DOC-275. Hukum Nadzar Memondokkan Anak Ke Pondok Pesantren

 

Caq Nan Baguz

23 April 2015 pukul 0:07

Assalamu alaikum wr wb. Para Kyai, Nyai, asatidz dan asatidzah.
Mohon bantuannya untuk dijawab kalo bisa dengan ibarotnya.
Ceritanya begini, ada seorang ibu bernadzar waktu anaknya sakit, Dia berkata:"jika anakku sembuh biar dia nanti nyantri sebentar untuk tabarrukan di pondok X misalnya"
Bagaimanakah nadzar tersebut apakah sah?
Terima kasih sebelumnya Wassalamu Alaikum wr wb.

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ


Ketika anaknya sakit, seorang ibu bernadzar dengan berucap: “Jika nanti anakku sembuh, biar nanti dia nyantri disebuah Pondok Pesantren”. Bagaimanakah hukum bernadzar seperti kronologi tersebut diatas menurut perspektif Fiqh?

     Adapun hukum bernadzar untuk memondokkan anak disebuah Pondok Pesantren adalah sah menurut perspektif Fiqh. Karena nadzar semacam itu adalah nadzar untuk sebuah keta’atan (bukan kema’siatan). Maka wajib untuk ditunaikan. Dan wajib bagi anak untuk menta’ati sesuatu yang telah diperintahkan oleh orang tuanya.
     Imam Zainuddin; Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab bin Al-Hasan Al-Salami Al-Baghdadi Al-Dimasyqa Al-Hambali (Ulama’ dari kalangan madzahab Hambali) menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Barang siapa bernadzar untuk ta'at kepada Allah, maka ta'atilah (tunaikanlah).”
    Jika seseorang bernadzar hendak mengabdikan diri kepada sebuah Masjid, maka wajib baginya untuk menunaikannya jika mampu. Sedang jika ia bernadzar untuk menjadikan anaknya selalu berdiam di Masjid untuk mengabdi dan beribadah, maka hal itu juga tidaklah jauh untuk ditunaikan. Karena sesungguhnya ia telah bernadzar sebuah keta'atan. Maka wajib baginya untuk menjadikan anaknya atas sesuatu yang telah dinadzarkan dan wajib bagi anak untuk menta'ati orang tuanya ketika diperintah untuk sebuah keta'atan. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

فقد قال النبي - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: ((من نذر أن يطيع الله فليطعه)) ، فلو نذر أحد أن يخدم مسجداً لله - عز وجل - لزمه الوفاء بذلك مع القدرة، وأما إن نذر أن يجعل ولده لله ملازما لمسجد يخدمه ويتعبد فيه، فلا يبعد أن يلزمه الوفاء بذلك، فإنه نذر طاعة فيلزمه أن يجرد ولده لما نذره له، ويجب على الولد طاعة أبيه إذا أمره بطاعة الله - عز وجل
فتح الباري لابن رجب (3/ 359)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Wes Qie:

وَلَوْ نَذَرَ صَلَاةً أَوْ صِيَامًا أَوْ قِرَاءَةً أَوْ اعْتِكَافًا فِي مَكَان بِعَيْنِهِ، فَإِنْ كَانَ لِلتَّعْيِينِ مَزِيَّةٌ فِي الشَّرْعِ: كَالصَّلَاةِ وَالِاعْتِكَافِ فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ، لَزِمَ الْوَفَاءُ بِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَزِيَّةٌ: كَالصَّلَاةِ وَالِاعْتِكَافِ فِي مَسَاجِدِ الْأَمْصَارِ لَمْ يَتَعَيَّنْ بِالنَّذْرِ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِالْوَفَاءِ بِهِ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَ اللَّهَ فَلَا يَعْصِهِ}
الفتاوى الكبرى - (ج 4 / ص 260)


Daftar Pustaka:
  1. Fathu Al-Bari. III/ 359
  2. Al-Fatawa Al-Kubra. 4/ 260
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
PERUMUS dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1614164938797060/?qa_ref=pp)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama