DOC-253. Tentang Istri Yang Tidak Mendapatkan Nafkah Dari Suami


 

Mety Rokhmawatin
10 Juli 2014 pukul 3:12


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
saya ingin bertanya...?
Jika seorang istri membantu seorang suami u/ mencari nafkah dan kemudian gaji sang istri lebih besar dr pada suami. Kemudian sang suami tidak memberikan nafkah lagi kepada sang istri dikarenakan tau kalo gaji sang istri lebih darinya bagaimanakah hukumnya ustad ??
Terimakasih sy sampaikan

 

=========


JAWABAN

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum seorang suami yang tidak memberikan nafkah kepada istrinya dikarenakan kondisi istri lebih mapan dari suami karena memiliki gaji yang lebih besar?


     Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi didalam kitabnya Al-Bajuri menuturkan bahwa jika seorang suami tidak mampu memberikan nafkah kepada istrinya (mu’sir), maka diperbolehkan bagi istri untuk memilih antara bersabar dengan kondisi tersebut dan menafkahi diri menggunakan uang pribadinya dengan menghutangkannya kepada suami (sebatas nafkah yang wajib atas suami). Namun jika penggunaan uang pribadi (istri) tersebut melebihi batas kewajiban nafkah suami, maka hal itu (sesuatu yang melebihi batas kewajiban) tidak bisa dibebankan kepada suami. (Dan) jika tidak sabar, maka diperbolehkan bagi istri untuk merusak pernikahan (fasakh) dengan mengadukan kepada hakim.

     Imam Taqiyuddin Al-Hishni didalam kitabnya "Kifayah Al Akhyar" juga menambahkan jika suami adalah orang yang mampu memberikan nafkah (mutawassit, musir) namun ia hanya memberikan nafkah sebagaimana nafkah orang yang tidak mampu (mu’sir), maka istri tidak diperbolehkan untuk merusak pernikahan (fasakh) dan nafkah yang tersisa (yang tidak diberikan) adalah menjadi beban hutang atas suami. Demikian juga suami yang mampu bekerja namun tidak memberikan nafkah kepada istri. Maka menurut pendapat yang lebih autentik (ashah), istri tidak boleh merusak pernikahan. Baik suami berada bersamanya atau pergi. Adapun suami yang tidak mampu memberikan pakean adalah sama dengan suami yang tidak mampu memberikan nafkah. Demikian juga suami yang tidak mampu memberikan tempat tinggal. Lalu apakah istri diperbolehkan merusak pernikahan karena suami tidak mampu memenuhi kebutuhan bumbu dan lauk pauk?. Maka dalam hal ini Ulama’ berbeda pandangan sebagaimana uraian berikut:

  • Pendapat yang lebih autentik (ashah) menurut Imam Al Rafi’i menyatakan bahwa jika suami tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan bumbu dan lauk pauk, maka diperbolehkan bagi istri untuk merusak pernikahan (fasakh).
  • Sedang pendapat yang lebih autentik (ashah) menurut Imam Nawawi menyatakan bahwa jika suami tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan bumbu dan lauk pauk, maka tidak diperbolehkan bagi istri untuk merusak pernikahan (fasakh). Karena bumbu dan lauk pauk bukan termasuk hal yang sangat dibutuhkan.

     Berdasar ulasan tersebut diatas, dapat diketahui bahwa kondisi istri yang lebih mapan dari suami tidak menggugurkan kewajiban suami untuk memberikan nafkah kepada istri. Dan ketika seorang suami tidak memberikan nafkah kepada istri karena gaji istri lebih besar daripada suami, maka hukumnya diperinci sebagai berikut:

I. Jika suami adalah orang yang tidak mampu untuk memberikan nafkah (mu’sir), maka istri boleh untuk memilih antara bersabar dalam kondisi tersebut dan menggunakan uang pribadinya untuk memenuhi kebutuhannya dengan menghutangkannya kepada suami (sebatas nafkah yang wajib). Atau merusak pernikahan dengan mengajukan kepada hakim (fasakh).

II. Jika suami adalah orang yang mampu memberikan nafkah (mutawassit, musir), namun ia tidak memberikan nafkah, maka istri tidak diperbolehkan untuk merusak pernikahan dengan mengajukan kepada hakim (fasakh). Dan ia bisa menuntut nafkah dari suami melalui pengadilan agama (Hakim)
.

CATATAN:

     Imam Abdurrahman Al Juzairi mengkategorikan orang yang tidak mampu memberikan nafkah (mu’sir) adalah orang yang tidak memiliki harta sama sekali atau memiliki harta namun tidak mencukupi. Oleh karnanya, ketika harta yang miliki sampai pada tahun yang mana pada usia tersebut umumnya seseorang masih hidup (63 tahun), maka ia dikategorikan sebagai orang yang tidak mampu (mu’sir) jika harta tersebut tidak mencukupi dalam satu tahun setelah dibagi dengan kebutuhannya dan orang-orang yang wajib dinafkahinya. Dan jika harta yang dimilikinya mencukupi setelah dibagi dengan kebutuhannya dan orang-orang yang wajib dinafkahinya, maka ia tidak lagi dikategorikan sebagai orang yang tidak mampu (mu’sir), melainkan orang yang sedang (mutawassit). Dan wajib baginya untuk memenuhi satu setengah mud / hari. Dan jika lebih dari pada itu, maka ia dikategorikan sebagai orang yang mampu (musir) dan wajib baginya untuk memenuhi dua mud / hari. Wallahu a'lam bis shawab.


Dasar pengambilan (1) oleh  Al-Ustadz Ibnu Malik:


فلها الصبر على اعساره) اشاربذالك الى ان محل قول المصنف فلها فسخ النكاح اذا لم تصبر فهي مخيرة بين الصبر والفسخ وقوله وتنفق على نفسها من مالها او تقترض اي وتنفق على نفسها مما اقترضه وعبارة الشيخ الخاطيب وتنفق على نفسها من مالها او مما اقترضته وهي اسبك من عبارة الشارح (قوله ويصبر ما انفقته دينا عليه)........الى ان قال.
الباجوري -2 – 194

Dasar pengambilan (2) oleh  Al-Ustadz Mbah Sanidin:

( فرع ) لو لم يعطها الموسر إلا نفقة المعسر فلا فسخ ويصير الباقي دينا عليه والقادر على الكسب إذا امتنع من الانفاق عليها فهو كالموسر إذا امتنع والأصح أنها لا تفسخ إذا منع الموسر النفقة سواء كان حاضرا أو غائبا والإعسار بالكسوة كالإعسار بالنفقة وكذا الإعسار بالمسكن وهل لها أن تفسخ بالعجز عن الأدم فيه خلاف الأصح عند الرافعي نعم والأصح عند النووي لا فسخ لانه غير ضروري والله أعلم
كفاية الأخيار - (ج 1 / ص 445)

Dasar pengambilan (3) oleh  Al-Ustadz Brojol Gemblung:

ومحل هذا إذا ترك لها نفقة فإن لم يترك لها نفقة أصلا فلا حاجة إليه كما هو ظاهر، وقوله بعدم ترك النفقة: أي وبعدم وجود مال (قوله: وفسخت بشروطه) أي الفسخ وهي ملازمتها للمسكن وعدم صدور نشوز منها وحلفها عليهما (قوله: وإن علم المال) مقابل قوله فإن لم يعلم المال أحد (قوله: فلا بد من بينة بفراغه) أي فلا بد في فسخها بالاعسار من بينة تشهد بفراغ المال المودع عندها، وقوله أيضا: أي كما أنه لا بد من بينة على الاعسار ومن حلفها على أنه لا مال له حاضر ولا ترك نفقة مستقبله (قوله: فلا فسخ الخ) وذلك لانتفاء الاعسار المثبت للفسخ وهي متمكنة من خلاص حقها في الحاضر بالحاكم بأن يلزمه بالحبس وغيره وفي الغائب يبعث الحاكم إلى قاضي بلده (قوله: على المعتمد) لا يلائمه التقييد بقوله بعد إن لم ينقطع خبره لانه المعتمد عدم الفسخ مطلقا انقطع خبره أو لا، فالصواب إسقاطه (قوله: بامتناع غيره) أي غير من أعسر بأقل النفقة أو أقل الكسوة أو بالمسكن أو بالصداق بشروطه، وهو صادق بالموسر والمتوسط والمعسر القادر على نفقة المعسرين، فقوله بعد موسرا أو متوسطا: أي أو معسرا قادرا على ما ذكر (قوله: من الانفاق) متعلق بامتناع: أي فلا فسخ بامتناعه من الانفاق:
أي أو الكسوة أو المسكن أو المهر ومثله امتناع القادر على الكسب من الاكتساب فيجبره الحاكم على الاكتساب (قوله: حضر أو غاب)
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (4/ 102)

Dasar pengambilan (4) oleh  Al-Ustadz Ibnu Malik:

فإن كان موسرا أو متوسطا أو معسرا قادرا على نفقة المعسرين ولكنه امتنع عن الإنفاق عليها فلا فسخ لأنها يمكنها أن تأخذ نفقتها منه جبرا بالقضاء
الفقه على المذاهب الأربعة - (ج 4 / ص 282)

Dasar pengambilan (5) oleh  Al-Ustadz Abdulloh Salam:

وحد العسر هو من لا مال له أصلا أو له مال ولكن لا يكفيه لو وزع على عمره الذي يعيش إليه غالبا فإن وصل إلى السن الذي يعيش فيه أمثاله غالبا فإنه يكون معسرا إذا لم يكفه سنة مثلا يوزع ما يملكه عليه هو ومن تلزمه نفقاته كل يوم فإن زاد عنده مد ونصف لم يكن معسرا بل متوسطا فيقضى لها بمد ونصف وكذا إذا زاد عنده بعد التكاليف مدان فإنه يكون موسرا
الفقه على المذاهب الأربعة - (ج 4 / ص 265)


Daftar Pustaka:

  1. Al Bajuri. II/ 194
  2. Kifayah Al Akhyar. I/ 445
  3. I’anah Al Thalibin. IV/ 102
  4. Al Fiqh ‘Ala Madzahib Al Arba’ah. IV/ 282
  5. Al Fiqh ‘Ala Madzahib Al Arba’ah. IV/ 265

=========


MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam

PERUMUS: Ibnu Malik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama