DOC-239. Tentang Niat Shalat

Seputih Awan
13 April 2015 pukul 11:13

Assalamu'alaikum
mau tanya niat sholat..
1. jika sholat sendirian, niat sholat hanya seperti ini,
"saya sholat fardhu ashr karena Allah"..
Apakah Sah..?
2. Kalimat2 apa saja yg Harus Ada di dalam Niat..?
Terimakasih..

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

  1. Sah kah shalat seseorang dengan niat “Aku shalat fardlu ashar karena Allah”?
  2. Hal-hal apa sajakah yang harus ada didalam niat shalat?
     Adapun shalat yang dilaksanakan dengan niat  “Aku shalat fardlu ashar karena Allah” adalah sah. Sebab hal-hal yang wajib dalam niat adalah sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Imam Abu al-Hasan; Yahya bin Abu al-Khair bin Salim al-'Imrani al-Yamani al-Syafi'i sebagai berikut:
Adapun tatacara niat, jika shalat yang dilaksanakan adalah shalat wajib (fardlu), maka di dalam niat wajib menyebutkan shalat dhuhur, ashar dan yang lain agar berbeda antara shalat yang satu dengan shalat yang lain. Dan apakah wajib niat bahwa shalat (dhuhur) tersebut wajib (fardlu) baginya? Maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:
  1. Pendapat Abi Ishaq yang dipilih oleh Syaikh Abu Hamid menyatakan bahwa hal itu adalah wajib untuk membedakan dari shalat dhuhur yang dilaksanakan anak kecil, dan untuk membedakan dengan shalat dhuhur orang yang dilakukan sendiri kemudian menjumpai jama’ah, lalu ia melaksanakan shalat bersama.
  2. Pendapat Abi Ali bin Abi Hurairah dan Abu Hanifah menyatakan bahwa hal itu tidak wajib, karena shalat yang seperti itu pasti wajib. Dan karena anak kecil yang melaksanakan shalat wajib diawal waktu, kemudian ia mencapai usia baligh pada ahir waktu, maka shalat yang dilaksanakan telah mencukupi menurut Imam Syafi'i walaupun tidak dengan niat Fardlu. Dan karena sesungguhnya Imam Syafi'i berkata "Jika seseorang malaksanakan shalat wajib sendiri, kemudian mengulang shalat dengan berjama'ah, maka Allah akan menghitung (baginya) salah satu dari dua shalat yang dilaksanakan sesuai dengan kehendak Allah".
Dan apakah dalam niat harus menyebutkan jumlah raka'at dan niat mengahadap kiblat? Maka dalam hal ini juga terdapat dua pendapat, namun pendapat yang shahih menyatakan tidak wajib.
Dan apakah wajib niat lillahi ta'ala? Dalam hal ini juga terdapat dua pendapat:
  1. Pendapat pertama menyatakan tidak wajib, karena shalat pasti hanya karena Allah.
  2. Pendapat kedua menyatakan wajib untuk memebedakan dari kategori shalat secara etimologi yang berarti do'a.
     Imam Taqiyuddin al-Hishni juga memberikan penegasan mengenai hal-hal yang wajib ada di dalam niat shalat sebagai berikut:
  • Menyengaja melaksanakan shalat agar berbeda dengan aktifitas yang lain.
  • Menentukan jenis shalat yang akan dilaksanakan, baik dhuhur, ashar, atau jum’at. Kedua hal ini (menyengaja, menentukan) wajib tanpa adanya perbedaan pendapat Ulama’. Jika niat melaksanakan shalat yang diwajibkan pada waktu ini sebagai pengganti kata dhuhur, ashar dan lain-lain, maka shalat yang dilaksanakan adalah tidak sah menurut pendapat yang lebih autentik (ashah), sebab niat semacam itu meliputi shalat yang terlewatkan.
  • Menyatakan kefardluan shalat. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas Ulama’ yang merupakan pendapat yang lebih autentik, baik pelaksana niat adalah orang yang telah mencapai usia baligh atau masih kecil, (dan) baik shalat yang dilaksanakan adalah shalat qadla’ atau shalat yang dilaksanakan pada waktunya (ada’). Di dalam "Syarh al-Muhaddzab" dijelaskan bahwa sesungguhnya anak kecil tidak perlu menyatakan kefardluan shalat. Dan di dalam penggabungan kata “fardlu” dengan kata “lillahi”, ada dua pendapat dan pendapat yang lebih ashah menyatakan bahwa kata “fardlu” tidak wajib digabung dengan kata “lillahi”.
  • Apakah tidak disyaratkan harus membedakan shalat yang dilaksanakan pada waktunya (ada’) dari shalat qadla’? Maka dalam hal ini juga terdapat dua pendapat dan yang lebih autentik adalah pendapaat Imam al-Rafi’i yang menyatakan bahwa tidak disyaratkan untuk membedakan antara ada’ dan qadla’, sebab keduanya memiliki arti yang sama. Maka diucapkan “Aku memenuhi hutangku” dan “Aku melunasi hutangku”. Namun pendapat ini ditentang oleh Imam Nawawi. Beliau berstatement dengan menyatakan bahwa ini (pendapat Imam al-Rafi’i) berlaku bagi orang yang tidak mengetahui keluarnya waktu dikarenakan mendung atau yang lain. Di dalam "Syarh al-Muhaddzab", Imam Nawawi menyatakan bahwa jika seseorang melaksanakan shalat dengan niat “ada’” pada waktu melaksanakan shalat “qadla’” atau sebaliknya, maka shalat yang dilaksanakan tidak sah secara pasti. Imam Taqiyuddin al-Hishni juga menjelaskan bahwa tidak disyaratkan untuk memperlihatkan (menyebut) jumlah raka’at juga tidak disyaratkan untuk menyebutkan “menghadap kiblat (mustaqbilal qiblat)” menurut pendapat shahih. Namun jika berniat melaksanakan shalat dhuhur lima atau tiga raka’at, maka shalatnya tidak sah. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

وأما (كيفية النية) : فإن كانت الصلاة فرضا. . فلا بد أن ينوي: أنها الظهر، أو العصر؛ لتتميز عن غيرها. وهل يجب عليه أن ينوي: أنها فريضة عليه؟ فيه وجهان:
أحدهما - وهو قول أبي إسحاق، واختيار الشيخ أبي حامد -: أنه يجب عليه ذلك؛ ليتميز عن ظهر الصبي، وظهر من صلى وحده، ثم أدرك جماعة يصلون فصلاها معهم.
والثاني - وهو قول أبي علي بن أبي هريرة، وأبي حنيفة -: أنه لا يجب عليه ذلك؛ لأنها لا تكون على هذا إلا فرضا.
ولأن الصبي إذا صلى صلاة الوقت في أول الوقت، ثم بلغ في آخره.. أجزأه عند الشافعي وإن لم ينو الفريضة.
ولأن الشافعي قال: (إذا صلى وحده، ثم أعادها في جماعة. . . إن الله يحتسب له بأيتهما شاء) ، هذا يدل على: أن نية الفرض لا تجب عليه.
وهل يلزمه نية أعداد الركعات، ونية استقبال القبلة؟ فيه وجهان، حكاهما في " الإبانة " [ق\61\ب] والصحيح: لا يلزمه. وهل يلزمه أن ينوي: لله؟ فيه وجهان:
أحدهما: لا يلزمه؛ لأن الصلاة لا تكون إلا لله.
الثاني: يلزمه؛ ليتميز عن الصلاة اللغوية التي هي الدعاء.
البيان في مذهب الإمام الشافعي (2/ 161)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:

ثم النية القصد فلا بد من قصد أمور
 أحدها قصد فعل الصلاة لتمتاز عن سائر الأفعال
 والثاني تعين الصلاة المأتي بها من كونها ظهرا أو عصرا أو جمعة وهذان لا بد منهما بلا خلاف فلو نوى فرض الوقت بدل الظهر أو العصر لم تصح على الأصح لأن الفائتة تشاركها في كونها فريضة الوقت
 الثالث أن ينوي الفريضة على الأصح عند الأكثرين سواء كان الناوي بالغا أو صبيا وسواء كانت الصلاة قضاء أو أداء وفي شرح المهذب أن الصواب في الصبي أنه لا ينوي الفرض وفي اشتراط الإضافة إلى الله تعالى بأن يقول لله وجهان الأصح أنه لا يشترط
 الرابع هل لا يشترط تمييز الأداء من القضاء وجهان أصحهما في الرافعي لا يشترط لأنهما بمعنى واحد ولهذذا يقال أديت الدين وقضيت الدين والذي قال النووي أن هذا فيمن جهل خروج الوقت لغيم ونحوه قال النووي في شرح المهذب صرح الأصحاب بأنه إذا نوى الأداء في وقت القضاء أو عكسه لم تصح قطعا والله أعلم ولا يشترط التعرض لعدد الركعات ولا للاستقبال على الصحيح نعم لو نوى الظهر خمسا أو ثلاثا لم تنعقد
كفاية الأخيار - (ج 1 / ص 101)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

أحدها ( نية ) وهي القصد بالقلب لخبر إنما الأعمال بالنيات
 ( فيجب فيها ) أي النية ( قصد فعلها ) أي الصلاة لتتميز عن بقية الأفعال ( وتعيينها ) من ظهر أو غيرها لتتميز عن غيرها فلا يكفي نية فرض الوقت
 ( ولو ) كانت الصلاة المفعولة ( نفلا ) غير مطلق كالرواتب والسنن المؤقتة أو ذات السبب فيجب فيها التعيين بالإضافة إلى ما يعينها كسنة الظهر القبلية أو البعدية وإن لم يؤخر القبلية
 ومثلها كل صلاة لها سنة قبلها وسنة بعدها وكعيد الأضحى أو الأكبر أو الفطر أو الأصغر...الى ان قال
فتح المعين - (ج 1 / ص 126)

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

يجب فى نية صلاة الفرض قصد(١) الفعل والتعيين(٢) والفرضية(٣) وفى صلاة النافلة المؤقتة أو التى لها سبب قصد الفعل والتعيين. وفى صلاة النافلة المطلقة قصد الفعل فقط.
---
(١) قصد الفعل هو أصلي (٢) التعيين هو ذكر الظهر أو العصر أو المغرب أو العشاء (٣) الفرضية ذكر الفرض.
دروس الفقهية – 3 – ص 28

Referensi:
  1. Al Bayan Fi Madzhab al-Imam al-Syafi’i. II/ 161
  2. Kifayah al-Akhyar. I/ 101
  3. Fatchu al-Mu’in. I/ 126
  4. Durus al-Fiqhiyah. III/ 28
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik



(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1610679375812283/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama