DOC-288. Hukum Melanggar Sumpah Untuk Tidak Melakukan Kema’siatan


 Al Mahbub

11 Mei 2015 pukul 18:21

Assalamualaikum wr kalau misalnya bersumpah(demi Allah) tdk akan melakukan kemaksiatan, ternyata saking kecanduan terlanjur melakukannya.
Apakh sumpahnya berlaku sedangkan meninggalkan kemaksiatan memang wajib walaupun tidak bersumpah ?????
Mohon jawabannya

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Seseorang bersumpah “Demi Allah saya tidak akan melakukan kema’siatan.” Karena sudah kecanduan, ia melakukan kema’siatan. Apakah sumpah tersebut masih berlaku sedang meninggalkan kema’siatan memang wajib?

     Imam Sulaiman bin Muhammad bin Amr Al-Bujairami Al-Mishri Al-Syafi’i di dalam kitabnya "Hasyiah Al-Bujairami ‘Ala Syarh Al-Minhaj" menuturkan bahwa hukum bersumpah adalah makruh. Hal itu berdasar firman Allah: "Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah diantara manusia. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui". (QS. Al Baqarah: 224)
kemakruhan bersumpah atas nama Allah adalah untuk selain keta’atan. Ya’ni melakukan hal-hal yang wajib, sunah atau meninggalkan hal-hal yang haram ataupun makruh. Semua itu merupakan bentuk sebuah keta’atan. Atau bersumpah dalam penuntutan atas sesuatu di pengadilan (dihadapan hakim) atau bersumpah dalam kondisi yang mendesak (hajat) seperti untuk memperkuat sebuah ucapan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan: “Demi Allah, Allah tidak akan pernah jemu hingga kalian semua jemu.” Atau untuk pengagungan terhadap sesuatu. Seperti sabda Rasulullah “Demi Allah, andai kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian jarang tertawa dan akan sering menangis.” Maka bersumpah dalam dua kondisi seperti tersebut di atas adalah tidak makruh (boleh) dan keduanya merupakan tambahanku. Tutur Al-Bujairami. Beliau juga menuturkan, jika seseorang bersumpah hendak melakukan sebuah kema’siatan seperti bersumpah untuk meninggalkan hal yang bersifat wajib individu (‘ain) atau bersumpah untuk melakukan hal yang haram, maka wajib baginya untuk melanggar sumpah tersebut dan wajib membayar denda (kafarat). Berdasar hadits riwayat Imam Al Bukhari dan Al Muslim:
“Jika engkau bersumpah, kemudian engkau melihat sesuatu yang lebih baik dari sumpah tersebut, maka batalkanlah sumpahmu (dengan membayar denda) dan kerjakanlah sesuatu yang lebih baik dari sumpahmu itu". Hal ini senada dengan uraian yang telah dipaparkan oleh Imam Syamsuddin; Muhammad bin Ahmad Al-Khatib Al-Syarbini Al-Syafi’i di dalam kitabnya "Mughni Al Muhtaj".
     Syaikh Zainuddin bin Abdu Al-Aziz Al-Malibary menjelaskan tentang denda (kafarat) sumpah dengan memyatakan bahwa di dalam kafarat sumpah, diperkenankan untuk memilih antara memerdekakan budak yang sempurna, beriman dan tanpa cacat yang dapat merusak pekerjaanya atau memberi makan sepuluh orang miskin dengan satu mud makanan pokok untuk setiap orang. Atau dengan memberi pakaian terhadap mereka dengan pakaian yang layak pakai seperti gamis, sarung, penutup kepala dan kerudung. Jika tidak mampu dari ketiganya, maka wajib berpuasa selama tiga hari dan tidak wajib berturut-turut. Berbeda dengan pendapat mayoritas Ulama’ yang menyatakan wajib berturut-turut.

KESIMPULAN:

     Berdasar uraian tersebut diatas, dapat diketahui bahwa bersumpah untuk tidak melakukan sebuah kema’siatan adalah wajib ditunaikan kendati menjahui ma’siat itu sendiri adalah wajib dan bersumpah semcam itu tidak boleh dilanggar. Jika dilanggar, maka wajib didenda (membayar kafarat). Sedang bentuk kafarat adalah sebagaimana berikut:

  • Membebaskan budak yang sempurna yang selamat dari aib.
  • Memberi makan kepada sepuluh orang miskin dengan makanan pokok dan satu mud untuk setiap orang miskin.
  • Memberi pakaian layak pakai kepada sepuluh orang miskin.
  • Berpuasa selama tiga hari. Mayoritas Ulama’ menyatakan wajib berturut-turut. Namun sebagian Ulama’ yang lain menyatakan tidak wajib.

