DOC-287. Hukum Menjawab Adzan Saat Berada Di Kamar Mandi


 Mbah Roghu

7 Juni 2015 pukul 23:37

Assalamu.alykum
Mohon maf
Saya ingin brtanya ustad/zeh ketika kita d dlam kmar mandy trus trdengar suara adzen
Gimana hukum.nya menjawab adzen trsebut
Boleh tau tidak
Trimaksih

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.


الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ


Bagaimanakah hukum menjawab adzan ketika berada didalam kamar mandi menurut perspektif Fiqh?

     Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf Al-Nawawi di dalam "Al-Adzkarnya" menyebutkan sebuah bab yang menjelaskan tentang larangan berdzikir dan berbicara di  dalam kamar kecil (wc). Beliau menjelaskan bahwa hukum berdzikir dengan segala bentuk dzikir dan berbicara dengan segala bentuk ucapan pada saat buang air adalah makruh. Baik disebuah gurun sahara atau di dalam sebuah bangunan. Kecuali dalam kondisi darurat. Hingga sebagian sahabat-sahabat kami (Ulama’ madzhab Syafi’i) menyatakan bahwa ketika ia bersin, maka janganlah memuji Allah dan janganlah mendo’akan orang yang bersin dengan ucapan “Yarchamukallah”, janganlah menjawab salam , janganlah menjawab adzan dan seorang muslim yang lalai tidak berhak mendapat jawaban. Berbicara dengan hal-hal ini adalah makruh namun tidak haram. Jika ia bersin lalu ia memuji Allah dalam hati dan tidak menggerakkan lisan, maka hal itu tidaklah berbahaya (boleh). Demikian juga ketika melakukan hubungan intim.
     Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata Al-Dimyathi menambahkan bahwa orang yang mendengar adzan sedang ia sedang melakukan hubungan intim atau sedang buang air, makruh baginya untuk menjawab adzan. Maka seakan-akan beliau (Al Malibary) berkata: “Anjuran menjawab adzan bagi orang yang mendengarnya adalah ketika tidak dalam kondisi melakukan hubungan intim atau sedang buang air. Ketika dalam kondisi itu, maka tidak dianjurkan bahkan makruh menjawab adzan. Tapi keduanya (orang yang sedang melakukan hubungan intim dan orang yang sedang buang air) dianjurakan untuk menjawab setelah usai melakukan aktifitasnya.
     Imam Zainuddin; Muhammad yang dipanggil dengan sebutan Abdul Rauf bin Taju Al-‘Arifin bin Ali bin Zainal Abidin Al-Haddadi Al-Munawi di dalam kitabnya "Faidu Al-Qadir" juga menambahkan bahwa berdzikir didalam hati dalam kondisi semacam itu dan dalam kondisi apapun tetap dianjurkan (tidak makruh).
     Al-Dimyathi juga menyatakan dengan mengutip uraian yang terdapat di dalam Kitab "Al-Bujairami" yang menyatakan bahwa ungkapan “Pada saat buang air” bukan merupakan pembatas (qayid). Maka pendapat yang lebih autentik (mu’atamad) menyatakan bahwa hukum berbicara pada saat buang air (besar atau kecil) adalah makruh. Baik ketika keluarnya kotoran atau sebelum dan sesudahnya. Karena etika untuk tidak berbicara pada saat buang air adalah karena tempat.
     Berdasar uraian tersebut diatas, secara eksplisit dapat diketahui bahwa hukum menjawab adzan pada saat berada di kamar kecil adalah makruh kecuali menjawab di dalam hati, maka hukumnya boleh (tidak makruh). Atau dianjurkan menjawab adzan setelah selesai melakukan aktifitas di kamar kecil (wc). Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Abdul Gafur:

(بابُ النّهي عن الذِّكْرِ والكَلامِ على الخَلاَء)
يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة، سواء كان في الصحراء أو في البنيان، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام، إلا كلام الضرورة حتى قال بعضُ أصحابنا: إذا عطس لا يحمد الله تعالى، ولا يشمِّت عاطساً، ولا يردّ السلام، ولا يجيب المؤذّن، ويكون المُسَلِّم مُقَصِّراً لا يستحقّ جواباً، والكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه، ولا يحرم، فإن عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّه تعالى بقلبه ولم يحرّك لسانه فلا بأس، وكذلك يفعل حال الجماع.
الأذكار للنووي ت الأرنؤوط (ص: 26)


Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

(قوله: وتكره) أي الإجابة وهذا تقييد لقوله: وسن لسامعهما.
فكأنه قال: ومحل سنية ذلك له ما لم يكن في حال سماعه مجامعا أو قاضي حاجة، فإن كان كذلك لا يسن ذلك بل يكره.
(قوله: بل يجيبان) أي المجامع وقاضي الحاجة.
وقوله: بعد الفراغ أي من الجماع وقضاء الحاجة.
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (1/ 279)


Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

ويستثنى من عمومه أيضا المجامع وقاضي الحاجة فيكره لهما الذكر اللساني أما القلبي فمستحب على كل حال
فيض القدير (1/ 166)


Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

وفي البجيرمي ما نصه قوله حال قضاء الحاجة ليس بقيد فالمعتمد الكراهة حال قضاء حاجته وقبله وبعده لأن الآداب للمحل
وإن كان قضية كلام الشيخين ما مشى عليه الشارح
شوبري
اه
إعانة الطالبين - (ج 1 / ص 109)


Daftar Pustaka:
  1. Al Adzkar Li Al-Nawawi. 26
  2. I’anah Al-Thalibin. I/ 279
  3. Faidu Al-Qadir. I/ 166
  4. I’anah Al-Thalibin. I/ 109
=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1630516860495201/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama