinduku:

قوله أما الصبي غير المميز فلا يصح الاقتداء به : ففائدة ذلك الإشارة إلى أن المراد بالمراهق هنا الصبي المميز ، وإلا فغير المميز لا تصح صلاته فلا يتوهم صحة الاقتداء به حتى تنفي ، ولو اجتمع عبد بالغ وحر صبي قدم العبد البالغ على الصبي
الباجوري - 1 – 195

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Mbah Sanidin:

 (إذا بلغ الصبى حدا يعقل وهو من أهل الصلاة صحت امامته لما روى عمرو بن سلمة رضى الله عنه قال " أممت على عهد رسول الله صلي الله عليه وسلم وأنا غلام ابن سبع سنين " وفى الجمعة قولان قال في الام لا تجوز امامته لان صلاته نافلة وقال في الاملاء تجوز لانه يجوز أن يكون اماما في غير الجمعة فجاز أن يكون اماما في الجمعة كالبالغ
المجموع شرح المهذب - (ج 4 / ص 248)

Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Ifas Irama:

ومن شروط صحة الإمامة البلوغ فلا يصح أن يقتدي بالغ بصبي مميز في صلاة مفروضة باتفاق ثلاثة من الأئمة : وخالف الشافعية فانظر مذهبهم تحت الخط ( الشافعية قالوا : يجوز اقتداء البالغ بالصبي المميز في الفرض إلا في الجمعة فيشترط أن يكون بالغا إذا كان الإمام من ضمن العدد الذي لا يصح إلا به فإن كان زائدا عنهم صح أن يكون صبيا مميزا )
الفقه على المذاهب الأربعة - (ج 1 / ص 642)

Dasar pengambilan (6) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

جمهور الفقهاء (الحنفية والمالكية والحنابلة) على أنه يشترط لصحة الإمامة في صلاة الفرض أن يكون الإمام بالغا ، فلا تصح إمامة مميز لبالغ في فرض عندهم ، لما ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : لا تقدموا صبيانكم. ولأنها حال كمال والصبي ليس من أهلها ، ولأن الإمام ضامن وليس هو من أهل الضمان ، ولأنه لا يؤمن معه الإخلال بالقراءة حال السر . واستدلوا كذلك على عدم صحة إمامة الصبي للبالغ في الفرض أن صلاة الصبي نافلة فلا يجوز بناء الفرض عليها. أما في غير الفرض كصلاة الكسوف أو التراويح فتصح إمامة المميز للبالغ عند جمهور الفقهاء (المالكية والشافعية والحنابلة وبعض الحنفية) لأنه لا يلزم منها بناء القوي على الضعيف . والمختار عند الحنفية عدم جواز إمامة المميز للبالغ مطلقا ، سواء أكانت في الفرائض أم في النوافل ، لأن نفل الصبي ضعيف لعدم لزومه بالشروع ، ونفل المقتدي البالغ قوي لازم مضمون عليه بعد الشروع. ولم يشترط الشافعية في الإمام أن يكون بالغا ، فتصح إمامة المميز للبالغ عندهم مطلقا ، سواء أكانت في الفرائض أم النوافل ، لحديث "عمرو بن سلمة أنه كان يؤم قومه على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو ابن ست أو سبع سنين" لكنهم قالوا : البالغ أولى من الصبي ، وإن كان الصبي أقرأ أو أفقه ، لصحة الاقتداء بالبالغ بالإجماع ، ولهذا نص في البويطي على كراهة الاقتداء بالصبي . أما إمامة المميز لمثله فجائزة في الصلوات الخمس وغيرها عند جميع الفقهاء
الموسوعة الفقهية الكويتية – 6 – 203

Dasar pengambilan (7) oleh Al-Ustadz Dik Ibnu Al-Ihsany Rinduku:

؛{ قوله إن حصل التمييز بها }؛
أي معها ، فالباء بمعنى مع ، وأحسن ما قيل في حد التمييز : أن يصير الصبي ومثله الصبية بحيث يأكل وحده ويشرب وحده ويستنجي وحده ، وقيل : بأن يعرف يمينه من شماله ، كما في رواية أبي داود : أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل " متى يصلي الصبي ؟ " قال : " إذا عرف شماله من يمينه " . وقيل : بأن يفهم الخطاب ويرد الجواب ، وقيل : بأن يعرف ما يضره وما ينفعه
الباجوري - 1 – 130

Daftar Pustaka:
  1. Al-Um Li al-Syafi’i. I/ 193
  2. Nihayah al-Zain. I/ 130
  3. Al-Bajuri. I/ 195
  4. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. IV/ 248
  5. Al-Fiqh ‘Ala Madzahib al Arba’ah. I/ 642
  6. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. VI/ 203
  7. Al-Bajuri. I/ 130
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik




(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1557193627827525/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama