DOC-222. Hukum Menyembelih Hewan Dengan Memotong leher

Ifas Irama
23 Oktober 2014

Assalamu'alaikum..?bgmn hukumx nyambelli ajem langsung pas etatta' le'errah langsung kottong. Wassalam..

=========

JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum menyembelih hewan dengan memutuskan lehernya?

     Imam Sulaiman Ibnu Amr bin Muhammad al-Bujairami menuturkan bahwa memisahkan kepala hewan yang disembelih dengan seketika, menambah pemotongan, mematahkan leher, memotong anggota tubuh, menggerak-gerakkan serta memindahkannya hingga ruhnya keluar adalah makruh. Beliau juga menuturkan bahwa menyembelih dengan cara melebihi saluran pernafasan (hulkum) atau melebihi saluran makanan (dan) atau melebih dua urat leher, ada yang berpendapat bahwa hal itu adalah haram, karena yang semacam itu dapat menambah penyiksaan, namun pendapat yang unggul (rajih) menyatakan bahwa menyembelih dengan cara semacam itu diperbolehkan namun makruh.

     Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi juga menuturkan bahwa tidak disunnahkan dalam proses penyembelihan untuk memotong urat leher, namun jika sampai memotong kepala, maka yang demikian itu telah mencukupi dalam proses penyembelihan walaupun hukumnya adalah haram dikarenakan adanya unsur penyiksaan. Namun pendapat yang lebih dapat dijadikan sebagai pijakan (mu’tamad) menurut Imam Muhammad bin Ahmad bin Hamzah al-Ramli (م ر) dan Imam Ali bin Ali al-Syibramalisi (ع ش) adalah makruh.

     Sedang Imam Utsman bin Ali bin Mahjan al-Bara’i; Fahruddin al-Zaila’i al-Hanafi di dalam kitabnya (Tabyin al-Haqaiq) mengutip pernyataan Imam Abu Hanifah yang menyatakan “Jika seseorang menebas leher kambing dengan sebilah pedang hingga putus dan ia membaca basmalah, jika ia menyabet dari arah tenggorokan, maka kambing tersebut halal dikonsumsi, hanya saja ia berbuat buruk (dosa)”.

     Imam Abu Muhammad Maufiquddin; Abdillah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Jama’ili al-Muqaddasi al-Hambali di dalam kitabnya (al-Mughni Li Ibni Qudamah) juga menuturkan bahwa jika seseorang menebas leher binatang dengan sebilah pedang hingga terbang kepalanya, maka hewan tersebut boleh dikonsumsi. Pendapat ini juga telah dinyatakan oleh Imam Ahmad. Maka beliau berkata “Jika seseorang menebas kepala seekor kambing dengan sebilah pedang, sedang ia menghendaki untuk menyembelihnya, maka boleh baginya untuk mengkonsumsinya”.

     Dari paparan tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa hukum menyembelih hewan dengan cara menebas lehernya adalah hilaf sebagaimana berikut:
  • Sebagian Ulama’ menyatakan haram.
  • Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan makruh. Pendapat ini merupakan pendapat yang rajih dan mu’tamad.
     Sedang hukum hewan yang disembelih dengan cara semacam itu adalah halal dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam proses penyembelihan. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

ويكره له إبانة رأسها حالا وزيادة القطع وكسر العنق وقطع عضو منها وتحريكها ونقلها حتى تخرج روحها
حاشية البجيرمي - (ج 4 / ص 287)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

والزيادة على الحلقوم والمريء والودجين قيل بحرمتها لأنها زيادة في التعذيب والراجح الجواز مع الكراهة
حاشية البجيرمي - (ج 4 / ص 285)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

فائدة : لا يسنّ قطع ما وراء الودجين لكن لو قطع الرأس كفى وإن حرم للتعذيب ، والمعتمد عند (م ر) و (ع ش) الكراهة
بغية المسترشدين. ص ٥٤٦

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إنْ ضَرَبَ عُنُقَ جَزُورٍ بِسَيْفٍ فَأَبَانَهَا وَسَمَّى فَإِنْ كَانَ ضَرْبًا مِنْ قِبَلِ الْحُلْقُومِ فَإِنَّهُ يُؤْكَلُ وَقَدْ أَسَاءَ
تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق وحاشية الشلبي (5/ 292)

Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

وَلَوْ ضَرَبَ عُنُقَهَا بِالسَّيْفِ فَأَطَارَ رَأْسَهَا، حَلَّتْ بِذَلِكَ. نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ، فَقَالَ: لَوْ أَنَّ رَجُلًا ضَرَبَ رَأْسَ بَطَّةٍ أَوْ شَاةٍ بِالسَّيْفِ، يُرِيدُ بِذَلِكَ الذَّبِيحَةَ، كَانَ لَهُ أَنْ يَأْكُلَهُ.
المغني لابن قدامة (9/ 400)

Daftar Pustaka:
  1. Hasyiyah al-Bujairami. IV/ 287 & 285
  2. Bughyah al-Mustarsyidin. 546
  3. Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanzu al-Daqaiq. V/ 292
  4. Al-Mughni Li Ibni Qudamah. IX/ 400
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik




(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1549124415301113/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama