DOC-260. Kondisi Di Perbolehkan Bagi Laki-laki Mengenakan Sutera
Anton Cokerz
26 Desember 2014 pukul 19:01
Assalamu alaikum
pakai sutra haram bagi laki-laki
dalam kondisi apakah yang di perbolehkan pakai sutera bagi laki-laki???
Ibarotnya di tampilkan
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Dalam kondisi apakah laki-laki diperbolehkan mengenakan sutera?
Syaikh Zainuddin Ibnu Abdu Al Aziz Al Malibary menuturkan bahwa tidak diperbolehkan melaksanakan shalat dengan kondisi tidak mengenakan busana (telanjang) beserta adanya sutera. Maka kenakanlah sutera yang ada, sebab hal itu (mengenakan sutera) adalah diperbolehkan karena adanya kebutuhan yang mendesak (hajat). Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata Al-Dimyathi memperkuat uraian tersebut dengan menyatakan bahwa sesungguhnya diperbolehkan bagi laki-laki untuk mengenakan sutera karena adanya kebutuhan yang mendesak. Dan diantara kebutuhan yang mendesak (hajat) adalah menutup aurat guna melaksanakan shalat. Maka laksanakanlah shalat dengan mengenakan sutera.
Imam Abdurrahman Al-Jaziri didalam kitab karyanya "Madzahib Al-Arba’ah" mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i yang menyatakan bahwa haram bagi laki-laki mengenakan sutera. Mereka juga menyebutkan dua jenis sutera sebagaimana berikut:
- Sutera Ibraisim. Yaitu sesuatu yang keluar dari ulat sutera setelah ia mati didalamnya.
- Sutera Al Qaz. Yaitu sesuatu yang diambil dari ulat sutera yang mana sesuatu tersebut akan mengeluarkan seekor ular.
Maka sutera adalah meliputi kedua jenis tersebut dan keduanya diharamkan bagi laki-laki untuk mengenakannya kecuali dalam situasi dan kondisi tertentu yang akan kami ulas kemudian. Maka tidak diperbolehkan bagi laki-laki untuk duduk dengan beralaskan sutera. (Dan) juga tidak diperbolehkan bersandar pada sutera tanpa adanya penghalang. Adapun jika dengan penghalang seperti dengan menghamparkan seprei diatas sutera, maka halal (boleh) duduk diatasnya. Sedang mengenakan sutera, jika sutera tersebut dilapisi dengan kain yang terbuat dari kapas atau kain wool atau yang lain, maka hukumnya adalah halal (boleh) jika keberadaan kain yang terbuat dari kapas atau kain wool tersebut mengelilingi sutera. Demikian juga jika keberadaan sutera mengelilingi kain yang lain. Maka sesungguhnya boleh mengenakan sutera ketika dilapisi dengan kain yang lain. Sebab sutera yang semacam itu adalah sebagai bahan pengisi untuk kain yang lain dan hukumnya adalah boleh.
Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i (tandas Al Juzairi) juga menyatakan bahwa halal (boleh) bagi laki-laki mengenakan sutera dalam kondisi darurat atau karena adanya kebutuhan yang mendesak (hajat). Maka boleh mengenakan sutera agar terhindar dari penyakit kudis atau agar terhindar dari kutu. Dan untuk menutupi aurat karena hendak melaksanakan shalat. Atau agar terhindar dari pandangan orang lain jika memang tidak ditemukan kain yang lain. Namun jika ditemukan kain yang lain, maka hukum menggunakannya adalah haram. Juga halal (boleh) bagi laki-laki mengenakan pakean yang sebagian terbuat dari sutera sedang sebagian yang lain terbuat dari kain yang terbuat dari kapas atau kain katun atau kain wool atau yang lain dengana ketentuan kadar sutera sama atau lebih sedikit dari kain yang lain. Jika kadar sutera lebih banyak, maka hukumnya adalah haram.
Dari uraian tersebut diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa diperbolehkan bagi laki-laki mengenakan sutera dengan ketentuan sebagai barikut:
I. Dalam kondisi darurat
II. Adanya kebutuhan yang mendesak (hajat)
III. Sutera dilapisi kain yang lain
IV. Kadar sutera lebih sedikit atau sama dari kain yang lain Wallahu ‘alam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
ولا يصلي عاريا مع وجود حرير بل لابسا له لأنه يباح للحاجة ويلزم التطيين لو عدم الثوب أو نحوه.
فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (ص: 86)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Abdulloh Salam:
(قوله: ولا يصلي عاريا الخ) أي ولا يصلي حال كونه عاريا مع وجود ثوب حرير، بل يصلي حال كونه لابسا له.