KETERANGAN:
     Diperbolehkan memilih salah satu dari tiga bentuk denda (kafarat) tersebut di atas. Jika tidak mampu untuk melakukan salah satunya, maka denda yang ke empat (berpuasa selama tiga hari) merupakan opsi terahir. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Wes Qie:

(وَتُكْرَهُ) أَيْ الْيَمِينُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى {وَلا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لأَيْمَانِكُمْ} [البقرة: 224] (إلَّا فِي طَاعَةٍ) مِنْ فِعْلٍ وَاجِبٍ أَوْ مَنْدُوبٍ وَتَرْكِ حَرَامٍ أَوْ مَكْرُوهٍ فَطَاعَةٌ (وَ) فِي (دَعْوَى) عِنْدَ حَاكِمٍ (وَ) فِي (حَاجَةٍ) كَتَوْكِيدِ كَلَامٍ كَقَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «فَوَاَللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا» أَوْ تَعْظِيمِ أَمْرٍ كَقَوْلِهِ «وَاَللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا» فَلَا تُكْرَهُ فِيهِمَا وَهُمَا مِنْ زِيَادَتِي

(فَإِنْ حَلَفَ عَلَى) ارْتِكَابِ (مَعْصِيَةٍ) كَتَرْكِ وَاجِبٍ عَيْنِيٍّ وَلَوْ عَرَضًا وَفِعْلِ حَرَامٍ (عَصَى) بِحَلِفِهِ (وَلَزِمَهُ حِنْثٌ وَكَفَّارَةٌ) لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ «مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ»
حاشية البجيرمي على شرح المنهج = التجريد لنفع العبيد (4/ 320)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Opick Syahreza:

(فإن حلف على ترك واجب) كترك الصبح (أو فعل حرام) كالسرقة (عصى) بحلفه في الصورتين، واستثنى البلقيني من الصورة الأولى مسألتين: الأولى: الواجب الذي يمكن سقوطه كالقصاص بعد الحكم به، فإنه يمكن سقوطه بالعفو. الثانية: الواجب على الكفاية كما لو حلف لا يصلي على فلان الميت حيث لم تتعين عليه، فإنه لا يعصي بهذا الحلف (ولزمه) عند عصيانه (الحنث وكفارة) لأن الإقامة على هذه الحالة معصية لخبر الصحيحين: «من حلف يمينا فرأى غيرها خيرا منها، فليأت الذي هو خير وليكفر عن يمينه»
مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج (6/ 189)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

الْيَمِينُ الْمَعْقُودَةُ إِمَّا أَنْ تَكُونَ عَلَى فِعْلٍ وَاجِبٍ أَوْ تَرْكِ مَعْصِيَةٍ أَوْ عَكْسِهِمَا ، أَوْ فِعْل مَا هُوَ أَوْلَى أَوْ تَرْكِ مَا تَرْكُهُ أَوْلَى أَوْ عَكْسِهِمَا ، أَوْ فِعْل مَا اسْتَوَى طَرَفَاهُ أَوْ تَرْكِهِ .
فَالْيَمِينُ عَلَى فِعْل وَاجِبٍ أَوْ تَرْكِ مَعْصِيَةٍ ، كَوَاللَّهِ لأَُصَلِيَنَّ الظُّهْرَ الْيَوْمَ ، أَوْ لاَ أَسْرِقُ اللَّيْلَةَ ، يَجِبُ الْبِرُّ فِيهَا وَيَحْرُمُ الْحِنْثُ ، وَلاَ خِلاَفَ فِي ذَلِكَ كَمَا لاَ يَخْفَى .
وَالْيَمِينُ عَلَى فِعْل مَعْصِيَةٍ أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ ، كَوَاللَّهِ لأََسْرِقَنَّ اللَّيْلَةَ أَوْ لاَ أُصَلِّي الظُّهْرَ الْيَوْمَ يَحْرُمُ الْبِرُّ فِيهَا وَيَجِبُ الْحِنْثُ ، وَظَاهِرٌ أَنَّهُ لاَ خِلاَفَ فِي ذَلِكَ أَيْضًا
الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 7 / ص 292)

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Wes Qie:

فرع [في بيان صفة كفارة اليمين] : يتخير في كفارة اليمين بين عتق رقبة كاملة مؤمنة بلا عيب يخل بالعمل أو الكسب ولو نحو غائب علمت حياته أو إطعام عشرة مساكين كل مسكين مد1 حب من غالب قوت البلد أو كسوتهم بما يسمى كسوة كقميص أو إزار أو مقنعة أو منديل يحمل في اليد أو الكم لا خف فإن عجز عن الثلاثة لزمه صوم ثلاثة أيام ولا يجب تتابعها خلافا لكثيرين.
فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (ص: 665)

Daftar Pustaka:

  1. Hasyiyah Al-Bujairami ‘Ala Syarh Al-Minhaj. IV/ 320
  2. Mughni Al-Muhtaj. VI/ 189
  3. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah. VII/ 292
  4. Fathu Al-Mu’in. 665

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1619631251583762/?hc_location=ufi)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama