DOC-293. Hukum Tadarus Al Qur'an Dengan Pengeras Suara Pada Malam Hari
Lien Habiby
18 Juni 2015 pukul 0:21
Assalamualikum
mw naxa ustadz ap hukumxa taderus di malam hari menggunakan pengeras suara????
Mohon jawaban serta ibarotxa ustadz
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum tadarus Al Qur’an menggunakan pengeras suara pada malam hari menurut perspektif Fiqh?
Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya "Bughyah Al Mustarsyidin" menyatakan bahwa tidak dimakruhkan mengeraskan suara dalam berdzikir dengan segala jenisnya didalam Masjid. Diantaranya adalah membaca Al-Qur’an. Kecuali jika mengganggu terhadap orang yang sedang melaksanakan shalat atau menyakiti orang yang sedang tidur. Bahkan jika sering menyakiti, maka hukumnya adalah haram dan dilarang.
Di dalam "Ghayah Talhis Al-Murad" dijelaskan bahwa mengahirkan waktu shalat Isya’ hingga sepertiga malam atau tengah malam adalah menyalahi yang terbaik. Sebagian pendapat menyatakan makruh. Dan pada saat itu tidak dianjurkan untuk mengeraskan suara dengan melaksanakan adzan. Karena hal itu dapat mengganggu. Maka boleh bagi imam untuk melarang. Aku (Ibnu Ziyad) berkata: “Secara implisit ulasan tersebut memberikan sebuah pengertian bahwa jika tidak mengganggu, maka mengeraskan suara (pada saat itu) adalah tidak dilarang. Sebagaimana tidak dilarangnya sesuatu yang sudah umum dikalangan masyarakat pada bulan Rhamadlan dengan mengeraskan suara."
Imam Abdurrahman Al-Jaziri juga mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i yang menyatakan bahwa makruh mengeraskan suara dengan berdzikir didalam Masjid jika mengganggu terhadap orang yang sedang melaksanakan shalat atau orang yang sedang mengajar atau orang yang sedang membaca Al Qur’an atau orang yang sedang menelaah atau orang yang sedang tidur yang tidak dianjurkan untuk membangunkannya. Namun jika dianjurkan untuk membangunkannya, maka hukumnya tidak makruh. Adapun mengeraskan suara dengan ucapan, jika ucapan tersebut merupakan ucapan yang tidak halal, maka hukum mengeraskannya adalah haram secara mutlak. Namun jika ucapan tersebut adalah ucapan yang halal, maka hukum mengeraskannya tidak makruh kecuali jika mengganggu, maka hukumnya adalah makruh.
KESIMPULAN:
Berdasar uraian tersebut diatas, maka hukum tadarus Al Qur’an menggunakan pengeras suara pada malam hari adalah diperinci sebagai berikut:
مسألة : ك) : لا يكره في المسجد الجهر بالذكر بأنواعه ، ومنه قراءة القرآن إلا إن شوّش على مصلّ أو أذى نائماً ، بل إن كثر التأذي حرم فيمنع منه حينئذ
بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 133)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
(مسألة): تأخير صلاة العشاء إلى ثلث الليل أو نصفه خلاف الأولى، وقيل مكروه، ولا يسن حينئذ رفع الصوت بالأذان لأنه يشوّش فللإمام المنع منه. قلت: يفهم منه أنه إذا لم يكن ثم تشويش بأن كان غالب أهل البلد يفعلونه كما في رمضان في بعض النواحي لا منع من رفع الصوت حينئذ.
غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد ج 1 ص 10
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:
الشافعية قالوا : يكره رفع الصوت بالذكر في المسجد إن هوش على مصل أو مدرس أو قارئ أو مطالع أو نائم لا يسن إيقاظه وإلا فلا كراهة أما رفع الصوت بالكلام فإن كان بما لا يحل كمطالعة الأحاديث الموضوعة ونحوها فإنه يحرم مطلقا . وإن كان بما يحل لم يكره إلا إذا ترتب عليه تهويش ونحوه
الفقه على المذاهب الأربعة - (1 / 383)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Brojol Gemblung:
ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺠﻬﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺧﺎﺭﺟﻬﺎ ﺇﻥ ﺷﻮﺵ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﻧﺤﻮ ﻣﺼﻞ ﺃﻭ ﻗﺎﺭﺉ ﺃﻭ ﻧﺎﺋﻢ ﻟﻠﻀﺮﺭ ﻭﻳﺮﺟﻊ ﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺘﺸﻮﺵ ﻭﻟﻮ ﻓﺎﺳﻘﺎ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﻌﺮﻑ ﺇﻻ ﻣﻨﻪ ﻭﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺮﻣﺔ ﻇﺎﻫﺮ ﻟﻜﻨﻪ ﻳﻨﺎﻓﻴﻪ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻟﺼﺮﻳﺢ ﻓﻲ ﻋﺪﻣﻬﺎ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﺤﻤﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺧﻒ ﺍﻟﺘﺸﻮﻳﺶ )ﻗﻮﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺧﻒ ﺍﻟﺘﺸﻮﻳﺶ ( ﺃﻱ ﻭﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺮﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺇﺫﺍ ﺍﺷﺘﺪ ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻹﻳﻌﺎﺏ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺣﻤﻞ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﻭﺇﻥ ﺁﺫﻯ ﺟﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﺇﻳﺬﺍﺀ ﺧﻔﻴﻒ ﻻ ﻳﺘﺴﺎﻣﺢ ﺑﻪ ﺑﺨﻼﻑ ﺟﻬﺮ ﻳﻌﻄﻠﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ ﺍﻧﺘﻬﻰ
ﺍﻟﺘﺮﻣﺴﻲ – ﺝ 2 ﺹ 397-396
Daftar Pustaka:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1634690430077844/)
Assalamualikum
mw naxa ustadz ap hukumxa taderus di malam hari menggunakan pengeras suara????
Mohon jawaban serta ibarotxa ustadz
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bagaimanakah hukum tadarus Al Qur’an menggunakan pengeras suara pada malam hari menurut perspektif Fiqh?
Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya "Bughyah Al Mustarsyidin" menyatakan bahwa tidak dimakruhkan mengeraskan suara dalam berdzikir dengan segala jenisnya didalam Masjid. Diantaranya adalah membaca Al-Qur’an. Kecuali jika mengganggu terhadap orang yang sedang melaksanakan shalat atau menyakiti orang yang sedang tidur. Bahkan jika sering menyakiti, maka hukumnya adalah haram dan dilarang.
Di dalam "Ghayah Talhis Al-Murad" dijelaskan bahwa mengahirkan waktu shalat Isya’ hingga sepertiga malam atau tengah malam adalah menyalahi yang terbaik. Sebagian pendapat menyatakan makruh. Dan pada saat itu tidak dianjurkan untuk mengeraskan suara dengan melaksanakan adzan. Karena hal itu dapat mengganggu. Maka boleh bagi imam untuk melarang. Aku (Ibnu Ziyad) berkata: “Secara implisit ulasan tersebut memberikan sebuah pengertian bahwa jika tidak mengganggu, maka mengeraskan suara (pada saat itu) adalah tidak dilarang. Sebagaimana tidak dilarangnya sesuatu yang sudah umum dikalangan masyarakat pada bulan Rhamadlan dengan mengeraskan suara."
Imam Abdurrahman Al-Jaziri juga mengutip pernyataan Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i yang menyatakan bahwa makruh mengeraskan suara dengan berdzikir didalam Masjid jika mengganggu terhadap orang yang sedang melaksanakan shalat atau orang yang sedang mengajar atau orang yang sedang membaca Al Qur’an atau orang yang sedang menelaah atau orang yang sedang tidur yang tidak dianjurkan untuk membangunkannya. Namun jika dianjurkan untuk membangunkannya, maka hukumnya tidak makruh. Adapun mengeraskan suara dengan ucapan, jika ucapan tersebut merupakan ucapan yang tidak halal, maka hukum mengeraskannya adalah haram secara mutlak. Namun jika ucapan tersebut adalah ucapan yang halal, maka hukum mengeraskannya tidak makruh kecuali jika mengganggu, maka hukumnya adalah makruh.
KESIMPULAN:
Berdasar uraian tersebut diatas, maka hukum tadarus Al Qur’an menggunakan pengeras suara pada malam hari adalah diperinci sebagai berikut:
- Jika tidak mengganggu orang yang sedang beristirahat, maka hukumnya boleh.
- Jika mengganggu orang yang sedang beristirahat, maka hukumnya makruh.
- Jika menyakiti orang yang sedang beristirahat, maka hukumnya haram. Wallahu a’lam bis shawab.
مسألة : ك) : لا يكره في المسجد الجهر بالذكر بأنواعه ، ومنه قراءة القرآن إلا إن شوّش على مصلّ أو أذى نائماً ، بل إن كثر التأذي حرم فيمنع منه حينئذ
بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 133)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
(مسألة): تأخير صلاة العشاء إلى ثلث الليل أو نصفه خلاف الأولى، وقيل مكروه، ولا يسن حينئذ رفع الصوت بالأذان لأنه يشوّش فللإمام المنع منه. قلت: يفهم منه أنه إذا لم يكن ثم تشويش بأن كان غالب أهل البلد يفعلونه كما في رمضان في بعض النواحي لا منع من رفع الصوت حينئذ.
غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد ج 1 ص 10
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:
الشافعية قالوا : يكره رفع الصوت بالذكر في المسجد إن هوش على مصل أو مدرس أو قارئ أو مطالع أو نائم لا يسن إيقاظه وإلا فلا كراهة أما رفع الصوت بالكلام فإن كان بما لا يحل كمطالعة الأحاديث الموضوعة ونحوها فإنه يحرم مطلقا . وإن كان بما يحل لم يكره إلا إذا ترتب عليه تهويش ونحوه
الفقه على المذاهب الأربعة - (1 / 383)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Brojol Gemblung:
ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺠﻬﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺧﺎﺭﺟﻬﺎ ﺇﻥ ﺷﻮﺵ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﻧﺤﻮ ﻣﺼﻞ ﺃﻭ ﻗﺎﺭﺉ ﺃﻭ ﻧﺎﺋﻢ ﻟﻠﻀﺮﺭ ﻭﻳﺮﺟﻊ ﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺘﺸﻮﺵ ﻭﻟﻮ ﻓﺎﺳﻘﺎ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﻌﺮﻑ ﺇﻻ ﻣﻨﻪ ﻭﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺮﻣﺔ ﻇﺎﻫﺮ ﻟﻜﻨﻪ ﻳﻨﺎﻓﻴﻪ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻟﺼﺮﻳﺢ ﻓﻲ ﻋﺪﻣﻬﺎ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﺤﻤﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺧﻒ ﺍﻟﺘﺸﻮﻳﺶ )ﻗﻮﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺧﻒ ﺍﻟﺘﺸﻮﻳﺶ ( ﺃﻱ ﻭﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺮﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺇﺫﺍ ﺍﺷﺘﺪ ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻹﻳﻌﺎﺏ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺣﻤﻞ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﻭﺇﻥ ﺁﺫﻯ ﺟﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﺇﻳﺬﺍﺀ ﺧﻔﻴﻒ ﻻ ﻳﺘﺴﺎﻣﺢ ﺑﻪ ﺑﺨﻼﻑ ﺟﻬﺮ ﻳﻌﻄﻠﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ ﺍﻧﺘﻬﻰ
ﺍﻟﺘﺮﻣﺴﻲ – ﺝ 2 ﺹ 397-396
Daftar Pustaka:
- Bughyah Al-Mustarsyidin. I/ 113
- Ghayah Talhis Al=Murad. I/ 10
- Al-Fiqh ‘Ala Madzahib Al=Arba’ah. I/ 383
- Al-Tirmisi. II/ 396-397
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1634690430077844/)

Komentar
Posting Komentar