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (1/ 134)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ali Yasin Al-manduri:
الشافعية - قالوا : يحرم على الرجال لباس الحرير وهونوعان نوع يسمى إبريسما وهو الحرير الذي يخرج من الدودة بعد أن تموت فيه . ونوع يسمى قزا وهوما يؤخذ من الدودة وتخرج منه حية فالحرير يعم الاثنين وهما محرمان على الرجال لبسا واستعمالا إلا في أحوال ستذكر بعد فلا يجوز للرجال أن يجلسوا على الحرير ولا أن يسندوا إليه من غير حائل أما إذا كان بحائل كأن فرش فوق الحرير ملاءة من قطن ونحوه فإنه يحل الجلوس عليه ولولم تخلط به أما لبسه إذا كان مبطنا بقطن أو صوف ونحوهما فإنه يحل إذا كانت البطانة محيطة به وكذلك إذا كان الحرير بطانة لغيره فإنه يحل لبسه إذا كان مخيطا به وإنما جاز ذلك لأن الحرير في هذه الحالة حشوا لغيره وحسوالحرير جائز...
ويحل للرجل أن يلبس الحرير للضرورة أو الحاجة فيجوز لبسه لدفع جرب ودفع قمل وستر عورة في الصلاة وستر عورة عن أعين الناس ونحو ذلك إذا لم يجد غيره وكذلك في الخلوة إذا لم يجد غيره فإن وجد غيره حرم عليه استعماله . ويحل للرجل أن يلبس ثوبا بعضه حرير وبعضه قطن أو كتان أو صوف أو نحو ذلك بشرط أن يكون الحرير مساويا أو أقل أما إن كان كثر فلا يحل
الفقه على المذاهب الأربعة (2/ 13)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Mohammed El-Kheir:
(فصل): في اللباس (ويحرم على الرجال لبس الحرير والتختم بالذهب) والقز في حالة الاختيار، وكذا يحرم استعمال ما ذكر على جهة الافتراش وغير ذلك من وجوه الاستعمالات، ويحل للرجال لبسه للضرورة كحرّ وبرد مهلكين، (ويحل للنساء) لبس الحرير وافتراشه ويحل للوليّ إلباس الصبي الحرير قبل سبع سنين وبعدها (وقليل الذهب وكثيره) أي استعمالهما (في التحريم سواء وإذا كان بعض الثوب إبريسماً) أي حريراً (وبعضه) الآخر (قطناً أو كتاناً) مثلاً (جاز) للرجل (لبسه ما لم يكن الإبريسم غالباً) على غيره فإن كان غير الإبريسم غالباً حلّ وكذا إن استويا في الأصح
فتح القريب المجيب لابن قاسم الغزي (ص: 48)
Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
( يحرم على الرجال ومثلهم الخناثى التختم بالذهب لخبر أبي داود بإسناد صحيح أنه صلى الله عليه وسلم أخذ في يمينه قطعة حرير وفي شماله قطعة ذهب وقال هذان أي استعمالهما حرام على ذكور أمتي حل لإناثهم وألحق بالذكور الخناثى احتياطا واحترز بالتختم عن اتخاذ أنف أو أنملة أو سن فإنه لا يحرم اتخاذها من ذهب على مقطوعها وإن أمكن اتخاذها من الفضة ويحل للنساء لبس الحرير واستعماله بفرش أو غيره والتختم بالذهب والتحلي به للحديث المار ويسير الذهب وكثيره في حكم التحريم على من حرم عليه سواء بلا فرق وإذا كان بعض الثوب إبريسيما وهو بكسر الهمزة وبفتح الراء وفتحهما وكسر الراء ثلاث لغات الحرير وبعضه قطنا أو كتانا جاز لبسه ما لم يكن الإبريسم غالبا فإنه يحرم تغليبا للأكثر بخلاف ما أكثره من غيره والمستوى منهما لأن كلا منهما لا يسمى ثوب حرير والأصل الحل وتغليبا للأكثر في الأولى وللولي إلباس ما ذكر من الحرير
الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع – (1 / 316
Dasar pengambilan (6) oleh Al-Ustadz Aqil Fauzan:
ولا اتخاذه بلا لبس
( و ) حل لمن مر ( الجلوس عليه فوق حائل ) فرش عليه ولو خفيفا مهلهل النسج لأنه لا يسمى في العرف مستعملا له
المنهج القويم - (ج 1 / ص 397)
Daftar Pustaka:
- Fathu Al-Mu’in. 86
- I’anah Al-Thalibin. I/ 134
- Al-Fiqh ‘Ala Madzahib Al-Arba’ah. II/ 13
- Fathu Al-Qarib. 48
- Al-Iqna’. I/ 316
- Al-Minhaj Al-Qawim. I/ 397
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS: Ibnu Malik
(Link Diskusi: https://m.facebook.com/groups/1437298433150379?view=permalink&id=1572173649662856&_rdr&refid=18)

Komentar
Posting Komentar