DOC-245. Hukum Melayat Kepada Non Muslim
Maniri Maniri
17 April 2015 pukul 23:39
Assalaamu'alaikum. Semuga para Ahlul ilmi selalu mendapat rahmat Allah dan kurniaNYa. Ini kawan saya tanya: apakah hukumnya melawat/ melayat orang mati yg bukan islam dan makan makan di tempat (rumah) orang yg mati tersebut?
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum turut berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) kepada non muslim menurut perspektif Fiqh?
Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf Al-Nawawi di dalam kitabnya "Raudlah Al-Thalibin" mengurai tentang arti ta’ziyah. Beliau menyatakan bahwa ta’ziyah adalah meminta untuk bersabar dan tabah atas musibah yang menimpa dengan mengingatkan pahala yang dijanjikan dan memberikan peringatan akan dosa jika tidak bersabar. Imam Nawawi juga mengurai tentang pernyataan bela sungkawa (ta’ziyah) kepada sesama muslim karena berpulangnya keluarganya yang muslim dengan ungkapan:
أعظم الله أجرك وأحسن عزاءك وغفر لميتك
"Semoga Allah memperbesar pahalamu, memperelok musibah yang menimpamu dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa keluargamu yang meninggal".
Sedang pernyataan bela sungkawa kepada sesama muslim adalah dengan ungkapan:
أعظم الله أجرك وأخلف عليك أو ألهمك الصبر أو جبر مصيبتك
"Semoga Allah memperbesar pahalamu dan memberikan pengganti bagi mu atau semoga Allah memberikan kesabaran kepada mu atau semoga Allah membalut musibah yang sedang menimpamu".
Adapun pernyataan bela sungkawa kepada non muslim adalah dengan ungkapan:
غفر الله لميتك وأحسن عزاك
"Semoga Allah mengampuni dosa-dosa keluargamu yang meninggal dan semoga Allah memperelok dan memperindah ketabahan serta kesabaranmu".
Imam Nawawi juga menyatakan bahwa diperbolehkan bagi muslim untuk menyatakan bela sungkawa kepada non muslim (kafir dzimmi) dengan ungkapan:
أخلف الله عليك ولا نقص عددك
"Semoga Allah memberikan pengganti bagi mu dan tidak mengurangi jumlahmu".
Hal senada juga dipaparkan oleh Imam Al-Khatib Al-Syarbini. Beliau juga menambahkan bahwa diperbolehkan berbela sungkawa kepada non muslim yang layak dihormati (kafir dzimmi). Kecuali jika diharapkan keislamannya, maka hukumnya adalah sunnah dengan menyatakan bela sungkawa:
غفر الله لميتك وأحسن عزاءك
"Semoga Allah mengampuni dosa-dosa keluargamu yang meninggal dan semoga Allah memperelok dan memperindah ketabahan serta kesabaranmu). Ya’ni dengan mendahulukan mendo’akan yang meninggal yang beragama Islam sebelum mendo’akan yang masih hidup yang non muslim. Pernyataan bela sungkawa tidak dengan.
أعظم الله أجرك
"Semoga Allah memperbesar pahalamu). Sebab sesungguhnya tidak ada pahala bagi non musli".
Adapun berbela sungkawa kepada non muslim yang tidak layak untuk dihormati seperti non muslim yang tidak mau hidup rukun dengan orang-orang muslim (kafir harbi) dan orang murtad tidak diperbolehkan. Apakah hal itu haram atau makruh?. Maka sebagian Ulama’ menyatakan haram, sedang Al Syaikh Abu Hamid menyatakan makruh. Yang demikian ini jika memang tidak dapat diharapkan keislamannya. Namun jika keislamannya bisa diharapkan, maka hukum ta’ziyah adalah sunnah. Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Imam Al-Subuki.
Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami juga menyatakan bahwa diperbolehkan turut berbela sungkawa kepada non muslim yang layak untuk dihormati. Namun tidak kepada non muslim yang tidak layak untuk dihormati (kafir Harbi). Maka turut berbela sungkawa kepadanya (kafir charbi) adalah haram. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Imam Al-Asnawi. Namun pendapat yang lebih kuat menyatakan makruh. Hal itu adalah benar, namun jika terdapat unsur penghinaan terhadap orang muslim, maka hukumnya adalah haram walaupun terhadap kafir yang layak untuk dihormati (kafir dzimmi).
Dari uraian tersebut diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa hukum berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) kepada non muslim adalah diperinci sebagai berikut:
I. Jika non muslim tersebut merupakan non muslim yang mau hidup berdampingan dengan orang-orang muslim (kafir dzimmi), maka hukum turut berbela sungkawa kepadanya diperbolehkan bahkan jika bisa diharapkan keislamannya, maka hukumnya sunnah.
II. Jika non muslim tersebut tidak mau hidup berdampingan dengan orang-orang muslim (kafir Harbi), maka hukum ta’ziyah kepadanya adalah hilaf sebagai berikut:
- Sebagian Ulama’ menyatakan makruh. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Syaikh Abu Hamid.
- Sebagian Ulama’ menyatakan haram. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Al-Asnawi.
