DOC-281. Waktu Berbuka Puasa Di Negara Yang Waktu Siang Lebih Lama
Ali Imron
28 Mei 2015 pukul 19:01
Assalamualaikum ustadz
Mau tanya ni.
Skrang kan hampir bulan puasa...
Gmn jika ada negara yg maghribnya/terbenamnya matahari jam 10 mlm/22pm.
Apkh buka puasa kita hrus mngikuti d atas/ada imam yg mmprbolehkan g sampe jam10 mlm.
Minta pnjlasannya sukron kastiro ....
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimana jika ada Negara yang waktu terbenamnya matahari jam 22 pm atau jam 10 malam. Apakah berbuka puasa harus mengikuti waktu tersebut? Apakah ada pendapat yang memperbolehkan berbuka puasa sebelum jam 22 pm?
Imam Ahamd bin Ali bin Hajar; Abu Al-Fadl Al-Asqalani Al-Syafi’i di dalam kitabnya "Fathu Al-Bari" menjelaskan bahwa semua Ulama’ sepakat menyatakan bahwa sesungguhnya letak dianjurkan untuk segera berbuka puasa adalah jika tenggelamnya matahari telah nyata baik dengan penglihatan atau dengan adanya kabar dari dua orang yang adil. (Dan) demikian juga dengan adanya kabar dari satu orang yang adil menurut pendapat yang unggul (rajich). Ibnu Hajar juga mengutip pernyataan Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id yang menyatakan bahwa hadist ini telah membantah anggapan orang-orang syi’ah yang menyatakan bahwa dianjurkan untuk mengahirkan berbuka puasa hingga kemunculan bintang-bintang. Dan barang kali hal ini juga merupakan sebab adanya kebaikan dalam bersegera berbuka puasa. Karena dengan mengahirkan puasa tergolong melakukan hal yang bertentangan dengan sunah. Hal senada juga telah dipaparkan oleh Syaikh Sulaiman Ibnu Muchammad Ibnu ‘Amr Al-Bujairimi Al-Syafi’i.
Imam Jalaluddin; Abdurahman bin Abu Bakar Al-Suyuthi pernah mengutip pernyataan Imam Al-Haramain dan yang lain yang berkata: “Tidak ada perbedaan bahwa sesungguhnya matahari tenggelam disuatu kaum dan terbit disuatu kaum yang lain. (Dan) malam menjadi panjang bagi suatu kaum dan menjadi pendek bagi kaum yang lain. Sedang bagi kaum yang berada pada garis khatulistiwa, maka waktu siang dan malam adalah sama untuk selama-lamanya". Syaikh Abu Hamid juga pernah ditanya mengenai orang-orang yang berada di negara Bulgaria. Bagaimana mereka melaksanakan shalat? maka disebutkan bahwa sesungguhnya matahari disana tidak terbenam kecuali hanya kira-kira diantara waktu maghrib dan isya’ kemudian terbit kembali. Maka beliau menjawab: ‘Puasa dan shalat mereka dipertimbangkan kepada negara terdekat dan terbaik.’ Jawaban senada juga dikemukakan oleh sebagian guru dan mereka juga menyatakan bahwa negara terdekat merupakan tolak ukur dan pertimbangan bagi mereka (orang-orang yang berada di negara Bulgaria) dalam menentukan waktu siang dan malam.” Hal senada juga diulas oleh Imam Syamsuddin; Muhammad bin Abu Al-Abbas; Ahmad bin Hamzah; Syihabuddin Al-Ramli.
Assalamualaikum ustadz
Mau tanya ni.
Skrang kan hampir bulan puasa...
Gmn jika ada negara yg maghribnya/terbenamnya matahari jam 10 mlm/22pm.
Apkh buka puasa kita hrus mngikuti d atas/ada imam yg mmprbolehkan g sampe jam10 mlm.
Minta pnjlasannya sukron kastiro ....
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimana jika ada Negara yang waktu terbenamnya matahari jam 22 pm atau jam 10 malam. Apakah berbuka puasa harus mengikuti waktu tersebut? Apakah ada pendapat yang memperbolehkan berbuka puasa sebelum jam 22 pm?
Imam Ahamd bin Ali bin Hajar; Abu Al-Fadl Al-Asqalani Al-Syafi’i di dalam kitabnya "Fathu Al-Bari" menjelaskan bahwa semua Ulama’ sepakat menyatakan bahwa sesungguhnya letak dianjurkan untuk segera berbuka puasa adalah jika tenggelamnya matahari telah nyata baik dengan penglihatan atau dengan adanya kabar dari dua orang yang adil. (Dan) demikian juga dengan adanya kabar dari satu orang yang adil menurut pendapat yang unggul (rajich). Ibnu Hajar juga mengutip pernyataan Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id yang menyatakan bahwa hadist ini telah membantah anggapan orang-orang syi’ah yang menyatakan bahwa dianjurkan untuk mengahirkan berbuka puasa hingga kemunculan bintang-bintang. Dan barang kali hal ini juga merupakan sebab adanya kebaikan dalam bersegera berbuka puasa. Karena dengan mengahirkan puasa tergolong melakukan hal yang bertentangan dengan sunah. Hal senada juga telah dipaparkan oleh Syaikh Sulaiman Ibnu Muchammad Ibnu ‘Amr Al-Bujairimi Al-Syafi’i.
Imam Jalaluddin; Abdurahman bin Abu Bakar Al-Suyuthi pernah mengutip pernyataan Imam Al-Haramain dan yang lain yang berkata: “Tidak ada perbedaan bahwa sesungguhnya matahari tenggelam disuatu kaum dan terbit disuatu kaum yang lain. (Dan) malam menjadi panjang bagi suatu kaum dan menjadi pendek bagi kaum yang lain. Sedang bagi kaum yang berada pada garis khatulistiwa, maka waktu siang dan malam adalah sama untuk selama-lamanya". Syaikh Abu Hamid juga pernah ditanya mengenai orang-orang yang berada di negara Bulgaria. Bagaimana mereka melaksanakan shalat? maka disebutkan bahwa sesungguhnya matahari disana tidak terbenam kecuali hanya kira-kira diantara waktu maghrib dan isya’ kemudian terbit kembali. Maka beliau menjawab: ‘Puasa dan shalat mereka dipertimbangkan kepada negara terdekat dan terbaik.’ Jawaban senada juga dikemukakan oleh sebagian guru dan mereka juga menyatakan bahwa negara terdekat merupakan tolak ukur dan pertimbangan bagi mereka (orang-orang yang berada di negara Bulgaria) dalam menentukan waktu siang dan malam.” Hal senada juga diulas oleh Imam Syamsuddin; Muhammad bin Abu Al-Abbas; Ahmad bin Hamzah; Syihabuddin Al-Ramli.
KESIMPULAN:
Dari ulasan tersebut diatas, dapat diketahui bahwa yang menjadi tolak ukur dalam menentukan waktu maghrib atau waktu berbuka puasa adalah terbenamnya matahari di negera setempat. Sebab tidak ada perbedaan antara waktu siang yang panjang bagi sebuah kaum dan waktu siang yang pendek bagi kaum yang lain. Kecuali bagi orang-orang yang tinggal di negara kutub seperti Bulgaria yang tidak memiliki waktu malam dikarenakan matahari tidak terbenam kecuali hanya kira-kira diantara waktu maghrib dan isya’ kemudian terbit kembali. Maka puasa dan shalat mereka dipertimbangkan kepada negara terdekat. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Wes Qie:
وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ مَحَلَّ ذَلِكَ إِذَا تَحَقَّقَ غُرُوبُ الشَّمْسِ بِالرُّؤْيَةِ أَوْ بِإِخْبَارِ عَدْلَيْنِ وَكَذَا عدل وَاحِد فِي الارجح قَالَ بن دَقِيقِ الْعِيدِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ رَدٌّ عَلَى الشِّيعَةِ فِي تَأْخِيرِهِمُ الْفِطْرَ إِلَى ظُهُورِ النُّجُومِ وَلَعَلَّ هَذَا هُوَ السَّبَبُ فِي وُجُودِ الْخَيْرِ بِتَعْجِيلِ الْفِطْرِ لِأَنَّ الَّذِي يُؤَخِّرُهُ يَدْخُلُ فِي فِعْلِ خِلَافِ السُّنَّةِ اه
فتح الباري لابن حجر (4/ 199)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
(وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ) وَلَوْ نَفْلًا أَشْيَاءُ كَثِيرَةٌ الْمَذْكُورُ مِنْهَا هُنَا (ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ) الْأَوَّلُ (تَعْجِيلُ الْفِطْرِ) إذَا تَحَقَّقَ غُرُوبُ الشَّمْسِ لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ: «لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ زَادَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ» وَلِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ مُخَالَفَةِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى
حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب (2/ 382)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
وقال إمام الحرمين وغيره : لا خلاف أن الشمس تغرب عند قوم وتطلع على آخرين والليل يطول عند قوم ويقصر عند آخرين وعند خط الاستواء يكون الليل والنهار مستويين أبداً ، وسئل الشيخ أبو حامد عن بلاد بلغار كيف يصلون ؟ فإنه ذكر أن الشمس لا تغرب عندهم إلا مقدار ما بين المغرب والعشاء ثم تطلع فقال : يعتبر صومهم وصلاتهم بأقرب البلاد إليهم والأحسن وبه قال بعض الشيوخ أنهم يقدرون ذلك ويعتبرون الليل والنهار كما قال صلى الله عليه وسلّم في يوم الدجال الذي كسنة وكشهر
الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى - (ج 2 / ص 292)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Wes Qie:
[[تنبيه] لو عدم وقت العشاء كأن طلع الفجر كما غربت الشمس وجب قضاؤها على الأوجه من اختلاف فيه بين المتأخرين ولو لم تغب إلا بقدر ما بين العشاءين، فأطلق الشيخ أبو حامد أنه يعتبر حالهم بأقرب بلد إليهم، وفرع عليه الزركشي وابن العماد أنهم يقدرون في الصوم ليلهم بأقرب بلد إليهم ثم يمسكون إلى الغروب بأقرب بلد إليهم، وما قالاه إنما يظهر إن لم تسع مدة غيبوبتها أكل ما يقيم بنية الصائم لتعذر العمل بما عندهم فاضطررنا إلى ذلك التقدير، بخلاف ما إذا وسع ذلك وليس هذا حينئذ كأيام الدجال لوجود الليل هنا وإن قصر ولو لم يسع ذلك إلا قدر المغرب، أو أكل الصائم قدم أكله وقضى المغرب فيما يظهر اهـ حج..
نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (1/ 369)
Daftar Pustaka:
- Fatchu Al Bari Li Ibnu Chajar. IV/ 199
- Chasyiyah Al Bujairami ‘Ala Al Khatib. II/ 382
- Al Chawi Lil Fatawa. II/ 292
- Nihayah Al Muchtaj. I/ 369
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Abdulloh Salam
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1626807497532804/)

Komentar
Posting Komentar