DOC-250. Macam-macam Wathi’ Syubhat
Safrowi Ahmad
23 Januari 2015
assalamu alaikum tlong jlaskan macam wati ' subhatt beserta ibarotnya ust
=========
JAWABAN
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Tolong jelaskan macam-macam wathi’ syubhat.
Imam Abu Bakar Ibnu Sayyid Muhammad Syata Al-Dimyathi di dalam kitabnya "I’anah Al-Thalibin" berkata: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya bersetubuh (wathi’) yang tidak jelas antara kehalalan dan keharamannya (syubhat) adalah terbagi menjadi tiga. Yaitu:
I. Ketidak jelasan pelaku (syubhat al fai’l). Yaitu persetubuhan yang dilakukan dengan orang yang diduga istri atau hamba sahaya yang dimilikinya. Maka ketidak jelasan yang semacam ini tidak bisa disifati (dihukumi) dengan halal ataupun haram. Karena sesungguhnya pelaku adalah orang yang lupa. Maka ia tidak dapat dibebani tanggung jawab (mukallaf).
II. Ketidak jelasan tempat (syubhat al machal). Yaitu persetubuhan yang dilakukan dengan hamba sahaya yang dimiliki secara kolektif. Maka ketidak jelasan semacam ini adalah haram.
III. Ketidak jelasan cara (syubhat al thariq). Yaitu sesuatu yang dinyatakan sah oleh orang yang berilmu (alim), namun yang dianggap (berlaku) adalah perlawanannya. Jika mengikuti pendapat yang menghalalkan, maka hukumnya adalah tidak haram. Namun jika mengikuti pendapat yang menyatakan ketidak afsahannya, maka hukumnya adalah haram.
Hal senada dengan redaksi yang sedikit berbeda juga dipaparkan oleh Imam Syamsuddin; Muhammad bin Ahmad Al-Khatib Al-Syarbini Al-Syafi’i di dalam kitabnya "Mughni Al-Muhtaj". Dan beliau mencontohkan pembagian yang ketiga (syubhat al thariq, jihhat) adalah persetubuhan dengan pernikahan tanpa wali.
Imam Abdurrahman Al Juzairi juga mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i yang menyatakan bahwa persetubuhan yang tidak jelas antara kehalalan dan keharamanya (syubhat) mewajibkan untuk membayar mas kawin (mahar mitsil). Seperti persetubuhan orang yang menduga bahwa wanita yang sedang tidur adalah istrinya. Maka ia menyetubuhinya dan wanita tersebut juga tidak mengetahuinya. Maka wajib baginya untuk mendapat mas kawin (mahar). Namun jika wanita tersebut merasa dan ia pun tahu, maka ia adalah wanita yang telah melakukan perzinahan dan wajib untuk di had. Al Juzairi juga menyatakan bahwa Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i membagi persetubuhan yang tidak jelas antara kehalalan dan keharamannya (syubhat) yang mengugurkan had namun ditetapkan mas kawin (mahar) menjadi empat bagian. Yaitu:
I. Ketidak jelasan pelaku (syubhat al fai’l). Yaitu persetubuhan yang dilakukan dengan wanita yang diduga istri atau hamba sahaya yang dimilikinya. Maka perbuatan yang semacam ini tidak bisa disifati (dihukumi) dengan halal ataupun haram. Karena sesungguhnya pelaku adalah orang tidak dapat dibebani tanggung jawab (tidak mukallaf). Karena dilakukan oleh orang yang lupa. Dan ketika beban tanggung jawab (mukallaf) telah tiada, maka mensifati sebuah pekerjaan dengan halal atau haram juga telah tiada.
II. Ketidak jelasan kepemilikan (syubhat al milki). Yaitu persetubuhan yang dilakukan dengan hamba sahaya yang dimiliki secara kolektif antara dirinya dan orang lain. Atau persetubuhan dengan hamba yang sebagian statusnya adalah hamba sahaya namun sebagian yang lain adalah orang merdeka (mukatab). Maka sesungguhnya tidak diperbolehkan menyetubuhinya. Namun jika tidak mengerti bahwa hal itu diharamkan, kemudian ia melakukannya, maka wajib untuk di had. Namun pekerjaan semacam ini adalah disifati (dihukumi) haram. Sebab selama diketahui bahwa kepemilikan adalah tidak murni, maka wajib baginya untuk memilih mana yang lebih pantas dan patut jika ia adalah orang yang tidak mengerti (bodoh).
III. Ketidak jelasan cara (syubhat al thariq). Yaitu melakukan sesuatu yang tidak jelas kehalalannya disebabkan adanya pernyataan orang yang berilmu yang boleh untuk diikuti. Seperti halnya menikahi wanita tanpa wali dan saksi serta menyetubuhinya dengan berpijak kepada pendapat yang telah dikemukakan oleh Imam Abu Dawud Al Dhahiri. Jika bertkalid kepadanya, maka tidak dihukumi haram juga tidak dihukumi halal. Jika tidak bertaklid kepadanya, maka hukumnya adalah haram.
IV. Ketidak jelasan tempat (syubhat al machal). Yaitu persetubuhan dengan wanita yang tidak jelas kehalalannya. Seperti bersetubuh dengan hamba sahaya yang dimiliki bapaknya. Atau bapaknya menyetubuhi hamba sahaya yang dimilikinya. Maka yang semacam ini adalah haram.
Itulah macam-macam atau pembagian wathi’ subhat dari beberapa literatur Fiqh. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
(واعلم) أن الشبهة تنقسم ثلاثة أقسام القسم الأول شبهة الفاعل، وهي كمن وطئ على ظن الزوجية أو الملكية.
والقسم الثاني: شبهة المحل وهي كمن وطئ الأمة المشتركة.
والقسم الثالث: شبهة الطريق وهي التي يقول بها عالم يعتد بخلافه.
والأول لا يتصف بحل ولا حرمة لأن فاعله غافل وهو غير مكلف.
والثاني حرام.
والثالث إن قلد القائل بالحل لا حرمة وإلا حرم
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (3/ 337)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
لَكِنَّ الشُّبْهَةَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ: شُبْهَةُ فَاعِلٍ كَأَنْ يَكُونَ جَاهِلًا، وَشُبْهَةُ مَحَلٍّ كَظَنٍّ أَنَّهَا زَوْجَتُهُ، وَشُبْهَةُ جِهَةٍ كَالنِّكَاحِ بِلَا وَلِيٍّ، وَاَلَّذِي لَا يُوصَفُ بِحِلٍّ وَلَا حُرْمَةٍ هُوَ الْقِسْمُ الْأَوَّلُ.
مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج (5/ 442)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
(الشافعية - قالوا: الوطء بشبهة يجب فيه مهر المثل، فمن ظن في نائمة أنها زوجته فوطئها وهي لا تدري ثبت لها مهر مثلها، أما إذا أحست به وعلمت فإنها تكون زانية يجب عليها الحد.
وقد قسم الشافعية الشبهة التي تدرأ الحد ويتقرر بها مهر المثل إلى أربعة أقسام: شبهة الفاعل وهي ما إذا وطئ امرأة وهو يظن أنها زوجته، أو أمته، ثم تبين غير ذلك، وهذا الفعل لا يتصف بحل، ولا حرمة، وذلك لأن فاعله غير مكلف، لأن الفعل صدر عنه وهو غافل. ومتى انتفى تكليفه انتفى وصف فعله بالحل والحرمة. الثانية: شبهة الملك، وهي إذا ما وطئ الأمة المشتركة بينه وبين غيره أو وطئ مكاتبته، فإنه لا يجوز وطئها، ولكنه إذا جهل التحريم ووطئ لشبهة الملك رفع عنه الحد، ويوصف فعله في هذه الحالة بالحرمة، لأنه ما دام علم أن ملكه غير خالص فيجب عليه أن يتحرى إن كان جاهلاً. الثالثة: شبهة الطريق، وهي ما إذا فعل لشبهة الحل بقول عالم يصح تقليده، وذلك كما إذا تزوج امرأة بلا ولي ولا شهود ووطئها بناء على ما ذهب إليه داود الظاهري من صحة ذلك، فإن قلده فلا حرمة، ولا حل وإن لم يقلده حرم عليه. الرابعة: شبهة المحل، وهي ما إذا اشتبه في حل الموطوءة له، كما إذا وطئ جارية أبيه أو وطئ أبوه جاريته، وهذا الوطء حرام لأن لا يصح الإقدام عليه مع الشك في الملك.
الفقه على المذاهب الأربعة (4/ 112)
Daftar Pustaka:
- I’anah Al-Thalibin. III/ 2337
- Mughni Al-Muhtaj. V/ 442
- Al-Fiqh ‘Ala Madzahib Al-Arba’ah. IV/ 112
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1581708832042671/?hc_location=ufi)

Komentar
Posting Komentar