DOC-258. Hukum Memanggang Ayam Yang Masih Utuh
Masyruch El Basyirah
4 Mei 2015 pukul 7:49
Assalamu'alaikum.
Kepada segenap anggota musyawirin MTTM tanpa terkecuali yang dirahmati Allah, mohon pencerahan sekaligus lampiran ibarotnya untuk beberapa masalah dibawah ini:
1. Bagaimana hukumnya memanggang ayam yang masih utuh (setelah disembelih) yang belum disucikan dan tidak dibuang kotorannya?
2. Bagaimana hukumnya memanggang ayam yang sudah dibelah dan dipotong-potong serta dibuang kotorannya namun masih berlumuran darah?
3. Bagaimana hukumnya merendam ayam dalam air panas sehingga menjadi seperti setengah matang sementara masih ada kotoran dan darahnya?
Atas jawaban, pencerahan dan lampiran ibarotnya dihaturkan jazakumullah ahsanal jaza'.
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
- Bagaimana hukumnya memanggang ayam yang masih utuh (setelah disembelih) yang belum disucikan dan tidak dibuang kotorannya?
- Bagaimana hukumnya memanggang ayam yang sudah dibelah dan dipotong-potong serta dibuang kotorannya namun masih berlumuran darah?
- Bagaimana hukumnya merendam ayam dalam air panas sehingga menjadi seperti setengah matang sementara masih ada kotoran dan darahnya?
I. Imam Abdurrahman Ibnu Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi mengurai tentang perbedaan antara al dukhan dan al bukhur yang sama-sama memiliki arti uap. Beliau menyatakan bahwa uap (al dukhan) yang najis adalah uap yang terpisah dengan perantara api. Sedang uap (al bukhur) yang najis adalah uap yang terpisah tidak dengan perantara api. Pendapat ini dikemukakan oleh Al Syaikh Zakariya. Ba’alawi juga mengutip pernyataan Imam Abu Makhramah yang menyatakan bahwa keduanya adalah memiliki satu arti. Maka uap yang terpisah dengan perantara api adalah najis, sedang uap yang terpisah tidak dengan perantara api adalah tidak najis (suci). Sedang bara apinya adalah suci secara pasti.
II. Imam Muhammad Ibnu ‘Amr Ibnu Ali Ibnu Nawawi Al-Jawi; Abu Abdul Mu’thi didalam kitabnya Nihayah Al Zain juga menjelaskan bahwa inti dari permasalahan darah adalah diperinci sebagaimana berikut:
- Jika darah tersebut berasal dari dirinya sendiri dan menurut pandangan umum terbilang sedikit, maka hukumnya dima’afkan (ma’fu) dengan syarat tidak bercampur dengan yang lain yang tidak dibutuhkan. Dan apabila menurut pandangan umum terbilang banyak, maka juga dima’afkan (ma’fu) dengan syarat keberadaan darah tidak dikarenakan akibat dari sebuah aktifitas, tidak bercampur dengan sesuatu yang lain dan tidak melampaui dari tempatnya mengalir, juga tidak berpindah ketempat lain.
- Apabila darah tersebut tidak berasal dari dirinya sendiri, maka juga dima’afkan (ma’fu) dengan syarat menurut pandangan umum terbilang sedikit, tidak berlumuran, bukan dari najis berat (mughalladhah) dan tidak tercampur dengan yang lain.
Abu Abdul Mu’thi menjelaskan bahwa perincian sebagaimana tersebut diatas adalah jika keberadaan darah dapat terlihat oleh mata yang normal. Apabila keberadaan darah tidak terlihat, maka hukumnya dima’afkan (ma’fu) secara mutlak. Bahkan walaupun tergolong najis berat (mughalladhah) dan walaupun tercampur dengan yang lain. Adapun nanah adalah air yang lembut yang bercampur dengan darah sebelum menebal. Dan hukum nanah adalah sebagaimana darah dalam perincian seperti tersebut diatas. Sebab nanah adalah darah yang telah rusak dan membusuk. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ikan asin adalah ikan yang telah ditaburi dengan garam yang sebagian dari ikan tersebut telah merata dengan najis yang terlihat (‘ain) yang tidak dapat disucikan dengan cara dibasuh. Karena telah tercampur dengan nanahnya hewan lain. Hal tersebut (tidak bisa suci dengan dibasuh) adalah berlaku pada selain lapisan atau bagian atas ikan. Sedangkan lapisan atau bagian atas adalah suci. Dan ini juga berlaku jika ikan asin tersebut diratakan didalam sebuah bejana (wadah). Berbeda jika diratakan ditanah yang digali. Maka hukumnya adalah suci. Karena nanah akan meresap kedalam tanah. Demikian juga jika ikan disembelih dalam kondisi masih hidup kemudian diasinkan. Maka hukumnya juga suci. Karena proses penyembelihan telah menghilangkan darah. Dan jika ikan tersebut disendirikan (tidak dicampur dengan ikan lain), maka hukumnya juga suci. Ini adalah hukumnya nanah. Adapun hukum kotoran, maka dima’afkan (ma’fu) jika dari ikan kecil namun tidak dima'afkan jika dari ikan yang besar. Maka ikan yang besar yang isi perutnya tidak dikeluarkan adalah tidak boleh dikonsumsi. Pendapat ini merupakan pendapat yang telah dikutip oleh Imam Al Wanna’i dari Imam Ibnu Chajar. Dan indikasinya, ikan tersebut menjadi najis yang terlihat (najis ‘ain). Karena dagingnya telah tercampur dengan kotoran yang terdapat didalam perutnya dengan perantara garam. Secara implisit, jika tidak ditemukan garam, maka boleh mengkonsumsinya. Dan mengecualikan jenis hewan yang bertelur, maka hukumnya adalah suci. Sebab antara daging dan kotoran terdapat penghalang. Jika kotoran tersebut dikeluarkan setelah dibedah, maka tidak akan sampai pada telur namun akan sampai pada daging dan bercampur.
III. Didalam kitab karyanya Qurrah Al ‘Ain, Syaikh Isma’il pernah ditanya tentang seseorang yang menyembelih seekor ayam kemudian diletakkan didalam sebuah kuali yang didalamnya terdapat air yang mendidih sebelum dikeluarkan kotoran dan darahnya juga yang lain. Apakah segala sesuatu yang terdapat didalam kuali baik air dan ayam menjadi najis (mutanajjis)?
Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya meletakkan seekor ayam sebelum dibelah pada bagian perutnya lalu dikeluarkan kotorannya juga yang lain disebuah kuali yang berisi air mendidih, maka jika air yang terdapat didalam kuali tersebut berhubungan dengan sesuatu (kotoran) yang terdapat didalam perut ayam, hukumnya menjadi najis. Demikian pula ayamnya, maka hukumnya juga menjadi terkena najis (mutanajjis). Namun jika air yang terdapat didalam kuali tersebut tidak berhubungan dengan sesuatu (kotoran) yang terdapat didalam perut ayam melalui lubang yang ada, maka air tidak menjadi najis. Demikian pula dengan ayamnya. Maka tidak pula menjadi terkena najis (mutanajjis). Seperti halnya meletakkan sebuah kendi yang ditutupi yang didalamnya terdapat najis kedalam air yang debitnya sedikit. Maka kendi tersebut tidak menyebabkan air menjadi najis.”
Imam Nawawi juga menyatakan: “Jika najis mengenai sesuatu yang mengkilat seperti pedang, pisau dan cermin, maka tidak bisa suci dengan hanya diusab menurut kami (Ulama’ madzhab Syafi’i). melainkan wajib untuk dibasuh. Dan jika sebuah pedang disiram dengan air najis untuk kemudian dibasuh, maka sisi yang tampak (dhahir) dari pedang tersebut adalah suci. Apakah sisi yang tidak tampak (batin) dari pedang tersebut juga dihukumi suci dengan hanya dibasuh atau harus dengan menyiram lagi dengan air suci? Maka dalam hal ini ada dua pendapat. Dan jika daging direbus dengan air yang najis, maka sisi yang tampak (dhahir) dari daging tersebut menjadi terkena najis (mutanajjis). Dan cara mensucikannya adalah hilaf sebagaimana berikut:
- Sebagian Ulama’ menyatakan bahwa cara mensucikannya adalah dengan cara dibasuh lalu diperas.
- Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa cara mensucikannya adalah dengan cara direbus dengan air yang suci.
- Imam Al Qadli Chusain dan Imam Al Mutawali menyatakan bahwa dalam dua permasalahan tersebut diatas (pisau dan daging), cara mensucikannya adalah dengan disiram lalu direbus.
- Imam Al Syasi menyatakan bahwa cara mensucikannya adalah cukup dengan dibasuh.”
KESIMPULAN:
1) Jika diyakini bahwa najis (darah atau kotoran) yang mengenai daging adalah dari uap yang dihasilkan dari proses pembakaran, atau karena proses perebusan, maka daging dihukumi terkena najis (mutanajjis)
2) Jika daging telah diyakini terkena najis (mutanajjis), maka cara mensucikannya adalah hilaf sebagaimana berikut:
- Sebagian Ulama’ menyatakan bahwa cara mensucikannya adalah dengan cara dibasuh lalu diperas.
- Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa cara mensucikannya adalah dengan cara direbus dengan air yang suci.
- Imam Al Qadli Chusain dan Imam Al Mutawali menyatakan bahwa cara mensucikannya adalah dengan disiram lalu direbus. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
(مسألة ب) الفرق بين دخان النجاسة و بخارها ان الاول انفصل بواسطة النار والثانى لا بواسطتها قاله الشيخ زكريا و قال ابو مخرمة هما مترادفان فما انفصل بواسطة نار فنجس و ما لا فلا اما نفس الشعلة اى لسان النار فطاهرة قطعا حتى لو اقتبس منها فى شمعة لم يحكم بنجاستها . إهـ
بغية المسترشدين ص13
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
وحاصل مسألة الدم تفصيل فإن كان من نفسه وكان قليلا عرفا عفى عنه بشرط أن لا يختلط بأجنبي لم تمس الحاجة إليه فإن كان كثيرا عرفا عفى عنه بشرط أن لا يكون بفعل فاعل وأن لا يختلط بأجنبي وأن لا يجاوز محله وهو ما يغلب إليه السيلان من البدن وما يقابله من الثوب وأن لا ينتقل من المحل الذي استقر فيه عند خروجه وإن كان من غيره عفى عنه بشروط أن يكون قليلا وأن لا يعصى بالتضمخ به كأن تضمخ به لغير غرض وأن لا يكون من مغلظ وأن لا يختلط بأجنبي وهذا التفصيل إذا كان الدم يدركه الطرف فإن كان لا يدركه الطرف المعتدل عفى عنه مطلقا ولو من مغلظ ولو اختلط بأجنبي والصديد وهو ماء رقيق مختلط بالدم قبل أن يغلظ والقيح كالدم فيما ذكر لكونه دما مستحيلا إلى نتن وفساد واعلم أن الفسيخ وهو ما ملح من سمك وطبق بعضه على بعض نجس نجاسة العين لا يطهر بالغسل لاختلاط أجزائه بصديد أجنبي وذلك في غير الطبقة العليا أما هي فطاهرة وهذا إذا طبق في إناء بخلاف ما إذا جعل في أرض محفورة فإنه طاهر لأن الصديد يغور في الأرض وكذا إذا ذبح السمك حال حياته وجعل فسيخا فإنه طاهر لأن التذكية تزيل الدم أما إذا أفرد السمك عن غيره فطاهر هذا حكم الصديد وأما حكم الروث فيعفى عنه في السمك الصغير دون الكبير فلا يجوز أكله إذا لم ينزع ما في جوفه لامتزاج لحمه بفضلاته التي في باطنه بواسطة الملح ويستثنى البطروخ فطاهر لأن بينه وبين الفضلات حائلا فإن ظرف الروث إذا انكسر لا يصل ذلك الروث إلى البطروخ ووصل إلى اللحم وامتزج به والله أعلم.
( قوله بصديد اجنبى ) اى فإنه يتجمد ويغلظ بخلاف البول إذا طبخ به اللحم ولذا قال بعض العلماء " الف سيخ على عين من قال بحل الفسيح إهـ والظاهر أنه لا فرق بين السمك الكبير والصغير. قوله ( فلا يجوز اكله إلخ ) هذا مانقله الونائى عن ابن حجر ومفهومه أنه صار نجس العين قوله ( بواسطة الملح ظاهره لو لم يوجد الملح جاز اكله إهـ.
نهاية الزين ص: 43
(Link Sumber: http://lm.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fpustaka.islamnet.web.id%2FBahtsul_Masaail%2FBahtsul%2520Masaail%2520AR%2F01%2FHukum%2520Memanggang%2520Ayam%2520Yang%2520Masih%2520Utuh.htm&h=dAQEPKoaT&s=1)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
سؤال ما لكم فى رجل ذبح الدجاجة ثم وضعها فى قدر فيه ماء مغلى قبل واخرج ما فيه من الروث والدم وغيرها من النجاسات فهل يصير كل ما فى القدر من الماء والدجاجة متنجسا أولا؟
الجواب : والله الموفق رجل ذبح الصواب : أنه متى كان الحال ما ذكر من وضع الدجاجة قبل شق جوفها وإخراج ما فيه من روث ونحوه فإن الماء إذا اتصل بما فى جوفها من الروث يكون متنجسا وتكون هي حينئذ متنجسة، وأما إذا لم يصل الماء إلى جوفها من أي منفذ كان فلا ينجس الماء ولا تنجس الدجاجة المذكورة كما لو وضع كوز محكم الغطاء وفى باطنه نجاسة فى ماء قليل فإنه لا ينجسه.
والله سبحانه وتعالى أعلم
قرة العين بفتاوي إسماعيل
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
قُلْتُ: إِذَا أَصَابَتِ النَّجَاسَةُ شَيْئًا صَقِيلًا، كَسَيْفٍ، وَسِكِّينٍ، وَمِرْآةٍ، لَمْ يَطْهُرْ بِالْمَسْحِ عِنْدَنَا، بَلْ لَا بُدَّ مِنْ غَسْلِهَا. وَلَوْ سُقِيَتْ سِكِّينٌ مَاءً نَجِسًا، ثُمَّ غَسَلَهَا، طَهُرَ ظَاهِرُهَا. وَهَلْ يَطْهُرُ بَاطِنُهَا بِمُجَرَّدِ الْغَسْلِ، أَمْ لَا يَطْهُرُ حَتَّى يَسْقِيَهَا مَرَّةً ثَانِيَةً بِمَاءٍ طَهُورٍ؟ وَجْهَانِ.
وَلَوْ طُبِخَ لَحْمٌ بِمَاءٍ نَجِسٍ، صَارَ ظَاهِرُهُ وَبَاطِنُهُ نَجِسًا، وَفِي كَيْفِيَّةِ طَهَارَتِهِ وَجْهَانِ. أَحَدُهُمَا: يُغْسَلُ ثُمَّ يُعْصَرُ، كَالْبِسَاطِ. وَالثَّانِي: يُشْتَرَطُ أَنْ يُغْلَى بِمَاءٍ طَهُورٍ.
وَقَطَعَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ، وَالْمُتَوَلِّي، فِي مَسْأَلَتَيِ السِّكِّينِ وَاللَّحْمِ: بِأَنَّهُ يَجِبُ سَقْيُهَا مَرَّةً ثَانِيَةً وَإِغْلَاؤُهُ. وَاخْتَارَ الشَّاشِيُّ الِاكْتِفَاءَ بِالْغَسْلِ، وَهُوَ الْمَنْصُوصُ.
روضة الطالبين وعمدة المفتين (1/ 30)
Daftar Pustaka:
- Bughyah Al-Mustarsyidin. 13
- Nihayah Al-Zain. 43
- Qurrah Al-‘Ain.
- Raudlah Al-Thalibin Wa ‘Umdah Al-Muftin. I/ 30
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik
(Link Diskusi: https://m.facebook.com/groups/1437298433150379?view=permalink&id=1617816618431892&comment_id=1618293341717553&offset=0&total_comments=18&_rdr)

Komentar
Posting Komentar