DOC-241. Hukum Menggabung Niat Puasa Qadla’ Dengan Niat Puasa Sunnah
Pemecah Rekor
27 Oktober 2014
Assalamu alaikum para kiai para masyayih ..salam ta,dim srta hormat...saya ad satu k muskilan kiai ..saya puasa sunnah dhari kmis/hri asyura,/ yg lain2 yg pnting sunnah kebetulan saya tertinggal dgn puasa wajib..apakah yg puasa dihari sunnah it boleh sambil Qndho, puasa wajb/ sah yg sunnah sj /yg wjib sj/apkah sah dua2x sekian wassalam..
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bolehkah menggabung niat puasa qadla’ puasa dengan puasa sunnah?
Imam Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari; Abu Yahya di dalam kitbanya (Fathu al-Wahab) mengutip pernyataan Imam Nawawi di dalam kitab "Al Majmu’" yang menyatakan bahwa seyogyanya disyaratkan untuk menentukan pelaksanaan puasa sunnah seperti halnya puasa Arafah, puasa tanggal sepuluh Muharram, enam hari dibulan Syawal sebagaimana menentukan shalat sunnah rawatib. Dan aku (Imam Zakariya) menjawab bahwa sesungguhnya melaksanakan puasa pada hari-hari tersebut seperti halnya melaksanakan shalat sunnah rawatib, bahkan jika niatnya dikombinasikan dengan puasa yang lain, maka kedua puasa yang diniatkan sah dan berhasil, sebagaimana shalat tahiyyah al-Masjid dengan melaksanakan shalat yang lain.
Imam Syasuddin; Muhammad bin Abi al-Abbas; Ahmad bin Hamzah bin Syihabuddin al-Ramli yang populer dengan sebutan Imam Syafi’i kecil juga menambahkan bahwa, jika seseorang melaksanakan puasa qadla’ atau puasa nadzar atau puasa yang lain pada bulan Syawal (dan) atau pada tanggal sepuluh bulan Muharram, maka ia juga mendapatkan pahala puasa sunnah, sebagaimana yang telah difatwakan oleh ayahku mengikuti pendapat Imam al-Barizi, Imam al-Ashfuni, Imam al-Nasyiri, Imam al-Faqih; Ali bin Shalih al Hadrami juga yang lain. Hanya saja ia tidak mendapatkan pahala yang sempurna, terlebih bagi orang yang puasa Ramadlannya terlewatkan, lalu ia menggantinya pada bulan Syawal. Sebab hal itu tidak sesuai dengan kandungan hadits terdahulu (hikmah, anjuran melaksanakan puasa pada bulan Syawal).
Namun Imam Abdurrahman Ibnu Muhammad Ibnu Husain Ibnu ‘Amr Ba’alawi mengutip pernyataan Imam Abu Makhramah yang mengikuti Imam Samhudi yang menyatakan bahwa jika kedua puasa tersebut dikombinasikan, maka keduanya tidak berhasil. Bahkan Imam Abu Makhramah lebih mengunggulkan ketidak afsahan puasa enam hari dibulan Syawal bagi orang yang memiliki tanggugan untuk mengganti (qadla’) puasa dibulan Rhamadlan.
Dari uraian tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa mengkombinasikan puasa qadla’ puasa dengan puasa sunnah adalah diperinci sebagai berikut:
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
( وتعيينه ) أي الفرض قال في المجموع وينبغي اشتراط التعيين في الصوم الراتب كعرفة وعاشوراء وأيام البيض وستة من شوال كرواتب الصلاة وأجيب بأن الصوم في الأيام المذكورة منصرف إليها بل لو نوى به غيرها حصلت أيضا كتحية المسجد لأن المقصود وجوب صوم فيها
فتح الوهاب - (ج 1 / ص 206)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
ولو صام في شوال قضاء أو نذرا أو غيرهما أو في نحو يوم عاشوراء حصل له ثواب تطوعها كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى تبعا للبارزي والأصفوني والناشري والفقيه علي بن صالح الحضرمي وغيرهم لكن لا يحصل له الثواب الكامل المرتب على المطلوب لا سيما من فاته رمضان وصام عنه شوالا لأنه لم يصدق عليه المعنى المتقدم
نهاية المحتاج - (ج 3 / ص 208)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
(مسألة: ك): ظاهر حديث: «وأتبعه ستاً من شوّال» وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان، لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء، بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها، ما لم يصرفه عنها صارف، كأن قضى رمضان في شوّال، وقصد قضاء الست من ذي القعدة، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان اهـ. قلت: واعتمد أبو مخرمة تبعاً للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معاً، كما لو نوى الظهر وسنتها، بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقاً
بغية المسترشدين ص 113-114
Referensi:
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1550768715136683/?hc_location=ufi)
27 Oktober 2014
Assalamu alaikum para kiai para masyayih ..salam ta,dim srta hormat...saya ad satu k muskilan kiai ..saya puasa sunnah dhari kmis/hri asyura,/ yg lain2 yg pnting sunnah kebetulan saya tertinggal dgn puasa wajib..apakah yg puasa dihari sunnah it boleh sambil Qndho, puasa wajb/ sah yg sunnah sj /yg wjib sj/apkah sah dua2x sekian wassalam..
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bolehkah menggabung niat puasa qadla’ puasa dengan puasa sunnah?
Imam Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari; Abu Yahya di dalam kitbanya (Fathu al-Wahab) mengutip pernyataan Imam Nawawi di dalam kitab "Al Majmu’" yang menyatakan bahwa seyogyanya disyaratkan untuk menentukan pelaksanaan puasa sunnah seperti halnya puasa Arafah, puasa tanggal sepuluh Muharram, enam hari dibulan Syawal sebagaimana menentukan shalat sunnah rawatib. Dan aku (Imam Zakariya) menjawab bahwa sesungguhnya melaksanakan puasa pada hari-hari tersebut seperti halnya melaksanakan shalat sunnah rawatib, bahkan jika niatnya dikombinasikan dengan puasa yang lain, maka kedua puasa yang diniatkan sah dan berhasil, sebagaimana shalat tahiyyah al-Masjid dengan melaksanakan shalat yang lain.
Imam Syasuddin; Muhammad bin Abi al-Abbas; Ahmad bin Hamzah bin Syihabuddin al-Ramli yang populer dengan sebutan Imam Syafi’i kecil juga menambahkan bahwa, jika seseorang melaksanakan puasa qadla’ atau puasa nadzar atau puasa yang lain pada bulan Syawal (dan) atau pada tanggal sepuluh bulan Muharram, maka ia juga mendapatkan pahala puasa sunnah, sebagaimana yang telah difatwakan oleh ayahku mengikuti pendapat Imam al-Barizi, Imam al-Ashfuni, Imam al-Nasyiri, Imam al-Faqih; Ali bin Shalih al Hadrami juga yang lain. Hanya saja ia tidak mendapatkan pahala yang sempurna, terlebih bagi orang yang puasa Ramadlannya terlewatkan, lalu ia menggantinya pada bulan Syawal. Sebab hal itu tidak sesuai dengan kandungan hadits terdahulu (hikmah, anjuran melaksanakan puasa pada bulan Syawal).
Namun Imam Abdurrahman Ibnu Muhammad Ibnu Husain Ibnu ‘Amr Ba’alawi mengutip pernyataan Imam Abu Makhramah yang mengikuti Imam Samhudi yang menyatakan bahwa jika kedua puasa tersebut dikombinasikan, maka keduanya tidak berhasil. Bahkan Imam Abu Makhramah lebih mengunggulkan ketidak afsahan puasa enam hari dibulan Syawal bagi orang yang memiliki tanggugan untuk mengganti (qadla’) puasa dibulan Rhamadlan.
Dari uraian tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa mengkombinasikan puasa qadla’ puasa dengan puasa sunnah adalah diperinci sebagai berikut:
- Jika mengqadla’puasa dilakukan bertepatan dengan dianjurkannya melaksanakan puasa seperti pada hari Arafah, tanggal sepuluh Muharram, hari senin dan kamis dengan mengkombinasikan niat, maka puasa yang dilakukan adalah sah dengan dua pahala.
- Menurut Imam al-Barizi, qadla’ puasa yang dilakukan bertepatan dengan diajurkannya melaksanakan puasa adalah sah dengan dua pahala
- Jika qadla’ puasa dilakukan bertepatan dengan dianjurkannya melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal, maka Ulama’ berbeda pandangan sebagaimana berikut:
- Mayoritas Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa mengganti (qadla’) puasa yang dilakukan bertepatan dengan anjuran melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal dengan mengkombinasikan niat adalah sah dengan dua pahala
- Imam Abu Makhramah menaytakan bahwa mengganti puasa yang dilakukan bertepatan dengan dianjurkannya melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal dengan mengkombinasikan niat adalah tidak sah. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
( وتعيينه ) أي الفرض قال في المجموع وينبغي اشتراط التعيين في الصوم الراتب كعرفة وعاشوراء وأيام البيض وستة من شوال كرواتب الصلاة وأجيب بأن الصوم في الأيام المذكورة منصرف إليها بل لو نوى به غيرها حصلت أيضا كتحية المسجد لأن المقصود وجوب صوم فيها
فتح الوهاب - (ج 1 / ص 206)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
ولو صام في شوال قضاء أو نذرا أو غيرهما أو في نحو يوم عاشوراء حصل له ثواب تطوعها كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى تبعا للبارزي والأصفوني والناشري والفقيه علي بن صالح الحضرمي وغيرهم لكن لا يحصل له الثواب الكامل المرتب على المطلوب لا سيما من فاته رمضان وصام عنه شوالا لأنه لم يصدق عليه المعنى المتقدم
نهاية المحتاج - (ج 3 / ص 208)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
(مسألة: ك): ظاهر حديث: «وأتبعه ستاً من شوّال» وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان، لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء، بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها، ما لم يصرفه عنها صارف، كأن قضى رمضان في شوّال، وقصد قضاء الست من ذي القعدة، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان اهـ. قلت: واعتمد أبو مخرمة تبعاً للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معاً، كما لو نوى الظهر وسنتها، بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقاً
بغية المسترشدين ص 113-114
Referensi:
- Fatchu al-Wahab. I/ 206
- Nihayah al-Muhtaj. III/ 208
- Bughyah al-Mustarsyidin. 113-114
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1550768715136683/?hc_location=ufi)

Komentar
Posting Komentar