DOC-283. Tentang Niat Wudlu’

 

Muri As

23 Mei 2015 pukul 10:03


assalamualaikum wr.wb
jemaah MTTM yg di rahmati allah..
saya mau nanya..
"sah kah wuduknya orang yg niatnya bgni (niat kauleh awudu'eh karanah allah ta'ala)...?
sebab ga ad mau menghilangkan hadas kecilnya.
mohon jawabannya.
trmksh.

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.


الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ


Sahkah wudlu’nya orang yang dilaksanakan dengan niat “Niat melaksanakan wudlu’ karena Allah (tanpa menyebutkan kata “menghilangkan hadats kecil”)?

     Imam Abu Bakar Ibnu Sayyid Muchammad Syata Al-Dimyathi didalam kitabnya "I’anah Al-Thalibin" menjelaskan bahwa salah satu fardlunya wudlu’ adalah niat. Niat secara etimologi berarti menyengaja. Sedang secara terminologi adalah menyengaja sesuatu dengan disertai pelaksanaannya. Dan ketahuilah bahwa didalam pembahasan mengenai niat, secara implisit mengandung tujuh hal seperti yang telah disusun oleh sebagian Ulama’. Yaitu:
  1. Hakikat niat
  2. Hukum niat
  3. Tempat niat
  4. Waktu niat
  5. Cara niat
  6. Syarat niat
  7. Tujuan niat
Adapun hakikat niat baik secara etimologi dan terminologi adalah seperti yang telah disebutkan di atas. Sedang hukum niat adalah wajib. Dan tempat niat adalah didalam hati. Sedang waktu pelaksanaan niat adalah ketika melakukan permulaan sebuah kewajiban. Adapun cara niat adalah berbeda-beda, sesuai dengan bab masing-masing. Sedang syarat niat adalah orang yang melaksanakan niat beragama Islam, pintar (tamyiz) dan melakukan hal-hal yang telah diniati serta tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan niat. Adapun tujuan niat adalah untuk membedakan suatu ritual ibadah dari ritual ibadah yang lain. Seperti halnya berniat duduk untuk i’tikaf atau untuk beristirahat. Atau melaksanakan niat wudlu’ dengan berniat melakukan kewajiban (fardlu) wudlu’ dengan mengucapkan نويت أداء فرض الوضوء (aku berniat melakukan kewajiban (fardlu) wudlu’. Atau melaksanakan niat wudlu’ dengan berniat melakukan kewajiban (fardlu) wudlu’ dengan mengucapkan نويت رفع الحدث (aku berniat menghilangkan hadats).
     Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami menegaskan bahwa sesungguhnya dalam pelaksanaan niat wudlu’ cukup dengan hanya berniat melaksanakan wudlu' (tidak menyebutkan kata “untuk menghilangkan hadats”). Namun hal ini tidak berlaku di dalam pelaksanaan niat mandi dengan hanya berniat melaksanakan mandi. Karena sesungguhnya wudlu’ sudah pasti ibadah. Maka tidak ada istilah wudlu’ untuk selain ibadah. Berbeda dengan mandi. Sebab sesungguhnya kata “al ghuslu” dipergunakan untuk aktifitas menghilangkan najis dan (juga) untuk menghilangkan hadats besar (junub) juga aktifitas mandi yang lain.
     Imam Syamsuddin; Muhammad bin Ahmad Al-Hathib Al-Syarbini Al-Syafi’i menambahkan bahwa jika orang yang melaksanakan wudlu berniat “mensucikan diri dari hadats”, maka wudlu’ yang dilaksanakan adalah sah. Namun jika tidak mengucapkan kata “dari hadats”, maka wudlu’ yang dilaksanakan tidak sah menurut pendapat yang tepat (shahih). Sebagaimana uraian yang terdapat didalam kitab "Zawaid Al-Raudlah". Didalam kitab "Al-Majmu’", Imam Nawawi mengemukakan sebuah alasan karena sesungguhnya bersuci (thaharah) ada kalanya bersuci dari hadats dan ada kalanya bersuci dari kotoran.

KESIMPULAN:
     Berdasar uraian tersebut diatas, dapat diketahui bahwa wudlu’nya orang yang dilaksanakan dengan niat “Niat melaksanakan wudlu’ karena Allah (tanpa menyebutkan kata “menghilangkan hadats kecil”) adalah sah. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:

(قوله: أحدها نية) هي لغة: القصد.
وشرعا: قصد الشئ مقترنا بفعله.
واعلم أن الكلام عليها من سبعة أوجه، نظمها بعضهم بقوله: حقيقة، حكم محل وزمن كيفية شرط ومقصود حسن فحقيقتها - لغة وشرعا - ما تقدم، وحكمها الوجوب، ومحلها القلب، وزمنها أول الواجبات، وكيفيتها تختلف بحسب الأبواب، وشرطها إسلام الناوي وتمييزه وعمله بالمنوي، وعدم الإتيان بما ينافيها بأن يستصحبها حكما.
والمقصود بها تمييز العبادة عن العادة، كالجلوس مثلا للاعتكاف أو للاستراحة.
(قوله: أو أداء فرض وضوء) أي أو نية ذلك، بأن يقول: نويت أداء فرض الوضوء.
(قوله: أو رفع حدث) أي أو نية رفع حدث، بأن تقول: نويت رفع الحدث.
والمراد رفع حكمه، وهو المنع من الصلاة.
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (1/ 48)


Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

(قَوْلُهُ: أَوْ الْوُضُوءِ) ، وَإِنَّمَا اكْتَفَى بِنِيَّةِ الْوُضُوءِ فَقَطْ دُونَ نِيَّةِ الْغُسْلِ فَقَطْ؛ لِأَنَّ الْوُضُوءَ لَا يَكُونُ إلَّا عِبَادَةً فَلَا يُطْلَقُ عَلَى غَيْرِهَا بِخِلَافِ الْغُسْلِ فَإِنَّهُ يُطْلَقُ عَلَى غَسْلِ النَّجَاسَةِ وَالْجَنَابَةِ وَغَيْرِهِمَا نِهَايَةٌ وَمُغْنِي وَشَيْخُنَا.
تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (1/ 194)


Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

وَلَو نوى الطَّهَارَة عَن الْحَدث صَحَّ فَإِن لم يقل عَن الْحَدث لم يَصح على الصَّحِيح كَمَا فِي زَوَائِد الرَّوْضَة وَعلله فِي الْمَجْمُوع بِأَن الطَّهَارَة قد تكون عَن حدث وَقد تكون عَن خبث

الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع (1/ 38)

Daftar Pustaka:
  1. I'anah Al-Thalibin. I/ 48
  2. Tuchfah Al-Muhtaj. I/ 194
  3. Al-Iqna' Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja'. I/ 38
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1624926497720904/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama