DOC-282. Tentang Bidadari Surga “Hurul ‘Ain”
Hadir Al Banjari
Asslamualaikum wr wb
titipan dr teman,,
mf yg di mksd " Al Huril A'in "t spa?
Laki2 at wanita at jg Majeziyat Ta'nist spt
para Malaikat???wslm
ini sudah gk ada yg komen
terpaksa saya angkat ksini
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Siapakah yang dimaksud “Churul ‘Ain”?
Maka dalam menanggapi pertanyaan yang telah diutarakan oleh sahabat fillah Hadir Al Banjari tersebut diatas, segenap anggota musyawirin MTTM memiliki pandangan sebagai berikut:
Allah subchanahu wa ta’ala berfirman:
”Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari bermata jeli (churu ‘ain), laksana mutiara yang tersimpan.” (QS. Al Waqi’ah: 22-23)
Imam Jalaluddin; Muchammad Ibnu Achmad Al Machalli dan Imam Jalaluddin; Abdurrahman Ibnu Abu Bakar Al Suyuthi didalam Tafsirnya Al Jalalain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “churu ‘ain” adalah wanita-wanita yang berpostur tinggi dengan mata yang putih dan kornea mata yang hitam.
Imam Abu Abdillah; Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah Al-Anshari Al-Khuzruji; Syasuddin Al-Qurthubi juga menyatakan bahwa arti kata ‘al chur” adalah wanita yang bermata jeli dan memiliki berpostur indah dengan perawakan putih merona. Imam Ibnu Al-Mubarak juga menyebutkan: Telah bercerita kepada kami Ma’mar dari Abu Ishaq dari Amr bin Maimun Al-Audi dari Ibnu Mas’ud. Beliau berkata: “Sesungguhnya wanita dari kalangan bidadari betisnya sangat mempesona dan terlihat dari tujuh puluh arah laksana minuman merah yang terlihat disebuah cermin yang putih dan bening". Al-Qurthubi juga mengutip pernyataan Imam Mujahid yang menyatakan bahwa dinamakan “chur”, karena bidadari membuat orang yang memandangnya menjadi ingin terus memandang kecantikannya. Dan karena bidadari memiliki perawakan dengan kulit yang putih merona dan bersih. Ada yang menyatakan: Dinamakan “chur”, karena bidadari memiliki mata yang putih dengan kornea mata yang sangat hitam. Imam Al Asmu’i juga menyatakan bahwa beliau tidak mengerti dengan istilah “chur fi ‘ain”. Maka Imam Abu Amr menjawab: “Al chur adalah bidadari yang memiliki mata yang sangat indah dengan kornea mata yang sangat hitam laksana mata kijang dan mata sapi. Beliau juga mengungkapkan bahwa tidak ada istilah “chur” bagi anak cucu Adam laki-laki. Karena istilah “chur” diperuntukkan perempuan. Dan jika salah satu dari bidadari-bidadari surga tersebut muncul dipermukaan bumi, niscaya seluruh permukaan bumi akan terang benerang. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Imam Al Mahlabi dalam menggambarkan sosok bidadari surga yang disebut dengan istilah “Churu Al ‘Ain”.
CATATAN:
Imam Abu Abdillah; Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah Al-Anshari Al-Khuzruji; Syamsuddin Al-Qurthubi di dalam Tafsir "Al Qurthubi"nya menambahkan bahwa Ulama’ berbeda pandangan tentang mana yang lebih istimewa diantara perempuan-perempuan dari golongan manusia dan bidadari di surga sebagaimana uraian berikut:
- Ibnu Al-Mubarak berkata: Telah bercerita kepada kami Rasyidin dari Ibnu An’am dari Habban bin Abi Jablah. Beliau berkata “Sesungguhnya perempuan-perempuan dari golongan manusia yang masuk surga lebih istimewa dari pada bidadari bermata jeli (Huru ‘ain) sebab amal yang dilakukan di dunia.
- Sebagian pendapat menyatakan bahwa bidadari lebih istimewa. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:
{ و حور } نساء شديدات سواد العيون وبياضها { عين } ضخام العيون كسرت عينه بدل ضمها لمجانسة الياء ومفرده عيناه كحمراء وفي قراءة بجر حور عين
تفسير الجلالين - (ج 1 / ص 714)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:
فمعنى الحور هنا: الحسان الثاقبات «2» البياض بحسن. وذكر ابن المبارك أخبرنا معمر عن أبي إسحاق عن عمرو بن ميمون الأودي عن ابن مسعود قال: إن المرأة من الحور العين ليرى مخ ساقها من وراء اللحم والعظم، ومن تحت سبعين حلة، كما يرى الشراب الأحمر في الزجاجة البيضاء. وقال مجاهد: إنما سميت الحور حورا لأنهن يحار الطرف في حسنهن وبياضهن وصفاء لونهن. وقيل: إنما قيل لهن حور لحور أعينهن. والحور: شدة بياض العين في شدة سوادها. امرأة حوراء بينة الحور. يقال: احورت عينه احورارا. واحور الشيء ابيض. قال الأصمعي: ما أدري ما الحور في العين؟ وقال أبو عمرو: الحور أن تسود العين كلها مثل أعين الظباء والبقر. قال: وليس في بني آدم حور، وإنما قيل للنساء: حور العين لأنهن يشبهن بالظباء والبقر. وقال العجاج:
بأعين محورات حور
تفسير القرطبي (16/ 153)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
قال المهلب: إنما ذكر حديث أنس فى هذا الباب لأن المعنى الذى يتمنى الشهيد من أجله أن يرجع إلى الدنيا فيقتل هو مما يرى مما يعطى الله الشهيد من النعيم ويزوجه من الحور العين، وكل واحدة منهن لو اطلعت إلى الدنيا لأضاءت كلها، ليستزيد من كرامة الله وتنعيمه وفضله
شرح ابن بطال (9/ 17، بترقيم الشاملة آليا)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Wes Qie:
واختلف أيما أفضل في الجنة، نساء الآدميات أم الحور؟ فذكر ابن المبارك قال: وأخبرنا رشدين عن ابن أنعم عن حبان بن أبي جبلة قال: إن نساء الآدميات من دخل منهن الجنة فضلن على الحور العين بما عملن في الدنيا. وروي مرفوعا إن (الآدميات أفضل من الحور العين سبعين ألف ضعف). وقيل: إن الحور العين أفضل، لقوله عليه السلام في دعائه: (وأبدله زوجا خيرا من زوجه). والله أعلم.
تفسير القرطبي (16/ 154)
Daftar Pustaka:
- Tafsir Al-Jalalain. I/ 714
- Tafsir Al-Qurthubi. XVI/ 153
- Syarh Ibnu Bathal. IX/ 17
- Tafsir Al-Qurtubi. XIV. 154
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
2. Al-Ustadz Wes Qie
3. Al-Ustadz Abdul Malik
4. Al-Ustadz Ro Fie
5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif

Komentar
Posting Komentar