DOC-235. Ziarah Kubur Dilarang Pada Masa Dulu

Mas Boy Up
16 Aprli 2015 jam 13:01

Assalamu 'alaikum.
Pada jaman dahalu nabi pernah melarang ziarah kubur tapi dikemudian hari nabi memperbolehkannya. Pertanyaan, kenapa nabi melarang ziarah ketika itu?

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ziarah kubur pada zaman dahulu?

     Imam Muhammad bin Shalih bin Muhammad menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ziarah kubur karena menghawatirkan kemusyrikan yang disebabkan ahli kubur. Sebab pada saat itu orang Islam masih terbilang dekat dengan zaman jahiliyah, maka Rasulullah mencegah dari berziarah kubur untuk mengantisipasi terjadinya kemusyrikan, dan karena kemusyrikan adalah hal yang urgent, maka beliau mengantisipasi dari segala bentuk yang dapat menyebabkan kemusyrikan, dan ketika kema’siatan adalah hal yang urgent, maka hal-hal yang menjadi perantaranya lebih urgent untuk dicegah, seperti halnya zina adalah perbuatan keji, maka hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya perzinahan (milihat, berduaan dan lain-lain) adalah haram. Demikian juga dengan kemusyrikan. Maka sesungguhnya kemusyrikan adalah dosa yang teramat besar, sebagaimana ysng pernah ditanyakan kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab “Ketika engkau menjadikan sekutu bagi Allah., sedang Allah yang telah menciptakan engkau”. Maka pada saat orang-orang Islam (masa itu) mengagungkan kuburan-kuburan, Rasulullah mencegah mereka dari berziarah kubur. Dan ketika keimanan di dalam hati orang-orang Islam (pada masa itu) telah kuat, Rasulullah memberikan izin untuk malaksanakan ziarah kubur. Maka Rasulullah bersabda “Aku melarang kalian dari berziarah kubur, maka birziarahlah kalian, karena sesungguhnya berziarah kubur dapat mengingatkan pada akhirat”.
     Imam Sulaiman bin Muhammad bin Amr al-Bujairimi al-Mishri al-Syafi’i menegaskan bahwa arti hadits Nabi “Aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka berziarahlah” adalah sesungguhnya aku melarang kalian dari ziarah kubur karena dekatnya masa kekufuran kalian. Sedang sekarang, sekiranya pengaruh era jahiliyah telah terhapus dan hukum Islam telah ditegakkan dan keyakinan, keimanan serta ketaqwaan kalian telah kuat dan kokoh, maka berziarahlah dengan ketentuan tidak disertai mengusap, mencium dan sujud pada kuburan dan lain sebagainya. Sebab hal yang semacam itu merupakan adat dan kebiasaan orang-orang Nashrani (dikutip dari Imam al-Ghazali). Imam Al Subki juga menyatakan bahwa hal yang semacam itu adalah bid’ah yang keji (mungkar) yang hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh.
     Dari uraian tersebut diatas dapat diketahui alasan dilarangnya malakukan aktifitas ziarah kubur pada masa itu, yaitu karena Rasulullah mengkhawatirkan kemusyrikan akan dialami oleh orang-orang muslim yang notabene masih baru memeluk agama Islam. Namun setelah pengaruh era jahiliyah telah terhapus dan hukum Islam telah ditegakkan, sementara keimanan orang-orang Islam telah kuat, maka Rasulullah memberikan izin dan bahkan memerintahkan untuk malaksanakan ziarah kubur. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

كان النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن زيارتها، خوفا من الشرك بأهل القبور لأن الناس كانوا حديثي عهد بجاهلية، فنهى عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم سدا لذرائع الشرك، لأن الشرك لما كان أمره عظيما سد النبي صلى الله عليه وسمب كل ذريعة وكل باب يوصل إليه .
وكلما كانت المعصية عظيمة كانت وسائلها أشد منعا .
الزنى مثلا فاحشة فوسائله من النظر والخلوة وما أشبه ذلك محرمة .
وكذلك فإن الشرك أعظم الظلم، كما سئل النبي صلى الله عليه وسلم أي الذنب أعظم ؟ قال: أن تجعل لله ندا وهو خلقك فلما كان الناس يعظمون القبور، نهاهم النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك، فلما استقر الإيمان في قلوبهم أذن لهم فقال: كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنها تذكر الآخرة.
شرح رياض الصالحين - (ج 1 / ص 610)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

وَمَعْنَى الْحَدِيثِ أَنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَتِهَا لِحَدَثَانِ عَهْدِكُمْ بِالْكُفْرِ، وَأَمَّا الْآنَ فَحَيْثُ انْمَحَتْ آثَارُ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَحْكَمَ الْإِسْلَامُ وَصِرْتُمْ أَهْلَ يَقِينٍ وَتَقْوَى فَزُورُوهَا بِشَرْطِ أَنْ لَا يَقْتَرِنَ بِذَلِكَ تَمْسِيحٌ بِقَبْرٍ أَوْ تَقْبِيلُهُ أَوْ سُجُودٌ عَلَيْهِ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ، فَإِنَّهُ دَأْبُ النَّصَارَى؛ قَالَهُ الْغَزَالِيُّ قَالَ السُّبْكِيُّ: فِعْلُ ذَلِكَ بِدْعَةٌ مُنْكَرَةٌ إنَّمَا يَفْعَلُهَا الْجُهَّالُ
حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب (2/ 301)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

 (قال: قال رسول الله: كنت نهيتكم عن زيارة القبور) لقرب عهدهم بالجاهلية وكلماتها القبيحة التي كانوا يألفونها على القبور (فزوروها) نسخ لذلك النهي لما تمهدت القواعد واتضحت الأحكام، فعلموا ما ينفع وما يضرّ، فحينئذ طلبها منهم وعللها كما في رواية أخرى لمسلم بأنها تذكر الآخرة: أي لأنها ترقّ القلوب بذكر الموت وأحواله وما بعده،
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين (5/ 19)

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:

(كنت نهيتكم عن زيارة القبور) لحدثان عهدكم بالكفر وأما الآن حيث انمحت آثار الجاهلية واستحكم الإسلام وصرتم أهل يقين وتقوى (فزوروا القبور) أي بشرط أن لا يقترن بذلك تمسح بالقبر أو تقبيل أو سجود عليه أو نحو ذلك فإنه كما قال السبكي بدعة منكرة إنما يفعلها الجهال (فإنها تزهد في الدنيا وتذكر الآخرة)

فيض القدير (5/ 55)

Daftar Pustaka:
  1. Syarh Riyadu al-Shalihin. I/ 610
  2. Hasyiyah al-Bujairami ‘Ala al-Khatib. II/ 301
  3. Dalilu al-Fallachin Li Thuruqi Rayadlu al-Shalihin. XIX/ 19
  4. Faidu al-Qadir. V/ 55
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik





(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1611845432362344/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama