DOC-307. Imsak Dan Awal Waktu Berpuasa


 Yuufaa Layyina Qolby

26 Juni 2015 pukul 5:07

Assalaamu 'alaykum,di mulainya erpuasa itu dari waktu imsak atau dari masuknya waktu shubuh?mohon penjelasn serta ta'bir

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Sebenarnya waktu memulai berpuasa itu sejak imsak atau masuknya waktu subuh?

     Di dalam sebuah literatur Fiqh (Mabadi’ al Fiqhiyah) disebutkan sebagaimana berikut:
Soal:
Apakah yang dinamakan puasa?
Jawab:
Puasa adalah menahan diri dari makan, minum, melakukan hubungan intim dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari pada setiap hari bulan Ramadlan.
     Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi yang lebih popular dengan sebutan Imam Nawawi juga menyatakan bahwa seseorang masuk ke dalam puasa dengan terbitnya fajar. Dan keluar dari puasa dengan tenggelamnya matahari. Hal itu berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Umar radliyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Ketika malam telah tiba dari sini dan siang telah berlalu dari sini dan matahari telah tenggelam dari sini, maka orang yang berpuasa telah berbuka.” Imam Nawawi menegaskan bahwa diperbolehkan makan, minum dan melakukan hubungan intim hingga terbit fajar berdasar firman Allah: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 187)
Jika seseorang melakukan hubungan intim sebelum terbit fajar dan ia masuk pagi dalam keadaan junub, maka ia boleh berpuasa. Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’al telah memberikan izin untuk melakukan hubungan intim hingga terbit fajar kemudian memerintahkan berpuasa. Dan secara implisit hal ini menunjukkan kebolehan berpuasa dalam kondisi junub.
     Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa seseorang tidak diperbolehkan untuk makan, minum dan lain sebagainya (puasa) adalah ketika fajar yang kedua telah terbit. Ya’ni fajar shadiq. Dan seseorang wajib berpuasa sejak awal terbitnya fajar. Sedang yang dimaksud dengan terbitnya fajar ialah sesuatu yang tampak oleh kita (cahaya putih yang melintang). Bukan hakekat perkara (fajar) nya. Sahabat-sahabat kami (Ulama’ dari kalangan Sayifi’i berkata: “Terkadang fajar terbit disebagian negara dan ia (fajar) telah tampak jelas disebagian negara yang lain sebelum ia terbit.” Maka yang dianggap pada setiap Negara adalah terbitnya fajar. Demikian juga dengan tenggelamnya matahari. Sebagaimana yang telah dituturkan oleh Imam al-Mawardi yang telah dikutip oleh Imam Nawawi.
     Berdasar uraian tersebut di atas, maka waktu dimulainya menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa adalah sejak terbitnya fajar yang kedua (fajar shadiq) yang juga merupakan tanda masuknya waktu subuh. Namun Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami menuturkan bahwa sesungguhnya pembuat syari’at mengecualikan niat puasa dengan niat ibadah yang lain dengan memposisikan kemauan (‘azam) setara dengan niat dikarenakan sulitnya mengawasi terbitnya fajar. Ini merupakan pendapat yang benar. Dan karena itu pula (sulitnya mengawasi terbitnya fajar), maka Ulama’ menganjurkan dengan menetapkan waktu imsak sebagai awal waktu berpuasa untuk lebih berhati-hati demi menjaga keafsahan puasa yang dilaksanakan. Penetapan waktu imsak sebagai awal berpuasa juga berdasar sebuah hadits yang menyatakan: Telah bercerita kepada kami Ya’qub Ibnu Ibrahim, beliau berkata: Telah bercerita kepada kami Rauch, beliau berkata: Telah bercerita kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Anas Ibnu Malik Radliyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid Ibnu Tsabit pernah makan sahur bersama. Maka ketika keduanya telah usai, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat. Kami pun bertanya kepada Anas: “Berapa tenggang waktu diantara selesai makan sahur dan masuknya mereka berdua kedalam pelaksanaan shalat?”. Maka sahabat Anas menjawab: “Kira-kira seseorang membaca lima puluh ayat (al Qur’an).” (HR. al Bukhari). Wallahu a’lam bis shawab.


Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

س : ما الصوم؟

ج : هو الامتناع عن الأكل والشرب والجماع وكل مفطرة من طلوع الفجر إلى غروب الشمس جميع أيام شهر رمضان

المبادي الفقهية ج ٢ ص ٤٣

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:

قال المصنف رحمه الله
* {ويدخل فِي الصَّوْمِ بِطُلُوعِ الْفَجْرِ وَيَخْرُجُ مِنْهُ بِغُرُوبِ الشمس لِمَا رَوَى عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " قَالَ إذَا اقبل الليل من ههنا وأدبر النهار من ههنا وغابت الشمس من ههنا فقد أفطر الصائم " ويجوز أن يأكل ويشرب ويباشر الي طلوع الفجر لقوله تَعَالَى (فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ من الخيط الاسود من الفجر) فان جامع قبل طلوع الفجر وأصبح وهو جنب جاز صومه لانه عز وجل لما أذن في المباشرة إلي طلوع الفجر ثم أمر بالصوم دل علي انه يجوز أن يصبح صائما وهو جنب}
المجموع شرح المهذب (6/ 303)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

(الثَّانِيَةُ) يَدْخُلُ فِي الصَّوْمِ بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الثَّانِي وَهُوَ الْفَجْرُ الصَّادِقُ وَسَبَقَ بَيَانُهُ وَتَحْقِيقُ صِفَتِهِ في باب مواقيت الصلاة ويصير منلبسا بِالصَّوْمِ بِأَوَّلِ طُلُوعِ الْفَجْرِ وَالْمُرَادُ الطُّلُوعُ الَّذِي يَظْهَرُ لَنَا لَا الَّذِي فِي نَفْسِ الْأَمْرِ قَالَ أَصْحَابُنَا وَقَدْ يَطْلُعُ الْفَجْرُ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ وَيَتَبَيَّنُ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ فِي بَلَدٍ آخَرَ فَيُعْتَبَرُ فِي كُلِّ بَلَدٍ طُلُوعُ فَجْرِهِ قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَكَذَا غُرُوبُ شَمْسِهِ وَقَدْ سَبَقَ بيان هذا
المجموع شرح المهذب (6/ 304)

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Zafi AL Dimass:

أَوْ أَنَّ الشَّارِعَ أَقَامَ فِيهِ الْعَزْمَ مَقَامَ النِّيَّةِ لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْفَجْرِ، وَهُوَ الصَّحِيحُ شَيْخُنَا عِبَارَةُ سم.
تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (1/ 195)

Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا رَوْحٌ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَسَحَّرَا فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ فَصَلَّى قُلْنَا لِأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ كَقَدْرِ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً
صحيح البخاري ـ م م (2/ 51)



Daftar Pustaka:

  1. Al-Mabadi’ al-Fiqhiyah. II/ 43
  2. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. VI/ 303
  3. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. VI/ 304
  4. Tuhfah al-Muhtaj. I/ 195
  5. Shahih al-Bukhari. II/ 51

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif

 


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1637335723146648/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama