DOC-284. Hukum Mengucapkan Kata Abu Lahab Dan Abu Jahal Pada Saat Buang Air

 

Abdul Malik

7 Juni 2015

Afwan, hanya menyampaikan amanah pertanyaan dari member setia MTTM (Yasir Lana) 06-06-2015
Assalamualaikum wb. Titip pertanyaan yai,,,, bagaimana hukumnya,,, menyebut nyebut nama Abu Lahab dan Abu Jahal, ketika buang hadas di kamar mandi,,,,,,, trimaksih

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum menyebut nama Abu Jahal dan Abu Lahab pada saat buang air besar (bab)?

     Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi di dalam kitab "Al Bajuri"nya menuturkan bahwa dianjurkan bagi orang yang sedang buang air besar (bab) atau buang air kecil untuk tidak berbicara baik berdzikir atau yang lain kecuali dalam kondisi darurat. Namun jika kondisi darurat mendorong untuk berbicara, seperti melihat seekor ular yang hendak menyerang seseorang, maka tidak dimakruhkan untuk berbicara demi meyelamatkan orang tersebut.
     Imam Abu Bakar Ibnu Sayyid Muhammad Syata Al-Dimyathi juga memberikan penegasan dengan menyatakan bahwa dianjurkan (sunah) untuk tidak berbicara pada saat keluarnya kotoran secara mutlak. Baik dzikir atau yang lain. Karena adanya pelarangan untuk berbicara bagi orang yang sedang buang air besar. Bahkan jika ia bersin, maka dianjurkan baginya untuk membaca tahmid didalam hati. Sebagaimana orang yang sedang melakukan hubungan intim. Dan ia pun mendapatkan pahala. Namun kami tidak memiliki landasan hukum yang menyatakan bahwa berdzikir didalam hati adalah berpahala kecuali dalam kondisi semacam ini. Al-Dimyathi juga menyatakan bahwa jika ia berbicara dengan suara pelan hingga tidak didengar oleh dirinya sendiri (dengan pendengaran yang normal), maka hukumnya tidaklah makruh. Al-Dimyathi juga mengtutip uraian yang terdapat di dalam kitab "Hasyiyah Al-Jamal" yang menjelaskan tentang ketika terdapat sesuatu terhadap orang yang sedang buang air besar yang berdehem untuk memberitahukan kepada orang yang mengetuk pintu kamar kecil (wc) tentang kosong atau tidaknya kamar kecil, maka dalam hal ini terdapat pertimbangan. Namun yang terdekat adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesungguhnya hal yang semacam ini (dehem) tidak dikategorikan ucapan. Dan dalam problematika seperti tersebut diatas terdapat kebutuhan yang mendesak (hajat). Yaitu untuk memberitahukan kepada orang yang mengetuk pintu bahwa kamar kecil tidak dalam kondisi kosong. Namun terkadang berbicara bagi orang yang buang air besar adalah wajib. Yaitu ketika ia melihat hal yang membahayakan akan menimpa seseorang. Seperti melihat orang buta yang akan terperosok kedalam sumur atau melihat seekor ular yang hendak menyerangnya. Maka wajib baginya untuk berbicara guna menyelamatkannya. Al-Dimyathi juga menyatakan bahwa orang yang sedang buang air besar (pada saat keluarnya kotoran), dianjurkan (sunah) untuk tidak berbicara secara mutlak. Dan pada saat tidak keluar kotoran, maka boleh (tidak makruh) berbicara selain dzikir dan ayat Al-Qur’an. Namun Al-Dimyathi mengutip keterangan yang terdapat di dalam "Al Bujairami" yang menyatakan bahwa ungkapan “Pada saat buang air” bukan merupakan pembatas (qayid). Maka pendapat mu’atamad menyatakan bahwa hukum berbicara pada saat buang air (besar atau kecil) adalah makruh. Baik ketika keluarnya kotoran atau sebelum dan sesudahnya. Karena etika untuk tidak berbicara pada saat buang air adalah karena tempat.

KESIMPULAN:
     Berdasar ulasan tersebut diatas, maka hukum menyebutkan kata Abu Jahal dan Abu Lahab pada saat buang air (kecil atau besar) adalah hilaf dan diperinci sebagai berikut:
  • Sebagian Ulama’ meyatakan  makruh. Pendapat ini merupakan pandapat yang lebih autentik (mu’tamad).
  • Sebagian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa hukum menyebutkan kata Abu Jahal dan Abu Lahab pada saat buang air (kecil atau besar) adalah makruh jika diucapkan pada saat keluarnya kotoran. Namun jika diucapkan pada saat tidak keluarnya kotoran atau diucapkan dengan pelan hingga tidak didengar oleh dirinya sendiri, maka hukumnya adalah boleh (tidak makruh). Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

(ﻭﻻ ﻳﺘﻜﻠﻢ)اى ولا بذكر ولا غيره( ﺃﺩﺑﺎ)اى ندبا( ﻟﻐﻴﺮ ﺿﺮﻭﺭﺓ )ﻗﺎﺿﻲ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ (ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻮﻝ ﻭﺍﻟﻐﺎﺋﻂ) ؛ ﻓﺈﻥ
ﺩﻋﺖ ﺿﺮﻭﺭﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﻼﻡ، ﻛﻤﻦ ﺭﺃﻯ ﺣﻴَّﺔً ﺗﻘﺼﺪ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﺮﻩ الكلام حينئذ

الباجوري 1/65

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ro Fie:

( قوله ويسكت إلخ ) أي ويندب أن لا يتكلم حال خروج الخارج مطلقا ذكرا كان أو غيره للنهي عن التحدث على الغائط
فلو عطس حمد بقلبه فقط كالمجامع ويثاب عليه وليس لنا ذكر قلبي يثاب عليه إلا هذا فلو خالف وجهر به وسمعه اخر لا يطلب منه تشميته لعدم طلب الحمد فيه لفظا فإن تكلم ولم يسمع نفسه فلا كراهة
وفي حاشية الجمل ما نصه هل من الكلام ما يأتي به قاضي الحاجة من التنحنح عند طرق باب الخلاء من الغير ليعلم هل فيه أحد أم لا فيه نظر والأقرب أن مثل هذا لا يسمى كلاما وبتقديره فهو لحاجة وهي دفع من يطرق الباب عليه لظنه خلو المحل
اه
وقد يجب الكلام فيما إذا خاف وقوع محذور على غيره كمن رأى أعمى يريد أن يسقط في بئر أو رأى حية تقصده فيجب أن ينبهه تحذيرا له من الضرر
( قوله وفي غير حال الخروج إلخ ) أي ويندب في غير هذه الحالة أن لا يتكلم بذكر وقرآن فقط فإن تكلم بغيرهما فلا كراهة
وفي البجيرمي ما نصه قوله حال قضاء الحاجة ليس بقيد فالمعتمد الكراهة حال قضاء حاجته وقبله وبعده لأن الآداب للمحل
وإن كان قضية كلام الشيخين ما مشى عليه الشارح
شوبري
اه
إعانة الطالبين - (ج 1 / ص 109)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

( ولا يتكلم ) أى يكره له إلا لمصلحة تكلم حال خروج بول أو غائط ولو بغير ذكر أو رد سلام للنهى عن التحدث على الغائط ولو عطس حمد بقلبه فقط كمجامع فإن تكلم ولم يسمع نفسه فلا كراهة أو خشى وقوع محذور بغيره لولا الكلام وجب أما مع عدم خروج شىء فيكره بذكر أو قرآن فقط واختير التحريم فى القرآن. قوله : ( أى يكره ) إلى قوله كمجامع فى النهاية والمغنى قوله : ( إلا لمصلحة ) عبارة المغنى والنهاية وشرح بافضل إلا لضرورة كإنذار أعمى فلا يكره بل قد يجب اهـ قوله : ( أو رد سلام ) من عطف الخاص قوله : ( حمد بقلبه ) وهل يثاب على ذلك أم لا فيه نظر والأقرب الأول ولا ينافيه ما فى الأذكار للنووى من أن الذكر القلبى بمجرده لا يثاب عليه لأن محله فيما لم يطلب وهذا مطلوب فيه بخصوصه ع ش قوله : ( فلا كراهة ) إذ لا يكره الهمس ولا التنحنح مغنى عبارة ع ش والأقرب أن مثل التنحنح عند طرق باب الخلاء من الغير ليعلم هل فيه أحد أم لا لا يسمى كلاما وبتقديره فهو لحاجة وهى دفع دخول الغير عليه اهـ قوله : ( أو خشى الخ ) قال فى شرح العباب وقد يسن إن رجحت مصلحته على السكوت وقد يباح إن كان ثم حاجة ولم تترجح المصلحة فيها انتهى اهـ سم قوله : ( بغيره ) أى أو به نفسه شرح بافضل قوله : ( بذكر أو قرآن ) فى شرح الحصن الحصين لمؤلفه ما نصه قالت عائشة كان صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه ولم تستثن حالا من حالاته وهذا يدل على أنه كان لا يغفل عن ذكر الله تعالى لأنه صلى الله عليه وسلم كان مشغولا بالله تعالى فى كل أوقاته ذاكرا له وأما فى حالة التخلى فلم يكن أحد يشاهده لكن شرع لأمته قبل التخلى وبعده ما يدل على الاعتناء بالذكر وكذلك سن الذكر عند الجماع فالذكر عند نفس قضاء الحاجة وعند الجماع لا يكره بالقلب بالإجماع وأما الذكر باللسان حينئذ فليس مما شرع لنا ولا ندبنا إليه صلى الله عليه وسلم ولا نقل عن أحد من الصحابة بل يكفى فى هذه الحالة الحياء والمراقبة وذكر نعمة الله تعالى فى إخراج هذا العدو المؤذى الذى لو لم يخرج لقتل صاحبه وهذا من أعظم الذكر وإن لم يقله باللسان انتهى اهـ

حواشى الشروانى الجزء الأول ص : 278 - 279 دار الكتب العلمية

Daftar Pustaka:
  1. Al-Bajuri. I/ 65
  2. I’anah Al-Thalibin. I/ 109
  3. Hawasyi Al-Syarwani. I/ 278-279
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif



(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1630504480496439/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama