DOC-280. Hukum Membaca Al-Qur’an Dengan Langgam Jawa
Syukron Rosyadi
23 Mei 2015
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh.
Para ust aku mau tanya, bolehkah membaca Al-qur'an dengan langgam jawa? Soalnya aku menekuni dibidang qori.
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum membaca Al-Qur’an dengan Langgam Jawa ?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Hiasilah Al Qur’an dengan suara-suara kalian.” (HR. Abu Dawud dan Al-Nasa’i)
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak mau melagukan Al-Quran.” (HR. Bukhari, Ahmad dan Abu Dawud)
Berdasar hadits-hadits tersebut di atas, hujjah Al-Islam; Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad; Imam Besar; Abu Hamid Al-Ghazali di dalam kitab maha karyanya "Ihya’ Ulum Al-Din" menyatakan bahwa memperindah bacaan Al-Qur’an dengan suara yang merdu serta membaca dengan tartil (pelan dan memperhatikan tajwid) dengan tanpa memanjangkan yang dapat merubah susunan ayat adalah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Hiasilah Al Qur’an dengan suara-suara kalian.” Rasulullah juga bersabda: “Allah tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu pun sebagaimana perhatian-Nya terhadap Nabi yang melagukan Al-Qur’an.” Dan Rasulullah juga bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mau melagukan Al Qur’an.” Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah melagukan Al-Qur’an (istighna’). Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud adalah mendendangkan Al-Qur’an dengan sebuah irama atau nada (al-tarannum).
Juga berdasar hadits tersebut diatas, Imam Ahmad bin Ali bin Hajar; Abu Al-Fadl Al-Asqalani Al-Syafi’i di dalam kitabnya "Fathu Al-Bari" menuturkan bahwa terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama’-ulama’ terdahulu dalam kebolehan mendendangkan Al-Qur’an dengan sebuah irama atau nada. Adapun memperindah bacaan Al-Qur’an dengan suara yang indah, maka tidak ada pro dan kontra dikalangan Ulama’. Imam Abdul Wahab Al-Maliki menceritakan dari Imam Malik tentang keharaman membaca Al-Qur’an dengan sebuah irama atau nada. Pendapat ini juga diceritakan oleh Imam Abu Tayib Al-Thabari dan Imam Al-Mawardi juga Imam Ibnu Hamdan Al-Hambali dari sekelompok cendekiawan. Sedang Imam Ibnu Bathal, Imam ‘Iyad, Imam Al-Qurthubi (Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki), Imam Al Mawardi, Imam Al Bandaniji, Imam Al-Ghazali (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i) juga pengarang kitab "Al Dakhirah" (Ulama’ dari kalangan madzhab Chanafi) menyatakan bahwa membaca Al Qur’an dengan sebuah irama atau nada adalah makruh. Imam Ibnu Bathal juga menceritakan dari sekelompok sahabat dan para pengikut Nabi yang menyatakan bahwa membaca Al Qur’an dengan sebuah irama atau nada adalah boleh. Dan ini merupakan pendapat yang telah ditentukan oleh Imam Al Syafi’i. Pendapat ini juga merupakan pendapat yang telah dikutip oleh Imam Al-Thahawi dari Ulama’ madzhab Hanafi. Imam Al-Faurani (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i) menyatakan boleh bahkan sunah. Al-Asqalani juga menyatakan bahwa perbedaan pendapat dilakalangan Ulama’ dalam permasalahan ini jika tidak merusak sebagian huruf dari tempat keluar (makhraj) nya. Namun jika dengan memperindah bacaan Al Qur’an dapat merusak sebagian huruf dari tempat keluarnya, maka Imam Nawawi di dalam kitab "Al Tibyan" menyatakan bahwa semua Ulama’ sepakat menyatakan haram. Al-Asqalani juga memberikan penegasan bahwa anjuran memperindah bacaan Al-Qur’an dengan suara yang merdu adalah selama tidak mengeluarkan dari batasan-batasan (aturan tajwid) dengan memanjangkan bacaan. Jika keluar dari batasan (tidak sesuai tajwid) dengan memambah atau menyamarkan huruf, maka hukumnya haram.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
العاشر تحسين القراءة وترتيلها بترديد الصوت مِنْ غَيْرِ تَمْطِيطٍ مُفْرِطٍ يُغَيِّرُ النَّظْمَ فَذَلِكَ سنة قال صلى الله عليه وسلم زينوا القرآن بأصواتكم (3) وقال عليه السلام ما أذن الله لشيء إذنه لحسن الصوت بالقرآن (4) وقال صلى الله عليه وسلم لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ فَقِيلَ أراد بِهِ الِاسْتِغْنَاءُ وَقِيلَ أَرَادَ بِهِ التَّرَنُّمَ وَتَرْدِيدَ الْأَلْحَانِ بِهِ وَهُوَ أَقْرَبُ عِنْدَ أَهْلِ اللُّغَةِ
إحياء علوم الدين (1/ 279)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
وَسَيَأْتِي مَا يَتَعَلَّقُ بِحُسْنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ فِي تَرْجَمَةٍ مُفْرَدَةٍ وَلَا شَكَّ أَنَّ النُّفُوسَ تَمِيلُ إِلَى سَمَاعِ الْقِرَاءَةِ بِالتَّرَنُّمِ أَكْثَرَ مِنْ مَيْلِهَا لِمَنْ لَا يَتَرَنَّمُ لِأَنَّ لِلتَّطْرِيبِ تَأْثِيرًا فِي رِقَّةِ الْقَلْبِ وَإِجْرَاءِ الدَّمْعِ وَكَانَ بَيْنَ السَّلَفِ اخْتِلَافٌ فِي جَوَازِ الْقُرْآنِ بِالْأَلْحَانِ أَمَّا تَحْسِينُ الصَّوْتِ وَتَقْدِيمُ حُسْنِ الصَّوْتِ عَلَى غَيْرِهِ فَلَا نِزَاعَ فِي ذَلِكَ فَحَكَى عَبْدُ الْوَهَّابِ الْمَالِكِيُّ عَنْ مَالِكٍ تَحْرِيمَ الْقِرَاءَةِ بِالْأَلْحَانِ وَحَكَاهُ أَبُو الطَّيِّبِ الطَّبَرِيُّ وَالْمَاوَرْدِيُّ وبن حَمْدَانَ الْحَنْبَلِيُّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَحكى بن بَطَّالٍ وَعِيَاضٌ وَالْقُرْطُبِيُّ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ وَالْمَاوَرْدِيُّ وَالْبَنْدَنِيجِيُّ وَالْغَزَالِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَصَاحِبُ الذَّخِيرَةِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ الْكَرَاهَة وَاخْتَارَهُ أَبُو يعلى وبن عقيل من الْحَنَابِلَة وَحكى بن بَطَّالٍ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ الْجَوَازَ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ لِلشَّافِعِيِّ وَنَقَلَهُ الطَّحَاوِيُّ عَنِ الْحَنَفِيَّةِ وَقَالَ الفوراني من الشَّافِعِيَّة فِي الْإِبَاحَة يَجُوزُ بَلْ يُسْتَحَبُّ وَمَحَلُّ هَذَا الِاخْتِلَافِ إِذَا لَمْ يَخْتَلَّ شَيْءٌ مِنَ الْحُرُوفِ عَنْ مَخْرَجِهِ فَلَوْ تَغَيَّرَ قَالَ النَّوَوِيُّ فِي التِّبْيَانِ أَجْمَعُوا عَلَى تَحْرِيمِهِ وَلَفْظُهُ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ تَحْسِينِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مَا لَمْ يَخْرُجْ عَنْ حَدِّ الْقِرَاءَةِ بِالتَّمْطِيطِ فَإِنْ خَرَجَ حَتَّى زَادَ حَرْفًا أَوْ أَخْفَاهُ حَرُمَ
فتح الباري لابن حجر (9/ 72)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
وقال أقضى القضاة الماوردي في كتابه الحاوي القراءة بالألحان الموضوعة إن أخرجت لفظ القرآن عن صيغته بإدخال حركات فيه أو إخراج حركات منه أو قصر ممدود أو مد مقصور أو تمطيط يخفي به بعض اللفظ ويتلبس المعنى فهو حرام يفسق به القارئ
التبيان – 1 – 111
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
تَحْسِينُ الصَّوْتِ:
13 - يُسْتَحَبُّ تَحْسِينُ الصَّوْتِ بِالْقِرَاءَةِ وَتَزْيِينُهَا لِحَدِيثِ ابْنِ حِبَّانَ وَغَيْرِهِ، وَزَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ (1) .
وَقَال الشَّافِعِيُّ: الْقِرَاءَةُ بِالأَْلْحَانِ لاَ بَأْسَ بِهَا، وَفِي رِوَايَةِ الرَّبِيعِ الْجِيزِيِّ: إِنَّهَا مَكْرُوهَةٌ، قَال الرَّافِعِيُّ: فَقَال الْجُمْهُورُ: لَيْسَتْ عَلَى قَوْلَيْنِ: بَل الْمَكْرُوهُ أَنْ يُفَرِّطَ فِي الْمَدِّ وَفِي إِشْبَاعِ الْحَرَكَاتِ، حَتَّى يَتَوَلَّدَ مِنَ الْفَتْحَةِ أَلِفٌ، وَمِنَ الضَّمَّةِ وَاوٌ، وَمِنَ الْكِسْرَةِ يَاءٌ، أَوْ يُدْغِمُ فِي غَيْرِ مَوْضِعِ الإِْدْغَامِ، فَإِنْ لَمْ يَنْتَهِ إِلَى هَذَا الْحَدِّ فَلاَ كَرَاهَةَ، وَقَال فِي زَوَائِدِ الرَّوْضَةِ: وَالصَّحِيحُ أَنَّ الإِْفْرَاطَ عَلَى الْوَجْهِ الْمَذْكُورِ حَرَامٌ، يُفَسَّقُ بِهِ الْقَارِئُ، وَيَأْثَمُ الْمُسْتَمِعُ غَيْرِ الْمُسْتَنْكِرِ، لأَِنَّهُ عَدَل بِهِ عَنْ نَهْجِهِ الْقَوِيمِ، قَال: وَهَذَا مُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِالْكَرَاهَةِ. وَفِيهِ حَدِيثٌ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ بِلُحُونِ الْعَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا، وَإِيَّاكُمْ وَلُحُونَ أَهْل الْكِتَابَيْنِ وَأَهْل الْفِسْقِ، فَإِنَّهُ سَيَجِيءُ بَعْدِي قَوْمٌ يُرَجِّعُونَ بِالْقُرْآنِ تَرْجِيعَ الْغِنَاءِ، وَالرَّهْبَانِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ
الموسوعة الفقهية الكويتية (13/ 256)
Daftar Pustaka:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1624909787722575/)
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh.
Para ust aku mau tanya, bolehkah membaca Al-qur'an dengan langgam jawa? Soalnya aku menekuni dibidang qori.
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum membaca Al-Qur’an dengan Langgam Jawa ?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Hiasilah Al Qur’an dengan suara-suara kalian.” (HR. Abu Dawud dan Al-Nasa’i)
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak mau melagukan Al-Quran.” (HR. Bukhari, Ahmad dan Abu Dawud)
Berdasar hadits-hadits tersebut di atas, hujjah Al-Islam; Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad; Imam Besar; Abu Hamid Al-Ghazali di dalam kitab maha karyanya "Ihya’ Ulum Al-Din" menyatakan bahwa memperindah bacaan Al-Qur’an dengan suara yang merdu serta membaca dengan tartil (pelan dan memperhatikan tajwid) dengan tanpa memanjangkan yang dapat merubah susunan ayat adalah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Hiasilah Al Qur’an dengan suara-suara kalian.” Rasulullah juga bersabda: “Allah tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu pun sebagaimana perhatian-Nya terhadap Nabi yang melagukan Al-Qur’an.” Dan Rasulullah juga bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mau melagukan Al Qur’an.” Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah melagukan Al-Qur’an (istighna’). Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud adalah mendendangkan Al-Qur’an dengan sebuah irama atau nada (al-tarannum).
Juga berdasar hadits tersebut diatas, Imam Ahmad bin Ali bin Hajar; Abu Al-Fadl Al-Asqalani Al-Syafi’i di dalam kitabnya "Fathu Al-Bari" menuturkan bahwa terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama’-ulama’ terdahulu dalam kebolehan mendendangkan Al-Qur’an dengan sebuah irama atau nada. Adapun memperindah bacaan Al-Qur’an dengan suara yang indah, maka tidak ada pro dan kontra dikalangan Ulama’. Imam Abdul Wahab Al-Maliki menceritakan dari Imam Malik tentang keharaman membaca Al-Qur’an dengan sebuah irama atau nada. Pendapat ini juga diceritakan oleh Imam Abu Tayib Al-Thabari dan Imam Al-Mawardi juga Imam Ibnu Hamdan Al-Hambali dari sekelompok cendekiawan. Sedang Imam Ibnu Bathal, Imam ‘Iyad, Imam Al-Qurthubi (Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki), Imam Al Mawardi, Imam Al Bandaniji, Imam Al-Ghazali (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i) juga pengarang kitab "Al Dakhirah" (Ulama’ dari kalangan madzhab Chanafi) menyatakan bahwa membaca Al Qur’an dengan sebuah irama atau nada adalah makruh. Imam Ibnu Bathal juga menceritakan dari sekelompok sahabat dan para pengikut Nabi yang menyatakan bahwa membaca Al Qur’an dengan sebuah irama atau nada adalah boleh. Dan ini merupakan pendapat yang telah ditentukan oleh Imam Al Syafi’i. Pendapat ini juga merupakan pendapat yang telah dikutip oleh Imam Al-Thahawi dari Ulama’ madzhab Hanafi. Imam Al-Faurani (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i) menyatakan boleh bahkan sunah. Al-Asqalani juga menyatakan bahwa perbedaan pendapat dilakalangan Ulama’ dalam permasalahan ini jika tidak merusak sebagian huruf dari tempat keluar (makhraj) nya. Namun jika dengan memperindah bacaan Al Qur’an dapat merusak sebagian huruf dari tempat keluarnya, maka Imam Nawawi di dalam kitab "Al Tibyan" menyatakan bahwa semua Ulama’ sepakat menyatakan haram. Al-Asqalani juga memberikan penegasan bahwa anjuran memperindah bacaan Al-Qur’an dengan suara yang merdu adalah selama tidak mengeluarkan dari batasan-batasan (aturan tajwid) dengan memanjangkan bacaan. Jika keluar dari batasan (tidak sesuai tajwid) dengan memambah atau menyamarkan huruf, maka hukumnya haram.
KESIMPULAN:
Hukum membaca Al Qur'an dengan Langgam Jawa menurut perspektif Fiqh adalah hilaf sebagaimana uraian berikut:
- Mayoritas Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan bahwa membaca Al-Qur’an dengan langgam apapun termasuk langgam Jawa adalah boleh.
- Imam Abdul Wahab Al Maliki menceritakan dari Imam Malik tentang keharaman membaca Al Qur’an dengan sebuah irama atau nada. Maka membaca Al Qur’an dengan langgam apapun termasuk langgam Jawa adalah haram. Pendapat ini juga didukung oleh Imam Abu Tayib Al-Thabari dan Imam Al-Mawardi juga Imam Ibnu Hamdan Al-Hambali dari sekelompok cendekiawan.
- Imam Ibnu Bathal, Imam ‘Iyad, Imam Al-Qurthubi (Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki), Imam Al Mawardi, Imam Al-Bandaniji, Imam Al-Ghazali (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i) juga pengarang kitab "Al Dakhirah" (Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi) menyatakan bahwa membaca Al-Qur’an dengan sebuah irama atau nada adalah makruh. Maka membaca Al Qur’an dengan langgam apapun termasuk langgam Jawa adalah makruh.
Perbedaan pendapat dikalangan Ulama’ sebagaimana uraian tersebut d iatas dengan ketentuan tidak merubah susunan ayat dan tidak merusak sebagian huruf dari tempat keluar (makhraj) nya. Jika merubah susunan ayat atau merusak sebagian huruf dari tempat keluar (makhraj) nya, maka semua Ulama’ sepakat menyatakan haram. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
العاشر تحسين القراءة وترتيلها بترديد الصوت مِنْ غَيْرِ تَمْطِيطٍ مُفْرِطٍ يُغَيِّرُ النَّظْمَ فَذَلِكَ سنة قال صلى الله عليه وسلم زينوا القرآن بأصواتكم (3) وقال عليه السلام ما أذن الله لشيء إذنه لحسن الصوت بالقرآن (4) وقال صلى الله عليه وسلم لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ فَقِيلَ أراد بِهِ الِاسْتِغْنَاءُ وَقِيلَ أَرَادَ بِهِ التَّرَنُّمَ وَتَرْدِيدَ الْأَلْحَانِ بِهِ وَهُوَ أَقْرَبُ عِنْدَ أَهْلِ اللُّغَةِ
إحياء علوم الدين (1/ 279)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
وَسَيَأْتِي مَا يَتَعَلَّقُ بِحُسْنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ فِي تَرْجَمَةٍ مُفْرَدَةٍ وَلَا شَكَّ أَنَّ النُّفُوسَ تَمِيلُ إِلَى سَمَاعِ الْقِرَاءَةِ بِالتَّرَنُّمِ أَكْثَرَ مِنْ مَيْلِهَا لِمَنْ لَا يَتَرَنَّمُ لِأَنَّ لِلتَّطْرِيبِ تَأْثِيرًا فِي رِقَّةِ الْقَلْبِ وَإِجْرَاءِ الدَّمْعِ وَكَانَ بَيْنَ السَّلَفِ اخْتِلَافٌ فِي جَوَازِ الْقُرْآنِ بِالْأَلْحَانِ أَمَّا تَحْسِينُ الصَّوْتِ وَتَقْدِيمُ حُسْنِ الصَّوْتِ عَلَى غَيْرِهِ فَلَا نِزَاعَ فِي ذَلِكَ فَحَكَى عَبْدُ الْوَهَّابِ الْمَالِكِيُّ عَنْ مَالِكٍ تَحْرِيمَ الْقِرَاءَةِ بِالْأَلْحَانِ وَحَكَاهُ أَبُو الطَّيِّبِ الطَّبَرِيُّ وَالْمَاوَرْدِيُّ وبن حَمْدَانَ الْحَنْبَلِيُّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَحكى بن بَطَّالٍ وَعِيَاضٌ وَالْقُرْطُبِيُّ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ وَالْمَاوَرْدِيُّ وَالْبَنْدَنِيجِيُّ وَالْغَزَالِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَصَاحِبُ الذَّخِيرَةِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ الْكَرَاهَة وَاخْتَارَهُ أَبُو يعلى وبن عقيل من الْحَنَابِلَة وَحكى بن بَطَّالٍ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ الْجَوَازَ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ لِلشَّافِعِيِّ وَنَقَلَهُ الطَّحَاوِيُّ عَنِ الْحَنَفِيَّةِ وَقَالَ الفوراني من الشَّافِعِيَّة فِي الْإِبَاحَة يَجُوزُ بَلْ يُسْتَحَبُّ وَمَحَلُّ هَذَا الِاخْتِلَافِ إِذَا لَمْ يَخْتَلَّ شَيْءٌ مِنَ الْحُرُوفِ عَنْ مَخْرَجِهِ فَلَوْ تَغَيَّرَ قَالَ النَّوَوِيُّ فِي التِّبْيَانِ أَجْمَعُوا عَلَى تَحْرِيمِهِ وَلَفْظُهُ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ تَحْسِينِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مَا لَمْ يَخْرُجْ عَنْ حَدِّ الْقِرَاءَةِ بِالتَّمْطِيطِ فَإِنْ خَرَجَ حَتَّى زَادَ حَرْفًا أَوْ أَخْفَاهُ حَرُمَ
فتح الباري لابن حجر (9/ 72)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
وقال أقضى القضاة الماوردي في كتابه الحاوي القراءة بالألحان الموضوعة إن أخرجت لفظ القرآن عن صيغته بإدخال حركات فيه أو إخراج حركات منه أو قصر ممدود أو مد مقصور أو تمطيط يخفي به بعض اللفظ ويتلبس المعنى فهو حرام يفسق به القارئ
التبيان – 1 – 111
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
تَحْسِينُ الصَّوْتِ:
13 - يُسْتَحَبُّ تَحْسِينُ الصَّوْتِ بِالْقِرَاءَةِ وَتَزْيِينُهَا لِحَدِيثِ ابْنِ حِبَّانَ وَغَيْرِهِ، وَزَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ (1) .
وَقَال الشَّافِعِيُّ: الْقِرَاءَةُ بِالأَْلْحَانِ لاَ بَأْسَ بِهَا، وَفِي رِوَايَةِ الرَّبِيعِ الْجِيزِيِّ: إِنَّهَا مَكْرُوهَةٌ، قَال الرَّافِعِيُّ: فَقَال الْجُمْهُورُ: لَيْسَتْ عَلَى قَوْلَيْنِ: بَل الْمَكْرُوهُ أَنْ يُفَرِّطَ فِي الْمَدِّ وَفِي إِشْبَاعِ الْحَرَكَاتِ، حَتَّى يَتَوَلَّدَ مِنَ الْفَتْحَةِ أَلِفٌ، وَمِنَ الضَّمَّةِ وَاوٌ، وَمِنَ الْكِسْرَةِ يَاءٌ، أَوْ يُدْغِمُ فِي غَيْرِ مَوْضِعِ الإِْدْغَامِ، فَإِنْ لَمْ يَنْتَهِ إِلَى هَذَا الْحَدِّ فَلاَ كَرَاهَةَ، وَقَال فِي زَوَائِدِ الرَّوْضَةِ: وَالصَّحِيحُ أَنَّ الإِْفْرَاطَ عَلَى الْوَجْهِ الْمَذْكُورِ حَرَامٌ، يُفَسَّقُ بِهِ الْقَارِئُ، وَيَأْثَمُ الْمُسْتَمِعُ غَيْرِ الْمُسْتَنْكِرِ، لأَِنَّهُ عَدَل بِهِ عَنْ نَهْجِهِ الْقَوِيمِ، قَال: وَهَذَا مُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِالْكَرَاهَةِ. وَفِيهِ حَدِيثٌ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ بِلُحُونِ الْعَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا، وَإِيَّاكُمْ وَلُحُونَ أَهْل الْكِتَابَيْنِ وَأَهْل الْفِسْقِ، فَإِنَّهُ سَيَجِيءُ بَعْدِي قَوْمٌ يُرَجِّعُونَ بِالْقُرْآنِ تَرْجِيعَ الْغِنَاءِ، وَالرَّهْبَانِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ
الموسوعة الفقهية الكويتية (13/ 256)
Daftar Pustaka:
- Ihya’ Ulum Al-Din. I/ 279
- Fathu Al-Bari. IX/ 72
- Al-Tibyan. I/ 111
- Al-Mausuah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah. 13/ 256
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1624909787722575/)

Komentar
Posting Komentar