Perbedaan pendapat tersebut diatas jika tidak bisa diharapkan keislamannya serta tidak adanya unsur penghinaan terhadap orang muslim. Jika tidak demikuian, maka hukumnya sunnah. Namun jika terdapat unsur penghinaan terhadap orang muslim, maka turut berbela sungkawa (melayat, ta’ziyah) adalah haram. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Aqil Fauzan:
مَعْنَى التَّعْزِيَةِ: الْأَمْرُ بِالصَّبْرِ وَالْحَمْلُ عَلَيْهِ بِوَعْدِ الْأَجْرِ، وَالتَّحْذِيرُ مِنَ الْوِزْرِ بِالْجَزَعِ، وَالدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ بِالْمَغْفِرَةِ، وَلِلْمُصَابِ بِجَبْرِ الْمُصِيبَةِ، فَيَقُولُ فِي تَعْزِيَةِ الْمُسْلِمِ بِالْمُسْلِمِ: أَعْظَمَ اللَّهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ، وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ. وَفِي تَعْزِيَةِ الْمُسْلِمِ الْكَافِرِ: أَعْظَمَ اللَّهُ أَجْرَكَ، وَأَخْلَفَ عَلَيْكَ، أَوْ أَلْهَمَكَ الصَّبْرَ، أَوْ جَبَرَ مُصِيبَتَكَ وَنَحْوَهُ. وَفِي تَعْزِيَةِ الْكَافِرِ بِالْمُسْلِمِ: غَفَرَ اللَّهُ لِمَيِّتِكَ، وَأَحْسَنَ عَزَائَكَ. وَيَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُعَزِّيَ الذِّمِّيَّ بِقَرِيبِهِ الذِّمِّيِّ، فَيَقُولُ: أَخْلَفَ اللَّهُ عَلَيْكَ، وَلَا نَقَصَ عَدَدُكَ
روضة الطالبين وعمدة المفتين (2/ 144)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
( و ) يعزى المسلم أي يقال في تعزيته ( بالكافر ) الذمي ( أعظم الله أجرك وصبرك ) وأخلف عليك أو جبر مصيبتك أو نحو ذلك كما في الروضة كأصلها لأنه اللائق بالحال
قال أهل اللغة إذا احتمل حدوث مثل الميت أو غيره من الأموال يقال أخلف الله عليك بالهمز لأن معناه رد عليك مثل ما ذهب منك وإلا خلف عليك أي كان الله خليفة عليك من فقده
ولا يقول غفر لميتك لأن الاستغفار للكافر حرام
( و ) يعزى ( الكافر ) المحترم جوازا إلا إن رجي إسلامه فندبا أي يقال في تعزيته ( بالمسلم غفر الله لميتك وأحسن عزاءك ) وقدم الدعاء للميت في هذا لأنه لمسلم والحي كافر ولا يقال أعظم الله أجرك لأنه لا أجر له
أما الكافر غير المحترم من حربي أو مرتد كما بحثه الأذرعي فلا يعزى وهل هو حرام أو مكروه الظاهر في المهمات الأول ومقتضى كلام الشيخ أبي حامد الثاني وهو الظاهر
هذا إن لم يرج إسلامه فإن رجي استحبت كما يؤخذ من كلام السبكي
مغني المحتاج - (ج 1 / ص 355)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
(وَ) يُعَزَّى (الْكَافِرُ) إنْ احْتَرَمَ لَا كَحَرْبِيٍّ فَتَحْرُمُ تَعْزِيَتُهُ عَلَى مَا قَالَهُ الْإِسْنَوِيُّ وَاَلَّذِي يُتَّجَهُ الْكَرَاهَةُ نَعَمْ إنْ كَانَ فِيهَا تَوْقِيرُهُ حَرُمَتْ حَتَّى لِذِمِّيٍّ وَقَدْ تُسَنُّ تَعْزِيَتُهُ إنْ رُجِيَ إسْلَامُهُ (بِالْمُسْلِمِ غَفَرَ اللَّهُ لِمَيِّتِك وَأَحْسَنَ عَزَاءَك) وَتُبَاحُ تَعْزِيَةُ كَافِرٍ مُحْتَرَمٍ لِمِثْلِهِ بَلْ قَالَ الْإِسْنَوِيُّ يُتَّجَهُ نَدْبُهَا لِمَنْ تُسَنُّ عِيَادَتُهُ فَيُقَالُ لَهُ أَخْلَفَ أَوْ خَلَفَ اللَّهُ عَلَيْك وَلَا نَقَصَ عَدَدُكَ أَيْ لِتَكْثُرَ الْجِزْيَةُ بِهِمْ لِلْمُسْلِمِينَ فِي الدُّنْيَا وَالْفِدَاءُ لَهُمْ بِهِمْ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ فِيهِ دُعَاءٌ بِدَوَامِ كُفْرٍ
تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (3/ 178)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
أما الكافر غير المحترم من حربي أو مرتد كما بحثه الأذرعي فلا يعزى وهل هو حرام أو مكروه الظاهر في المهمات الأول ومقتضى كلام الشيخ أبي حامد الثاني وهو الظاهر هذا إن لم يرج إسلامه فإن رجي إسلامه استحب كما يؤخذ من كلام السبكي وأما تعزية الكافر بالكافر فهي غير مندوبة كما اقتضاه كلام الشرح والروضة بل هي جائزة إن لم يرج إسلامه وصيغتها أخلف الله عليك ولا نقص عددك لأن ذلك ينفعنا في الدنيا بكثرة الجزية وفي الآخرة بالفداء من النار
الإقناع للشربيني - (ج 1 / ص 209)
Daftar Pustaka:
- Raudlah Al Thalibin Wa ‘Umdah Al Muftin. II/ 144
- Mughni Al Muchtaj. I/ 355
- Tuchfah Al Muchtaj. III/ 178
- Al Iqna’ Li Al Syarbini. I/ 209
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1612482942298593/)

Komentar
Posting Komentar