DOC-289. Pahala Puasa Di Rahasiakan

 

Mas Gitu Aja
15 juli 2014

assalamu alaikum.!
mau tanya allah merahasiakan pahala puasa. kenapa allah merehasiakan pahala tersebut.?
Waalaikum salam

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Kenapa Allah merahasiakan pahala puasa?

     Imam Ahmad bin Ali bin Hajar; Abu Al-Fadl Al-Asqalani Al-Syafi’i di dalam kitabnya "Fathu Al-Bari" menyebutkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersbada: “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman ‘Semua amal dan perbuatan anak Adam adalah untuk-nya kecuali puasa. Maka puasa untukku (Allah) dan aku yang akan membalasnya. Dan sesungguhnya anak Adam menanggalkan dan meninggalkan keinginan (syahwat) dan makanannya karena aku.’” Ulama’ berbeda pandangan dalam menelaah dan memahami firman Allah ya’ni “Maka puasa untukku (Allah) dan aku yang akan membalasnya beserta sesungguhnya semua amal dan perbuatan adalah bagi Allah dan Allah yang akan membalasnya” sebagaimana statement-statement berikut:

  • Sesungguhnya di dalam puasa tidak terjadi pamer (riya’) sebagaimana pamer terjadi pada selain puasa. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Al Maziri dan dikutip oleh Imam ‘Iyad dari Abu Ubaid dengan redaksi “Kami betul-betul telah meyakini bahwa sesungguhnya semua amal kebaikan adalah bagi Allah dan Allah yang akan membalasnya. Maka kami meyakini hal itu. Dan sesungguhnya puasa dispesialkan karena sesungguhnya tidak ada yang dapat ditampilkan dari orang yang sedang menjalankannya (puasa) dan puasa adalah masalah hati.” Penafsiran ini diperkuat oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa “Tidak ada pamer dalam pelaksanaan puasa.”
  • Yang dikehendaki dengan firman Allah “Dan aku yang akan membalasnya” adalah sesungguhnya hanya aku (Allah) seorang diri yang mengetahui kadar pahala puasa dan pelipat gandaan pahala atas kebajikan yang telah dilaksanakan. Sedang ibadah selain puasa tekadang ditampakkan kepada sebagian orang.” Imam Al-Qurthubi mengartikan bahwa terkadang kadar pahala amal ibadah diungkap kepada manusia. Dan sesungguhnya kadar pahala tersebut dilipat gandakan dari sepuluh hingga tujuh ratus bahkan hingga pada bilangan yang dikehendaki Allah kecuali puasa. Karena sesungguhnya Allah memberikan pahala puasa dengan tanpa adanya tolak ukur dan tanpa pertimbangan. Pendapat ini diperkuat oleh hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Al-A’masy dari Abu Shalih sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap amal ibadah anak Adam dilipat gandakan sepuluh hingga tujuh ratus bahkan hingga pada bilangan yang dikehendaki Allah. Allah berfirman ‘kecuali puasa’. Maka sesungguhnya puasa bagiku dan aku yang akan membalasnya dengan balasan yang besar tanpa menentukan kadarnya.”

     Imam Abu Al Chasan Ali Ibnu Khalaf Ibnu Abdul Malik Ibnu Bathal Al Bakri Al Qurthubi juga menjelaskan mengenai arti dan maksud hadits Nabi “Maka sesungguhnya puasa bagiku (Allah) dan aku yang akan membalasnya” dengan menyatakan bahwa puasa dan amal ibadah yang lain adalah bagi Allah. Namun ketika didalam amal ibadah yang bersifat lahir terdapat capur tangan setan dengan adanya pamer (riya’) atau yang lain, maka tidak ada sesuatu yang dapat ditampakkan dari puasa pada orang lain. Dan Allah yang akan memberikan pahala berdasar kadar keihlasan yang hanya diketahui oleh-Nya. Maka pahala puasa hanya disandarkan terhadap Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

كل عمل بن آدَمَ هُوَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَهُوَ لِي وَأَنا أجزى بِهِ وَإِنَّمَا يذر بن آدَمَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي الْحَدِيث.......... وَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي الْمُرَادِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ مَعَ أَنَّ الْأَعْمَالَ كُلَّهَا لَهُ وَهُوَ الَّذِي يُجزئ بِهَا عَلَى أَقْوَالٍ أَحَدُهَا أَنَّ الصَّوْمَ لَا يَقَعُ فِيهِ الرِّيَاءُ كَمَا يَقَعُ فِي غَيْرِهِ حَكَاهُ الْمَازِرِيُّ وَنَقَلَهُ عِيَاضٌ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ وَلَفْظُ أَبِي عُبَيْدٍ فِي غَرِيبِهِ قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ أَعْمَالَ الْبِرِّ كُلَّهَا لِلَّهِ وَهُوَ الَّذِي يُجزئ بِهَا فَنَرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّهُ إِنَّمَا خَصَّ الصّيام لِأَنَّهُ لَيْسَ يظْهر من بن آدَمَ بِفِعْلِهِ وَإِنَّمَا هُوَ شَيْءٌ فِي الْقَلْبِ ويؤيدها هَذَا التَّأْوِيلَ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ فِي الصِّيَامِ رِيَاءٌ حَدَّثَنِيهِ شَبَابَةُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ................. ثَانِيهَا أَنَّ الْمُرَادَ بِقَوْلِهِ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ أَنِّي أَنْفَرِدُ بِعِلْمِ مِقْدَارِ ثَوَابِهِ وَتَضْعِيفِ حَسَنَاتِهِ وَأَمَّا غَيْرُهُ مِنَ الْعِبَادَاتِ فَقَدِ اطَّلَعَ عَلَيْهَا بَعْضُ النَّاسِ قَالَ الْقُرْطُبِيُّ مَعْنَاهُ أَنَّ الْأَعْمَالَ قَدْ كَشَفَتْ مَقَادِيرَ ثَوَابِهَا لِلنَّاسِ وَأَنَّهَا تُضَاعَفُ مِنْ عَشْرَةٍ إِلَى سَبْعِمِائَةٍ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّ اللَّهَ يُثِيبُ عَلَيْهِ بِغَيْرِ تَقْدِيرٍ وَيَشْهَدُ لِهَذَا السِّيَاقِ الرِّوَايَةُ الْأُخْرَى يَعْنِي رِوَايَةَ الْمُوَطَّأِ وَكَذَلِكَ رِوَايَةُ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ حَيْثُ قَالَ كل عمل بن آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ اللَّهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ أَيْ أُجَازِي عَلَيْهِ جَزَاءً كَثِيرًا مِنْ غَيْرِ تَعْيِينٍ لِمِقْدَارِهِ
فتح الباري لابن حجر (4/ 107)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

وعلى هذا المعنى يدل قوله فى الحديث : ( الصيام لى وأنا أجزى به ) ، ولا يكون لله خالصًا إلا بانفراده بعلمه دون الناس . وقوله : ( الصيام لى وأنا أجزى به ) ، فالصيام وجميع الأعمال لله ، لكن لما كانت الأعمال الظاهرة يشرك فيها الشطان بالرياء وغيره ، وكان الصيام لا يطلع عليه أحد إلا الله ، فيثيبه عليه على قدر خلوصه لوجهه ، جاز أن يضيفه تعالى إلى نفسه
شرح صحيح البخارى ـ لابن بطال - (ج 4 / ص 9)


Daftar Pustaka:

  1. Fathu Al-Bari Li Ibnu Hajar. IV/ 107
  2. Syarh Shahih Al-Bukhari. IV/ 9

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama